Am that kind of people yang; akan susah untuk bener bener marah sampe ga pengen kenal lagi, tapi menyimpan titik jackpot terdalam yang kalo disentuh sedikit aja, boom……
….bye, you’re not longer in my life. Papay
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
Monterey Bay Aquarium

shark vs the universe
Color Me Curious

No title available

ellievsbear

Product Placement
The Bowery Presents
Cookie Run:Kingdom Official!

gracie abrams

blake kathryn
Doug Jones
occasionally subtle
Show & Tell
One Nice Bug Per Day
Sweet Seals For You, Always
official daine visual archive
Noah Kahan
★
d e v o n
seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from Brazil
seen from Canada
seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from Chile

seen from South Africa

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Saudi Arabia

seen from Brazil

seen from Malaysia

seen from Venezuela
seen from Belgium
seen from United States

seen from Italy
@santrimulia
Am that kind of people yang; akan susah untuk bener bener marah sampe ga pengen kenal lagi, tapi menyimpan titik jackpot terdalam yang kalo disentuh sedikit aja, boom……
….bye, you’re not longer in my life. Papay
Gue punya teori, bisa dibilang hipotesis sih. Mungkin relatable ama elo, mungkin engga.
Gue ngerasa kalau hubungan elo dan pasangan itu suatu saat bisa luntur, karena kalian udah ngga saling ngasi sesuatu yang bisa dikejar, dicapai, atau dibuktikan. Pernah ngerasa ngga, kalau kalian udah merasa mengucapkan cinta satu sama lain dan akhirnya menjalani hubungan, and then what?
Kosong? Sementara jalan masih jauh, rencana belum ada, ditambah kepastian yang bahkan ngga jelas dengan kata-kata “jalanin-aja-dulu”.
Ketika udah merasa memiliki, sangat-sangat harus diwaspadai kalau akhirnya udah ngga ada lagi usaha usaha yang challenging kaya dulu pas elo pedekate. Iya, ini penting tapi sering banget diabaikan. Karena bukan ngga mungkin, elo dan dia yang katanya saling cinta, tapi akhirnya entah mau ngelakuin apalagi karena emang segalanya udah kerasa stagnan. Akhirnya apa?
Gue sendiri bukannya naif atau menafikan, kalau kita semua bakal selalu nyari yang bikin penasaran, yang selalu challenging buat dikejar atau dicapai. Dan jangan terkejut, kalau itu akan datang dari sosok lain yang ada diluar hubungan elo berdua. Bisa jadi akan ada orang lain yang ‘ngga sengaja’ masuk ke dalam lingkaran itu dan seakan mengacaukan, padahal ngga gitu niat di awalnya.
Tahu kenapa?
Bisa jadi elo, bisa jadi juga pasangan elo, yang menemukan bahwa orang baru ini sangat challenging, sangat menggoda untuk dicari tahu. You know what, dari sana bisa jadi ada rasa simpati bahkan jatuh cinta. Sedang mencintai, tapi juga bisa mencintai orang lain. Gila, itu bisa banget kejadian. Hati-hati, gue pikir ini adalah satu kondisi dimana kita udah ngga bisa lagi bohong kalau emang pasangan yang ngebosenin itu cenderung bakal ditinggalin.
©miftahulfikri
Problema remaja jaman sekarang adalah sulit membedakan seperti apa teman dan pertemanan, dan seperti apa ‘sesuatu yang lebih dari teman’, terutama soal lawan jenis. Diantara istilah teman dan berpasangan misalnya, kan ada istilah baru yang lebih blur yaitu ‘teman tapi mesra’ hingga sampai ke ‘berpasangan tanpa status’. Ini yang terlalu banyak miskonsepsi.
Bayangkan, seharusnya mengenal definisi teman itu dimulai sejak belia, terutama usia sekolah dasar dimana wajar bila sudah mulai berteman dengan banyak teman seusia walaupun berlawanan jenis. Hal yang semestinya lumrah kan, kalau anak laki-laki dan anak perempuan ya bermain seperti biasanya. Tetapi jaman sekarang kan lain, semuda itu mereka sudah kadung dikenalkan oleh ‘percintaan’ yang terlalu dini.
Baru cuma teman jalan berdua sudah ‘di-ciee-ciee’ kan, sampai pada terlalu cepat membahasakan cinta dengan cara ‘tembak, tembak’ yang cukup cringe bila dilihat secara kasat mata. Akhirnya, mereka akan terlalu cepat merasakan pubertas melewati umurnya, lalu bertingkah layaknya muda-mudi yang dimabuk cinta.
Lalu makin beranjak dewasa, mereka akan krisis akan suatu definisi dalam hubungan. Mungkin sudah jadi bosan karena sudah memulai hubungan bahkan sejak kecil tadi, sehingga sudah bertambah usia itulah mereka mulai bertanya-tanya bahwa ‘Hei, bukankah rasanya ada yang tertinggal? Bukankah rasanya ada yang salah dalam perjalanan ini semua? Apakah memiliki hubungan itu perlu?’ dan banyak pertanyaan lain yang mengemuka.
Tidak lepas dari situ, bila sudah bertemu pada lawan jenis, maka mereka akan sulit mendefinisikan apa itu ‘teman’, karena dulu mereka terlalu cepat beradaptasi dengan lingkungan yang menyesatkan. Akhirnya, timbullah spekulasi lain terkait hubungan yang lebih bisa dipahami tanpa embel-embel menyatakan cinta yang sesungguhnya juga bullshit dan menekan psikologis dengan aturan-aturan yang merintangi eksplorasi diri. Jaman sekarang, bahkan memiliki status sudah tidak terlalu penting lagi, kan?
Dari yang cuma teman, lalu timbul macam-macam sintesa hubungan seperti ‘statusnya teman, tapi kok lebih dari ini?’ hingga ‘Ingin status lebih dari ini, kok cuma rasanya seperti teman?’ dan hal-hal memusingkan lainnya hingga mengakibatnya banyaknya misskomunikasi yang berujung bawa perasaan dan sakit hati. Inilah muara dari segala muara kesulitan yang melanda kaum muda, mengingat mereka telah terjebak malpraktik soal pertemanan biasa yang semestinya dipupuk sejak belia.
Maka, tak ada cara lain selain merefleksikan pertemanan dengan murni sebagaimana halnya laki-laki dan perempuan juga bisa berteman, dan nantinya bisa mendefinisikan seperti apa lajur dan batasan dari memiliki hubungan. Kadangkala memang, ada seseorang yang memang hanya cocok dijadikan teman, tetapi akhirnya terjebak pada wilayah kabur diantara pertemanan dan berhubungan. Dan… faktanya, barangkali kita semua pernah terjebak di lubang yang sama.
#KitaAdalahNandan
perempuan yang punya banyak mimpi
kamu tau nggak, perempuan yang punya banyak mimpi itu cantik dan hebat banget kalau dilihat dan dikenal. mereka menarik karena tampak cerdas, karena sekiranya bisa melahirkan dan mendidik anak-anak yang cerdas pula.
kamu tau nggak, perempuan seperti itu, super merepotkan kalau dijadikan pasangan hidup. kalau kamu jatuh cinta sama perempuan yang punya banyak kemauan, kamu harus bersiap-siap.
kamu harus siap menjadi tempatnya bertanya, berbagi cerita, bahkan berkeluh kesah tentang perjalanan mencapai mimpinya. sebab, sungguh tidak ada perjalanan mencapai mimpi yang mudah–meski selama ini kamu melihatnya demikian, bahwa dia penuh dengan kemudahan.
kamu harus siap dan sigap untuk menjadi yang pertama dalam membela mimpinya. menjadi yang percaya saat orang lain tidak. menjadi yang pertama menikmati karya-karyanya. menjadi penggemar yang paling utama dan setia.
kamu harus siap ikut menghidupkan mimpi-mimpinya sebagaimana mimpi-mimpimu sendiri. sungguh, bagi para perempuan seperti itu, kalah pada mimpinya bisa jadi sama menyedihkannya dengan patah hati.
kamu harus siap dengan semua kerepotan itu. bahkan, kamu harus siap untuk berkorban.
perempuan yang punya banyak mimpi itu berisik, merepotkan. tapi, kamu tau nggak, kebanyakan dari mimpi perempuan sebenarnya adalah hadiah untuk orang yang paling disayanginya. kalau kamu merasa pantas untuk mendapatkannya, bersiaplah untuk membantunya merakit hadiah itu.
berkasihlah dan salinglah memberi hadiah, niscaya kalian semakin saling menyayangi.
Sebagian orang bahkan tidak memikirkan sama sekali soal cinta. Menariknya, bukan karena mereka tak mempersoalkan perasaan, tetapi memang kehidupan telah menempa mereka sedemikian rupa ; setiap harinya berpikir dan bekerja untuk setidaknya tetap hidup -meski tanpa cinta.
Begitulah adanya. Kisah nyata, ada seorang teman yang sudah ditinggalkan oleh Ayahnya sejak belia. Dengan sosok dirinya sebagai lelaki tertua, ia bekerja keras menopang tiang keluarga, bahu-membahu bersama ibu tercinta sekaligus memastikan adik-adik kecilnya tidak menderita.
Wah, kaupikir ini bukan di dunia nyata, tapi baginya memang benar bahwa tidak ada waktu memikirkan cinta. Bukan tak ingin, begitupula bukan tak iri dengan pemuda yang lain. Naluri masa mudanya tentu saja ada dan sesekali membara, namun untuk itu baginya tentu saja menghabiskan waktu. Ada dimensi lain yang memberikannya definisi hidup selain kata-kata ‘aku tak bisa hidup tanpamu’ yang sendu pada lagu-lagu yang mendayu.
Hai,
Lalu bagaimana untukmu, untukku juga, yang seringkali lunglai ketika sesekali putus cinta, rasa yang tak berbalas, atau justru terkena zona teman -hanya begitu saja perilakunya sudah seperti mati segan hidup tak mau? Baru saja ditinggalkan oleh orang yang sejenak mampir ke dalam hati, sudah resah tak karuan. Baru pacar kawan, belum orang tua tersayang!
Itulah yang kawanku tak mengerti dari kita yang notabene hidup senyaman ini. Baginya, kehilangan Ayah merupakan luka -tapi ia memilih untuk terus menyambung hidupnya. Ibunya saja sudah tak menangisi itu sejak lama dan hingga kini tak terpikir untuk menikah yang kedua kalinya.
Ah, memang.
Bagi orang tertentu, begitupun di suatu waktu, cerita cinta ternyata tak sepenting itu.
Kamu juga perlu tahu kalau diluar sana ada yang lebih pintar, ada yang lebih cantik, dan lebih hebat dibandingkan dengan saya. Hingga kamu juga menyadari dengan segala keterbatasan saya, saya adalah orang yang tetap ada disini hingga hari ini menyukai kamu dengan begitu banyak nya. Untuk menjadi orang yang begitu mengerti dan memahami kamu, orang yang paling bersemangat hebat atas impian kamu, dan khawatir berlebih kalau-kalau kamu lupa makan dan kurang tidur. Saya selalu menjadi orang yang berdoa habis-habisan kepada Tuhan saya untuk segala keberhasilan kamu, hingga suatu saat kamu tahu kemana kamu harus pulang. Kamu harus pulang, sayang. Ke rumah.
Tria
Jika Nanti
Jika nanti kau terlalu berpeluh untuk menempuh sebuah perjalanan yang begitu jauh, ketahuilah sesungguhnya aku tak pernah lepas lebih dari satu langkah di belakangmu, yang diam diam mencintai seluruh jagad rayamu, bahkan sekecil langkah kakimupun.
Jika nanti kau temukan rumah di ujung jalanmu, maka sebutlah aku sebagai jejak jejak yang selalu ada, mengikutimu persis satu langkah di belakangmu, bahkan ketika kau semakin tiada.
Jika nanti ternyata rumah itu telah usang, sehingga kau tak merasa nyaman lagi tinggal di dalamnya, ketahuilah, kedua lengaku masih fasih merentangkan selongsong harapan, menunggumu berbalik arah dan menghujaniku dengan sebuah pelukan
Ingatlah aku sebagai hal-hal yang tak pernah menyerah menunggumu dengan sebuah senyuman, meski kerap kali kau tengah menegaskan perpisahan
Sebutlah aku hanya satu langkah pada setiap langkah kepergianmu.
* WANITA WAJIB TAU *
TIPS KEREN SEPUTAR DUNIA PERDAPURAN
1. agar telur rebus tidak susah dikupas, jangan lupa celupkan kedalam air es saat telur tersebut baru matang/masi panas
2. agar cabe tidak meletup-letup ketika digoreng, jangan lupa tusuk ato lukai sedikit cabe tersebut dengan pisau sebelum digoreng
3. saat mencuci kangkung, arnong/selada air ato genjer serta tanaman air lainnya jangan lupa dibilasan pertama bubuhkan sesendok garam lalu diamkan sejenak agar binatang-binatan kecil yang mungkin hidup dibatang dan daunnya mati .. biasanya yg hobi nongkrong disitu lintah, keong, ulat dan cacing air.. ( brokoli dan kembang kol juga sering ada ulatnya jadi jangan lupa pula gunakan cara ini
4. agar tahu awet ketika disimpan, cuci bersih dengan air, kemudian siram dengan air panas, setelah itu lap dengan tisu dapur, simpan didalam tupperware tutup rapat, kemudian letakkan didalam kulkas insya allah bisa tahan 1minggu
5. untuk mengetahui telur busuk atau tidak bisa gunakan tes apung air, jika mengapung diatas air tandanya telur busuk
6. ketika akan mengocok telur untuk berbagai macam kue, pastikan telur dalam keadaan suhu ruang (bukan dingin karena baru keluar dari kulkas, hal ini bisa membuat adonan tidak ngembang)
7. jika menyimpan sayuran di dalam kulkas, jangan pakai keresek tapi gunakan koran dan majalah bekas, sebab ini bisa mencegah air embun sayuran menggenang yang bisa mengakibatkan sayur cepat busuk
8. untuk menetralisir bau dalam kulkas belah kentang dan letakkan di rak kulkas, kentang bisa menghilangkan bau tak sedap dalam kulkas
9. agar ikan tidak lengket dipenggorengan, gunakan wajan yang khusus untuk menggoreng, jangan sekali-kali menggoreng ikan diwajan yang pernah atau sering dipakai untuk menumis, sebab sudah pasti ikan goreng akan lengket dan hancur ketika dibalik, bisa juga olesi sedikit garam ke wajansebelum dituangi minyak
10. untuk menghilangkan rasa panas ditangan akibat terlalu lama berkontak dengan cabe ato sambel, (kata orang jawa tangan wedhangen) bisa dengan cara cuci bersih tangan dengan sabun sampai 2 atau 3kali, kemudian lap dan masukkan tangan kedalam beras, benam dan remas-remas beras sebentar,, fiuuhhh dijamin rasa panas ditangan akan hilang
11. agar mata tidak pedih ketika mengiris bawang merah, letakkan wadah berisi garam disamping talenan, cara ini insya allah ampuh menghindarkan mata agar tidak pedih
12. agar beras tidak dikunjungi kutu beras, letakkan sebungkus plastik yg berisi beberapa sendok kopi bubuk, kemudian beri sedikit lubang plastiknya.. kutu beras tidak suka aroma kopi jadi insya allah dia tidak akan berani datang ke beras
13. jika peralatan masak kusam akibat noda dari bumbu yang berwarna seperti kunir, ato panci yang terlalu sering dibuat merebus air jadi kekuningan.. ambil sesendok baking soda beri sedikit air gosok-gosok ke panci.. diamkan sebentar, lalu bilas.. jika masih ada noda bisa diulang lagi
14. agar kembang kates, daun kates/pepaya dan pare tidak terlalu pahit ketika dimasak, baiknya sebelum ditumis .. rebus sebentar di air rebusan daun jambu biji .. (caranya, rebus air, ambil beberapa lembar daun jambu biji, tunggu hingga mendidih, masukkan daun jambu, tunggu 5menit, masukkan kembang/daun pepaya/pare) diamkan sebentar matikan api.. baru setelah itu tiriskan dan siap untuk dimasak sesuai selera.. (kalo daun pepayanya untuk kulupan, bisa direbus hingga matang bersama daun jambu)
15. agar tempe tidak mudah busuk, jangan simpan didekat garam
16. jika menyimpan daging di freezer, pastikan daging tidak keluar masuk freezer berualangkali karena hal ini bisa membuat bakteri berkembangbiak, jadi potong-potong dulu dagingnya sesuai dengan perkiraan kebutuhan per tiapkali masak dan simpan di plastik kecil-kecil secara terpisah sehingga ketika akan mengambil, bisa ambil seperlunya saja..
Semoga bermanfaat
copas dari grup sebelah,
Wainii buat calon bunda dan otw bunda semoga bermanfaat yaaaak :3
wkwk pantesan sayur di kulkas cepet busuk…
Nah ilmu kan ini, yaa #noted :3
Pria juga perlu tau 😄 *noted
ilmu perdapuran
“Berhadapan dengan Allah harus menyerahkan segalanya, termasuk harga diri dan kehormatan. Tak ada artinya membawa dada yang busung atau dagu yang mendongak ke atas. Itulah mengapa sujud arahnya selalu ke tempat paling rendah, artinya kita sama sekali bukan apa-apa.”
— Taufik Aulia
Kelak, saat kau jauh dari rumah. Kau akan rindu suara cempreng ibu yang mengomelimu yang telat makan. Kau akan rindu petuah dan marah ayah saat kau lalai beribadah. Kau akan rindu suasana rumah yang tak pernah kau temukan di mana pun kau berada. Kau akan merindukan segalanya; adegan-adegan sedari kecil hingga kau tumbuh sampai pada tahap ini di sana.
Waktu dan perasaan sudah dewasa mungkin akan membuatmu merasa hebat. Hidup dan perjalanan yang kau tempuh akan membuatmu merasa kuat. Tapi rindu orangtua mana yang bisa kau dapatkan di mata orang lain? Sedih orangtua mana yang bisa kau rasakan di pelukan orang lain? Tak ada satu tetes air pun yang persis sama dengan air yang dipanaskan ibu; meski dengan tungku api, meski dengan membakar daun kering. Asap-asap itu telah menjelma larut dalam darahmu.
Kelak, saat semua perjalanan terasa semakin jauh. Saat tahap jenjang yang kau tempuh terasa semakin tinggi. Kau akan dihampiri perasaan aneh; kau merasa kau bukan siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa. Kau hanya ingin satu hal, menenangkan debar dadamu, menenangkan hampa pikiranmu, lalu menyandarkan diri di pelukan ibu sembari mendengar nasihat yang sudah berulang-ulang disampaikan ayahmu.
Jangan lupa berkabar meski jauh. Sebab rindu yang sama bisa tak datang di lain waktu dengan cara yang utuh.
–boycandra
Lihatlah wanita, rasa pedulinya selalu tak kasat mata. Ketika melihat baju dengan warna kesukaanmu, ia langsung berhenti di depannya dan langsung mengingatmu. Membayangkan kau memakainya. Di tiap benda-benda yang kau suka, ia diam-diam ingin menghadiahkannya untukmu. Di tempat-tempat baru yang ia kunjungi, diam-diam ia merencanakan untuk menunjukkanya juga kepadamu.
Begitulah wanita, rasa pedulinya jauh lebih besar dari apa yang pria lihat di depan mata. (via mbeeer)
Terima Kasih, karena begitu banyak hal yang sudah saya Terima. Maaf, karena belum banyak yang saya bisa Kasih.
(via palawija)
Kadang saya ingin cepat-cepat tua. Tapi juga terkadang khawatir, tua nanti bagaimana, kalau semuda ini saja sudah banyak mengeluh. Masih banyak yang harus dibenahi.
(via palawija)
Lelaki pun Bisa Terluka, Meski Ia Terkadang Tak Tahu Bagaimana Menyatakannya
Sebuah Cerpen.
_______________________________________
(1)
“Bego!”
Alya memekik tepat disampingku, menutupi sepasang matanya dengan lengan. Tersedu-sedan, namun samar terdengar karena dentuman musik cafe yang lebih keras menggaung.
Itulah umpatan terakhir yang ia katakan, sedang aku sudah sejak tadi mengalihkan pandangan, melihat ribuan kendaraan yang lalu-lalang namun rasanya kosong. Aku melayang ke beda alam, terdiam di beranda rumah sanubari milik Alya -yang sejak awal telah dibuatnya aku masuk untuk mengikuti kisahnya, membuat emosiku teraduk-aduk dan akhirnya menyerah pasrah.
“Kenapa sih lelaki tuh bego banget?”, mata sembabnya melihatku.
Aku yakin, ucapan itu tak ditujukan untukku, aku pun tau pada siapa serapah itu menuju, tetapi aku merasai juga sakit seperti sembilu ketika perempuan manapun berani menyudutkan genderku. Hanya saja aku sudah tak mampu membalasnya dengan balik mengumpat, hanya kedua pundakku yang kuangkat tanda aku tak ambil pusing untuk tanya yang membabi-buta itu.
“…padahal dikit lagi, coba Chan.. dikit lagi,” isaknya makin menjadi.
Aku kepulkan lagi sebatang Magnumku, membuatnya menjadi bulatan yang menebal lalu sepersekian detik kemudian hilang diterpa angin. Setelah kuhisap, rokok itupun mengeluarkan bunyi terbakar yang aneh, seaneh gelisahnya hatiku menekuri perawan yang masih memunggungi lengannya sejak tadi. Hanya ada aku dan Alya yang ada di luar cafe, sementara orang-orang yang duduk di dalam memandang kami dengan sejuta tanya. Peduli setan, bukan urusanmu kawan. Hari ini biarkan hidupku berepisode drama.
Alya masih terisak, ketika aku sudah hampir bosan,
“Udah lah Ly, lagian lunya juga sih yang salah,” pungkasku, sambil mematikan api rokok yang telah sekarat.
“Gue cuman mau liat keseriusan dia, Chan!”
“Tapi ngga gitu juga Ly caranya. Lu sempet mikir panjang ngga, sih?”, Aku hampir menggertak. Jenuh.
“Gue ngga mau kesannya gue itu cewe gampangan, Chan. Gue mesti liat sejauh mana dia mau memperjuangkan gue,”
Ah, rese! umpatku dalam hati. Sedari tadi, alasan yang kudengar dari Alya hanya nonsense. Yang terlihat cuma egoisnya saja, tanpa mau mengakui bahwa dia juga yang menyebabkan masalah seperti ini ada. Dia yang memantik api dalam sekam, lalu dia juga yang teriris dalam tangis. Yang egois itu siapa sih, Ly?
Aku memantik calon puntung ketiga, bersama asap yang kuhirup, kubuang semua rasa kesalku ke udara. Mematut diri, melihat ke sudut jalan, membiarkan Alya menghabiskan tangisnya sampai tandas, yang semoga membawanya pada muara kesadaran tentang betapa naifnya dia memandang masalahnya. Sedang aku? Kalau sudah terlalu keruh, aku sendiri kadang buntu hingga sisanya hanya amarah yang akan mewakili.
Alya, kenapa sih kamu berani menyakiti?
……………………………………………………………………….
Lelaki itu bernama Tarra. Dia bukan artis, tetapi sifatnya memang budiman. Dia anak baik yang lebih cocok mungkin tidak pacaran. Tetapi, ia kadung sudah mengejar Alya sejak semester dua, si anak dance plus pemusik aestetik yang sejak dulu sudah memikat hatinya. Aku sih, tidak ambil pusing, hanya menertawai cerita yang selintingan kudengar dari sana-sini. Gila, anak baik-baik begitu kok ngebet sama anak slengean macam Alya.
Dia memang punya segalanya, terutama wajah rupawan manis memikat. Tidak terlalu aneh kalau banyak lelaki yang kepincut. Utamanya, kalau setiap pasang mata melihatnya bernyanyi, beraksi seperti bumi miliknya sendiri. Tak segan kalau sedang berkumpul di markas anak musik, sampai larut malam, dan lagi-lagi hanya dia perempuan yang berani seperti itu.
Meski begitu, Alya juga punya pertahanan tinggi seperti pagar istana, dengan segala pesonanya. Aku, Chandra Dirga, yang sudah sejak setahun lalu menjadi sang kepala markas, paham betul karakter anak perempuan satu ini. Tidak ada yang paling kutakuti selain satu sifatnya ; suka meremehkan.
Bagi kami anak markas, cerita soal Tarra acapkali terdengar dari Alya, yang selalu kami simpulkan dengan tawa. Alya menyebut Tarra sebagai si anak masjid, yang sok-sokan mau menggaet hati sang biduan, dirinya seorang. Kontan saja, sinisme kami menguap-nguap di ruangan buluk di sudut kampus ini. Terakhir, si Belek, gitaris yang sempat magang di markas akhirnya angkat kaki karena tak kuat dibully, apa lagi kalau bukan karena mendekati Alya. Parahnya, Alya sendiri yang mengata-ngatainya di depan kami. Sinting memang. Bagi kami, Alya tidak untuk digoda, apalagi dimiliki. Ia bahkan sudah dianggap seperti lelaki.
“Gue bakal ngetes Tarra ah, Chan, Kir,” ucap Alya suatu hari.
Aku dan Bokir a.k.a Irham yang diajak bicara, meleng sebentar ketika sedang menyetem gitar. Hanya ada kami bertiga memang di markas kala itu.
“Maksud lu, Ly?” Bokir menyela,
“Anjis ini mah ngga akan bener lu, Ly” Aku menghela nafas panjang.
Alya tertawa sesaat, “Tarra ternyata ganteng, euy. Mau gue tes ah sejauh apa dia ke gue,”
Bokir ikut-ikutan mendengus, “Si Belek ngga cukup jadi tumbal lu, Ly?”
Aku hanya diam, menyetem gitar yang malah makin kendor, sedangkan pikiranku menangkap gelagat yang aneh. Perempuan ini mau apalagi?
“Diem aja lu pada. Semoga Tarra ngga secupu si Belek,”
“Gile lu, Ly. Tobat lu,” aku terpelatuk.
“Iya, anjir. Maneh nanti kena batunya siah,” tukas Bokir, yang aku tahu kalau dia sudah berbahasa Sunda, tandanya dia serius.
Alya hanya tertawa. Sinisme lagi-lagi menguap di udara.
.
Hampir sebulan aku tak melihat lagi Alya di markas, sepi, melompong, tanpa sosok tuan putri. Memang sih, aku dan dia sekampus tetapi apa daya beda gedung yang berkalang puluhan meter sudah tak mampu lagi untuk saling menyetorkan muka. Cuma aku sifatnya memang tak mau usik dan usil atas kesibukan orang, biarlah. Lagipula, tanpa Alya, latihan anak musik jadi lebih teratur dan lebih serius.
Sabtu, tepat jam 5 sore, anak-anak sudah bubar. Biasalah, pencitraan jomblo, katanya mau malam mingguan eh ternyata pada nonton bola di rumah. Tapi biarlah, aku tak ambil pusing, lagian akupun jomblo. Dan baru saja kututup pintu teralis markas ketika Arif datang menepuk pundakku, mengajak sekalian pulang ke parkiran. Kebetulan, ia teman sekelas Alya, iseng kutanya kemana batang hidungnya,
“Yang gue liat sih, tadi dia pergi,”
“Ama?” ucapku datar. Sangat tidak aneh kalau Alya tepergok pergi dengan lelaki.
“Tarra,”
“Weh? Malmingan mereka?”
“Au dah, iya kali,” oceh Arif, sambil meraih motornya yang terparkir “Udah semingguan dia balik ama Tarra,”
“Wah iya? hahaha,” aku tertawa, namun sumbang. Aku ingat betul apa yang Alya ingin lakukan ke Tarra, rencananya, sinismenya. Memuakkan.
“Yoi. Beruntung banget tuh Tarra,” pungkas Arif, sambil tos denganku dan akhirnya berlalu.
Sayangnya tidak. Alya tak benar-benar menyambut Tarra dengan hatinya. Kasihan, bukannya pintu hati, yang ia temui malah kerangkeng sinisme Alya yang perlahan memenjarakan asanya. Si Belek saja tidak kuat, apalagi anak baik-baik seperti Tarra. Ah, tak ada yang perlu kusemogakan selain hanya nafas panjang yang perlahan kuserap pelan-pelan ; amit-amit jabang bayi, kalau aku nanti punya pacar yang modelnya seperti Alya.
Kustarter Piaggio-ku meninggalkan kampus yang sudah sepi di sore sabtu yang penuh pencitraan ini.
.
Dua minggu berlalu.
Aku hampir melupakan drama percintaan Alya, ketika ia baru saja mengirimkan pesan whatsapp sepulang kuliah. Penting, katanya, malam ini ditunggu di cafe di daerah Setiabudi. Tumben, hari Jumat begini, feelingku merasa ada yang tak biasa. Aku sebenarnya malas, tapi memang tidak ada kerjaan juga. Anak markas entah keliaran kemana, kantin kampus sepi, parkiran mahasiswa hampa, pun Persib tidak ada jadwal main. Alhasil, tidak ada alasanku untuk menolak, mengiyakan -sekitar jam 8 sudah di lokasi.
Cafe tidak begitu ramai ketika kuparkirkan Piaggio-ku. Tidak terlihat Mini Cooper milik Alya. Si kampret ini pasti telat. Dia yang manggil eh dia yang telat, memang dasar. Tapi tanggung lah, maka aku langsung menuju lantai tiga, spot penjuru kanan yang kabarnya punya sinyal wifi paling kencang, -dan tentu saja, tempat paling sreg untuk meninjau sepanjang Jalan Setiabudi menuju Lembang.
Dan ternyata Alya sudah disana, termenung di punggung tangannya, menghadap utara. Dia tidak menyadari kehadiranku, malah aku yang menyadari kalau di mejanya sudah ada sebungkus rokok mentol tanpa pemantik. Aku berjingkrak mengejutkannya, tapi ia hanya menoleh tanpa respon berarti.
“Ngerokok, lu?” Ucapku, seraya menelunjuki barang bukti.
“Hampir,” ucapnya berdesah, tampak enggan “Gue udah beli mentol disini, eh lupa beli Zippo. Minta ama mas-masnya, eh pada ngga ngerokok. Ya udah gue nunggu lo deh,”
“Cih. Ngga akan gue kasih,” keluhku. Mataku membulat, memeriksa apa gerangan yang menjadi kabut hitam di harinya. Terlihat jelas di matanya, sayu menyimpat gumpalan keresahan, tapi harus lebih dijelaskan lagi lewat ucapan.
“Kenapa sih lu, Ly? Stres apaan? IPK lu masih tiga koma, kan?”
“Bodo amat IPK gue, yang jelas masih bagusan dari lu, Chan” tuturnya pelan. Bangke lu Ly, masih sempet sombong juga waktu kaya gini.
“Ini soal Tarra,” dengusnya, perlahan, menegakkan kepala, mencuri perhatianku, “Gue dicampakkan, Chan,”
Ah, demi Dewa, puja kerang ajaib, puja dewa Neptunus bertongkat garpu! Semestinya aku tertawa, meledak saat itu juga. Tapi entah kenapa, dinamit humorku tak bekerja, dicuri oleh dalamnya tatapan Alya, yang seketika membuat sintesis baru dalam otakku yang masih bekerja rodi mencerna -apakah aku ini tragedi yang harus membuatku tertawa? Aneh, apakah Alya keseleo lidah? Apa yang tersirat dari kalimatnya?
“Maksud lo, Ly? Dicampakkan? Ngga salah denger gue?” ujarku, sembari teringat pada si Belek. Jadi yang mencampakkan itu siapa, Belek atau Alya?
“Gue juga ngga tau, tapi feeling gue kaya gitu Chan,” lirihnya, dengan dagu berpunggung tangan.
“Emang udah jadian?”
“Belom, eh, hampir,”
“Lah?”, aku membenarkan letak dudukku, “Jadian belum, dramanya udah kelar, gimana sih?”
“Tauk ah! Dia bego emang! Gue udah suka sama dia, tapi dianya malah cemen, ngga mau memperjuangin gue lagi,”
Segalanya makin aneh, apalagi ketika bulir air mata pelan-pelan menitik dari pelupuk mata Alya. Sekian tahun aku mengenalinya, baru sekarang aku merasa kalau Alya benar-benar seperti perempuan, yang pasti mengalirkan air mata karena perasaannya yang lembut. Lambat laun, ia mulai merintih sambil menundukkan kepala, membuatku menjadi resah, sementara orang-orang di bagian dalam cafe beberapa kali mencuri pandang ke arah kami.
‘Gue cuman ngasi dia challenge, Chan,” Isak Alya, masih menutupi matanya, “Gue cuma mau liat sejauh mana keseriusan dia. Awalnya gue ngga yakin pada awalnya, tapi…”
“Tapi….”
“Tapi…”
Kata menggantung itu hanya diulangnya sambil tersedu-sedan. Sedang aku hanya diam menyimak, meski lirih ucapannya beradu dengan bisingnya klakson kendaraan yang lalu lalang. Kupusatkan perhatianku meski sorot matanya tak dapat kulihat.
“…Gue akhirnya suka ama dia, Chan”
Aku menghela nafas panjang. Berondongan tanya yang sejak tadi merunyam masih coba kutahan. Masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan.
“Trus…kenapa lu akhirnya sedih, Ly?”
“Gue cuma kecewa aja, padahal gue udah mulai suka ama dia. Gue cuma nguji dia kok, seberapa tangguh dia kalau gue diem, kalau gue ngga mood, kalau gue lagi bingung mau ngapain, kalau gue cuma ngandelin kata “terserah”, kalau gue kadang ngga acuh ama dia….”
Giliranku sekarang menutup mata, mengusapnya berkali-kali. Kini jelas, semuanya menjadi terang. Ada kemasygulan yang tak tertahankan, kalau bukan karena nuraniku yang masih terpegang, aku sudah sejak tadi ingin memuntahkan lahar kekesalan. Alya, Alya, kenapa kau begitu tampak arogan?
Aku hanya mendengus berkali-kali, lalu mencoba menghidupkan puntung pertamaku. Sempat bergetar tanganku, hanya karena menahan kesal.
“Lu kena karma, Ly” tegasku, “Lu mainin hati cowo yang udah mati-matian ngejar lu,”
Ia mendongak. “Dianya aja cemen, gue kan cewe, yang harusnya diperjuangin!”
“Tapi ngga gitu juga caranya, Ly! Lu mesti tau batasan juga!”
Tangis Alya tertahan, kurasakan Ia mengumpulkan benih amarah yang seketika itu langsung memuncak.
“Oh, gitu? Jadi menurut lo, segampang itu dapetin cewe, iya? Cuma bilang “sayang” trus cewe jadi mudah luluh tanpa ngelihat perjuangan si cowo itu dulu, iya? Jadi, tanpa usaha, cinta lu bisa diterima dengan gampang, iya?”
“Perjuangan sih perjuangan, tapi bukan berarti lelaki bisa dipermainkan kaya gitu, Ly!” Aku mau tak-mau harus menyela.
“Alah, munafik lo, Chan! Dimana-mana juga kaum gue yang suka dipermainkan oleh laki-laki kaya lo! Udah sering dimana-mana gue liat, cewe yang baik-baik malah sering ditinggalin karena dia terlalu baik, Chan! ………”
“…….Gue kasi tau, kadang cowo itu ngedeketin cewe ngga pake banyak usaha karena tau kalau cewenya itu baik! padahal lu tau sendiri, segala sesuatu yang ngga didapetin pake usaha keras itu jarang dihargai, Chan! Akhirnya cewe-cewe itu ditinggalin karena menurut mereka ngedapetin si cewe itu ngga ada tantangannya, ngerti ngga sih lu?….”
“……Gue sebagai cewe, ngga mau digampangin gitu aja, Chan! Ngga mau gue ama cowo yang cuma modal rayuan terus langsung minta jadian, najis Gue! Udah banyak kasus temen-temen gue yang terlalu ngemudahin cowo buat ngedapetin hatinya, yang akhirnya malah disia-siain. Ngga adil, Chan! Ngga adil! Ngerti ngga sih maksud gue?”
Alya meraung, sedang sudah kusut masai mukanya mengusap bekas aliran air mata. Sedang aku terdiam, termenung, membiarkan amarahnya menurun dengan sendirinya. Sempat tadi ingin kubalas api dengan api, tapi aku sadar kalau itu takkan berguna, perang egoisme antara lelaki dan perempuan, apa gunanya? Sekam pembelaan itu sudah kubuang jauh-jauh, kugantikan dengan asap kretek yang kuhisap pelan-pelan. Membuang keresahan, membiarkan dentuman musik cafe yang mengambil alih keadaan.
.
(2)
Malam semakin larut.
Musik sudah mati sejak tadi. Asbakku sudah penuh dengan beberapa puntung yang lintingannya masih tersisa seperempat, tandaku tak benar-benar menikmatinya. Tak ada lagi dengungan manusia-manusia yang keheranan melihat drama percintaan dibalik kaca pembatas cafe, mereka sudah enyah dengan sejuta tanya di kepala masing-masing, tentang apa yang terjadi pada seorang perempuan yang menangis-meledak meledak-lalu membekap kedua matanya dengan punggung tangan, sedangkan si lelaki hanya diam mematut diri, menghabiskan batang demi batang yang terkepul lalu hilang. Suara riuh kendaraan sudah tak kentara lagi, arus menuju Lembang sudah perlahan sepi.
Alya menyudahi dramanya dengan diam. Rokoknya masih utuh, tapi ia tak meminta pantikan zippo-ku. Hampir lima belas menit sudah ia merenung, dengan arah pandang kami yang bertelekan meja, memandang pepohonan rindang di penjuru cafe. Hentakan emosi sudah lama pergi, yang tersisa hanya sunyi.
“Ly,”
“Hmmm….”
“Lu harus minta maaf ke Tarra,”
Tak ada reaksi. ia tak mengangguk, pun tak juga menggeleng. Giliranku kini yang harus berbicara panjang, mencoba menarik benang simpulan yang terlanjur masai.
“Gue yakin, ini salah paham aja sih. Gue pribadi ngerasa tertohok ama kata-kata lu tadi, emang bener -cowo emang harus lebih menghargai apa yang udah dia dapetin, kasih sayang dari cewe yang udah nerima dia apa adanya, terlepas itu usahanya keras atau ngga… gue setuju ama lu, Ly..”
“…..cuma, baru Tarra yang sampai buat lu nangis kaya gini. Baru dia, Alya. Tandanya, apa yang dia lakuin itu membekas di hati lu. Perhatian dia, perjuangan dia, pengertian dia ke lu, itu yang ngebuat diri lu itu sebenarnya udah membuat diri lu tergenapi. Gue yakin, sampai ngebuat lu jadi galau kaya gini, apa yang dia lakukan itu udah sebaik-baik cara, kan? ….”
“…Alya, mungkin metode lu untuk menguji keseriusan lelaki itu harus lu liat juga ngga pake logika, tapi juga pake perasaan lu. Kalau hati lu kebuka, keseriusan seseorang itu pasti bisa lu ukur juga, kan? Gue ingetin lu untuk jadi perempuan seutuhnya sekarang, gunain hati lu yang peka dan lembut itu buat nyari jawaban atas segalanya…”
Aku berucap spontan, tanpa sebelumnya sengaja mengatur kata-kata. Sial, rokokku sudah habis, jadi aku terpaksa melanjutkan lagi dengan mulut yang masam. Aku merasa tak pernah sebijaksana ini sebelum ini, dan rasanya aneh.
“Ly…”
“Hmmmm….” ucap Alya, lirih.
“Ngerti kan maksud gue?”
“Iya, Chan..” tukasnya, “Masih belum terlambat buat gue. Semoga dia ngga ngerasain sakit hati yang terlalu dalam,”
“Ly, Gue kasi tau ke lu, kalau lelaki pun bisa terluka, meski dia terkadang ngga ngerti cara ngungkapinnya,” ucapku perlahan-lahan, mendekat , “Lelaki, meskipun dia berhak dan bisa, tetapi ngga akan pernah memilih untuk menangis kaya lu, kaum perempuan. Sesakit apapun hatinya, dia memilih untuk mengekspresikannya….”
‘…..jadi, jalan termudah untuk itu semua adalah pergi dari lu. Lu ngerti kan sekarang kenapa Belek udah ngga mau nemuin lu lagi abis kejadian tempo hari? Jangan sampe Tarra juga jadi korban ketidak-sengajaan lu, Ly.. padahal bisa jadi perlakuan mereka itu beda banget. Cuma Tarra yang bisa bikin lu nangis, dan lu mengakui bahwa lu kecewa karena dia ngga mampu menuhin ekspektasi lu…”
Alya mengangguk. Perlahan, aku menangkap sinar yang berbeda dari sorot matanya. Semoga dia mengerti. Hanya dia yang bisa mengambil konklusi dari semua ini.
Aku berdiri, melemaskan ketegangan. Mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ternyata, memang sudah sepi. Tak sadar aku kalau bangku-bangku di dalam sudah diangkat ke atas meja, pun terlihat lantai yang basah karena sudah dipel -tanda harus segera angkat kaki dari sini.
….
“Pulang yuk,” tawarku, “Mau naik vespa butut gue apa naik Gojek?”
“Tau aja lu kalo gue ngga bawa mobil,” ucapnya, tersenyum.
“Gue ngga ngerti lagi lu tadi kesini naik apa, Ly. Lu terbang ya?” Ucapku terkekeh, dia pun tertawa berderai. Efek setelah menangis memang akan membuat tertawa, katakanlah itu sebagai proses sublimasi hati.
Tak lama kemudian, vespaku meluncur membelah sunyinya Bandung, darijalan Setiabudi menuju Cihampelas yang dingin, sepi, dan hanya berteman kelap-kelip lampu kota. Alya hanya diam, dan aku sadar kalau aku harus memberinya kesempatan untuk meresapi makna semua peristiwa yang baru terjadi beberapa jam kebelakang.
Tiba-tiba, ia menoyor helmku dari belakang,
“Tumben lu, Chan, bisa bijaksana gitu, hahaha,”
“Yaelah, gue gituloh, ketua anak musik! Kalau ngga bijaksana, ngapain lu ngajak curhat gue kan?” Aku tertawa.
“Sengak banget lu,” toyornya lagi, sambil balas tertawa.
Tinggal dua lampu merah lagi untuk sampai ke rumah Alya, ketika itu sesumbar ia bicara padaku,
“Kalau akhirnya Tarra ngga mau nerima gue lagi, gimana Chan? Misalnya dia kecewa berat ama gue gitu, gimana yah?”
Aku terdiam. Tak membalas. Kesusahan mencari balasan yang sepadan.
“Kalau Tarra ngga mau, lu mau kan jadi pacar gue, Chan?” ucapnya tiba-tiba, membuat tawaku tersembur.
“Kampret! hahahaha. Gue bukan cowo gampangan kali, Ly. Gue harus nguji seberapa keseriusan lu ke gue, hahaha,” ucapku, sambil melet-melet ke spion yang mengarah ke wajahnya.
Ia hanya tertawa. Lalu diam, hilang bersama deru motorku. Semakin lama, pelukannya semakin kurasakan begitu lekat. Sesempurna inilah kalau Alya mau menjadi sosok perempuan yang sejati, membuat siapapun lelaki pasti mudah jatuh cinta.
Gue yakin lu bisa berubah ly, terutama merubah sudut pandang lu tentang laki-laki, ngga semuanya lelaki kaya yang lu pikirin, Ly, ucapku dalam hati.
Hingga, tak ada lagi ucap yang bersahutan dari mulut. Entah, kalau dari hati.
_____________________________________________
©miftahulfikri
Ketika Lelaki Menjelaskan Masa Depannya...
Padamu, Ladies.
Lelaki biasanya tak suka bercerita. Meski tak semuanya begitu, lelaki memang seakan akan tak terbiasa untuk meluahkan seluruh isi kepalanya lewat sepasang bibirnya. Bila memang inginnya bungkam, maka seluruh dunia terkadang tak dapat menebak apa isi pikirannya.
Tetapi seiring bertambahnya kedewasaan, ada pola-pola tertentu yang mewarnai lika-liku hidupnya. Bila telah sampai pada suatu pemahaman, lelaki akan mengetahui bahwa kodrat hidupnya akan dipenuhi dengan pertanggungjawaban. Seketika ia sadar, bahwa genggaman tangannya suatu saat akan menjadi pelindung jiwa-jiwa yang dikasihinya, entah itu orangtuanya, saudara terdekatnya, hingga kekasih tercintanya nanti.
Bila memang lelaki ditakdirkan menjadi pemimpin, menjadi penentu kemana arah hidup menuju, maka ia akan paham seiring waktu. Ia tak mungkin lagi sembarangan memilih peran, pelan-pelan telah ditinggalkannya jiwa kekanakan. Suatu saat, lelaki itu pun akan menggeliat perlahan, menatap matahari lebih lama untuk terbiasa menghadapi sengatan kehidupan. Ayahnya, dan lelaki dewasa lain yang telah dahulu daripadanya, akan selalu mengajarkan bahwa lelaki harus lebih kuat dan menjadi yang terkuat. Hingga kekuatan itu dapat digunakan untuk melindungi orang yang dikasihi, seperti Ayahmu melindungi ibumu dan kamu, ladies. Seperti itulah menjadi lelaki, maka telah dewasalah ia.
Oleh Tuhan, dikaruniailah sang lelaki dengan kemampuan menalar, visi sederhana sebagai pemimpin untuk mempersiapkan apa yang terjadi di masa depan. Bila ingin diakui sebagai seorang pria, maka lelaki harus tahu apa yang akan diperjuangkannya nanti. Kebanggaan sekaligus tanggungjawab yang nantinya akan diemban, mengajarkannya arti perencanaan. Di kepalanya telah tersusun berbagai langkah, hingga padu padan tantangan sekaligus masalah di depan. Bila tentang visi dirinya sendiri ia telah selesai dan tercapai, maka prioritas penting selanjutnya adalah melindungi dan membahagiakan orang yang dikasihinya. Dan tahukah ladies, suatu saat akan tersisip pelan-pelan namamu dalam sanubarinya… seseorang yang nantinya wajib dibahagiakannya. Hingga lebih jauh, sadarlah ia akan mempersiapkan kedatangan buah hatinya ke dunia, mempersiapkan dan mengawal tumbuh kembangnya, melindungi keluarga dengan segenap kekuatan hingga akhir hayatnya.
Begitupun karena lelaki bersandar pada kekuatan logikanya, maka rencananya akan sampai pada hal-hal realistis yang tampak di matanya begitupun yang dipahaminya. Bila telah bekerja, yang tampak di pikirannya adalah apakah gajinya cukup atau tidak untuk menghidupi keluarganya, seberapa besar rumah yang ia butuhkan, bagaimana ia mencukupi dana pendidikan, bagaimana ia mencukupi dana kesehatan dan lain sebagainya. Ketika ada beberapa hal yang harus kita sadari ketika kecil, bahwa ketika Ibu kita menyuapi makanan pada kita, bermain dengan sekotak mainan di rumah yang nyaman.. percayalah, disana ada peran Ayah yang begitu besar meski ia tak selalu ada disana. Karena begitulah lelaki bekerja.
Maka, ladies..
Bila disampingmu kini telah ada lelaki dewasa itu, maka beruntunglah. Apabila selama ini ia telah membersamaimu dan selalu bersabar mendengar celotehanmu, maka akan ada saatnya kau harus mendengar untaian rahasia yang telah dipendamnya begitu lama. Kau akan tahu ia lelaki seperti apa, apabila ia harus menjelaskan masa depannya. Ketika lelakimu telah menjelaskan rencana masa depannya akan bagaimana, maka kau boleh menjadi saksi bahwa telah hampir sempurnalah pemahamannya mengenai kehidupan. Apalagi dalam sebait kalimatnya, tersisip namamu yang akan diwujudkannya dalam waktu dekat untuk meyakinkanmu… maka hendaknya telah teguhlah pilihan cintamu.
Kau boleh mencintainya, ladies. Tapi jalan hidupmu takkan pernah bisa teguh tanpa pondasi masa depan. Logika yang hendak kuluruskan adalah bahwa lelaki yang penuh rencana pun bisa jadi masa depannya akan penuh tantangan diluar kehendaknya, apalagi yang tidak punya rencana! Meski memang harus diyakini, bahwa rencana Tuhanlah yang paling baik.
Kau boleh mabuk kepayang padanya, ladies. Tapi lelaki yang datang tanpa rencana haruslah membuatmu ragu. Hati-hati pada perasaanmu, karena wajiblah ia seimbang dengan logikamu. Seberapa jatuhpun hatimu padanya, maka cobalah kau uji seberapa teguh lelakimu. Bila didepanmu saja tak meyakinkan, apalagi nanti di depan orangtuamu!
Namun, kau boleh saja meragukannya, ladies. Bahkan bila ia datang tanpa bukti, apalagi bila ia tak punya apa-apa. Tapi seberapa besarpun ragumu, hendaknya kau lihat seberapa besar keteguhan karakternya untuk memperjuangkanmu. Bila tanpa ragu ia jelaskan rencananya padamu begitupun dihadapan orangtuamu, maka turutilah nuranimu, meskipun ia belum mempunyai apa-apa yang dapat dibuktikannya. Tentu saja pemahamannya tentang arah hidup, karakter, serta rencananya akan menjadi modal besar mengarungi kehidupan, bila nanti ditakdirkan Tuhan untuk bersamamu.
…
Ladies, percayalah, lelaki yang telah matang seperti itu akan sampai pada pemahaman bahwa ia tak butuh pada perempuan yang meragukannya. Bila masihpun ragu, maka tak segan ia akan pergi dan memilih yang lain. Maka bila ia telah datang kepadamu dengan jalan terbaik nan suci, hendaknya tak ada lagi ragu yang tersemat di dadamu. Ketika ia nanti memintamu untuk menemaninya, maka yakinlahlah bahwa Ia akan berusaha dengan keras untuk menggenapi rencana dan janjinya. Seperti yang Ayahmu dan Ayahnya lakukan, pun seperti yang lelaki terbaik di dunia ini telah contohkan.
…
Bersiaplah ladies, untuk suatu saat apabila datang seorang lelaki yang menjelaskan masa depannya dihadapanmu :)
Logika Lelaki ©miftahulfikri
Temukanlah dirimu dalam setiap usahaku memperbaiki diri. Dalam setiap pekerjaan yang kucintai. Dalam hari-hari yang telah kulalui. Sebab kau adalah jalan, bagi segala hal yang kujadikan tujuan.
–boycandra