“Cari sisi positif dalam setiap hal buruk yang kita dapatkan. Sehingga, kita bisa selalu bersyukur, sekalipun kita sedang tersungkur”
— Choqi Isyraqi

tannertan36
almost home
No title available
ojovivo
KIROKAZE
cherry valley forever
h
i don't do bad sauce passes
Monterey Bay Aquarium
d e v o n
No title available

JBB: An Artblog!
No title available
Xuebing Du
Alisa U Zemlji Chuda

JVL
I'd rather be in outer space 🛸

⁂

@theartofmadeline
Not today Justin

seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Taiwan
seen from Bangladesh

seen from United States
seen from Australia

seen from United Kingdom

seen from Netherlands
seen from Taiwan

seen from United States
seen from Australia
seen from Australia

seen from Australia

seen from Australia

seen from Taiwan
seen from Russia

seen from Australia
@ruangceloteh
“Cari sisi positif dalam setiap hal buruk yang kita dapatkan. Sehingga, kita bisa selalu bersyukur, sekalipun kita sedang tersungkur”
— Choqi Isyraqi
Dulu aku sering khawatir jika kelak aku berjodoh dengan seorang yang perokok, banyak bicara, pecandu game, tukang tebar pesone ke cewek-cewek, dan yang kurang dalam urusan agama.
Aku takut dia sakit-sakitan karena kebiasaan merokok. Aku takut dia lebih bawel dari aku. Aku takut dia menghabiskan waktunya dengan game dan mengabaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Aku takut dia suka chatan dengan cewek-cewek karena aku sangat pencemburu. Dan aku takut dia tidak bisa membimbingku untuk mendekatkan pada surga.
Terlalu banyak kekhawatiranku perihal jodoh. Sampai aku merasa takut untuk melangkah bahkan sekedar memikirkan ke jenjang itu.
Namun seketika hatiku berubah ketika kau mengirimkan sebuah pesan WA di awal pagi sebelum kita sibuk dengan kerjaan kantor. “Aku ajak nikah, mau?”, katamu.
Hatiku dagdigdug sampai tidak tahu harus merespon apa. Ingin ku katakan iya, tapi malu haha. Akhirnya kujawab dengan “Kenalan dulu aja, mas”, biar ada kesan jual mahal dikit.
Kekhawatiranku hilang sebab aku tahu di dirimu tak ada itu semua, meskipun aku juga tahu bahwa kau tidak sempurna.
Aku yang selama ini suka bertanya-tanya, “Bagaimana sih rasanya bisa yakin pada seseorang?”. Hingga akhirnya kamu datang menjawab pertanyaanku.
Kita yang setiap hari bertemu di ruang kerja yang sama, tinggal di kost yang sama, namun jarang berinteraksi, jarang ngobrol, jarang chatan, kecuali untuk urusan kerjaan. Aku yang suka jengkel karena merasa dicuekin, bahkan tak jarang merasa tidak dianggap ada.
Namun entah apa, keberadaanmu di kost ini membuatku merasa aman. Aku merasa terjaga, padahal kamu juga tidak pernah menjaga hahaha. Bersambung... Satnight, 19 September 2020 11:40 PM
Proses ta'aruf dua orang yang sama-sama lebih banyak diamnya & sama-sama sibuk.
Memilih ngobrol lewat telpon di jam kritis padahal tiap hari ketemu sepanjang hari.
Terima kasih telah menjaga dengan sebaik-baik bentuk penjagaan.
Ada banyak peluang untuk kita bisa sering berduaan, chatingan atau telponan ngalor ngidul, tapi kamu memilih untuk tidak melakukannya.
Kita ngobrol sebatas pada hal yang memang harus kita bicarakan. Tak ada perhatian sama sekali, bahkan ketika kau membaca storyku kalau aku belum makan. Siapa'' kamu?'' katamu. Ya aku memang bukan siapa-siapa, dan aku lebih senang dipandang seperti itu.
Aku perempuan, yang tak bisa dipungkiri membutuhkan perhatian. Tapi aku tak rela jika kamu, sebagai calon suamiku, memberiku perhatian karena aku belum layak mendapat perhatianmu.
Kita seringkali memanjatkan pinta yang disertai keraguan akan pengijabahannya. Sementara kita lupa bahwa kita memohon pada Sang Maha Kuasa. Yang mampu memberi anak pada ibunda Maryam tanpa suami, yang mampu memberi anak pada Nabi Zakaria yang telah terlampau tua.
Tulisan : Gegabah
Kalau kita sedang dalam kondisi tidak stabil seperti gelisah, khawatir, takut, dan semua perasaan yang membuat kita tertekan. Kita akan sulit mengendalikan diri kita agar tidak mengubah semua perasaan itu menjadi tindakan yang tak kita sadari.
Tindakan-tindakan yang mungkin akan membuat kita menyesal di kemudian hari. Perasaan-perasaan itu telah mengambil alih logika kita, membuat kita gegabah dalam mengambil keputusan.
Ternyata beberapa keputusan besar yang tanpa kita sadari mungkin telah kita ambil. Dan kita tidak bisa mengubahnya ditengah jalan, pilihan kita hanya menjalani konsekuensinya.
Yogyakarta, 27 Agustus 2019 | ©kurniawangunadi
Sebenarnya, ketika kita sedih, marah, kecewa, yang salah adalah diri kita sendiri yang telah gagal mengelola pikiran, emosi & perasaan.
Hanya kita sering menjadikan orang lain kambing hitam untuk menghibur diri sendiri.
Kejam!!
Tidak semua niat baik kita mampu diterima dengan baik oleh orang lain. Persepsi kita tidak bisa dipaksakan sama dengan orang lain. Mungkin karena kita memiliki sudut pandang yang berbeda. Yang menurut kita baik, bisa jadi bagi orang lain adalah kejahatan.
Maka atas setiap kebaikan yang kita upayakan, niatkanlah *hanya untuk dan karena Allah.* Bagaimanapun orang lain merespon negatif, toh bukan keridhoan mereka yang kita cari.
Jika harapan yang kita pinta pada Allah tak kunjung diijabah, bersabarlah..
Tetaplah berjalan on the track..
Tetaplah melangkah di jalur yang sesuai dengan syari'atNya..
Tetaplah bertahan dalam ketaatan..
Sebab akan ada kejutan-kejutan nikmat yang Allah hadiahkan dalam kehidupan kita..
Back
Telah berapa jauh kau menatap?
Telah setinggi apa harap dan mimpi yang kau bangun?
Jangan-jangan kau telah terbang terlalu tinggi hingga lupa kemana harus berpijak (?)
Tak inginkah kau coba menata kembali hidupmu?
Bukalah kembali memori lama, kemana tempat yang hendak kau tuju?
Tak lelahkah kau yang hampir setiap saat hanya memikirkan perkara jodoh??
Norak sekali kau, nak.
Seolah-olah hidupmu hanya untuk mengejar jodoh lalu menikah dan bahagia selamanya.
Lupakah kau bahwa yang menghantarkan kau pada tujuan akhirmu adalah keridhaannya? Adalah amal shalehmu. Bukan yang lain. Bukan karena status pernikahan.
Ingatlah ibunda Maryam, nak. Beliau yang istiqomah menjaga kesuciannya, pada akhirnya dimuliakan Allah dalam kesendiriannya.
Jika kau lupa pencapaian yang pernah kau bangun, maka rangkailah kembali sekarang. Kau masih punya waktu untuk berbenah.
Lakukan segala sesuatu yang membuatmu bisa semakin mendekatkan diri padaNya. Bukan malah lebih banyak memikirkan makhlukNya.
Tata kembali hatimu.
Tanamkan kelembutan di dalamnya. Berlaku lembut dan tulus pada siapapun. Bukan hati yang selalu mendengki, berprasangka buruk, dan mudah marah.
Maka apapun yang terjadi di kemudian hari, apapun takdir hidup yang telah Allah tuliskan atasmu, kau telah berbahagia karena telah menemukan tujuanmu..
Bagaimanapun jua, manusia tetaplah manusia. Yang untuk dirinya saja kadang tidak mengerti cara membahagiakan, terlebih pada orang lain.
Ketika orang-orang yang selama ini menjadi tempatmu menggantung harap seketika mengecewakan, mungkin ini saatnya kamu kembali. Bahwa hanya DIA yang satu-satunya pengharapan terbaik, yang sekalipun tak akan pernah mengecewakan.
Bersyukurlah dengan yang sedikit, sebab dengan memiliki banyak, membuat rasa ketika memperoleh tambahan sesuatu tak lagi begitu nikmat.
Sekarang saya paham, apa yang membuat saya meluapkan segala rasa di sosial media. Seolah hidup begitu terpuruk. Seolah langit terasa akan runtuh. Padahal masalahnya seujung kukupun tak sampai. Karena saya tak memiliki tempat lain untuk meluapkan perasaan tersebut. Padahal saya butuh seseorang untuk mendengarkan, untuk memahami, dan menerima apa yang saya rasakan. Saya bahkan pernah sampai tersesat, kehilangan arah. Sebab tidak tahu hendak kemana saya harus berbagi. Sepertinya waktu itu saya telah lupa bahwa saya memiliki Allah, yang tak pernah jauh, yang tak pernah abai, yang selalu siaga mendengar segala keluh hambaNya.
Terima kasih
Terima kasih telah hadir, menambah warna dalam hidupku, menambah cerita dalam kisahku, menambah pelajaran dalam perjalananku. Terima kasih telah membawakanku seutas harap, meskipun pada akhirnya kau sendiri yang melempar jauh harapan itu. Ah, bukan. Bukan kau yang menjauhkan harapan itu, aku saja yang berimaginasi bahwa yang kau bawa itu adalah harapan, nyatanya? Entahlah. I don't know what i need to say more. Yang pasti, kini aku paham, bahwa tidak setiap yang hadir di dalam hidup kita layak diperhitungkan, ada yang bahkan cukup dianggap lewat saja. Aku pun paham, bahwa berkenalan dengan orang baru tidak semudah membayangkan, sehingga bisa diakrabi dengan begitu cepatnya. Sehingga mempelajari karakter orang baru itu penting, sebelum kita bersikap kepadanya seenak jidat. Kelihatannya dia suka bercanda, kita pun bercandanya kelewatan. Jangan. Boleh jadi saat itu dia sedang bahagia, dan sedang biasa-biasa saja di saat yang lain, bahkan boleh jadi ia sedang dirundung masalah. Kelihatannya ia membawa harapan, kenyatannya ia hanya sedang mencari pelarian atas kekosongan yang ia rasa. Ya begitulah. Perempuan yang sedang dalam penantian. Bahkan idealismenya sendiri ingin ia runtuhkan, demi rasa, demi ketergesa-gesaan.
Hati dan pikiran saya sudah terlalu lelah dengan urusan pernikahan. Mulai dari lelah ditanyai "kapan nyusul" ketika menghadiri acara pernikahan kerabat dekat, hingga lelah menimbang-nimbang orang-orang yang "berlalu-lalang". Hari ini, saya bukan lagi perempuan yang berusia 20 tahun. Perempuan yang dengan mantapnya mengaku siap hidup berumah tangga. Perempuan yang dengan tegasnya menyalahkan kicauan di twitter bahwa anak muda mendambakan pernikahan hanya hingga usia 22 tahun, setelah itu, semangatnya ingin menikah akan menurun. Faktanya, di usia 23 tahun ini, di saat pernikahan telah benar-benar di depan mata, saya justru merasa takut, merasa jauh dari kata siap. Saya khawatir salah dalam memilih; seolah-olah tidak percaya pada petunjuk dalam istikharah. Saya khawatir tidak mampu menjadi istri yang baik; padahal tak ada orang yang benar-benar sempurna. Entah bagaimana skenario hidup saya kedepannya. Wallahu a'lam...
Sebelum Nanti
Nikmatilah masa sendiri sebelum kemudian kau jadi bagian dari masa seorang lelaki.
Bekerjalah sebaik-baiknya, sebelum nanti pikiranmu terpecah oleh keperluannya di rumah.
Nikmati sepertiga malam sepanjang-panjangnya, sebelum nanti malam-malammu mungkin akan disibukkan untuk menemaninya.
Reguk jam-jam selepas subuh untuk menulis, sebelum nanti jam-jam itu harus kau gunakan untuk menyiapkan rumah dan kebutuhannya keluar rumah.
Manfaatkan pagi untuk memasak makanan kesukaanmu, sebelum nanti kamu harus memasak makanan kesukaannya dan yang baik buat tubuhnya, bukan lagi apa yang kau suka.
Mandilah dengan riang, bernyanyi jika suka. Sebelum nanti kamu malu menyumbang suara di rumah mertua (kalo tinggal di rumah mertua).
Membacalah sepulang bekerja, apa saja. Sebelum nanti kamu akan menghabiskan waktu istirahatmu dengan mendengarnya berbagi cerita, tentang harinya di luar sana.
Bermajelislah banyak-banyak, bertemu dengan orang-orang yang menambah ilmu. Sebelum nanti kamu akan punya satu guru, yang membimbing langkahmu dengan semua ilmu yang sudah kau dapat.
Nikmatilah Minggu sore dengan nongkrong di tempat yang kau suka : perpustakaan, tempat jual buku-buku bekas, taman, museum, kafe, lalu ngobrol dengan orang-orang asing. Sebelum nanti kamu akan sibuk berbincang-bincang dengannya dimanapun kalian berada.
Berbagilah rejeki dengan orang lain sebanyak-banyaknya. Sebelum nanti kebutuhan rumah tangga menjadi alasan setan untuk menggodamu menjadi kikir.
Sering-seringlah menghabiskan waktu bersama orang tuamu, sebelum nanti waktumu menjadi milik lelaki itu.
Bertemu dan berkumpullah bersama sahabat-sahabatmu, sebelum nanti semua itu akan sangat jarang kau lakukan karena kehidupan yang sudah sangat berbeda.
Nikmati me time mu, sebelum nanti akan menjadi our time.
Bukan berarti masa nanti bersamanya itu akan buruk. Tapi, nikmati saja setiap detik yang kita punya. Bersyukur dengan keberadaan kita. Dan meresapi rasa-rasa menyenangkan serta sensasi berbeda yang diberikan setiap masa.
Blabbering ini terinspirasi dari curcol an beberapa sahabat yang sudah menikah. Bukannya mengeluh, tapi kadang tanpa sadar mereka mengatakan sesuatu yang mengindikasikan bahwa mereka merindukan saat-saat me time.
Surabaya, 6 Januari 2015. Sambil minum teh hangat di pagi yang dingin.