Ketika kita ingin melangkah bersama, bukankah diperlukan irama langkah yang sama? Agar tidak saling mendahului atau meninggalkan..
Se-kufu, sederhana nya adalah sebuah konsep dimana kita mengatakan kita “sama” atau “setara” dengan oranglain yang akan berjalan bersama nya. Beberapa orang mengkonsep hal ini dengan sangat sederhana dan dengan perhitungan yang terlalu nampak. Kesetaraan dalam hal ; harta, kecerdasan, keshalihan, hafalan -bahkan, kemampuan akademik, prestasi, dll yang berkaitan dengan “ukuran”
Namun nyatanya, di dunia ini banyak hal yang tidak bisa kita ukur. Kecerdasan mungkin bisa diangkakan, namun sesungguhnya kecerdasan pun adalah tentang keunikan individu. Mudahnya, Ada yang cerdas matematika kemudian menikah dengan orang yang tidak cerdas matematika, secara kasat mata tentu mereka tdk se-kufu, tapi nyatanya.. yang tidak pandai matematika ini memiliki kepandaian dalam hal kesenian. Nah, akhirnya dengan cara pandang yang diperluas, konsep se-kufu nyata nya memang tidak se saklek itu untuk dihitung dan disetarakan.
Apalagi jika membahas hal-hal yang berhubungan dengan rukhiyah. Bagaimana bisa menilai se-kufu atau tidak nya keimanan seseorang hanya dari rajin tidak nya orang itu menghadiri kajian, atau sesering apa puasanya. Wallahu'alam.. keimanan adalah kamar inti yang hanya ada orang tersebut dan Tuhannya yang mengetahui.
Jika Allah menjodohkan sepasang dengan segala perbedaan yang membentang, belum juga berarti mereka tidak se-kufu. Karena sesungguhnya mata kita sangat lah lemah.
Sangat terbatas untuk memberikan penilaian.
Bahkan, se-kufu atau tidak nya pasangan, juga tidak bisa diukur ketika mereka dalam “perjodohan”. Beberapa mengatakan mereka yang awalnya memiliki perbedaan -secara kasat mata, nyatanya ketika mereka menjalani pernikahan, mereka sendiri bisa menyimpulkan ; aku memang untuknya, dan dia memang untukku.
Konsep se-kufu baru dirasakan ketika tengah menjalani serangkaian peristiwa.
Maka, jangan cepat menilai dan jangan terlalu cepat menyimpulkan..
Karena sungguh, yang telah Allah persatukan itu ialah keputusan yang paling bijaksana, bagi semuanya, bahkan seluruh alam akan dipengaruhi nya.
Saya percaya bahwa saya tidak bisa menghitung keadilan yang Allah berikan. Yang saya percaya bahwa Allah adalah seadil-adilnya pemberi keputusan. Andai jika kita diikatkan dalam takdirNya, maka tentu itu semua dalam perhitungan Nya. Kita tidak perlu terlalu dan selalu bertanya-tanya.. membanggakan diri sebab telah disandingkan dengan seseorang yang menurut mata manusia lebih tinggi derajatnya, atau merasa rendah diri karena bersama seseorang yang kondisinya lebih dibawah dari diri kita dalam perhitungan kasat mata. Sebab terbuka nya pintu bahagia adalah pada kunci syukur yang dimiliki untuk menerima.