Jon bersembunyi di balik pagar yang baru saja ia lompati. Nafasnya tersengal, giginya gemeretak secepat detak jantungnya. Dia tak berani mengintip jalan yang tadi dilaluinya.
“Si Lancung sudah tak terlihat,” Ron berbisik perlahan, meski saat ini sosok bernama Lancung yang mengejarnya tidak terdengar derap kakinya.
Jon berusaha mengatur nafasnya lalu mengedarkan mata ke sekeliling, “Kita tunggu lebih lama lagi, setidaknya untuk memastikan Si Lancung sudah jauh dari sini,” edaran mata Jon berhenti ketika dia mendapati rumah anjing di dekat pohon jambu, “sepertinya di sana aman,” lanjut Jon menunjuk rumah anjing.
“Kau gila?! Pertama, rumah anjing itu terlalu kecil untuk kita. Lalu bagaimana jika di dalamnya ada penghuninya? Itu yang kedua.”
“Jika di dalamnya ada anjing, seharusnya dari tadi kita diteriaki!”
“Tapi ini terlalu beresiko, aku nggak mau!” Ron menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Lebih baik aku lari dan dikejar Si Lancung daripada harus bersembunyi di sana,” lanjutnya.
Jon dan Ron yang tengah berdebat tidak menyadari keberadaan sosok yang datang dari dalam rumah. Dengan cepat sosok itu memegang erat kalung Jon dan Ron.
Mereka berdua meronta ketika diseret.
“Lepaskan aku, bajingan!” teriak Jon.
Ron terus meronta, lalu dengan sekali tendang dia berhasil lepas dari cengkeraman. Tanpa pikir panjang Ron melompat ke arah sosok yang bertubuh besar itu, lalu menggigit lengannya sekuat tenaga. Namun gigitan Ron tidak ampuh untuk melukai. Lengan yang ditumbuhi bulu lebat itu masih erat memegang kalung Jon.
Jon meronta lebih kuat lagi. Kenekatan Ron melukai harga dirinya.
Seharusnya si pengecut itu yang aku coba selamatkan, batinnya.
Upaya Jon membuahkan hasil, dia berhasil melepaskan diri, namun kini sosok besar itu mengeluarkan cakar dari sela-sela jarinya. Jon kaget dan tak siap menerima serangan akhirnya tersungkur dengan luka cakar di perutnya.
Sosok itu menggeram dan menyerang Ron.
Namun Ron yang terkejut dengan keadaan Jon, tak sadar dengan datangnya serangan.
Ron yang tak berhasil menghindar ambruk seketika dengan luka cakar yang sama parahnya dengan Jon. Serangan tadi diakhiri dengan gonggongan dan lolongan panjang seperti terompet kemenangan.
Jon dan Ron yang sudah tak berdaya kembali diseret masuk ke dalam rumah.
Dengan setengah sadar, Jon dan Ron saling menatap setelah dibaringkan di meja dapur yang besar, mereka pasrah bahwa ini adalah akhirnya. Air mata mereka mengalir.
Ingatan masa lalu datang silih berganti pada benak masing-masing.
“Saat kecil aku tak pernah membayangkan bahwa kelak aku akan berakhir sebagai rica-rica.”
“Setidaknya kita masuk YouTube.”
“Sayangnya majikanku tidak begitu suka channel memasak, Ron.”
Jon dan Ron kini telah dicincang, dan daging mereka beserta bahan dan bumbu lain diatur sedemikian rupa di atas meja.















