Hai, sudah lama kita sibuk dengan membenahi diri. Bagaimana? Lelah atau ingin menyerah? Lelah tapi ingin tetap bergerak.
Sshh. Jangan terlalu fokus sampai lupa diri. Bahwa sesungguhnya, kita harus juga menambah energi. Mengeluarkan melulu, tentu buatmu kehilangan daya ‘baterai’ dirimu, bukan?
There’s a heart that must be free. To fly. Jadi ingat cerita fiksi yang ditulis oleh J. K Rowling. Dobby is a free elf. Dobby is free. Ingat scene itu?
Konsepnya adalah Dobby seorang budak manusia. Yang dipaksa untuk taat kepada majikannya, apapun caranya, apapun permintaannya. Bagi Dobby, karena posisi dia adalah budak, maka dia menurut saja apa yang dimau oleh majikannya.
Namun, Dobby merasa bahwa apa yang dilakukan oleh majikannya--Lucius Malfoy--merupakan tindak kejahatan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Harry Potter, sebagainya seseorang yang Dobby bela hidup dan matinya. Membebaskan Dobby dengan cara yang cerdik. Sehingga, muncullah kalimat di atas.
Dobby adalah peri rumah yang bebas. Dobby bebas...
Bagaimana rasanya bisa lepas dari perbudakan yang hal itu bertentangan dengan nurani kita? Ya, senang. FREE! Bebas dari bentuk perbudakan-perbudakan yang tidak sesuai dengan fitrah kita hidup di dunia.
Sama halnya dengan Dobby, manusia pun memiliki kecenderungan untuk diperbudak dan mau menjadi budak.
Bagaimana rasanya terjerat oleh situasi menyakitkan, hingga kita tidak ingin melakukan apapun? Memaki dan mengumpat. Menyesali dan menangisi. Tanpa berbuat apapun.
Ya, kita telah diperbudak oleh situasi.
Bagaimana rasanya terjerat oleh masa lalu? Entah itu trauma, kebencian yang mengakar, dan perihal lain yang membuatmu terus seolah tertarik ke belakang pada saat ingin melangkah?
Ya, kita telah diperbudak oleh bayang-bayang kita sendiri.
Pada dasarnya memang manusia sudah memiliki fitrah untuk menghamba kepada sesuatu. Tapi, kepada siapa? Itu yang menjadi pertanyaan. Apakah kepada manusia? Yang sebetulnya sama-sama lemah? Atau kepada benda-benda yang patut untuk disembah? Padahal mereka bernyawapun tidak.
Karena fitrah menghamba tersebut, membuat manusia tahu kemana akan kembali dan mengadu. Karena fitrah menghamba tersebut, manusia akan semakin terarah, bagaimana seharusnya ia diperintah. Karena dengan fitrah menghamba tersebut, manusia akan semakin tahu kemana ia harus mendedikasikan diri.
Manusia itu lemah! Tapi, tidak diciptakan untuk meratap
Manusia itu lemah! Tapi, tidak diciptakan untuk mengubur diri
Inilah pentingnya memahami positioning kita di dunia ini.
Budak, hamba, dan.. mukmin.
Mengapa mukmin? Karena dengan kemukminan (posisi sebagai seseorang yang beriman), kita akan tahu mau dibawa kemana kehidupan kita. Kita akan tahu, perbudakan yang sesungguhnya itu kepada siapa? What is the eternal glory, that can’t be destroyed and the most powerful one?
Ya, Allah subhanahu wa ta’ala. Dan memposisikan diri sebagai seorang mukmin, adalah sebuah derajat yang tentu tidak akan kita sangka sebelumnya. Bahwa, kita semua ternyata berhak mendapatkan posisi tersebut.
Positioning ini akan membantu kita--manusia, bagaimana caranya menempatkan diri di dunia. Dan kita pun akan mengetahui, bahwa posisi ini adalah posisi yang spesial di sisi-Nya.
“....Golongan mukmin mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka...” (Qs. Yunus: 2)
Perbudakan mana yang memberikan kita derajat yang tinggi? Hanya perbudakan kepada Allah-lah yang memberikan kita derajat yang tinggi. Lantas, masih mau diperbudak oleh selain-Nya?