Menjadi lebih sedih lagi jika saudara sesama muslim bahkan teman-teman yg dulu ada di jalan dakwah yg sama justru lantang membela 'yang sekarang dihukum' dan justru menghardik orang2 yg memperjuangkan agamanya. Bagaimana sikap kita seharusnya? mau diajak tukar pikiran tp justru berujung debat jadinya selama ini dibiarkan saja. Tapi sungguh, sedih sekali melihat postingannya atau kata2 yg dikeluarkannya :(
Oh banyak. Kawan-kawan saya juga begitu. Mereka yang cuti dari dakwah, lalu perlahan mundur teratur. Akhirnya resign. Ada bahkan kawan dekat saya, keilmuannya tidak perlu ditanya. Aktivitas beliau setiap minggu padat dengan agenda dakwah. Terkenal ke mana-mana karena sering mengisi acara. Bahkan banyak pula yang menjadikannya standar aktivis. Tapi, masalah “kecewa” dan “ke cewek/cowok” ini memang susah penawarnya. Orang yang bidangnya mengader pun kalau sudah kecemplung bisa jadi keder juga. Pemikirannya jadi campur-aduk, cenderung liberal, tidak lagi mengenal dasar-dasar tarbiyah. Berubah.
Tadinya, saya pikir, bisa jadi saya (atau mungkin kita), yang terlambat untuk berevolusi mengerti hakikat menjadi muslim yang baik. Mereka yang keluar dari jalan dakwah itu, saya pikir mereka telah menemukan titik puncak memahami hakikat bermuamalah. Mereka pasti telah melewati masa-masa kontemplasi yang membuat mereka berubah. Menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jauh lebih bijak, jauh lebih alim, jauh lebih beramal. Intinya keluarnya mereka dari jalan dakwah karena sesuatu yang membuat mereka jadi lebih baik. Saya malah curiga jangan-jangan kita ini yang salah jalan.
Tapi, pikiran saya itu tidak sejalan dengan perilaku yang kawan-kawan saya tunjukkan. Mereka malah mengalami degradasi ke dalam posisi di mana dulu kita pernah mendapatkan materi itu. Materi tentang futur, tentang yang berjatuhan, tentang virus merah jambu, tentang takut mati, tentang dunia. Tentang materi-materi yang pernah kita sangat hafal sewaktu SMA dulu. Kok kenapa malah mereka yang hidup dalam materi-materi itu?
Akhirnya, saya percaya bahwa jalan dakwah itu memang jalan terakhir yang menjadikan seseorang paripurna. Karirnya mentok di situ: juru dakwah, tidak akan ke mana-mana. Mereka yang keluar tidak mungkin akan lebih baik. Sebab, semakin ia baik, harusnya ia makin paham bahwa menjaga umat adalah tugas kenabian yang diwariskan kepada mereka yang paham.
Lalu bagaimana dengan kawan-kawan kita itu? Kita tetap bermuamalah yang baik dengan mereka. Bisa jadi memang mereka butuh istirahat. Jangan jauhkan atau malah mengucilkan mereka. Kita tidak pernah tahu apa yang bergejolak di dalam hatinya. Kesalahan fatal aktivis dakwah adalah ketika ada kawannya yang futur, bukannya diobati dan diterapi, malah diperburuk sehingga lukanya makin menganga. Jangan-jangan malah kita yang membuat mereka seperti itu?
Kita harusnya lebih khawatir kepada diri kita. Jangan-jangan kita berikutnya? Hari ini kita menangisi kawan-kawan kita itu. Esok, malah kita yang dibahas. Jangan sampai.