Bermain dengan serius: sebuah pemaksaan
Hari ini kamu akan memulai sebuah permainan. Permainan ini sekali dimulai tak bisa diakhiri hanya dengan kamu pergi; kamu tidak boleh lari. Permainan ini sederhana, prinsipnya harus sama-sama bahagia. Tenang saja. Kamu bebas menjadi anak kecil, yang serba polos dan manja atau pura-pura menjadi setua ayahku, mengomeliku alih-alih khawatir dengan tingkahku. Bukankah bermain itu selalu menyenangkan?
Coba ingat, berapa kali ibumu harus menjewer telingamu karena kamu terlalu asik bermain hingga lupa Mandi. Bukankah saat itu menyenangkan?
Jadi, hari ini kamu akan mulai bermain; dengan serius. Karena semua harus menyenangkan. Jika tidak, kamu harus membuatnya menjadi menyenangkan. Dalam hal ini; aku memaksa.
Kamu akan menemukan seorang perempuan, cantik tentu saja. Dia yang akan menjadi teman bermainmu. Seharusnya kamu telah mengenalnya, tapi mungkin kamu tidak pernah menduga dia kan menjadi teman bermainmu. Hari ini kamu terpaksa harus mengenalnya lagi. Karena dia benar-benar berbeda. Untuk pertama kalinya, kamu mungkin akan terkejut.
Perempuan itu, yang selama kamu mengenalnya tidak pernah absen membuatmu jengkel. Mulai dari lupa makan sampai lupa mandi dan kadang lupa tidur. Hari ini dia akan tetap membuatmu jengkel, hanya saja caranya telah berbeda. Dia akan mulai mengomentari hal-hal yang selama ini tak pernah dia pedulikan. Cara berpakaianmu, cara makanmu, cara tidurmu dan hal-hal kecil lainnya.
Dia tidak akan lupa makan lagi, karena kamu akan menemaninya makan setiap hari. Sebagai hadiah, dia yang akan membuat makanan itu sendiri, mungkin sesekali memintamu menemaninya. Jika kamu berinisiatif untuk memeluknya, dia akan berterima kasih dengan caranya dan kamu akan suka itu. Kamu boleh mencobanya.
Dia tidak akan lupa mandi lagi, karena kamu akan menemaninya *eh bukan. Maksudnya karena kamu akan membuatnya mandi, mau tak mau. Ya kan? Ehehehe.
Dia tidak akan lupa tidur lagi, karena kamu akan memintanya menemanimu, atau mungkin memaksanya? Terserah sajalah, yang jelas dia akan menyukainya. Kalau dia cemberut, ketahuilah bahwa gengsinya kepalang tinggi. Coba saja peluk dia, dia tidak akan menolak.
Reminder di HPmu tak perlu lagi menjerit-jerit mengingatkanmu agar bangun tepat waktu. Kalian akan bangun tepat waktu. Harus ada yang dikerjakan lebih dulu bukan? Dan sebaiknya kalian tidak membuat Tuhan menunggu.
Perempuan itu, yang selama kamu bersamanya tidak pernah menunjukkan air matanya. Dia akan sering menangis, entah apa alasannya. Dia memang suka menangis. Seharusnya kamu bersyukur dan tidak menghentikannya karena dia lebih suka memuntahkan kepenatannya pada air mata dibanding kata-kata. Berikan saja dadamu, biar saja dia menangis sampai kelelahan. Kamu akan tau, jika dia tertidur di pelukanmu artinya di sana adalah tempat ternyaman yang dia punya.
Perempuan itu, yang selama kamu ingat tidak pernah mau menuruti permintaanmu. Dia akan tetap menolaknya. Sudah kubilang, dia itu terlalu gengsi. Tapi dia akan mengerjakan permintaanmu diam-diam, dengan caranya.
Perempuan itu, yang selama ini keras kepala ingin tetap bekerja sekalipun kamu mencukupi kebutuhannya. Dia akan tetap dengan keras kepalanya. Dia akan tetap memaksa bekerja. Sebaiknya kamu tidak melarangnya, dia memiliki prinsip anak kecil. Kamu tau? semakin ditentang dia akan semakin keras memperjuangkan. Biarkan saja dia bekerja. Dia cukup tau terima kasih, dia akan menjadi yang terakhir kamu peluk sebelum bekerja dan pertama kamu kecup ketika pulang bekerja. Dia tidak suka menunggu, dia tidak akan membuatmu menunggu.
Tapi, setiap bermain selalu saja ada ketidaksengajaan yang membuat pertengkaran. Mulai dari salah ambil mainan sampai rebutan peran. Kan?
Tentu saja, permainanmu sama. Kalian akan bertengkar sesering kalian punya kesempatan untuk bertengkar. Kamu akan membuatnya menangis. Dia akan membuatmu marah sampai kamu hanya sanggup diam. Emosi kalian akan meledak. Emosi kalian memang diatur demikian. Bahkan menurutku memang harus diledakkan pada saatnya dan berkali-kali. Agar tidak ada ledakan sekali yang membuat kalian berdua langsung mati; game over!
Pada pertengkaran itu, kalian akan sama-sama memahami. Ada kecewa yang kalian rasakan, dan kalian harusnya lega. Setidaknya, itu artinya kalian masih memiliki perasaan yang sama ketika permainan ini dimulai. Jadi, permainan masih akan berlanjut. Kan? Karena dia sepertinya berencana membuat permainan berlangsung lebih lama. Dia mulai bosan bermain berdua. Bagaimana jika kalian menambahkan orang ketiga? Masih kurang? Baiklah orang keempat. Negosiasi terakhir, orang kelima. Cukup.
Untuk selanjutnya, kamu bisa bertanya langsung padaku. Kelak nanti setelah aku menjadi dia. Secepat yang aku bisa.
Jadi kapan? bonus tiga yang mirip kita deh*eh