Another failure, Another mistakes
Mengawali hari ke tiga di tahun 2025 dengan triggered depression, anger issue dan gagal memperbaiki diri.
Sudah berniat puasa, sudah berusaha diam, tapi rumah ini selalu memancing anger issue yang parah ini, lalu berakhir dengan puasa batal :)
How could I? Apakah masalah marahku separah ini? Iya sepertinya. Saya masih sulit untuk mengurai bagaimana perasaan yang saya rasakan dalam satu hari. Mencoba menggunakan diagram emosi untuk menganalisis emosi apa yang sebenarnya sedang saya rasakan, sedikit membantu. Tetapi, efeknya agak terasa lamban.
Terbelenggu menjadi seorang pengangguran di rumah ini, dengan idealisme dan pemikiran yang berbeda dengan seluruh anggota keluarga, adalah kesalahan paling fatal yang pernah saya buat. Tahun 2023 lalu, saya berniat untuk tinggal di Jakarta, tapi memilih pulang karena diminta untuk menjaga anak kakak saya, dan saya tidak menyangka itu jadi penyesalan terbesar saya. Saya harus mengalah, menyerahkan masa depan saya demi mengurusi anak kakak saya yang sedang menjalani karirnya. Sedangkan saya, berakhir dengan menjadi seorang pengangguran, hongga detik ini.
Saya bersyukur, saya tidak perlu membingungkan bagimana makan saya nanti dan besok. Tidak membingungkan bayar tagihan dan sebagainya, saya berterima kasih kepada orangtua saya. Tetapi, dengan segala kalimat, perbuatan, dan segala trauma yang masih ada, rumah ini masih terasa sesak bagi saya. Tapi, gak pernah berhenti untuk selalu pulang. Bukan karena mencintai rumah ini, tetapi seperti rasa bersalah ketika tidak pulang.
Terkadang saya mempertanyakan kepada Tuhan mengapa Dia memberikan takdir seperti ini kepada saya. Kenapa saya harus menerima sifat buruk ini? Saya tahu bahwa mempertanyakan kepada Tuhan itu melampaui batas saya sebagai manusia. Tetapi, saya tidak punya tujuan lagi selain mempertanyakan kepada-Nya.
Jika melawan orangtua adalah dosa, maka apakah seluruh anak di dunia harus patuh dengan orangtua bahkan ketika orangtuanya melakukan hal buruk dan tidak terima ditegur? Apakah memiliki masalah kemarahan akibat dibesrkan dengan amarah adalah dosa seorang anak?
Ada banyak sekali pertanyaan di kepalaku, ingin kutanyakan kepada Tuhan di atas sajadah. Tapi, apakah boleh?