Baru saja ruang tamu kembali lenggang. Tamu yang kurang lebih 2 jam memenuhinya beberapa menit yang lalu berpamitan pulang. Laju mobil mereka baru sepersekian menit tak terdegar. Keringat dingin tiba-tiba saja aku rasakan.
"Lagi ada di rumah gak? Aku mau jadi ke rumah. Sendiri dulu apa langsung sama keluarga baiknya?" Begitulah pesan singkat melalui whatsapp yang membuatku gemeteran. Kamu, kenapa harus datang (lagi) disaat aku baru saja memakai cincin di jari manis dari seseorang selain kamu? Aku yang tidak sabar untuk menunggumu atau kamu yang datang terlambat menemui rinduku? Mana yang lebih layak dibenarkan?
Kosong. Aku menatap pesan darimu dengan tatapan kosong. Aku tidak tahu harus membalas apa. Aku tidak mengerti harus berbuat apa. Rasanya aku ingin menghilang saja.
Kusimpan gawai di atas kasur. Dua telapak tangan kuletakkan menutupi wajah. Ada butir air terasa panas menetes dari mata. Rupanya aku menangis sebab tak kuasa berbuat apa-apa.
"Bu, aku berangkat sekarang ya"
"Kok sekarang? Bukannya besok kamu baru berangkat?"
"Iya, tapi barusan ada kabar besok ada yang harus dikerjakan mendadak. Maaf ya gak bisa bantu beres-beres. Gak apa-apa kan?"
"Iya gak apa-apa. Tapi naik apa berangkatnya? Tiket keretanya kan jadwal yang besok."
"Masih ada bis kok, Bu. Yaudah, aku berangkat ya."
"Yaudah hati-hati. Jangan lupa ngabarin kalau udah sampai. "
Aku menyalami ibu dan bapak, berpamitan untuk berangkat ke Jakarta hari ini juga. Aku berbohong jika besok ada yang harus dikerjakan. Aku berangkat sekarang bukan karena itu, aku hanya ingin menghilang.
Langit sore mulai tampak, beruntungnya bus ke arah Jakarta masih ada. Aku matikan handphone sejak berada di dalam bus. Aku sedang tidak ingin dihubungi siapa-siapa. Aku ingin menepi. Mencoba memahami sebenernya apa mau hati.
Seharian. Rasanya benar-benar seharian aku dengan sengaja menyendiri. Sore keesokan hari setelah aku sampai di Jakarta handphone baru aku aktifkan lagi. Puluhan panggilan tak terjawab dari ibu, bapak, kamu dan dia. Puluhan chat masuk juga.
"Halo, assalamualaikum. Kenapa seharian hp-nya gak aktif? Ibu-Bapak khawatir. Kamu sebenarnya kenapa? Ada apa?"
Belum juga aku sempat membaca pesan-pesan yang masuk. Baru saja aku berniatan menghubungi ibu. Rupanya ibu lebih dulu tahu jika aku sudah mengaktifkan lagi handphone.
"Wa'alaikumsalam. Iya maaf, Bu. Baterainya abis terus lupa. Aku gak kenapa-napa kok. Baik-baik aja. Maaf ya lupa ngabarin juga. Hehe"
"Syukurlah kalau gak ada apa-apa. Ibu khawatir, jadi tadi siang ibu nyuruh Rifki ke situ. Paling bentar lagi juga sampai"
"Ibu kenapa jadi nyusahin orang lain?"
"Ibu cuma khawatir. Kamu tiba-tiba berangkat terus gak bisa dihubungi. Yaudah nanti Rifki suruh nginep aja dulu di hotel. Besok baru kamu antar dia ke stasiun. Katanya besok dia udah izin ke atasannya buat gak masuk kerja."
"Iya, Bu. Aku mau mandi dulu ya. Ibu-Bapak baik-baik di sana. Assalamualaikum."
Sambungan telepon berakhir. Baru saja aku hendak melangkah mandi, tapi handphone berbunyi lagi.
"Assalamualaikum. Aku bentar lagi sampai Gambir. Nanti aku langsung ke kosan kamu boleh kan? Shareloc ya."
"Wa'alaikumsalam. Gak mau aku jemput aja?"
"Gak usah. Nanti aku naik gojek atau grab aja. Deket kan?"
"Iya deket kok. Yaudah nanti aku shareloc. Hati-hati ya."
"Iya. Ditunggu ya alamatnya."
"Maaf ya ibuku jadi ngerepotin gini." Ucapku memulai.
"Ibu gak salah kok. Akunya juga khawatir. Pasti ada apa-apa sama kamu sampai-sampai mendadak berangkat terus gak bisa dihubungi seharian."
"Gak ada apa-apa kok. Kebetulan baterainya habis terus lupa."
"Udah, jangan terus-terusan membohongi diri sendiri. Dia ada ngehubungimu lagi?"
Aku tersedak. Bagaimana bisa dia tahu jika kamu menghubungiku lagi? Bukankah seharian aku sudah susah payah menghilang agar tidak diketahui siapa-siapa? Bagaimana bisa dia mengetahuinya tanpa aku cerita?
"Gak dijawab juga gak apa-apa kok." Ucapnya lagi seperti bisa membaca kebingunganku harus menjawab apa.
"Kok bisa tahu?" Tanyaku akhirnya.
"Itu, cincin tunangan kita kemarin gak kamu pakai."
Tidak, bagaimana bisa aku sebodoh ini dalam bersikap. Kenapa cicin yang kemarin saat setelah membaca pesan whatsappmu yang aku simpan hari ini harus tidak dipakai lagi? Kenapa aku sembrono sekali?
"Pikirkan dulu aja. Jangan kamu paksa. Jika pun pada akhirnya kamu harus memilih dia, aku ikhlas kok. Yang penting, jangan ada yang merasa menjalaninya dengan terpaksa. Tak ada kenyamanan dalam keterpaksaan. Sekalipun pada hal yang amat diinginkan."
Entahlah, aku harus menjawab apa. Aku semakin dibuat bingung dengan dia yang sama sekali tidak marah dengan sikapku yang jika diniali sudah pasti melukainya. Dia tahu tentang perasaanku ke kamu. Sebelum kemarin lusa aku mengiyakan tunangannya, aku cerita semuanya ke dia. Tentang aku dan kamu. Tentang kamu yang tiba-tiba menghilang. Tentang aku yang masih saja menunggu sekalipun tak ada kejelasan. Tentang kita semuanya. Tapi lihatlah apa yang dia katakan barusan. Dia kakak kelas kita saat SMA yang katanya sudah sejak dulu menungguku juga. Yang kemarin tawaran tunangannya akhirnya aku terima. Yang hari ini aku membuatnya terluka tapi masih tetap bersikap dewasa dan bijaksana. Aku harus berbuat apa untuk tidak melukaimu dan tidak melukainya? Sungguh aku masih menunggumu tapi terhadapnya aku sudah mulai tak lagi ragu.