Jika kau merasa ingin menyerah, ingatlah mengapa kau berusaha begitu lama.
Antoine Griezmann
almost home
Sade Olutola

Kiana Khansmith
One Nice Bug Per Day
Peter Solarz
DEAR READER
No title available

No title available
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Monterey Bay Aquarium

oozey mess
d e v o n
will byers stan first human second
wallacepolsom

Discoholic 🪩
NASA
Three Goblin Art

titsay
Lint Roller? I Barely Know Her
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Lithuania
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Russia
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
@rosesofie
Jika kau merasa ingin menyerah, ingatlah mengapa kau berusaha begitu lama.
Antoine Griezmann
Tentang Pernikahan
Kalau kau berpikir bahwa menikah akan menyelesaikan semua masalah yang kau miliki saat ini, kamu salah besar. Kau bahkan akan menambah daftar jumlah masalah yang kamu punya dalam hidup.
Kalau kau berpikir bahwa menikah akan membuatmu terbebas dari perintah ayah dan ibu, kamu salah besar. Karena ibumu tetap tidak akan tinggal diam ketika melihat anaknya terlihat hidup susah. Ketika kamu merasa cukup pun, mungkin masih akan selalu kurang di matanya.
Kalau kau berpikir bahwa menikah akan melepaskanmu dari rentetan pertanyaan orang lain seputar kehidupan, kamu salah besar. Mereka tidak akan pernah berhenti dan akan selalu bertanya dan terus menanyakan apa yang tidak mereka ketahui.
Tidak perlu terlalu terburu-buru.
Tetapi juga jangan terlalu menuntut kesempurnaan.
Sampai kapanpun tidak akan pernah kau temui sebuah sempurna, bahkan menikah dengan yang kau anggap sempurna pun akan tetap kamu temui celah kekurangannya.
Tetapi bila telah kau niatkan bahwa menikah adalah sebuah ibadah yang akan menyempurnakan separuh agamamu, maka kau akan mengerti. Bahwasanya separuh agama itu memang berat, namun harus dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Bahkan sholat 5 waktu saja terkadang sulit untuk ditegakkan secara khusyu’ dan tepat waktu, padahal ia tidak disebutkan sebagai separuh yang lainnya.
Menikah adalah ibadah seumur hidup. Kau tidak akan pernah tau saat yang tepat itu kapan, tetapi Allah yang akan memberi sinyal dan semesta yang akan menunjukkan kepadamu. Tenang saja.
Jangan pula kau anggap orang yang menikah itu adalah sebuah hal yang gampang, hanya perkara ijab dan qobul. Tetapi, makna dibalik itulah yang sesungguhnya sangat berat. Tak selamanya yang menikah lebih cepat darimu itu tak mengalami pergumulan hebat dihatinya, mungkin tak mudah baginya untuk sampai dikeputusannya saat ini, maka jangan pernah kau anggap itu mudah.
Latihlah dirimu untuk siap menerima. Karena mungkin ia, yang akan mendampingimu, sifatnya tidak akan persis seperti bayanganmu. Latihlah dirimu untuk berbesar hati. Karena mungkin kesalahan kecilnya sebenarnya membuatmu kecewa. Latihlah dirimu selalu menjadi yang paling sabar. Karena mungkin ia akan egois dan tak mau dikalahkan. Latihlah dirimu menjadi seseorang yang kuat. Karena mungkin ia akan butuh pundak untuk bersandar dan pelukan hangat untuk meredamkan emosinya.
Setiap pilihan itu memiliki konsekuensi, dan seharusnya kamu telah mempersiapkan menghadapi semua itu.
Tak ada yang salah untuk memilih cepat atau lambat. Tetapi memang, setiap pilihan itu ada pengorbanannya.
Yang terpenting adalah memahami bahwa menikah bukan hanya karena atas dasar cinta dan mencari kebahagiaan, tetapi berdasarkan iman dan mencari keberkahan.
“Barakah adalah keajaiban. Keajaiban yang hanya terjadi pada orang beriman. Jadi, yang dicinta di sisi Allah tak selalu mereka yang senantiasa tertawa dan gembira, tersenyum dan terbahak semata karena nikmat, kemudahan hidup, kekayaan, dan kelimpahan. Sebagaimana bukan berarti dibenci Allah jika senantiasa merasakan kesempitan, kelemahan, kekurangan, dan kefakiran. Di dalam sebuah pernikahan, barakah menjawab, barakah menjelaskan, menenangkan, dan menyemangati. Bahwa apapun kondisinya, kemuliaan di sisi Allah bisa diraih. Apapun keadaannya, pernikahan adalah keindhan dan keagungan, kenikmatan dan kemuliaan, kehangatan dan ketinggian. Jika dan hanya bila kita senantiasa membawanya kepada makna barakah.”
-Ust. Salim A. Fillah, dalam buku “Baarakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta”
Selamat berjuang yang masih bertanya-tanya akan kedatangan dan selamat meluaskan sabar bagi yang telah menemukan.
Dalam ruang kotak berpetak, diiringi deras hujan dan angin badai, 24 Januari 2019.
Dari aku, yang baru saja memulai.
Tentang Menikah
Bagi saya, memutuskan untuk menikah adalah tentang mendudukkan dua kalimat ini dengan adil: “kalau ga siap, mending jangan nikah” dan “kalau nunggu sempurna, kapan siapnya.” Dua sudut pandang yang fatal akibatnya kalau saya memihak salah satunya membabi buta.
Tak ada yang salah. Tapi tentu setiap pilihan ada resikonya. Dan cara meminimalisirnya adalah dengan bersikap tengah-tengah. Menyegerakan tapi tak buru-buru. Menyiapkan tapi tak buang-buang waktu.
Memang pada akhirnya kembali ke diri masing-masing orang jika yang kita bicarakan adalah perihal ukuran. ‘Segera’ itu kapan waktunya, dan ‘siap’ itu apa batas minimumnya.
Menjustifikasi orang dengan bilang, “Lo kelamaan, nunggu apa lagi sih,” atau, “gila cepet amat, mau dikasih makan apa ntar istrinya,” tak akan memecahkan masalah apa-apa.
Ukuran kita tak sama. Kamu tak tau pasti beban apa yang seseorang tanggung sehingga dia masih belum menikah. Sama halnya kamu tak mengerti seberapa besar tekad seseorang dan seberapa yakin dia dengan rencana hidupnya sehingga dia berani menikah dalam kondisi yang menurutmu terlalu dini.
Sangat cepat atau sangat siap bukan jaminan dan bukan satu-satunya parameter kebaikan. Bersikaplah pertengahan.
Jika ini tentang dirimu, jangan tertekan dengan kata orang. Dari semua manusia, kamu yang paling mengerti dirimu. Jika ini tentang orang lain, sebelum bicara hendaknya kamu do'akan dulu. Sudah?
— Taufik Aulia
Dulu dan Sekarang
Dulu, aku pernah meninggalkan kamu ketika kamu sedang memiliki masalah yang besar. Pagi ini aku mengingat itu kembali, dan entah mengapa aku menjadi sakit sendiri. Aku merasa pernah menjadi orang yang sangat jahat.
Sekarang, aku berjalan dengan seseorang yang baru. Dia yang mampu memberikan bahunya untukku bersandar dan mampu membuatku merasa berarti. Sekarang, ia pun sedang memiliki masalah yang besar. Aku telah berjanji pada diriku sendiri agar tidak mengulangi hal yang sama, yaitu meninggalkan ketika dia memiliki masalah besar. Aku ingin selalu ada di sampingnya. Aku ingin terus tertawa bersama dengan dia. Tapi, di sisi yang lain aku takut... Takut aku menjadi pecundang untuk yang kedua kali dan kemudian menyesal seperti penyesalanku saat ini.
Hai Tuan, berjanjilah bahwa engkau akan terus berusaha mengenggam tangan ini dalam keadaan apapun. Bolehkah aku meminta permintaan ini kepadamu?
Meskipun aku menyadari bahwa bertahan itu sulit... Tapi aku tetap ingin menghabiskan waktuku bersama dengan Tuan.
Teruntuk kamu yang selalu membuat aku rindu.. Tas Pinggangku. 💕
- Rosesofie
Karena memintamu berjuang sementara kamu hanya bersedia dimaklumi, tak ubahnya seperti aku yang cinta sendiri.
@kotak-nasi
(via
dihatikuadakamu
)
Karena memintaku berjuang, sementara kamu hanya bersedia dimaklumi, tidak ubahnya seperti aku yang cinta sendiri.
(via kotak-nasi)
MonochromeTale-8
Aku berhenti menunggumu, dalam ketidakpastian yang terlampau semu.
Aku berhenti mendengarkanmu, dalam resah yang membumbung harap.
Aku berhenti memerhatikanmu, dalam rindu yang cukup memilukan.
Aku berhenti menatap ke arahmu, ketika terang-terangan kamu menatap ke arahnya.
Aku berhenti bukan karena lelah, namun sudah habis segala cara untuk membuatmu sadar bahwa akulah yang selama ini berjuang.
Aku berhenti bukan karena menyerah, namun aku mengerti jika memintamu aku tak mungkin, tapi berserah pada-Nya aku masih cukup mampu.
Teruntuk kamu yang pernah berlama-lama kuberikan waktu, untuk setidaknya menyadari tentangku. Maaf, jika aku harus melangkah. Sebab aku terlampau sadar, bahwa kamu tak pernah sekalipun menujuku.
Hujan Mimpi
Melewatkanmu by Adera
Melewatkanmu di lembaran hariku
Slalu terhenti di batas senyumanmu
Walau berakhir cinta kita berdua, hati ini tak ingin dan selalu berdusta
Melupakanmu takkan mudah bagiku
Slalu ku coba namun aku tak mampu
Membuang semua kisah yang tlah berlalu
Di sudut relung hatiku yang membisu, ku merindukanmu
Oh, harusnya aku tlah melewatkanmu...
Menghapuskanmu dari dalam benakku
Namun ternyata sulit bagiku merelakanmu pergi dari hatiku
Selalu ingin dekap tubuhmu, namun aku tak bisa karena kau tlah bahagia.
*Let me feel my negative emotion in this time.
ATRIBUSI
berabagi kasus yang harus di analisa tersaji di depan mata, sampai akhirnya kemarin kelompok penelitian kami membicarakan tentang atribusi diri karena kebetulan kami sedang duduk bersama dalam satu kesempatan. Satu kelompok penelitian kami terdiri dari empat orang. Dua orang dari kami menganggap bahwa atribusi yang dominan pada diri kami adalah atribusi internal dan dua orang lagi atribusi eksternal.
Diskusi berjalan cukup seru karena masing-masing dari kami mempertanyakan akan flow kehidupan, dimana kami melihat flow kehidupan berdasarkan keputusan-keputusan yang sudah kami ambil. Lalu di akhir diskusi pun saya mempertanyakan, “Jika individu yang awalnya memiliki atribusi internal yang tinggi, bagaimana bisa atribusi itu perlahan-lahan menurun dan akhirnya membuat seseorang demotivasi? Apakah sifat nya fluktuatif?”
Kemudian salah satu dari kami menjawab, “Nah individu yang didorong oleh atribusi internal saja bisa hampir menyerah, lalu bagaimana dengan individu yang lebih didorong oleh atribusi eksternal. Apakah dia selalu harus didorong oleh sesuatu yang berasal dari luar dirinya?”
Jawabannya: Hening. Belum terjawab dibarengi dengan migrain.
Ada saat nya yang belajar ilmu tentang manusia pun akhirnya butuh sesi konseling. Membentuk kembali satu pola pikir yang harus perlahan-lahan di rubah. Terima kasih, Mas Psikolog! :)
Dear Self, all the pain that you ever felt makes you realize that sometimes life is not going like what you want.
Sometimes you must put your love deep inside the box in your desk. You can’t bring it on your shoes because it can hurt you knees and sometimes can make you paralyze. God gives you pain, takes everthing that you love, and also takes everything that you really want because He knows those things or hopes aren’t fit for you.
He will give you what’s best in the right time and ONE POINT that you must put in your mind wherever you are....He never forget about His promise to you.
when hurt make you realize
everything was done... it’s time to move and make everyhing possible to achieve. Oke, fokus ke penelitian dan fokus untuk kembali mengejar paris. Dear Past, thank you for everything, dear future, I’M READY! :)
Journey
Sudah sangat lama tidak pernah menumpahkan beribu kata yang tersimpan di dalam kepala...
Hampir dua tahun ini, kembali lagi ke bangku kuliah... Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan untuk menggapai cita-cita yang sudah dari lama diinginkan. Awalnya sudah sangat bersyukur dan hampir tidak percaya bahwa saya bisa lanjut kuliah Magister di kampus ini.
Alhamdulillah, Allah memberikan kesempatan untuk semakin hanyut dengan gegap gempita keharusan berpikir analitis dan kritis. Hingga kadang jadi lupa dengan ulang tahun teman-teman terkasih. *I’m sorry hiks...
Rindu dengan kegiatan menulis... menulis blog dan diary hehehe karena dari diary semua hal yang terjadi di masa lalu bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk masa ini. Kadang, membaca diary membuat saya bisa menertawakan diri saya. Menertawakan saya yang terlalu gampang menangis diam-diam untuk hal yang kurang penting dan setelah itu berubah jadi wanita yang lebih kebal dan jadi apatis pada masalah yang serupa.
Lalu, dari diary saya lebih mengenal siapa saya. Mengutip salah seorang Profesor yang juga guru saya, She often explain about “who am I“. Memang, kuliah di Jurusan Psikologi serasa berobat jalan. Berobat untuk bagaimana menjadi individu yang lebih baik lagi dan belajar untuk selalu berempati pada orang lain.
Disamping rindu untuk menulis, saya juga rindu dengan sahabat saya yang selalu ada kapan pun untuk saya. Mereka yang selalu siap menyediakan bahunya kala dunia terasa berat dan tak adil. Rasanya sekarang ini waktu 24 jam pun tidak cukup. Saya selalu berlari... Ya, selalu berlari cepat dan lebih cepat lagi.
Lalu, adakah hal yang saya benci pada saat ini?
Saya benci ketika saya tidak mampu menjawab pertanyaan teman ataupun dosen saya. Saya benci ketika saya merasa cemas menghadapi presentasi, saya benci merasakan debaran jantung yang kadang suka tak menentu, dan saya benci dan juga kecewa ketika hasil yang saya dapatkan tidak sesuai harapan. Jadi lebih perfeksionis? sepertinya begitu...
Saya sadar begitu banyak hal yang saya rindukan pada saat ini, tapi jika dipikir lagi. Apakah rindu bisa membuat saya termotivasi atau malah jadi amotivasi? Jawabannya, sekarang ini rindu harus ditepiskan dan selalu mengingat lagi akan target yang sudah ditentukan.
Bagaimana rasanya?
Menahan rindu ini sakit. Tapi akan lebih sakit lagi jika rindu mengganggu fokus yang berdampak gagalnya kesempatan meraih cita-cita.
Lalu, apa cita-cita kamu?
Dulu saya ingin sekali pergi ke Paris. melanjutkan sekolah disana.. namun Allah memberikan jawaban yang lain. Kesmpatan sekolah di negeri sendiri dan diganti dengan tambahan bonus yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Melakukan penelitian! Trully, i never imagined this before.... satu tim bersama teman-teman yang hebat, yang seringkali berhasil membuat saya malu sendiri kalau belum baca hasil penelitian sebelumnya, dan juga ibu dosen pembimbing yang sangat baik yang selalu dengan caranya mendukung kami semua.
Hmmm.... sekarang cita-cita saya berganti, yaitu jadi seorang ibu yang bisa mendidik anaknya hingga menjadi anak yang cerdas dan berkarakter baik. Kenapa begitu? karena saya melihat sekarang ini banyak terjadi pergeseran norma dalam kehidupan, dimana respek terhadap orang lain menjadi lebih tipis dan bahkan nyaris hilang. Keinginan yang simpel tapi sulit.
Semoga dengan ilmu yang saya punya saat ini, kelak saya bisa menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anak saya dan bisa memberikan ilmu ini kepada orang-orang disekitar saya.
Regards,
A mowan who has addiction to books
“masa lalu”
untukmu, masa lalu. izinkan aku menulis sekali lagi, segala tentang kamu. mungkin setelah tulisan ini kubuat, kamu tak lagi sudi membacanya, namun tak apa. menulis tentangmu, sudah cukup membuatku lega, meski tak kamu baca.
ada banyak hal yang tak kamu ketahui dalam diamku. ada banyak pesan untukmu yang tersimpan dalam draft pesanku. ada banyak rahasiaku yang belum sempat kamu tahu. juga ada banyak doa baikku yang mungkin tidak akan pernah terdengar di telingamu.
aku menulis ini, ketika aku sedang merasakan rindu-rindunya kepadamu. juga aku menyadari, masih namamu yang begitu kucintai.
mungkin kamu sudah tidak peduli, aku tahu itu.
tak apa. pengakuan bagiku itu melegakan.
ada banyak terima kasihku untukmu, aku tidak bisa menuliskannya satu per satu. tetapi, izinkan beberapa aku menyampaikan kepadamu.
terima kasih untuk pernah membuatku merasa begitu dicintai. terima kasih untuk pernah merindukan aku yang menyebalkan ini. terima kasih karena pernah selalu menjagaku dalam doa-doa baikmu. terima kasih untuk kamu yang selalu mendukungku. terima kasih untuk perhatianmu. juga terima kasih untuk pernah setia mendampingiku.
satu yang harus kamu tahu, akan selamanya, kamu terbaik dari yang pernah dan akan ada.
jangan pernah meminta aku untuk membencimu, melupakanmu; karena selamanya aku akan menolak, meski pun aku mampu.
pernah mencintaimu adalah anugerah untukku.
maaf, karena telah sempat mengecewakanmu. maaf, karena telah sempat membuatmu kesal atas banyak tingkahku. maaf, karena telah banyak merepotkanmu ini itu. maaf, karena cerewetku yang sering mengganggumu.
maaf, karena aku telah gagal menjadi yang terbaik untukmu, menjadi yang pantas untuk diperjuangkan olehmu.
sekarang, kita menjadi dua yang kembali asing. jangan tanya patah hatiku seperti apa ketika kehilanganmu. demi Tuhan, ini menyakitkan. kehilanganmu; aku kehilangan separuh aku.
tetapi, aku tahu ini bagian dari takdir kita. menolak pun, percuma, bukan?
ya, satu semogaku, ke mana pun semesta menuntunmu, semoga ia mengarahkanmu kepada perempuan yang tepat untuk mendampingimu.
bahagialah, di mana pun, juga bersama siapa pun kamu.
- dariku, perempuan yang masih mencintaimu.
aku, kamu dan kita
Sepuluh tahun yang lalu, kita mulai untuk mengenal satu sama lain. Selama itu juga banyak kisah yang sudah kita lalui. Saling mencinta, bertengkar, tak ada kabar, mencoba kembali dengan suatu komitmen untuk masa depan akan tetapi, nyatanya kita tak ditakdirkan untuk bersama.
Selama kita tak bersama, banyak hal yang aku jalani dan lewati sendiri. Banyak pencapaian-pencapaian yang aku gapai dan saat ini aku tengah menikmati mimpi lamaku untuk kembali melanjutkan pendidikan tinggi.
Beberapa lama tak bersama, hanya satu kenyataan yang dapat menamparku dan menjadikan impianku buyar. Hari besar itu akan segera tiba, bukan untuk kita tapi hanya untuk kamu dan dia. Tanpa aku, tanpa kita.
Banyak hal yang aku mulai pertanyakan. Apakah sangat mudah bagimu untuk melupakan semuanya? Apakah semua kenangan tentang kita bisa berlalu dengan begitu saja dari ingatanmu?
Dua buah diary menjadi bukti tentang semua yang pernah kita alami. Di awal cerita, kamu selalu membuat aku tertawa hingga di akhir cerita, kamu selalu ada sambil selalu berusaha mendengarkan aku dan memberikan aku sandaran. Aku berusaha untuk tak lagi meresapi cerita kita, tapi kenyataan ini seakan merenggut semua janji dan tujuan kita.
Jika kamu kembali hadir dan menanyakan kabarku, aku hanya bisa tersenyum sambil memegang erat semuanya. Air mata sulit untuk keluar dari pelupuk mataku karena semua cerita yang aku ingat adalah cerita bahagia. Cerita bahagia seorang aku dengan kamu yang sangat teramat mengerti aku dan hampir selalu menemani aku kemana pun aku pergi.
Sewindu bukan waktu yang sebentar, bukan pula waktu yang lama. Bolehkah aku memutar waktu lagi? bisa kah aku memutar semua waktuku bersamamu sekali saja? Sungguh aku tidak akan menangis. sungguh... Aku hanya mau memeluk ‘kita’ sekali saja untuk yang terakhir kalinya.
Rasa perih yang aku rasakan saat ini tidak sebanding dengan apa yang sudah kita lewati. Dear mas, terima kasih sudah selalu menemani, mendengarkan, memahami dan sangat perhatian. Aku tak akan pernah menangisi kepergian kamu. Semoga kamu selalu bahagia dengan dia yang jauh lebih baik dari aku. :’)
Mbak, sungguh aku menyesal... maafkan aku.... :”(
Magjourney
Ketika mimpi untuk melanjutkan study magister tercapai di universitas impian, masalah baru mucul... culture shock! meyakini bahwa diri ini masih butuh waktu untuk menyesuaikan kultur belajar dan proses adaptasi untuk mengelola memori ingatan untuk mengingat sesuatu hal dari masa lalu dan informasi baru dalam waktu yang hampir bersamaan..Rasanya sangat menyenangkan tapi hati masih tergopoh-gopoh untuk memaknai semua kejadian ini. Pasti bisa melakukan yang terbaik!!! Demi Kamu, Paris.
Hai, Tuan....
Aku kangen kamu.