A Teacher Of Mine
Bapak: "Ketika ada orang membakar rumah kita, apa yang kita lakukan nak? mengejar orang tersebut, ataukah mematikan api dirumah kita?"
"Mematikan api dirumah kita pak"
"Nah itu sudah benar, tapi kenapa yah kalau ada yang berbuat tidak baik kepada kita, kenapa banyak dari kita yang kemudian malah lebih memilih membalas berbuat tidak baik juga pada orang tersebut? Padahal, padamkan saja 'api' yang di 'rumah' diri kita sendiri yah nak? Orang yang sedang berbuat negatif itu adalah orang yang sedang mendzalimi dirinya sendiri, apakah mau ikut-ikutan jadi seperti itu nak?"
"Tidak, pak"
"Coba, bagaimana mungkin Allah akan memuliakan orang yang masih suka mendzalimi dirinya dan yang tidak bisa menghargai dirinya sendiri. Coba, bapak ingin tau pendapatmu nak, utarakan pendapatmu"
"Yang membedakan adalah level kesadarannya. Kalau ada orang yang sikapnya tidak baik terhadap kita, anggaplah bahwa level kesadaran orang tersebut masih disitu, kalau level kesadaran kita sudah lebih baik, maka cukupkan dengan memakluminya, ingatkan jika perlu dan do'akan. Point pentingnya adalah pertanggungjawaban atas setiap perbuatan seseorang itu berada diantara ia dan Rabbnya, jadi kita tidak perlu sibuk membalas. Allah Ta'ala menguji kesabaran kita lewat orang tersebut. Tapi kalau kita memilih membalas, kok jadi level kesadaran kita yang turun yah pak? Padahal sebelumnya kita yang 'merasa' memiliki level kesadaran yang lebih baik dari orang tersebut. Selanjutnya, introspeksi diri, yang paling mudah dikontrol itu level kesadaran kita atau level kesadaran orang lain?"
"Alhamdulillah, berarti dirimu memahami. Semoga dapat kita implementasikan ya nak? Menarik diri itu perlu, menepi sejenak itu perlu, hening ditengah 'keramaian' itu perlu, memadamkan 'api' yang di 'dalam' pun perlu, selamatkan 'rumah' kita yang di dalam, selamatkan jiwa kita."
(Catatan awal tahun 2014, yang ditulis kembali sebagai pengingat diri)











