Markesot Belajar Ngaji
Markesot Belajar Ngaji adalah catatan refleksi sosial yang tak lepas dari konteks bunyi Firman Tuhan, sehingga setiap bahasan atau topik dalam buku ini selalu diakhiri dengan ayat suci Al-Qur'an yang relevan dengan yang dibahas.
Ada tiga judul Utama, dan masing-masing punya topik bahasan, disajikan tidak lebih dari dua halaman. Alhasil membacanya pun tak terlalu suntuk dan jenuh.
Betapa Qur'an menjawb tantangan zaman, salah satunya dibuktikan lewat Markesot Belajr Mengaji ini. Sehingga kandungan Ayat Al-Qur'an sangat dinamis dan konsisten menuntun, menjawab urusan kehidupan, juga kematian.
Al-Qur'an bukan sekedar dogma dan dikte. Dialektika Qur'an menujukkan logika dan nalar.
Sisi lain, buku ini menyinggung pada kita yang kerap tak tuntas dalam menyelesaikan persoalan, karena belum selesai satu urusan, selalu pindah loncat ke urusan lain. Sehingga selalu mentah dan tidak matang, tak menghasilkan solusi yang tepat.
Kita terlalu suka dengan konotasi, padahal denotasi sudah menunjukkan arti harfiah, makna sesungguhnya, sehingga suka tertukar dan membolak-balik mulai dari persoalan sampai pada memaknai persoalan itu sendiri.
Kita selalu berpedoman pada pemahaman bahwa mayoritas kuantitats adalah tolak ukur keberhasilan, pencapaian, atau bahkan kemenangan. Padahal ada yang luput dari pandangan yakni mayoritas kualitas.
Adalah mutlaq bahwa Allah SWT tidak ada komparasi dengam sesuatu apapun. Nyatanya, manusia dengan keterlenaan dan kesombomgannya suka lupa seakan-akan dirinya menjadi tolak ukur dalam segala urusan terhadap makhluk lainnya sehingaga merasa menjadi makhluk yang paling dan yang ter-.
Manusia menikmati hidup seolah abadi dan kekal didalamnya, dan takut terhadap kematian karena mati dianggap memisahkan dirinya dari segala kenikmatan.
Inilah yang disinggung Cak Nun, kematian adalah awal dari persoalan, bukan babak akhir dari perjalanan. Karena Manusia dalam kehidupannya selelalu mendambakam panca indra dan jasad tubuhnya, sehingga kematian ditakutkan.
Markesot Belajar Ngaji mengajak pada kita untuk mengaji terhadap diri, kalaulah terlalu ekstrim jika setiap hembusan nafas dan detak jantung harus mengingat kepada Tuhan, lantas, apakah setiap kita berurusan selalau melibatkan Tuhan? Apakah setiap mengambil keputusan selalu mengahadirkan Tuhan sebagai bahan pertimbangan? Atau, setidaknya, Apakah kita menyadari dalam tindakan, ucap, dan langkah, merendahkan hati karena ada yang lebih Maha Tinggi dari pada manusia?
#markesotbelajarngaji #caknun #alinea #maiyah









