Selena Gomes dan Pasangannya 💕🎉

blake kathryn
h
Xuebing Du
$LAYYYTER
todays bird
Show & Tell

祝日 / Permanent Vacation
I'd rather be in outer space 🛸
Game of Thrones Daily
trying on a metaphor
Mike Driver

Andulka
Lint Roller? I Barely Know Her

pixel skylines

Discoholic 🪩
we're not kids anymore.
YOU ARE THE REASON
No title available

ellievsbear

Origami Around
seen from Germany

seen from Brazil

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Singapore
seen from United States

seen from Austria

seen from Türkiye

seen from Türkiye

seen from Ireland
seen from United States

seen from United States

seen from Singapore

seen from United States

seen from Bulgaria
@saungsilvana
Selena Gomes dan Pasangannya 💕🎉
Semoga kita bisa terus menjadi anak gaul terlengkap dan terpecaya di Lampung. #AntiNyinyirClub 💕🎉
Jangan ragu untuk kembali bertaubat kepada Allah, meskipun kesalahan dan dosa mengotorimu! Sesungguhnya Dia yang menutupimu ketika dirimu dibawah atap maksiat tidak akan mempermalukanmu selama dirimu berada dibawah sayap taubat.
@azammohmad - Syaikh Azzam Muhammad al Muhaisini, Imam Masjid Jami’ Aisyah, Mekkah, Arab Saudi.
14/9/2016
(via twitulama)
Tips Adil Dalam Berbicara
Kita sudah kenyang dengan nyinyiran-nyinyiran di media. Kalau nyinyir bisa dikonversi ke makanan, mungkin dunia kita sudah bebas dari bencana kelaparan. Membuat kesal, memang. Tapi, hidup di dunia, bersama miliaran manusia lain, tidak mungkin kita bisa membuat semua orang senang.
Yang kita tidak suka dari nyinyir adalah, seringkali isinya tidak adil dan berlebih-lebihan. Padahal, meskipun kita benci, kita tetap diharuskan untuk berbuat adil, bukan?
Perkara adil memang perkara yang rumit. Namun yang pasti, adil harus dimulai sejak dalam perasaan dan pikiran. Dalam berbicara, meski bermaksud nyinyir atau mengritik sekali pun, adil pun tetap perlu ditegakkan.
Sebagian besar kita sangat senang berbicara. Namun, tak banyak yang pandai berhati-hati. Sedang kehati-hatian adalah tangga menuju adil. Berikut beberapa tips untuk menjadi pembicara yang berhati-hati dan adil.
1. Menghindari penggunaan istilah yang mengandung kesan hiperbolis seperti : Selalu, nggak pernah, mana mungkin. Terutama ketika kita berbicara dengan emosi (emosi yang baik maupun yang buruk).
Contoh A :
a. “Anakku tuh ya, SELALU saja susah kalau saya ajak shalat ke masjid.”
Gimana kalau anaknya nyeletuk balik, “Ayah tuh, ya, SELALU saja melihatku buruk. Emang Ayah SELALU sempurna apa?”
b. “Suamiku NGGA PERNAH mengerti kalau aku capek mengurus rumah”
Definisi ngga pernah itu = kuantitasnya nol. Coba diingat lagi dengan lebih jernih, benar-benar ngga pernah atau ngga ingat?
c. “Apa katamu? Kamu akan berubah? MANA MUNGKIN!”
Ragu-ragu boleh, tapi jangan berlebihan juga sih. Nanti beneran ngga bisa berubah lagi.
d. “Aku SELALU suka penampilan kamu!”
Meskipun ini maksudnya memuji, tapi saya merasa ini kurang hati-hati. Selalu suka? Kalau lagi dasteran tetep suka ga?
Bandingkan dengan Contoh B:
a. Anakku sudah LEBIH DARI LIMA KALI ogah-ogahan kalau saya ajak ke masjid.
b. Suamiku JARANG bisa mengerti kondisiku yang capek karena ngurus rumah.
c. Apa katamu? Kamu akan berubah? Maaf, AKU SANGSI.
d. Aku SUKA penampilan kamu!
Coba perhatikan mana yang lebih enak dibaca dan lebih masuk akal, contoh A atau B?
Menurut saya, penggunaan istilah hiperbolis, baik dalam konteks negatif maupun positif, seperti dalam contoh A, berpeluang membuat subjek terjebak pada ketidakadilan juga generalisasi yang subjektif.
Kecuali memang datanya menunjukkan demikian. Misalnya : “Matahari ngga pernah telat terbit dan terbenam.” Ya ini mah memang objektif.
Hal tersebut bisa diminimalkan dengan memilih istilah yang lebih fair dan lebih objektif seperti beberapa contoh di contoh B.
Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.
2. Menggunakan kata “Sebagian, sekelompok, dsb” dan lebih berhati-hati dalam penggunaan keseluruhan populasi apalagi jika tidak didasari data.
Contoh A :
a. “SEMUA laki-laki itu sama saja! Kurang ajar SEMUA!”
Eh, emangnya sudah pernah bertemu semua laki-laki dari awal zaman Nabi Adam yang jumlahnya bermiliar-miliar?
b. “Muslim? MEREKA adalah teroris!”
Shahrukh Khan muslim lho, tapi dia bukan teroris, dia artis!
Contoh B :
a. “Di antara miliaran laki-laki yang ada di Bumi, kenapa aku bertemu dengan PARA LELAKI yang kurang ajar?”
b. “Ada KELOMPOK-KELOMPOK di kaum Muslim yang senang menebarkan teror”
Hmmm.. Kesan yang terbacanya berbeda bukan?
Penggunaan kata “sebagian” alih-alih “seluruh” untuk sesuatu yang tidak dapat dipastikan kebenarannya (kecuali dengan melakukan penelitian kepada seluruh populasi), akan membuat kita lebih berhati-hati dalam melabeli seseorang.
Stereotip muncul karena ketidakhati-hatian dalam membedakan mana yang persoalan individu, mana yang persoalan kelompok, mana yang persoalan populasi. Jangan terjebak.
3. Menyebutkan dengan spesifik objek atau subjek yang dimaksud, terutama kalau bentuk komunikasinya tulisan (seperti di medsos) supaya konteks tulisan ngga melebar, supaya nggak ada yang ge-er dan salah sangka.
Contoh A :
“Yang bodoh tapi ngerasa pinter makin banyak aja nih.”
Siapa sih yang dimaksud? #sensi. Setiap kita menulis di medsos, tulisan kita akan dibaca oleh ratusan hingga ribuan orang, bahkan lebih. Kamu ngga kepengen kan orang-orang itu merasa sakit hati dan kesal karena mengira ujaran “bodoh” kamu itu ditujukan buat mereka? Bisa-bisa mereka komentar balik, “Iya setuju! Salah satunya pembuat status ini!”
Karena itu, coba lebih spesifik deh. Ya tapi ngga perlu sebut nama juga sih. Harusnya memang ngga perlu juga ya ngomong nyinyir-nyinyir begitu. Tapi kalau sudah ngga tahan ingin nyinyir, nyinyirlah secara tepat sasaran.
Contoh B :
“Banyak orang berkomentar tentang apa yang tidak mereka ketahui. Merasa tahu, merasa pintar, merasa benar. Padahal sebenarnya tidak.”
Sama-sama nyinyir juga. Tapi subjeknya jelas, yaitu : Orang yang berkomentar tentang apa yang tidak mereka ketahui. Nyinyir akan lebih tepat sasaran.
—-
Memang, berbicara adalah salah satu bentuk kebebasan dalam berpendapat. Tapi, jangan lupa bahwa kebebasan adalah tanggung jawab yang tertunda. Apa yang kita bicarakan bisa berdampak luas, bisa baik bisa juga buruk.
Sebelum berbicara, berhati-hatilah memilih kata-kata. Agar di hari nanti, hidup kita tidak menjadi sulit karena lisan kita sendiri. Think before speak, think before type.
Wallahu a'lam bisshawwab.
Menualah bersamaku… Hingga kita lupa berapa angka usia kita. Sebab kita tak lagi perlu angka-angka untuk menghitung seberapa besar rasa cinta di antara kita.
Menualah bersamaku.
Anggep aja Ayu Ting Ting dengan Zaskia Sungkar. (at The 7th Hotel & Convention Center)
Salam Rindu dari kami berdua mba Rani dan Suami 💕
Akhirnya…. Pemesanan kelima karya saya edisi TTD resmi dibuka. :)
Periode Pemesanan: 5-15 Desember Pengiriman dimulai 10 Desember
Untuk ikut mengoleksi, ketik:
Nama, Alamat, No HP, Email & Paket yang dipesan
Kirim ke Official LINE @Lampudjalan (jangan lupa pakai @) atau Whatsapp 08119923400.
Tersedia merchandise blocknote eksklusif untuk 1,000 pemesan pertama. :)
*tidak tersedia di toko buku. info mengenai sinopsis tiap judul bisa dilihat di azharologia.com/koleksi
The kindest, smartest, and most caring person i've ever met ❤❤❤
Hello Shahrukhan, my name is sisil. Am come from Indonesia and big fans of you. Now, i am waiting for Dear Zindagi to release in Indonesia Cinema. #SRKFansClub #CintakuPadamuUtuh
India, Hum Tumhe Pyar Karte Hae 💓
Sehat terus ya Ndu, lelaki baik sangat baik yang sudah Allah kirimkan. Tak ada kata lain yang bisa ku ucapkan selain "bersyukur" dipertemukan denganmu. ILY Lelaki Baik 💍💑
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti (Banda Neira)
We can see happiness when the mouth and eyes change.
Produktivitas
“Mengapa istrimu tidak bekerja? Dia masih muda dan cerdas, sangat di sayangkan kalau dia hanya di rumah saja dan tidak produktif.”
Saya jawab,
”Dia jauh lebih produktif daripada saya. Dia mendidik dan mengajar dua orang anak cerdas yang akan menjadi masa depan negeri ini. Dia membaca dan belajar tentang parenting. Dia latihan/olahraga jauh lebih berat daripada saya, seperti bagaimana membawa anak-anak itu sepanjang hari dalam gendongannya.
Jadi saya dan Anda memiliki perspektif yang berbeda tentang “produktivitas” (atau maksud Anda….mencari uang?). Dan tunggu, dia juga masih menulis makalah penelitiannya pada malam hari, ketika anak-anak dan saya, sudah tidur.”
Diterjemahkan dari status inspiratifnya Syauqi
Satu paham dengan tulisan di atas.
Empat produktivitas Ibu rumah tangga yang suka diremehkan :
1. Tiga kali sehari, 21 kali seminggu, menyediakan makanan bergizi untuk keluarga. Produk konkretnya : Anak makin tinggi besar, suami jadi lebih berisi, dan yang terpenting, semuanya sehat. Kalau mau itung-itungan, ini ngurangin beban rumah sakit, ngurangin beban anggaran Kementerian Kesehatan.
2. Setiap hari mencuci-menjemur-menyetrika pakaian. Produk konkretnya : Baju anak dan suami rapi, bersih, wangi. Penampilan tetap kece.
3. Setiap hari menyapu, ngepel, bersihin kamar mandi, membersihkan debu-debu. Produk konkretnya : Rumah sehat, nggak jadi sarang penyakit. Kalau mau menghitung pakai materi, ini bisa dibilang sebagai bentuk penghematan terhadap anggaran kesehatan juga.
4. Setiap hari merawat anak, nemenin anak main, bantuin anak belajar pake cinta. Produk konkretnya : Anak cerdas, shalih/shalihah, berkembang sesuai tahapannya. Kalau mau dibawa lebih jauh, anak ini bisa jadi sumber daya manusia mumpuni yang bakal dibutuhkan di masa depan oleh masyarakat. Kalau mau pakai sudut pandang pragmatisme, merawat anak dengan baik terutama di awal kehidupannya akan mengurangi beban pemerintah di masa depan.
Angka kejahatan akan turun, biaya untuk penjara otomatis turun, pemerintah nggak perlu risau mikirin cara supaya warga mandiri, biaya buat meningkatkan kesejahteraan rakyat juga bisa ditekan, dunia ngga perlu cemas dengan adanya krisis kemanusiaan. Apa hubungannya? Anak yang diasuh dengan kasih sayang berlimpah, distimulasi dengan pembelajaran sesuai tahapannya, diajarkan moral dan agama mumpuni, juga dipenuhi segala kebutuhannya, ngga akan jadi penjahat, pengedar narkoba, orang yang bergantung sama orang lain, atau orang yang apatis di masa dewasanya.
Itu baru empat poin. Sesungguhnya banyak sekali produk Ibu rumah tangga dalam keluarga dan lingkungannya, hanya saja memang tidak semuanya harus terukur oleh materi.
Bukankah mengurus anak (dan keluarga) adalah investasi terhadap keberlanjutan hidup yang beradab di planet ini? Jika kita bersedia menghabiskan banyak uang untuk berinvestasi terhadap proyek pembangunan kota, seharusnya kita bisa jauh lebih peduli untuk berinvestasi terhadap proyek pembangunan manusia, di mana Ibu menjadi madrasah pertamanya.
Diambil dengan penuh perjuangan, drama, cinta, kasih, sayang, harapan, panas, hujan. Thx fans @namiradn 😘