Terkadang hanya dimengerti saja lebih dibutuhkan daripada mendapatkan banyak perhatian.
sunyiberdialog
$LAYYYTER
todays bird
Sade Olutola

#extradirty
The Stonewall Inn

tannertan36
h
cherry valley forever
ojovivo

❣ Chile in a Photography ❣
untitled
No title available
hello vonnie
d e v o n
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Mike Driver
I'd rather be in outer space 🛸

Jimmy Eat World
Cookie Run:Kingdom Official!
KIROKAZE

seen from United States

seen from United States

seen from Mexico
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from France
seen from Canada
seen from Mexico
seen from Hong Kong SAR China
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Panama
seen from United Kingdom

seen from Norway
seen from Philippines

seen from Malaysia
@tisnanaa
Terkadang hanya dimengerti saja lebih dibutuhkan daripada mendapatkan banyak perhatian.
sunyiberdialog
Berubah
Dari tahun lalu hingga tahun ini, berapa banyak kita menyadari hal-hal yang berubah?
Mungkin,
Keterbukaan dan kedekatan dengan orang tua, yang dulu renggang menjadi dekat. Yang dulu malu-malu untuk bercerita, sekarang menjadi terbuka. Dulu selalu bertengkar soal cita-cita, kini menjadi orang tua yang paling mendukung cita-citamu Atau sebaliknya, hubungan yang dulu hangat menjadi dingin.
Kondisi finansial keluarga yang dulu pas-pasan bahkan kurang, sekarang terasa cukup. Yang dulu harus pusing untuk mencari jalan keluar akan hutang-hutang, sekarang satu persatu simpul hutang itu terlepas. Begitu juga sebaliknya, yang dulu berkecukupan, sekarang tak tentu pendapatan.
Teman-teman kita yang sedang meniti jalan berhijrah, ada yang dulu jauh dari majelis ilmu, kini jauh lebih rajin dari kita sendiri. Yang dulu shalatnya suka tertinggal, sekarang menjadi orang yang paling tepat waktu. Yang dulu belum menutup aurat, sekarang malah lebih rapat daripada kita. Begitu juga sebaliknya, ada yang dulu kawan satu kajian, sekarang hilang entah kemana. Yang dulu paling rajin mengingatkan kita akan maksiat, sekarang justru ahli maksiat. Yang dulu kerudungnya terurai panjang, kini lepas dari ikatan.
Kalau kita mencari, ada banyak perubahan disekitar kita yang mungkin tak kita sadari tapi terjadi. Terjadi seiring dengan perubahan yang ada dalam diri kita sendiri. Karena fokus hidup kita selama ini tidak ada di sana, kita tidak mengamati, juga tidak tahu apa saja yang terjadi sebenarnya. Hanya bisa menyangka tanpa memahami proses.
Begitulah perjalanan, hidup seorang manusia naik dan turun. Yang kita sangka baik, ternyata tidak, dan sebaliknya. Yang kita kira akan bertahan dalam perjalanan ini, ternyata lebih dulu berhenti. Yang kita sangka akan menemani perjalanan kita, ternyata memilih untuk pergi.
Berubah, adalah tentang dirimu sendiri. Orang lain, juga berubah, dan bukan kapasitas kita untuk menilai dan menghakimi. Hakimilah diri ini, apakah aku sudah berubah menjadi lebih baik dari hari kemarin? Yogyakarta, 5 Januari 2019 | ©kurniawangunadi
Membaca Musibah dari Kacamata Harapan
@edgarhamas
Musibah kembali datang, kali ini di Selat Sunda yang sangat dekat dengan ibukota negara. Mari langitkan doa tertulus dari nurani untuk teman-teman kita yang kehilangan; agar dikaruniai kesabaran, ketabahan dan jalan kembali dari trauma ini.
Bencana silih berganti, sebenarnya sedang mengajakmu untuk berdialog dengan Pemilik Alam ini, namun tidak semua bisa memahami tanda-tanda yang sedang menyampaikan pesan Ilahi. Sebab begitulah kebanyakan manusia, hanya menganggapnya sebagai fenomena.
Itulah mengapa Allah berfirman, “Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali seolah-olah dia tidak pernah berdoa” (Yunus : 12)
Padahal seringkali, adanya ujian adalah cara Allah untuk membangunkan kita dari keterpurukan. Bukannya terbalik? Tidak. Memang begitulah pola keadilan Allah.
Pertama, ujian-ujian ini membuat kita jadi siaga pada keadaan iman kita, sadar bahwa negeri yang kita tapaki ini sedang tidak baik-baik saja. Sadar bahwa ada masalah, adalah jalan menuju solusi. Disitulah kita akan mencari cara untuk memperbaiki keadaan.
Kedua, ujian-ujian ini menetralkan kesombongan manusia. Ternyata kepongahan jalan aspal yang kita buat, kekokohan bangunan yang terbangun dari semen mahal dan pagar-pagar besi tak membuat kita bisa sedetikpun menggelari diri dengan selempang kesombongan. Disitulah kemanusiaan kita kembali pada titik netral, dan netralitas selalu membuat manusia berpikir lebih jernih.
Ketiga, pepatah Arab bilang
“المصائب قد تجلب العجائب”
“musibah seringkali mengandung keajaiban.”
Musibah di Uhud membuat Kaum Muslimin belajar dan tak pernah kalah lagi selama berperang kecuali di Hunain. Bencana serangan Mongol berakhir menjadi Islamnya pasukan Mongol dan berbalik menjadi penyebar dakwah Islam.
Kita berhusnuzan pada Allah, bahwa rangkaian musibah demi musibah ini, selain untuk menyadarkan kelalaian kita, juga batu pijak untuk bangkit menjemput masa depan. “Orang tidak akan merasakan manisnya kebangkitan jika ia tak pernah mengecap pahitnya kejatuhan.”
Dalam budaya bahasa Tiongkok, makna “krisis” dalam kearifan lokal mereka berbunyi “Wei-Ci” yang berarti dua hal; “bahaya” sekaligus “peluang.” Hikmah adalah milik orang beriman, dari manapun datangnya, bukan?
Allah inginkan sesuatu dari Indonesia, jika kamu pahami baik-baik apa yang terjadi di negeri ini, kamu akan sadar bahwa bangsa kita sedang dididik oleh Allah menjadi bangsa yang kuat, insyaAllah.
Musibah akan berlalu, dan berganti dengan lahirnya naluri untuk memiliki kemampuan “survival.” Inovasi untuk ‘bertahan’ inilah yang membuat Jepang menjadi negara paling pandai meminimalisir kerusakan akibat bencana, dan menjadikannya sokoguru sains dunia.
Syaikh Abdul Karim Bakkar bilang, “kemampuan melahirkan penemuan-penemuan hebat seringkali hadir karena kesiagaan atas krisis dan bencana. Penemuan hebat tidak memiliki korelasi dengan kecerdasan, melainkan dengan keinginan untuk belajar dan mencari tahu.”
Mentalitas inilah yang seharusnya lahir pada bangsa kita sekarang. Kita harus naik kelas agar tidak jatuh di lubang yang sama, berpikir dengan cara baru dan melihat peristiwa dengan pendekatan keimanan.
“A pessimist sees the difficulty in every opportunity; an optimist sees the opportunity in every difficulty.” - Winston Churchil. Dan sejarah nampaknya sebentar lagi berpihak pada kita, sebab dalam kaidahnya, “zaman yang sulit selalu melahirkan pemimpin yang besar.” Siap?
Liputan Fiksi menyajikan informasi tentang buku, sastra, dan tulisan kreatif dari berbagai sisi dunia.
Cita-cita sebagai penulis banyak menghinggapi anak-anak muda di Indonesia. Itu terjadi secara langsung atau tidak langsung ketika buku-buku yang ia baca sudah semakin banyak. Ia merasa bisa menulis sebagaimana buku-buku yang ia baca. Ia pun ingin menulis buku yang ingin ia baca sendiri.
Masalahnya, menulis itu tidak mudah. Bisa dikatakan menulis adalah sebuah kesulitan. Tidak seperti membaca yang hanya mengikuti alur tulisan tanpa perlu menguras energi pikiran, perasaan, dan kelelahan.
Biar bagaimanapun, tetap saja memiliki sebuah buku yang ditulis sendiri memiliki sensai yang berbeda. Nama yang tertera, ketenaran, uang, bahkan pengikut bisa datang seperti air hujan yang deras. Namun, itu hanyalah mimpi selama tidak ada tulisan yang diciptakan.
Selengkapnya ada di liputanfiksi.com
3 Kunci
Setidaknya, ada tiga hal terpenting dalam proses menghafal Al-Quran;
1. Meninggalkan Maksiat
Al-Quran itu isinya baik, diturunkan oleh yang Mahabaik melalui perantara malaikat yang terbaik kepada manusia yang perfek. Sedangkan maksiat itu buruk, lantas apakah (+ x - = +) ?
Tentu tidak! Kesimpulan sederhananya, yang baik tidak akan bersatu dengan yang buruk.
Mungkin ada yang terbersit di benaknya, “perasaan, saya walaupun maksiat juga tetap bisa menghafal, bahkan terkadang bisa jadi lebih cepat.” Suatu kali guru kami pernah menasihati, “nikmat itu didapat oleh dua orang; orang yang dekat dengan Allah, dan orang yang kufur. Nikmat yang diberikan kepada orang pertama sebagai bentuk penghargaan dan kasih sayang, dan nikmat kepada orang kedua sebagai bentuk istidraj (nikmat yang disegerakan).”
Dan tentu bisa menghafal Al-Quran merupakan nikmat yang teramat besar. Maka bagaimana kau ingin menjemputnya?
“Sungguh aku melihat bahwasanya Allah telah menganugerahi cahaya kepada hatimu” ucap Imam Malik kepada Imam Syafi'i, “maka jangan kau padamkan dengan maksiat” lanjutnya.
2. Shalat Malam
Selain merupakan amalan Sunnah yang paling dicintai, shalat malam menjadi parameter kesungguhan seorang hamba, bagaimana tidak? Ketika orang lain terlelap dalam tidurnya, orang ini bangun berwudhu dan melaksanakan shalat, dan ada pula keikhlasan yang nyata walau tak seorang pun yang melihatnya.
“Kesehatanku telah pergi, tulangku sudah melemah, tetapi sesungguhnya jikalau diriku bangun untuk sholat malam, tidaklah aku membaca melainkan surat Al-Baqarah dan Ali-Imran”, ucap seorang alim.
Terkadang malu terhadap mereka yang sudah terlihat lemah, tapi nyatanya mereka lah yang lemah yang tak mampu untuk melaksanakan shalat malam.
3. Doa
Secerdas apapun dirimu, jangan lupa untuk selalu sertakan Allah dalam segala urusanmu, terkhusus dalam urusan menghafal Al-Quran, karena begitu banyak tantangan pada prosesnya, dan tidak akan ada kemudahan melainkan dari pada-Nya.
“Mintalah kemudahan pada setiap urusan, bahkan ketika hanya ingin memakai sendal jepit” pesan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha “karena hal itu tidak akan menjadi mudah jika Allah tak memudahkannya.”
Berdoalah karena ada keberkahan pada setiap yang dipinta, ada ketenangan pada setiap kata yang diucap, dan tak ada kerugian selama mengharap kepada-Nya. Dan pada proses menghafal ini mintalah agar Allah memudahkan dirimu dalam mengafal, memahami, dan mengamalkan Al-Quran dan menjadikanmu diantara hamba- hamba-Nya yang istiqomah.
@ismailshodiq
7 Tips Jadi Diri Yang Baru Setelah Berhijrah
Berhijrah adalah kesempatan yang sangat berharga dan tak dapat digantikan dengan apapun. Ketika kita telah berhijrah, masya Allah, Allah telah memilih kita dari bermilyar manusia lain untuk termasuk ke dalam golongan hamba-Nya yang dianugerahkan petunjuk dan taufik-Nya.
Betapa banyak orang di luar sana, teman, saudara, atau mungkin keluarga kita yang belum berhasil menemukan jalan kepada hidayah. Maka, ketika kita merasa cahaya hidayah itu telah masuk ke dalam hati, mari menjaganya agar ia tetap berada di sana selama-lamanya. Karena tidak jarang juga loh orang yang sudah berhijrah tapi lalai di akhir hayatnya. Naudzubillah.
Simak Tips ala Yawme untuk kamu yang baru berhijrah, agar tetap istiqomah menjadi diri kamu yang baru, tentunya diri kamu versi lebih baik dari sebelumnya:
1. Mempelajari Alquran dan Islam
Perkaya hati dan akal dengan mempelajari Alquran, buku-buku keislaman, dan menyimak kajian-kajian. Ilmu yang kita dapatkan insyaAllah akan jadi bekal petunjuk bagi kita agar selama hidup kita tidak tersesat dan selamat hingga pulang ke negeri akhirat dimana surga menjadi rumah kita. Miliki Alquran khusus yang bisa dibawa kemanapun. Jika kita merasa sedang gelisah atau hilang arah, coba baca dan tadabburi Alquran, bayangkan Allah sedang berbicara pada kita, insyaAllah segala keresahan dan penyakit di hati akan hilang. Saat luang, pelajarilah kisah hidup para sahabat dan buku-buku tuntunan Islam lainnya. Cobalah mengagendakan untuk menghadiri majelis ilmu di akhir pekan. Kamu bisa membuat target membaca dan menghadiri kajian lalu memantau konsistensinya di aplikasi Yawme loh.
2. Disiplin Melaksanakan Sholat 5 Waktu
Sholat adalah tiang agama yang apabila ia tidak kuat, akan berakibat kualitas bangunan agama dari seseorang pun menjadi tidak kokoh. Ibadah sholat adalah ibadah yang pertama kali dihisab. Saking pentingnya ibadah sholat, Rasulullah pun mewasiatkan agar umat muslim menjaga sholat di akhir hembusan nafasnya. Jika kita berdisiplin menjaga sholat kita, berusaha khusyu dan tepat waktu dalam pelaksanaannya, apalagi sholat wajib yang 5 waktu, Allah swt juga akan menjaga kita dalam ketaatan dan menjauhkan kita dari perbuatan keji dan mungkar. Yuk mulai biasakan berdisiplin dalam sholat. Jangan tunda-tunda lagi ketika azan sholat di aplikasi Yawme kamu sudah berbunyi, langsung ambil wudhu dan dirikan sholat ya.
3. Menjaga Hati, Lisan, dan Pandangan
Salah satu tanda keislaman yang baik dari diri seseorang adalah ketika ia mampu menjaga diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Hal-hal yang tidak bermanfaat termasuk di dalamnya hati yang tidak bersih, lisan yang mengucapkan perkataan buruk, dan pandangan yang tidak ditundukkan dari godaan duniawi. Ketika sudah berhijrah, kita sebaiknya dapat memilih mana hal-hal yang bermanfaat untuk dilakukan dan mana yang lebih baik ditinggalkan ya sahabat. Karena Islam sendiri mengajarkan agar kita sebaiknya memanfaatkan potensi dan produktivitas kita untuk kebaikan dan kemuliaan, bukan untuk kesia-siaan. Tahan diri ketika berbicara, ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik saja dan hindari membicarakan orang lain (ghibah). Selain itu, berlatihlah untuk menundukkan pandangan, tidak hanya pada lawan jenis saja, namun bisa juga pada tontonan atau harta benda duniawi. Semoga tidak banyak ya yang harus kita pertanggungjawabkan di akhirat nanti bersebab hati, lidah, dan mata kita yang tidak terjaga.
4. Miliki Lingkungan Pertemanan yang Islami
Pertemanan bisa menjadi kunci loh dalam kesuksesan kamu berhijrah. Sebaik-baik pertemanan adalah pertemanan yang mengingatkan kamu pada Allah swt. Berhijrah tidak akan mudah karena pasti setan membenci orang yang berhijrah dan melakukan tipu dayanya agar seseorang yang telah mendapat hidayah kembali pada kesesatan. Tapi tidak perlu risau, sahabat. Akan ada banyak teman-teman yang shalih mendukung dan berada di belakangmu. Jalin persahabatan yang erat bersama mereka, berkomitmenlah untuk selalu saling menjaga dan mengingatkan dalam ketaatan. Seorang teman yang baik akan mengajakmu ke surga bukan menjerumuskanmu pada kemaksiatan dan neraka.
5. Berakhlak Baik pada Siapapun
Saatnya menghentikan kebiasaan-kebiasaan tidak baik dalam berinteraksi. Mengamalkan akhlak mulia harus mulai diterapkan pada semua orang tanpa terkecuali. Akhlak mulia bisa mencakup banyak hal, berkata baik, bersikap ramah, menahan amarah, suka menolong, dan masih banyak lagi. Belajar dari sang pemilik akhlak terbaik yuk, siapa lagi kalau bukan Rasulullah saw.
6. Belajar Melakukan Amalan Sunnah
Perlahan tapi pasti, mulai belajar amalkan ibadah-ibadah sunnah. Kamu bisa memulainya dengan 2 rakaat sholat dhuha setiap pagi, target tahajud pekanan, tilawah harian walau hanya 1 halaman, bersedekah, dan ibadah sunnah lainnya. Jangan salah loh menilai amalan yang sedikit, amalan yang paling dicintai oleh Allah swt justru adalah amalan yang sedikit tapi dilakukan dengan konsisten.
7. Berdoa Memohon Keistiqomahan dalam Berhijrah
Terakhir namun tidak kalah penting, kita harus senantiasa memohon kepada Allah agar diluruskan niat kita dalam berhijrah dan dimampukan kita untuk tetap istiqomah di atas jalan hidayah. Karena siapa lagi yang mampu menolong kita menghalau berbagai ujian keimanan selain Allah swt? Saat iman sedang turun, memohonlah kembali pada Allah agar kita dikuatkan. Semoga kita termasuk dalam hamba-hamba-Nya yang diberi keistiqomahan dan mendapat husnul khotimah di akhir hayat. Aamiin, InsyaAllah.
Raising A Mindful Family #1
Tulisan ini ditulis sebagai review dari International Islamic Parenting Seminar dengan judul “Raising A Mindful Family” yang dilaksanakan di Bandung, 3 Februari 2018. Seluruh materi yang dituliskan kembali disini disampaikan oleh Dr. Mohamed Rida Beshir, seorang Islamic Marriage and Parenting Expert yang berasal dari Canada yang juga merupakan co-author dari buku best seller berjudul “Parenting Skills: Based on The Qur’an and Sunnah”. Sebagai penghubung antara materi satu ke materi yang lainnya, hadir juga Ustadz Adriano Rusfi, seorang Psikolog yang juga founder dari Majelis Luqmanul Hakim.
Sebelumnya, mohon maaf untuk kalimat-kalimat berbahasa Inggris yang saya pertahankan sebagaimana materi diberikan, karena khawatir ada pemaknaan yang hilang atau kurang lengkap jika semua ditranslasi ke dalam bahasa Indonesia. Enjoy reading, happy learning!
Lecturing diawali dengan pertanyaan yang lucu dari Mr. Rida, “Marriage is a 3 ring circus: engagement, wedding, and .. what’s the 3rd ring?” Saya kemudian menjawab, “The 3rd is parenting.” karena saya berpikir bahwa parenting adalah hal esensial dalam keluarga, dan juga karena belakangnya -ing. Haha. Tapi ternyata jawaban saya salah! Beliau bilang, ring yang ketiga adalah suffering alias kesediaan untuk menderita. Wow, agak mengerikan ya mendengarnya. Tapi, banyak kasus di ring ketiga ini sehingga berujung pada perceraian.
Amerika Utara memiliki tingkat perceraian sebesar 31,4% sementara di negeri kita sendiri, 84% perceraian terjadi di 5 tahun pertama karena alasan-alasan sepele. Wow, angka ini cukup mencengangkan, ya! Lalu, bagaimana agar kita dapat menghindari hal tersebut? Semua berawal dari proses pemilihan pasangan. Kepada laki-laki, panduan memilih pasangan sudah jelas tersampaikan melalui sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yaitu,
“A woman is sought for marriage for 4 reasons: her wealth, her beauty, her social status, and her Deen. So, select the one who is religious, otherwise, you are at loss.”
Meski terkesan hanya diperuntukkan bagi laki-laki, sebenarnya hadist ini juga menjadi petunjuk bagi perempuan, yaitu bahwa jika tanpa iman, maka kekayaan, kecantikan, dan sosial status menjadi tidak ada artinya.
Lalu, bagaimana dengan perempuan? Apakah hadist tadi tidak bisa menjadi patokan bagi perempuan dalam memilih pasangan? Tentu saja bisa, dan ada juga hadist lain yang menjelaskan bagaimana perempuan memilih pasangan, yaitu,
“If there comes to you one with whose character and religious commitment you are pleased, then give (your daughter or female relative under your care) to him in marriage ..”
Yup, perempuan dianjurkan untuk melihat laki-laki dari agama dan akhlaknya.
Setelah menentukan pasangan, lalu apa yang menjadi kunci bagi pernikahan yang sukses dan bahagia? Berikut adalah 10 Keys to Blissfull and Successfull Marriage yang disampaikan oleh Mr. Rida.
Pertama, mutual commitment to marriage status. Mutual berarti bahwa komitmen yang kuat terhadap pernikahan ini tidak hanya dipegang oleh perempuan saja atau laki-laki saja, tapi keduanya. Pada siapa sebenarnya komitmen ini terjadi? Apakah isteri pada suami? Atau suami kepada isteri? Utamanya, komitmen itu, atau yang sering kita kenal sebagai mitsaqan ghaliza, adalah komitmen kepada Allah.
“Fear Allah in your dealing with your wives. This relationship is a trust from Allah.”
“Take a good care of your wives. They are entrusted to you by Allah.”
Menariknya, kalimat yang diucapkan seorang laki-laki kepada wali nikah perempuan saat ijab qabul dalam aturan bahasa arab merupakan kalimat fi’il madi atau past tense. Mengapa? Karena dengan siapa kita menikah sudah Allah tetapkan jauh sebelum hari akad nikah terjadi, bahkan sebelum kita terlahir ke dunia, sehingga akad ini adalah bentuk pengesahan bagi ketentuan yang telah ada tersebut. Maa syaa Allah.
Kedua, trust and faithfullness, yang untuk menghadirkannya kita perlu memerhatikan dan menjalankan petunjuk Rasulullah, yaitu tentang bagaimana interaksi antarlawan jenis di dalam Islam. Selain itu, trust and faithfullness ini juga membutuhkan transparency and clarity, dimana masing-masing pasangan perlu membantu pasangannya untuk bisa memberikan kepercayaan terhadapnya.
Keempat, proper understanding of objective of marriage. Yup, tujuan pernikahan! Mr. Rida bertanya pada seluruh peserta seminar, “How do you think most men define marriage?” Seluruh peserta terlihat berpikir, pun peserta-peserta laki-laki yang duduk di sayap kanan. Lalu, Mr. Rida menjawab, “Most men define marriage as a very expensive way to get laundry done!” Hahaha, beliau ini memang lawak sih ya, kocaque! Kemudian, tujuan-tujuan terbaik dari pernikahan pun disampaikan: realizing and fulfilling sunnah, peace and tranquility, comfort, serenity, satisfaction, protection, shelter, becoming your self, dan lain-lain. Tapi, diantara semuanya, ada satu yang menurut saya adalah the ultimate objective of marriage. Apakah itu?
Help each other to be closer to Allah by encouraging our spouse to do a right things.
Kunci pernikahan yang kelima adalah proper understanding of gender relation, yaitu relasi yang supporting, protecting, and cooperating with each other for righteousness. Nah, kalau kita pikir-pikir dari segi bahasa tentang ketiganya itu, rasa-rasanya ada bagian supperior (misalnya yang mensupport dan menjaga), tapi ternyata tidak demikian, karena supporting and protecting is not about top-down, but equal.
“And women have the same rights as the duties they have to fulfill in kindness and according to what is equitable.”
Keenam, proper understanding of spousal obligation. Disamping suami dan isteri memiliki kewajiban masing-masing yang harus dipenuhi, ternyata ada juga kewajiban bersama yang harus dipenuhi oleh keduanya, yaitu
treating one another with respect, love, and gentleness; providing companionship for each other, helping each other to be better Muslim, fulfilling each other emotional needs, and dealing with each other based on the proper understanding of qawwamah, obedience of wife to husband in Islam (the standard is according to syariah), and status of woman in Islam.
Selain itu, disebutkan pula dalam Al-Baqarah ayat 187 tentang relasi dan kewajiban pasangan, yaitu bahwa, “They are your garment and you are their garment.”
Ketujuh, following the Quranic way of communication. Memang ya, Al-Qur’an ini maa syaa Allah, keren sekali! Sampai-sampai, untuk urusan komunikasi pun dibahas. Salah satunya adalah tentang Ahsan: we should only say words that are the best. Rasulullah pun mencontohkan sikap-sikap terbaik saat berkomunikasi, dimana beliau,
always used descent language and good words, never raised his voice, never got angry for personal reasons, did not blame or point fingers, never called other with bad names, always conveyed respect and consideration, faced the person talking to him, never cut a person off while talking, repeated himself to make sure that he was clear, confirmed what other person said, and illustrated what he was saying.
Kedelapan, paying special attention to the early stage of marriage. Hmm, awalnya saya heran, memangnya kenapa dengan tahun-tahun pertama pernikahan sampai dibilang perlu paying special attention? Bukankah itu masa-masa bahagia? Tapi ternyata, early stage of marriage ini ya memang sweet, but critical. Ustadz Adriano Rusfi pun menjelaskan tentang banyak sekali problematika di awal pernikahan, yang bisa menjadi pemicu pernikahan bahkan sebelum pernikahan itu memasuki usia 5 tahun pertama.
Ternyata, problematika yang seringkali terjadi di awal pernikahan ini adalah bagaimana menyatuka dua pribadi yang bereda, problematika finansial, perbedaan prinsip dalam pendidikan anak (biasanya masalahnya adalah suami dominan untuk mengambil keputusan tapi suami tidak lebih memahami parenting daripada isteri yang suka belajar), dan hadirnya pihak ketiga, baik itu orangtua atau mertua, yang merasa masih perlu melakukan intervensi tata kelola rumah tangga anaknya. Semua ini terkait juga dengan kunci kesembilan, yaitu learning and practicing Islamic way of addresing conflict.
“What is the last key that’s not written in the presentation?” tanya Mr. Rida. Hmm, apa ya? Ternyata, setelah setengah menit diberikan waktu untuk berpikir, jawabannya adalah PRE MARITAL EDUCATION. Beliau mengatakan, sembilan kunci sebelumnya hanya akan dapat menjadi sempurna jika semuanya diawali dengan pendidikan pra-nikah. Beliau juga meyakinkan para peserta yang masih ada di stage pra-nikah bahwa pernikahan, mengasuh, dan mengelola rumah tangga perlu diawali dengan kesediaan untuk belajar dan menuntut ilmu, bahkan jauh sebelum menikah.
Bersambung ke tulisan berikutnya, ya! :)
_____
Picture Source: Pexels
Syukron.. Jazakillah Khairon Katsiron kak @novieocktavia! Ditunggu sambungan tulisan berikutnya ^^
Memanglah kematian adalah sebaik-baik pengingat. Pengingat bahwa ada kesenangan abadi menanti, sementara kesenangan di sini hanyalah kepalsuan dan ujian. Juga pengingat bahwa ada hisab Yang Maha Adil, yang tak ada perbuatan luput dari pertanggungjawaban. Gagasan klise ini, betapapun kebal kita mendengarnya, tetaplah sebuah kebenaran illahiyah yang peduli-tak peduli akan kita hadapi. Pastikan kita tidak menyesal karena terlalu sering menganggapnya enteng.
Ada kalanya orang menulis bijak karena kegelisahan atas keburukan dirinya sendiri. Perkara tulisannya diterima orang adalah hal lain yang kemudian membebaninya untuk terus melakukan perbaikan-perbaikan kecil dalam hidupnya. Karena menulis mengajarkan kita untuk berekspresi sekaligus bertanggung jawab atas kata-kata kita sendiri. Tapi bukan komentar orang yang harus paling kita pedulikan, melainkan perbaikan tulisan dan perbaikan diri kita sendiri yang paling penting.
— Taufik Aulia
Ikhtiar adalah bentuk ibadah, adapun hasilnya adalah kehendak Allah. Tapi yakin kepada Allah jangan sampai melemahkan ikhtiar, juga ikhtiar kita jangan sampai melemahkan tawakkal.
- KH. Abdullah Gymnastiar
Kau tahu apa yang membuatku mengagumimu?
Kau adalah perempuan baik yang tak tertarik untuk berusaha mati-matian menunjukkan kebaikanmu kepada orang-orang agar mendapat pengakuan bahwa kau baik.
— Kebaikanmu tetap kau simpan rapat dalam hatimu. Hingga hanya Tuhan yang tahu.
P.S Kalau istilahnya orang Jawa ‘gak ngoyo’.
Jika engkau mencintai saudaramu maka katakanlah INNY UHIBBUKA FILLAH (Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah)..
dan yang lainnya menjawab AHABBAKALLAH ALLADZI AHBABTANI LAHU (Semoga Allah pun mencintaimu yang mana engkau mencintaiku karena-Nya).
Tentunya pada situasi dan kondisi yang tepat..
- Ibn Syams
“Nyaman saja tak akan cukup. Tak ada seorang pasangan pun yang sempurna. Maka, harus selalu ada pemakluman demi pemakluman dalam setiap hubungan”
— Jika tak begitu, kau akan berakhir dengan kata meninggalkan - mencari yang baru - meninggalkan - mencari yang baru. Siklus itu tak akan ada akhirnya, karena kau tak pernah merasa cukup dengan kekurangan pasanganmu.
Kata ibu, jangan berdebat dengan orang yang tak mengenal dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa mendengar omonganmu, jika saja dia tak paham bagaimana bentuk matanya. Dia akan terus bicara, menjelaskan dirinya, tanpa belajar bahwa orang lain juga punya kelebihan.
–boycandra
Mungkin sekarang kamu ga peduli sama agamamu. Tapi kelak suatu saat kamu bakal merasa perlu mencari tau benar-salah dan baik-buruknya sesuatu menurut agamamu. Kamu akan mengerti bahwa yang benar hanya dari-Nya dan itu sangat layak untuk kamu perjuangkan sepanjang hidup.
— Taufik Aulia
Assalamualaikum, kak dea pernah ngerasain jatuh bangun dari proses perjuangan? Apa motivasinya buat bangkit kembali?
saya ngelihat hidup sebagai kumpulan tour of duty. Jadi ketika Allah ngasih kita masalah, Allah juga yang nyiapin solusi. Sedangkan jarak antara masalah dan solusi adalah jeda yang menempa kita untuk mengembangkan diri. Biar tambah sabar, tambah tawakkal, tambah dalam ilmunya, plus tambah gedhe manfaatnya.
sebagai manusia, sebenernya wajar aja kalo terguncang pas nemu masalah gedhe. Tapi jangan sampai guncangan ini ngebuat kita terjebak dalam prasangka buruk kepada Allah.
Memilih Menunggu
Yang aku tahu, ada dua pilihan dalam menunggu. Kalau kamu mau, waktu menunggumu itu bisa kamu gunakan untuk hal-hal yang baik.Kamu bisa mengisinya dengan hal-hal yang memang kamu sukai, yang memang kamu rasa cukup mahir didalamnya, atau bahkan yang sama sekali baru untukmu. Menjadi relawan kegiatan di pedalaman desa? Mengajar adik-adik di yayasan? Tidak ada salahnya. Karena kamu pasti akan mendapat pengalaman dan pemahaman baru disana.
Kalau memang keadaanmu dan waktumu tidak terlalu lapang. Coba sesekali menghubungi teman-teman lamamu. Bisa sekadar menanyakan kabar mereka, lalu merajut kembali silaturahmi yang mungkin sempat renggang karena jarak dan kesibukan.
Kamu juga bisa menanyakan mereka hal-hal yang selama ini kamu bingungkan. Dengan begitu kamu bisa mendapat sudut pandang baru, bagaimana cara mereka memaknai, bagaimana mereka mengambil hikmah. Dari mereka kamu bisa mempelajari banyak hal, yang mungkin mereka lebih dulu mengalaminya.
Pilihan kedua ialah menunggu dengan cara yang biasa. Aku tidak akan banyak bercerita untuk yang ini. Selain memang aku tidak memilihnya waktu itu, menunggu dengan cara seperti ini pasti akan membuatmu cepat bosan. Karena hanya menunggu sesuatu untuk datang tanpa sama sekali berbuat apa-apa.
Saat kamu menunggu, mungkin dari kejauhan akan ada yang terus bergerak maju. Langkahnya mungkin tidak cepat, tapi ia pastikan untuk semakin mendekat. Juga sangat berhati-hati. Sambil memastikan, kalau setiap langkahnya menuju pada sosok yang tepat.
Mulai sekarang, semoga kamu mengerti. Kalau menunggu bisa dilalui dengan tidak sejenuh itu. Asalkan kamu juga mau untuk sedikit bergerak dan berupaya.
Surabaya, akhir Januari 2018 ©dannydzulfikri