Rencana Wregas Selepas Cannes
Awal tahun 2016 lalu saya menghadiri pemutaran film pendek Prenjak, karya sutradara Wregas Bhanuteja, yang berhasil memenangkan penghargaan di Cannes. Selain Prenjak, karya Wregas lain seperti Senyawa, Lemantun, Lembusura, dan The Floating Chopin turut diputar. Dominasi latar Yogyakarta dan pemilihan tema keluarga yang lekat dengan problematika sehari-hari, membuat saya nggak berhenti melontarkan pujian sepanjang acara berlangsung.
Beruntung, hari itu saya datang bersama Rachel, rekan kerja yang juga menyandang titel Sarjana Humaniora. Bukan apa-apa, sebagai anak sastra semasa kuliah, kami terbiasa membedah karya. Mencari simbol, tanda, dan makna. Karya Wregas yang gemuk pun menjadi topik diskusi kami sepanjang perjalanan pulang. Filosofi lemari pada Lemantun, scene penis dan vagina pada Prenjak, latar The Floating Chopin, scene memandikan anak pada Prenjak, perbedaan agama pada Senyawa......Amat banyak. Saya benar-benar kagum, bagaimana sutradara bisa menyampaikan banyak pesan melalui film pendek dengan durasi yang tak sampai 30 menit!
Thank God, nggak lama setelah itu, saya mendapat kesempatan ngobrol dengan Wregas untuk keperluan artikel majalah. Seperti yang saya kira sebelumnya, Wregas merupakan sosok representatif laki-laki Yogyakarta, seperti yang banyak saya kenal. Sopan, hangat, dan membumi.
So, here we go. Rencana Wregas Selepas Cannes, untuk CosmoGIRL! Indonesia edisi November 2016.
--
Menjadi anak bangsa pertama yang menyabet penghargaan di Cannes Film Festival 2016 untuk kategori La Semaine de La Critique, tak membuat Wregas Bhanuteja, sutradara film pendek Prenjak, berleha-leha. Simak rencana Wregas selepas Cannes!
Selamat untuk kemenangan Prenjak di Cannes! Boleh diceritakan rencana terdekat yang akan dilakukan?
“Desember saya berangkat ke Paris, mengikuti development lab untuk script film panjang. Semacam hadiah dari Cannes, saya dapat kesempatan untuk men-develop skenario film panjang pertama saya.”
Scene alat kelamin yang muncul dalam Prenjak menjadi perbincangan banyak kalangan. Bagaimana menurut Wregas?
“Ketika membuat film ini, aku udah memperkirakan film ini akan ada di festival, bukan di layar lebar. Setelah menang di Cannes, Kemendikbud menyiapkan press conference untuk film ini. Saya menyiapkan 2 versi, sensor dan tidak. Menariknya, saat saya tanya versi mana yang akan diputar, mereka jawab, “Yang diputar yang sama persis dengan yang diputar di Cannes,”. Menurut saya mereka sudah mulai menerima itu. Kagumnya juga, nggak pernah ada suatu kejadian yang membuat acara pemutaran film itu dibubarkan. Untungnya begitu. ”
Kenapa akses film pendek itu masih terbatas?
“Salah satu syarat sebuah film ikut festival itu harus belum pernah dipublikasikan secara umum. Harus eksklusif. Aku nggak punya cukup energi untuk memasarkan itu ke seluruh Indonesia, karena sudah habis untuk ide cerita dan next project mau bikin apa. Sekarang sudah lumayan terbantu dengan distributor, salah satunya KOLEKTIFFILM. Dia bisa distribusikan ke daerah-daerah yang ingin melakukan pemutaran film. Biasanya orang-orang yang di daerah menghubungi KOLEKTIFFILM untuk melakukan pemutaran.”
Omong-omong soal budget, kemarin Prenjak habis berapa?
“Tiga juta rupiah. Tim itu isinya teman-teman SMAku. Kita membuat Prenjak karena kita ingin membuat film. Bukan yang profesional, kamu tak bayar segini, kamu tak bayar segini. Tiga juta itu habis untuk bayar sound, makan dan model alat kelamin itu. Shooting 2 hari, proses reading 3 hari, dan kalau ditambah editing dan lain-lain kira-kira dua minggu.”
Memang setiap tahun harus produksi film?
“Targetnya begitu. Kalau saya hanya menunjukkan showreal dari Athirah atau AADC 2, itu kan karyanya Mas Riri. Masa nggak ada sesuatu yang dari diriku? Jadi saat Mas Riri dan Mbak Mira ke Bangkok untuk proses editing AADC 2, aku pulang ke Jogja dan memutuskan untuk bikin film. Saat bikin pun nggak ada niat untuk ke Cannes. Kebetulan saat proses editing, saya buka website Cannes, mereka sedang buka pendaftaran.”
Selalu spontan saat produksi film?
“Ketika saya membuat film yang konsepnya benar-benar serius, hasilnya malah nggak natural dan terlihat ‘dikeren-kerenkan’. Film Prenjak dan Lembusura yang eksperimental dan spontan, justru lebih terlihat natural bahkan lolos di festival. Itulah yang menjadi PR saya untuk film panjang nanti. Saya harus menemukan satu titik dimana spontanitas dan rancangan bisa menyatu.”
Aktor dan aktris yang ingin diajak berkolaborasi?
“It’s kind of difficult question. Saya sangat kagum dengan akting Donny Damara dan Dian Sastrowardoyo. Mungkin saya akan memilih mereka, ya. Dian itu selain jago berakting punya banyak sekali pengetahuan. Taste-nya terhadap seni pertunjukan, seni rupa dan filsafat sangat baik. Saya pikir Dian ini perlu peran jauh dari image Cinta dan pribadi Dian sendiri.”
Pendapat tentang film panjang di Indonesia saat ini?
“Nggak ada formula yang tepat untuk merumuskan film seperti apa yang disukai penonton Indonesia. Bisa saja terjadi, sebuah film menghabiskan budget besar dengan aktor dan aktris papan atas, namun penontonnya hanya 300.000 dan nggak balik modal. Boleh dibilang, bagi penonton Indonesia ini film belum menjadi sebuah kebutuhan. Kalau aku boleh saran, daripada mengejar jumlah penonton di Indonesia, lebih baik mengejar ke internasional yang pangsanya pasti banyak dan luas. Festival internasional pun ada banyak, mulai dari Cannes, Venice, Berlinale. Kita pun bisa membawa nama Indonesia.”
Target film panjang pertama akan selesai kapan?
“Kira-kira November 2017. Tujuannya agar Mei 2018 bisa premier di Cannes. Itu rencananya, mudah-mudahan bisa.”
3 film yang paling berkesan?
“Still the Water karya Naomi Kawase. Saya sangat suka bagaimana ia menceritakan Jepang dari sudut mata seorang perempuan. Kemudian dari sutradara Denmark, Lars von Trier, yang judulnya Melancholia dan yang terakhir film Spring, Summer, Fall, Winter…and Spring dari Kim Ki-duk.”
A good film menurut Wregas itu seperti apa?
“Yang tulus. Yang sesuai dengan apa yang sutradara itu ingin buat. Semua genre itu bagus, saya nggak pernah judge, film ini jelek, film itu bagus. Yang jelas film itu harus ada soul-nya. Nggak perlu dikeren-kerenin untuk jadi film keren.”









