Memaknai “Cinta” dari Negeri Tapal Batas
“Nak Aldi, ada beberapa muallaf dari Desa Lourdes yang ingin berkunjung dan memperdalam agama Islam disini, saya percayakan mereka kepadamu”
“Saya percayakan mereka kepadamu”
Begitu kira-kira kalimat pamungkas yang di lontarkan Ummi Suraidah. Sepasang kalimat yang dalam sekejap membuat tubuhku terdiam kaku, lidahku terasa kelu, Tak ada satupun kata yang mampu mengungkapkan gejolak perasaanku saat itu. Aku melihat diriku sebagai seorang mahasiswa dengan background agama yang teramat biasa. Dalam ukuran Alumni pondok pesantre, ilmu agama yang kumiliki teramat pas-pas an, bahkan aku dikenal sebagai pribadi yang teramat ambisius dan condong berorientasi pada prestasi keduniawian. Namun hari itu Allah mengetuk hati ku melalui seorang wanita paruh baya yang sederhana namun berwibawa untuk kembali berdakwah di Jalan-Nya.
Maka dengan izin Allah dan diiringi kalimat Bismillahirrahmanirrahim aku emban tugas ini untuk kembali berdakwah memenuhi perintah Agama-Nya.
Ummi suraidah, begitu kami sapa beliau, pribadi yang begitu lembut namun teramat bijaksana. Ibu dari 2 anak itu merupakan seorang pejuang pendidikan di tanah sebatik. Berbekal pendidikan S2 kebidanan, pengalaman menjadi guru besar, serta mendirikan sebuah yayasan sosial di Kabupaten Nunukan tak membuat ia cepat puas lantas menutup mata pada fenomena pendidikan di perbatasan.
Ummi berjalan melintasi perbatasan kurang lebih 2 jam setiap harinya demi mendampingi anak anak TKI yang masa kecil nya begitu memprihatinkan. Kaki kaki mungil yang tidak pernah lelah menyeberangi gunung terjal dan hutan belantara demi cita cita yang sangat sederhana namun sarat makna “menjadi generasi terdidik”.
On Picture; Bapak Ma’ruf (Dosen Pembimbing KKN) & Ummi Suraidah bersantap siang dengan beras pisang, salah satu produk unggulan ekonomi kreatif Ummi Suraidah.
Sebut saja canda, anak mungil berusia 7 tahun Madrasah Ibtidaiyah, dengan semangat yang luar biasa, ia berlari dari sei bergosong menuju sekolah tapal batas, selepas jam sekolah ia rela menunggu berjam-jam menanti kehadiran kak meri, sang pengajar tari. Pernah suatu saat aku dan meri berhalangan hadir ke Sekolah, lantas ia meminta mahfud untuk menelpon kami, suara yang selalu menggelitik telinga dan mengocok perut “Kak meri ayo datang ke sekolah minta di antarkan kakak Aldi blee”. Dalam ukuran murid kelas 1 SD Canda adalah anak yang luar biasa, meskipun kerap kali dianggap bandel ia terampil dan disiplin saat belajar di dalam dan di luar kelas, walaupun terkesan acuh tak acuh kerap kali bertemu denganku aku tahu dia sangat ingin dekat dengan ku, hal itu terlihat ketika di tengah tengah waktu mengajar ia kerap kali menggeledah tasku dan membuka galeri foto HP ku, bagi canda aku adalah sosok yang menyebalkan namun sarat keteladanan, di balik kecuekan nya canda adalah murid yang teramat kucintai.
On Picture: Canda, murid kelas 1 Madrasah Ibtida’yah Al-Furqan, Sekolah Tapal Batas tak kuasa melepas kepergian kakak kakak pengabdi.
Mengabdi di Sekolah Tapal Batas merupakan tantangan yang teramat besar bagiku, mulai dari mengajarkan dasar-dasar bahasa inggris, bahasa arab, hingga retorika dalam kedua bahasa tersebut, tak jarang ummi memandatkan tugas khusus yang beragam mulai dari tilawatil qur’an hingga pembinaan muallaf dari desa seberang, kebanyakan dari mereka adalah orang tua wali dari murid murid ku di Sekolah Tapal Batas.
Marlina, begitu sapa ku terhadap seorang gadis remaja berusia 13 tahun yang mengenyam pendidikan agama (Madrasah Diniyah) di sekolah tapal batas, marlina adalah seorang anak piatu dari desa sungai limau, dilahirkan tanpa kehadiran seorang ibu tidak lantas mengendurkan semangat belajarnya seperti kebanyakan murid di Sekolah Tapal Batas. Marlina menghabiskan waktu satu tahun usianya ketika menginjak kelas 2 SMP untuk mendampingya ayahnya bekerja di tawau Malaysia, namun tertinggal satu langkah tidak lantas membuat dirinya minder dan ciut melihat teman sebayanya yang kini sudah menjadi senior nya di sekolah, hal tersebut justru menyulut semangatnya untuk belajar lebih giat. Marlina anak yang sangat tekun dan pekerja keras, tak ada kata tak mampu dalam kamus nya, dalam kesederhanaannya, marlina menunjukkan benih pemimpin dalam dalam dirinya, ia menjadi ketua kelas Madarasah Diniyah di Sekolah Tapal Batas di damping oleh dua rekan nya Sofiani dan Nur Fitriani. Berkat visi belajarnya yang di atas rata rata, Marlina ku pilih sebagai speaktator (orator) untuk pidato berbahasa inggris pada perhelatan Saudara Sebatik Festival, sebuah ajang pentas seni dan budaya yang merupakan evaluasi sekaligus persembahan terakhir kami di pulau sebatik.
Dalam penampilannya, marlina di damping oleh sahabat baik nya Fatmawati, fatma adalah salah satu murid favorit ku di Madrasah Diniyah. Awalnya, Fatma bukanlah murid yang secara rutin belajar si Sekolah Tapal Batas karena kesibukannya di kegiatan ektakulikuler di sekolah, tak jarang fatma jatuh sakit akibat kelelahan sehingga menghalangi dirinya untuk rutin belajar di sekolah tapal batas, ketika kami menujuk dirinya sebagai pendamping marlina, fatma sangat terkejut, dirinya sempat kaget karena selama ini jarang hadir di madrasah, belum habis, bahasa inggris merupakan fenomena asing di telinganya karena bahasa inggris adalah pelajaran yang selama ini ia nomor sekiankan, namun fatma mempunyai kepribadian yang sangat unik, ia sangat kompetitif dalam berbagai hal, berbagai lomba sudah ia taklukkan ia juga merupakan jawara di kelas nya. Ada prinsip “nothing to lose” yang sangat melekat pada diri fatma, terbukti ketika waktu sudah mendekati Hari-H pentas, fatma sangat kewalahan mengikuti materi yang kuberikan karena dirinya seringkali jatuh sakit sehingga tertinggal banyak materi penting, namun karena kegigihannya fatma tidak menyerah, fatma berusaha mati-matian berjalan ke madrasah setiap harinya bahkan suatu ketika kaki fatma terluka karena terkena api knalpot dari sepeda motor ayahnya, walaupun harus terseok seok berakngkat sekolah fatma tak kenal kata menyerah. Melihat perjuangan dan semangat nya yang begitu tinggi aku berinisiatif men set-up program “akselerasi” khusus untuk fatma. Terbukti kerja keras tak pernah menghianati proses nya, dalam waktu yang sangat singkat fatma mampu memahami dan menghafalkan 3 lembar teks pidato berbahasa inggris hanya dalam 2 X 24 jam.
Pada hari H, Fatma dan Marlina berhasil memukau para pejabat yang hadir di SSF dengan retorik yang inspiratif dan bernuansa islami. Dalam perjalananya, Fatma dan Marlina menunjukkan dedikasi yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan bahkan untuk sesuatu yang belum pernah mereka pelajari sama sekali, namun dengan berbekal kemauan yang kuat mampu mengembangkan diri dan melampau keterbatasan. Dalam perjalanan mereka, Fatma dan Marlina menjadi contoh bagi para pelajar di negeri perbatasan bahwa usaha dan doa tak pernah mengkhianati ikhtiar manusia dan kerja keras tak pernah menghianati hasil bahkan kerja keras dapat mengalahkan talenta yang bermalas malasan . “When hardwork beats the talent”.
On Picture: Marlina dan Fatma menyampaikan orasi pendidikan di hadapan ribuan massa termasuk diantaranya Bupati dan pejabat kelas 1 Kabupaten Nunukan dan Kecamatan Sebatik Bagian.
Dalam perjalananku mendampingi Fatma dan Marlina, Allah menggariskan pertemuan ku dengan 2 sosok remaja perempuan lain yang teramat unik dan enerjik, Sofiani dan Nur Fitriani nama mereka. Sofi mendampingi marlina sebagai wakil ketua kelas di Madrasah Diniyah, sedangkat Fitri menjabat sebagai bendahara. Sofi merupakan yang tertua dalam persahabatan 4 sekawan (Marlina, Fatma, Sofi, dan Fitri) sedangkan Fitri merupakan yang termuda. Sekali lagi Allah memperkenanku membersamai 2 remaja terbaik di pulau sebatik, mereka adalah orator pidato bahasa arab yang kudampingi bersama Mahfud, rekan se-pengabdian ku dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Menjadi pendamping dalam kegiatan berpidato bahasa asing menghadirkan berbagai kisah tersendiri bagi murid muridku, dalam diri Fitri misalnya, sejak mengenal sosok ku secara pribadi dan mendalami perjalanan karir ku selama hamper 3 tahun terakhir, Fitri dalam sekejap berubah menjadi murid yang sangat obsesif, ia menjadi pribadi yang amat tekun dan ambisius. Suatu malam Fitri pernah melontarkan kalimat yang sangat menohok jantung,
“Suatu saat aku pasti bisa melampaui pencapaian kakak”
Fitri melontarkan kalimat itu dengan lantang di hadapanku dan di hadapan teman teman nya. Suatu kehormatan dan rasa bangga yang teramat mendalam, dalam banyak keterbatasan, Fitri telah menjadikanku panutan dan barometer kesuksesan dalam hidupnya. Hal demikian tidak lantas membuatku besar kepala, justru karena cerminan niat dan ikhtiar seorang fitri tumbuh beban moral yang begitu besar dalam diriku, bahwa pencapaianku selama ini tidak berarti apa apa jika tidak mampu memberi manfaat bagi hajat hidup orang lain.
Suatu kalimat yang tak akan pernah lepas dari memoriku, dan di dalam hati aku pun mengamininya “Ya Allah semoga engkau jadikan anak ini pemimpin dan tauladan bagi generasi nya”
Lain lagi dengan Sofi, ia merupakan seorang remaja multitalent yang sangat enerjik, ia mampu membaca al-qur’an secara tartil dengan tajwid yang sempurna, ia juga mempu mengucapkan kalimat berbahasa arab dengan fasih dan lancar. Selain itu Allah menganugerahkan sofi kelebihan-kelebihan lainnya, ia jago dalam hal drama dan pentas seni, sofi juga mahir menulis dan membaca puisi. Khusus dalam hal membaca pusisi, aku menjadi pengagum beratnya, ia mampu memukau penonton dengan dramatisasi yang sempurna, pelantunan, gesture, dan kefasihannya dalam melafalkan bait demi bait puisi mampu menyihir mata dan telinga penonton, kerap kali bulu kuduk ku merinding ketika mendengarkan sofi membacakan puisi.
Ketika kami berpamitan di Sekolah Tapal Batas, sofi membawakan sebuah puisi berjudul “kakakku tauladanku” diiringi dengan suara yang lantang dan airmata nya berlinang, sofi untuk terakhir kalinya menyampaikan pesan yang sarat akan makna, ia ingin menjadikan kami tauladan disepanjang hayatnya, sofi telah mengetuk pintu hati kami bahwa pengabdian kami lantas tak terhenti sampai disini, padanya kami belajar bahwa kami harus mampu menjadi teladan yang baik dimanapun kami berada. Sofi adalah sekelumit potongan kisah pengabdianku di sekolah tapal batas, pada mereka aku pelajar bahwa menjadi tauladan adalah amanah yang besar namun teramat mulia.
On Picture: Empat orator muda berpose bersama sang coach (Read: Kak Aldi).
Selama mengabdi di Sekolah Tapal Batas, tak jarang aku menyaksikan fenomena fenomena janggal, suatu hari seorang murid yang tinggal di sei bergosong bernama risda terbujur kaku di sudut ruang kelas seraya memegang perutnya seperti menahan rasa sakit, lantas aku berjalan menghampirinya sembari bertanya “Kamu kenapa dik?” Pertama tama Risda menolak menjawab pertanyaan ku, lidah nya kelu seolah ada batu besar yang mengganjal isi hatinya. Setelah beberapa saat Risda terlihat lebih tenang dan bisa mengendalikan diri, kemudian ia mencurahkan keluh kesahnya, ku coba mendengarkan pelan pelan apa yang membuatnya merasa sakit, ketika ia menyelesaikan ceritanya, hatiku terguncang, ada rasa simpati yang teramat mendalam
“Saya tidak diberi sarapan dan bekal dari rumah seperti anak anak lainnya kak” ungkap nya.
Berjalan kaki setiap hari selama 4 jam sehari rupanya tak membuat orang tua Risda berempati bahkan terkesan menelantarkan kebutuhan anak perempuannya, darah daging mereka sendiri. Hal ini kerap kali menjadi perhatian Ummi Ria, seorang pengasuh sekaligus guru di Sekolah Tapal Batas, beliau adalah pendamping Ummi Suraidah yang sangat setia mendampingi anak anak buruh migran yang tinggal di sei bergosong, beliau adalah cinta kedua anak anak Sekolah Tapal Batas.
Ummi Ria seringkali berperan sebagai orang tua angkat murid-murid dari Sei Berosong. Tak jarang beliau memberi peringatan keras terhadap orang tua kandung mereka yang sering kali menomor duakan kebutuhan anak-anak nya terutama dalam hal menyiapkan kebutuhan nutrisi mereka, padahal mereka harus berjalan dengan jarak tempuh yang sangat jauh sehingga kerap menguras energi yang besar, dengan dibekalinya anak anak, harapannya kondisi tubuh mereka tetap fit ketika belajar walauapun telah berjalan berjam-jam.
Dalam beberapa hal, ada titik titik tertentu dimana kami merasa minder sekaligus tertantang menghadapi permasalahan di Sekolah Tapal Batas, seperti halnya ketika diamanahkan membina orang tua wali murid dari seberang. Desa Lourdes namanya, Desa Lourdes merupakan sebuah desa yang sebagian besar penduduknya adalah dari beragama nasrani, dari desa inilah lah tumbuh dan bermunculan komunitas-komunitas etnik dari Indonesia Timur dari berbagai macam daerah di papua, ambon, dan Maluku. Mereka hidup rukun berdampingan dengan penduduk pulau sebatik di Desa Sei Limau, tempat Sekolah Tapal Batas berdiri yang mayoritas penduduknya beragama islam.
Kerukunan ni terpancar dari cara mereka menyambut kehadiran kami di Pulau Sebatik. Kerap kali, kami di undang untuk ikut turun tangan membersamai mereka dalam beberapa pelatihan soft skill yang diadakan oleh Pemerintah Kecamatan dan Dompet Dhuafa dan berdomisili di Pulau Sebatik.
Dari berbagai cerita, pengalaman membersamai muallaf dari desa Lourdes merupakan suatu kisah perjalanan yang unik, mereka adalah buah dari benih benih dakwah yang ditanamkan ummi suraidah semenjak mendirikan sekolah tapal batas, perjuangan ummi suraidah membina anak anak TKI rupanya telah menjadi hikmah tersendiri bagi penduduk Lourdes untuk mengenal dan belajar lebih dalam tentang islam, tak jarang melalui anak anak mereka yang sekolah di STB, para orang tua mendapat hidayah untuk memeluk agama Allah bahkan beberapa telah menjadi ulama dan tokoh agama di negeri perbatasan.
Tantangan demi tantangan datang silih berganti namun hal tersebut tak pernah menciutkan nyali kami, pengalaman di STB ibarat ladang amal yang ku tanam sejak dini, ia adalah marwah dari perjuangan penuh keihlasan seorang wanita baruh baya bernama Ummi Suraidah dalam misi suci nya “Memanusiakan Masyarakat Perbatasan” yang tumbuh dan di didik secara holistik baik secara materil dan moril.
On Picture: Berpakaian warna-warni, kelompok penari cilik Sekolah Tapal Batas berpose bersama sang coach (Read: Kak Meri), Kak Aldi, Kak Aan dan Ummi Ria.
Sekolah Tapal Batas adalah simbol keikhlasan dan air mata cinta Ummi Suraidah anak-anak nya. Pada mereka kami belajar tentang arti bahwa “Hidup Adalah Berbagi”. Jauh dari tujuan mencari prestise duniawi namun sebagai pelajaran hidup dan aktualisasi diri sebagai hamba Allah yang mengabdi.
Bagi ku Sekolah Tapal Batas bukan hanya ladang pengabdian namun rumah kedua serta “Sekolah Luar Biasa” yang telah merubah hidup dan tujuan hidup ku selama ini. Ia menjadikanku bagian dari sejarah mereka mengukir prestasi dalam perjalanan penuh perjuangan dan keterbatasan. Satu hal yang senantiasa patut menjadi hikmah dari cerita Sekolah Tapl Batas adalah mengartikulasikan keterbatasan sebagai kekuatan, keterbatasan tidak pernah menjadikan manusia menjadi “terbatas” dalam menimba ilmu, keterbatasan menumbuhkan semangat dan nyali yang lebih besar serta visi belajar yang leboh tajam. Singkatnya merubah paradigma “terbatas” menjadi ”tak terbatas”.
Ummi Suraidah dan Sekolah Tapal Batas adalah sebuah bait penuh makna dalam sejarah perjalanan hidup ku mencari cinta Allah SWT. Semoga Allah senantiasa merahmati dan mengaruniai rezeki yang melimpah kepada mereka yang pada nya dan kepada seluruh umat manusia yang terus belajar dari arti sebuah ketauladanan.
Seperti kata pemimpin kami, ”Mengabdi Adalah Mencintai”
Oleh:
Satria Rizaldi Alchatib
Pengabdi Sekolah Tapal Batas