Memang tak pernah ada yang betul-betul bisa melihat seperti apa wujud dari "cinta" yang hadir dalam hati setiap manusia. Apakah cinta itu bagai nyala api yang berkobar dan meliuk-liuk dengan anggun, atau justru cinta seperti mata pisau yang berkilau menyembunyikan isyarat luka di baliknya.
Sebagai itu pulalah Zulviandi yang sedang jatuh cinta, tak mengira, bahwa cinta yang hadir di dalam hatinya berwujud kilau pisau yang kini menghujam dadanya.
Masih terbayang jelas di benaknya, bekas kecup kenangan bersama Alifah, perempuan yang ia kagumi dan tengah ia usahakan untuk hidup bersama. Dia bertemu Alifah dalam sebuah pertemuan yang tidak disengaja. Dia dan Alifah sudah saling mengenal sejak masa sekolah menengah pertama, dan oleh suatu benang takdir mereka diperjumpakan kembali dengan percakapan yang hangat.
Semakin seringlah mereka berdua bercakap tentang berbagai hal, hingga diri mereka lambat laun mengenal kehidupan satu sama lain. Dari sana pula, Zulviandi semakin menaruh hati kepada Alifah, kendati tak jarang Alifah menyampaikan perihal dirinya yang menurutnya serba kekurangan dalam pribadinya, tetapi Zulviandi sudah bertekad dan jatuh hati kepadanya dan siap menerima segalanya.
"Zul, diriku yang penuh kekurangan ini selalu merasa tidak pantas untuk siapa pun. Selalu merasa kehidupan sebegitu tidak adilnya. Pantaskah orang sepertiku yang jadi tempat kamu menaruh hati?" Tutur Alifah.
"Sudah jadi rahasia umum, Ai, bahwa setiap manusia punya 'kekurangan', justru normal kalau manusia punya kekurangan. Bahkan barangkali jangan sebut sebagai 'kekurangan', tapi 'kenormalan.'' Jawab Zul dengan lembut.
"Adapun aku menaruh hati pada Ai, itu pun bukan murni pilihanku, melainkan datang begitu saja seperti angin pagi yang memetik daun untuk jatuh. Dalam hubungan ini, aku tidak mengharapkan untung ataupun rugi, karena aku tidak sedang berdagang. Aku bersedia untuk tetap tinggal di samping Ai, hanya karena isyarat hati yang semakin tidak bisa diabaikan. Isyarat hati yang dinamakan orang-orang sebagai cinta." Ucap Zul.
Begitulah perasaan. Perasaan tidak bisa dijelaskan sempurna melalui kata-kata. Perasaan terus menyembunyikan wujudnya yang utuh dalam dada manusia. Adapun perkataan dan perbuatan, hanyalah tetesan kecil perasaan manusia yang keluar dari dalam dada. Sampai pada suatu ketika, perasaan itu mengalir keluar dan mempertemukan sepasang manusia yang saling menerima. Mengikatkan diri mereka menjadi sepasang kekasih.
Maka pada suatu kesempatan, sepasang kekasih tersebut memutuskan untuk bertemu dan menonton film di bioskop sekaligus makan malam setelahnya. Namun, apakah yang disembunyikan takdir dari maksud turunnya ke dalam waktu hidup manusia? Tak pernah ada yang tau. Seperti sudah permainan takdir, dalam bioskop itu Ai bertemu kembali dengan mantan kekasihnya yang sempat begitu dalam menancapkan luka di hatinya. Mantan kekasihnya yang sudah menikah dan terlihat begitu mesra.
Dalam suasana itu, Ai berkata pada Zul bahwa dirinya baik-baik saja. Tetapi sepasang mata yang menampung airmata luka tidak pernah bisa disembunyikan dengan benar, sehingga dari sepasang mata indah kekasihnya itu, Zul dengan jelas bisa mengetahui ada luka yang belum mengering di dalam hati kekasihnya.
Lalu sampailah pada saat yang tidak diduga. Setelah beberapa waktu dari kejadian hari itu, Ai memutuskan untuk membereskan semuanya sendiri: perasaannya, pikirannya, dan dirinya yang dia anggap masih kacau. Dia meminta semua selesai dengan damai dan meminta agar Zul berhenti menemaninya. Sebuah permintaan yang sulit diterima, tetapi keluar dari mulut orang yang dicintai adalah serupa menegakkan benang basah.
Maka begitulah nasib Zulviandi yang menerima perasaan cinta sebagaimana juga manusia-manusia lain, tak mengira, bahwa cinta yang hadir di dalam hatinya berwujud kilau pisau yang kini menghujam dadanya. Semakin besar cintanya, semakin besar pula luka yang ditimbulkan, dan semakin besar luka itu maka semakin membutuhkan waktu dalam untuk sembuh. Bahkan barangkali waktu yang diperlukan untuk sembuh jauh lebih panjang dari umur yang ditetapkan oleh Tuhan. Sehingga luka itu terbawa mati, dan abadi.