setelah mastato'tum, aku belajar tentang lapang
Dua tahun ini, mungkin pelajaran paling besar yang aku dapatkan adalah tentang berjuang semaksimal mungkin. Dengan amanah di organisasi, amanah sebagai Pemandu di asrama, membuatku belajar untuk maksimal mengerjakan amal yang menjadi tanggungjawabku. Hari hari berputar dengan dinamika pertemanan, konsepan acara dan daurah, kurikulum pembinaan, program kerja satu ke program kerja ke sepuluh, juga lika-liku kehidupan lain yang membawa banyak makna.
Kemudian tahun ini, peran-peran itu berakhir, berganti ke peran-peran berikutnya. Amanah organisasi baru, amanah sebagai Kakak dari Pemandu di asrama, ternyata membawaku ke pembelajaran baru. Kali ini bukan lagi sekadar mengajarkanku tentang mastato'tum, tapi juga tentang lapang.
Peran kali ini, mengajarkanku untuk lapang. Lapang menerima bahwa adik-adikku punya banyak sekali kelebihan sekaligus kekurangan. Lapang menghadapi mereka yang sedang belajar dan bertumbuh di perannya. Lapang walau harus berhadapan dengan ritme yang lebih lambat, pertanyaan yang lebih banyak, serta kebingungan yang hadir terus menerus padahal jawabannya cukup mudah didapatkan --menurutku.
Ketika tahun lalu aku diajarkan untuk bergerak cepat, berpikir tepat, maka tahun ini aku diajarkan untuk melambat, tapi sambil menggenggam tangan adik-adik untuk menemukan jalan mereka. Beberapa kali sempat terbersit kesombongan "Padahal dulu aku ga sebegininya...", yang pasti berasal dari sisi kotor dan buruk hati.
Aku sadari pasti, berada di titik ini juga karena tangan para kakak yang tidak melepas genggamannya untuk menuntunku mencari jalan. Para kakak yang meminjamkan jejak-jejak langkahnya padaku untuk mencari arah tuju. Maka, kali ini aku teruskan uluran tangan kebaikan mereka ke adik-adikku selanjutnya.
Dan, sekali lagi, setelah belajar mastato'tum, aku belajar lapang.
Pemalang, 27 Januari 2026












