Beard
Menunggu terasa begitu lama, padahal baru satu jam yg lalu dapat kabar kalau sudah sampai terminal Kediri. Setiap kali ada suara mesin datang dari arah utara, kakak dan ibu mulai celungukkan, penasaran ditambah berdebar-debar, ini dia datang, ternyata bukan. Terdengar lagi suara dari arah utara, dengan hati berdeguban, bertanya dalam hati, ini dia datang, ternyata bukan. Hingga adzan dzuhur pun berkumandang, apakah bersegera ke mushola, atau menunggu datang. Hingga menjelang iqomat tak kunjung datang, kami pun mengambil air wudhu dan bergegas ke mushola. Disana hanya ada pak Malik, yang beliau sebagai muadzin sendiri, kemudian men-senandungkan pujian-pujian dan doa sendiri. Biasanya kalau tidak ada jamaah yg kunjung datang, beliau akan kumandangkan iqomat sendiri. Kali ini ada diri ini yg datang setelah lamanya pujian dan doa yg beliau lantunkan. Ku salami beliau, sambil tersenyum, dan menyodorkan tangan, "Assalaamu’alaikum pak Malik", beliau balas salam tangan saya, kemudian beliau pegang tangan saya tanpa melepaskannya, di jauhkannya mic dari beliau, kemudian beliau tarik tangan saya, membisikkan pertanyaan penuh keheranan. "Wa'alaikumussalam. Kapan lek mu muleh?" (Kapan kamu pulang) "Wau dalu jam sedoso pak Malik. " (Tadi malam jam 10 pak malik) "Awakmu Lha kok ngingu jenggot duowo ngunu?" (Kamu kok melihara jenggot puuuanjang gitu?) "Nggih, mboten nopo-nopo kan pak? ", (Ya, tidak apa-apa kan pak) kujawab sambil tersenyum, kemudian beliau pun hanya bisa balas dengan senyuman pula. "Monggo kulo iqomati"(Mari saya kumandangkan iqomat) diserahkanlah microfonnya, kemudian saya kumandangkan iqomat. Didirikanlah shalat dhuhur berjamaah dengan makmum hanya saya, dan beberapa ibu-ibu disebelah, Namun saat tahiyat akhir datanglah pak Haji Khoiruddin, tergopoh-gopoh karena memang sudah sepuh sembari membenarkan kancing bajunya.











