Karena detik yang berlalu akan menjadi sebuah kenangan, jangan pernah meremehkan kebersamaan. Sebelum waktu mengajarimu arti sebuah kehilangan dan nantinya kamu hanya bisa menyalahkan keadaan.

seen from China
seen from Türkiye
seen from Germany
seen from United States
seen from Singapore

seen from United States
seen from China

seen from United States

seen from Singapore
seen from United States

seen from Singapore

seen from Australia

seen from United States
seen from Vietnam
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Germany

seen from United States
seen from Canada
Karena detik yang berlalu akan menjadi sebuah kenangan, jangan pernah meremehkan kebersamaan. Sebelum waktu mengajarimu arti sebuah kehilangan dan nantinya kamu hanya bisa menyalahkan keadaan.
Gagasan-gagasan buruk yang terus diulang akan menjadi kewajaran. Gagasan-gagasan baik yang jarang disuarakan, akan menjadi keanehan.
Jadi jangan kaget jika saat ini keburukan justru dipamerkan dengan bangga. Lalu dirayakan dengan sukacita.
Sebab terlalu banyak orang baik yang justru berdamai dengan keadaan. Lalu hanya merunduk menyaksikan keburukan. "Ya sudahlah, biar orang lain yang begitu, yang penting aku gak begitu".
Kau, Tidak sepenuhnya memukau
Kau memukau dengan pemikiran-pemikiran cemerlangmu. Kau memukau dengan kritik-kritik kritismu. Selalu membuatku tertarik untuk membuka percakapan denganmu. Tentu, bukan percakapan basa basi yang tanpa arti. Seringnya malah percakapan berbobot tentang masalah-masalah yang melanda negeri ini.
Kau memukau. Setiap kali kulontar masalah, dengan rapihnya kau tawarkan solusi. Ah ... tentu jika kau menjadi petinggi negeri mungkin masalah negeri ini akan satu persatu dengan mudah teratasi.
Kau memukau. Kecerdasanmu menembus batas. Pola pikirmu kadang tak waras meski masih berasas.
Sekali lagi, kau memukau. Hingga terlambat kusadari, bahwa egomu lebih tak berbatas dari pemikiranmu.
Abai pada komentar terlontar, merasa pendapatmu paling benar.
Merasa pendapat paling tepat, celahku untuk mendebat tertutup rapat.
Ah rupanya kau telah menanam pembenaran pada diriku secara paksa.
Pada akhirnya, sabarku menembus batas. Tak ada lagi di antara kita balas membalas. Egomu terlalu keras. Dan aku? Tak mungkin sediktpun bisa menggilas.
Kau memukau. Tapi, egomu tidak begitu.
Gk, 6 Mei 2020
Karena Hidup Banyak Rasa
Begitulah tagline dari Kopi Go*d Day yang mungkin sering—atau setidaknya pernah, kita baca dan dengar dari pelbagai media massa.
Namun bukan soal kopi yang akan saya coba ulas, melainkan soal marriage alias pernikahan. (Agak jauh bukan keberangkatannya, dari sebuah slogan menjurus ke pernikahan?)
Lantas, apa hubungan antara Karena Hidup Banyak Rasa dengan Pernikahan?
Sebagai informasi, saya adalah seorang single, belum pernah menikah dan belum sempat instal aplikasi Uber. Tulisan saya di sini adalah murni perspektif saya sebagai seorang yang insya Allah akan menikah.
Kita tahu, bahwa menikah yang paling didambakan tiap orang adalah menikah yang hanya dilakukan sekali seumur hidup. Itulah mengapa para kaum—terutama yang sedang berada di Quarter-Life Crisis*, menyadari betapa sakralnya sebuah pernikahan. Dan saya pun tidak terkecuali.
***
Ayah dan Ibu saya tidak jarang beradu argumen dari soal menentukan anak kuliah di mana, rumah dicat warna apa, pilihan capres-cawapres, sampai mana yang lebih dulu ada; ayam atau telur. Banyak aspek diperdebatkan, mereka bukanlah tipe pasangan yang selalu sepaham dan sependapat, sama sekali tidak.
Hingga pernah suatu waktu saya mendapati ibu saya menangis sejadi-jadinya, dan ayah saya menjadi ayah yang sediam-diamnya. Tidak ada lagi kehangatan. Itu adalah momen di mana saya berpikir, mungkin mereka akan bercerai.
Hingga pada satu ketika, ayah dan ibu saya masing-masing pernah saya tanyai, "Mengapa kalian tetap bersama padahal kalian sering berselisih paham, bahkan mungkin kerap saling tersakiti oleh satu sama lain?"
Jawaban mereka, yang acap berbeda pandangan dalam banyak hal, justru secara mengejutkan, memiliki esensi yang sama, "Saya menikahinya bukan hanya menikahi tubuhnya, saya juga menikahi jiwanya, kelebihan pun kekurangannya, juga segala permasalahan karenanya".
Dan sampai saat ini saya menulis, mereka tetap bersama menjadi suami istri. Pasangan yang mungkin paling berbahagia di muka bumi—setidaknya biarkan ini menurut saya. Kapal rumah tangga yang sama-sama mereka bangun tetap berlayar. Segala konflik, selisih, dan tangis tidak mampu membuat kapalnya karam.
***
Dari kenyataan inilah yang membuat saya menyadari, bahwa hubungan bukan hanya soal cinta dan bahagia, di dalamnya juga ada luka, kesedihan, dan kekecewaan.
Maka pernikahan, ialah ikatan yang akan tetap mengikat dirimu dan pasanganmu untuk tetap bersama ketika semuanya nampak gelap, seakan tanpa harap. Ikatan yang menjaga kalian tetap bersatu bahkan dalam masa-masa tersulit.
Sebab pernikahan, tidak lain tidak bukan, adalah komitmen antara dua insan untuk 'tetap berusaha' hidup bersama.
Karena hidup banyak rasa.
_____________
*Quarter-Life Crisis adalah masa di mana seseorang yang berusia 25 tahunan mempertanyakan hidupnya. Di masa yang merupakan puncak kedewasaan seseorang ini, orang mulai meninjau kembali masa lalunya, apa yang telah ia lakukan, apa yang ia dapatkan, dan bagaimana kehidupannya di masa datang (IDN Times)
Menjadi Diri Sendiri
Ada sebuah konsep populer tentang berpenampilan dan berperilaku yang belakangan membuatku pusing memikirkannya. Sebuah gagasan yang disebut "menjadi diri sendiri."— tepatnya, aku sendiri bingung akan memulai dari mana.
Ketika aku merasa lebih nyaman mengenakan pakaian feminim (baca: baju cewek) orang-orang kemudian akan berkata. "Kamu cowok, harus pakai pakaian cowok." Oke, karena dalam pemikiranku pakaian cowok itu identik dengan maskulinitas, kemudian aku turutin dan di hari berikutnya berpenampilan ala band cadas favoritku. Kemudian ada komentar lagi, "Mukamu polos, ngapain pake pakaian serem begitu?" Setelah itu aku pakai kaos biasa, dan seperti alur cerita mudah ditebak—ada lagi yang berkomentar, "Mukamu kok kayak cewek?" Malah kadang ada yang bilang, "Kamu lebih pantes pakai pakaian feminim."
Ini sering terjadi sejak usiaku 15 tahun, bahkan hingga sekarang.
Jadi, ada dua hal kebingunganku.
Pertama: sebenarnya siapa yang lebih tahu tentang diri kita?
Kedua: terlebih lagi, sebenarnya definisi "diri" dalam frasa "menjadi diri sendiri" itu apa?
(14:21)
untuk semua kata-kata yang terlontar spontan tanpa dipikirkan, aku memaafkan. untuk semua perkiraan-perkiraan dangkal yang bahkan tidak pernah kita obrolkan, maklum sudah aku berikan. manusia butuh hiburan. dan apapun perihal orang lain kadang menarik untuk dijadikan bahan. selamat datang di dunia kanak-kanak, cepat tumbuh besar :)
15 Desember 2017
😭❤️😭❤️😭❤️ We got beautiful flower from LADY GAGA for our baby shower😭❤️ that's something you never expected in your life. Thank u GAGA-San❤️ #babyshower #mihonails #gagasan #ladygaga
Ga ada gagasan tapi maju caleg? Mau jadi apa bangsa ini kalau saja lembaga pemerintah diisi oleh orang-orang yang mencari peruntungan