Menziarahi Masyayikh Al Badri
Pagi ini saya, istri dan anak-anak ditakdirkan Berziarah ke Maqbaroh Masyayikh Al Badri Kalisat diantarahya adalah KH Hasbiyan Bin Kiyai Hamidan, Bu Nyai Aminah, KH Mazzin Bin KH Hasbiyan dan Bu Nyai Siti Khodijah.
Al Badri merupakan salah satu Pondok Pesantren yang pernah menjadi persinggahan istri dalam tholabul ilmi. Walaupun sempat nyantri di Al Badri, istri mengaku masih belum pernah sama sekali ziarah ke maqbaroh masyayikh. Hal ini karena letak maqbaroh masyayikh memang berada di lokasi pondok putra.
Sebagaimana lazimnya di pondok pesantren, santri putri dan putra dibuat terpisah. Demikian juga santri putri dilarang berada di lokasi pondok putra dan sebaliknya. Namun hal ini selayaknya tidak menjadi penghalang untuk tawasul dan berkirim doa kepada beliau-beliau.
Keinginan untuk ziarah ke maqbaroh masyayikh Al Badri sudah lama kami rencanakan. Namun baru pagi tadi bisa dapat terlaksana. Jika berpegang pada qadha' tentu Allah menakdirkan kami untuk bisa berziarah pada kesempatan kali ini. Namun bahwa ada sisi kelalaian kami karena tidak menyegerakan berziarah juga benar adanya.
Tapi bukankah sebuah kebaikan, sampai pada niat saja sudah dicatat sama dengan melakukan kebaikan tersebut secara penuh. Keyakinan kami, menziarahi makam para ulama, para masyayikh pondok pesantren merupakan salah satu kebaikan.
Istri pernah mendengar bahwa maqbaroh Masyayikh Al Badri ada di Masjid. Hanya saja, sekali lagi masih belum pernah kesana. Beruntung saya mempunyai adik kelas sewaktu kuliah, atau tepatnya seorang kader di organisasi yang saya ikuti sewaktu kuliah. Dia adalah salah seorang putra Kiyai di Al Badri.
Kemudian segera saya menghubunginya. Alhamdulillah dia kebetulan di rumah dan sempat menghampiri kami serta menunjukkan arah ke maqbaroh Masyayikh Al Badri. Alhamdulillah suatu takdir pertemuan yang sekali lagi karunia nikmat yang luar biasa dari Allah Subahanahu wa Ta'ala.
Sesampainya di maqbaroh, kami selanjutnya seperti biasa bertawasul, membaca ayat Al-Qur'an dan ditutup dengan do'a. Namun putra bungsu kami seperti tidak betah, sehingga kami tidak bisa berlama-lama berziarah.
Memang seringkali ketika kami berziarah ke makam-makam, putra kami seperti tidak bisa berlama-lama disana. Demikian juga sewaktu putra sulung kami masih kecil. Namun, setidaknya kita masih berusaha untuk berziarah dan niat hati kami ingin tuma'ninah, hanya kondisi memang belum memungkinkan. Sekali lagi kami berharap, semoga Allah mencatat sesuai dengan niat kami, bukan apa yang kami lakukan--karena terpaksa.
Setelah mengakhiri ziarah, kami masih menunggu Ning yang tadi sudah menemui kami. Karena tidak sopan apabila langsung pulang begitu saja. Setelah bertemu, kami sempat dipersilahkan untuk ke rumahnya. Namun karena anak kami yang masih belum bisa diajak berkompromi memaksa kami untuk tidak bisa menerima tawaran tersebut.
Dia adalah seorang ning "putra kiyai" yang tidak menampakkan background keluarganya sewaktu kuliah. Bahkan saya sendiri juga tidak tahu. Saya baru mengetahui setelah lulus kuliah. Ditambah lagi istri saya merupakan alumni Al Badri. Sepertihya dia juga kurang berkenan untuk diketahui khalayak umum mengenai background keluarganya tersebut. Termasuk dalam tulisan ini pun saya tidak berani untuk menyampaikan identitasnya.
Kami kemudian izin untuk undur diri. Sungguh ada kenikmatan luar biasa berziarah ke maqbaroh para ulama, terutama beliau-beliau merupakan perintis sebuah pondok pesantren. Yang darinya kemudian lahir para santri yang paham akan ilmu agama. Begitu besar jasa beliau-beliau. Lahum Al-Fatihah...