Orde Baru, Mengenang Pencekalan Film Indonesia
Buku, Musik, Film memang tak pernah lepas dari penikmatnya tersendiri, khususnya di Indonesia. Setiap individunya mengapresiasikan dengan caranya tersendiri. Akan tetapi, dibalik suksesnya suatu karya seni, apapun itu dalam cakupan, tak ayal karya seni banyak menuai kontroversi yang menyendatkan para seniman untuk berkarya. Orde baru termasuk kedalam banyaknya pengekangan terhadap karya seni. Begitu stigma negatif mulai bermunculan pada suatu karya seni, proses kreatif pun terhambat oleh adanya stigma yang seiring berjalannya waktu semakin menjalar. Dan alhasil perubahan pada suatu karya dan pencekalan semakin merajarela pada masa itu.
Masa orde barulah para pegiat seni seperti aktor, penulis, sastrawan, dan para cineas mulai bisa kembali mengekspresikan kreasinya setelah banyaknya pengekangan pada masa orde lama yang didimpin oleh Presiden Soekarno. Karena kebebasan inilah presiden Soeharto mengawasi para pegiat seni dalam sepak terjangnya. “Kebebasan yang diatur” itulah istilah yang cocok untuk menggambarkan situasi pada masa orde baru.
Film Dalam Kekuasaan Soeharto
Perpindahan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto menjadi awal yang baru buat para pegiat seni untuk saling menghargai karya seni yang bermunculan baik negara dan mancanegara.
Film-film luar yang sempat dilarang masuk ke Indonesia mulai muncul ke bioskop-bioskop Indonesia. Pada masa Orde Baru, film Indonesia mulai berkembang dalam skala jumlah maupun genre. Film-film tersebut mulai dari horor, asmara, kepahlawanan, silar, fiksi sampai humor mulai bermunculan dibioskop.
Walaupun secara kualitas peralatan dan pendanaan tidak segila yang terjadi Hongkong, lebih-lebih Amerika namun menilik ucapan Willy Dozan, aktor laga dalam wawancara suatu acara TV bahwa di Hongkong dapat memiliki dana sebesar 1 milliar rupiah untuk membuat sebuah karya. Berbeda dengan yang terjadi di Indonesia, malahan menghabiskan 300 juta saja untuk film laga saja sudah cukup mewah. Berbicara efek, Film Indonesia pada 1970-1980-an memiliki teknologi yang cukup baik pada zamannya. Mulai dari efek gambar bayangan angin atau cahaya api di pukulan tenaga dalam sampai keadaan alam.
Tidak semua film dapat berkembang dengan baik, bahkan film dari luar saja harus ikut dengan sejumlah aturan yang dibuat. Dalam posisi ini Departemen Penerangan menjadi alat dalam penilaian kualitas segala karya.
Dibalik euphoria, ada sekulumit kisah yang menarik, bahwa pada pemerintahan Soeharto, banyak sineas film dapat berkembang. Pada situasi yang sama ada pula pemerintah melakukan pemabatasan yang begitu kuat.
Lembaga Sensor Menolak Tayang
Film Cinta Biru yang membludak penayangannya di bioskop Indonesia pada kala itu menuai kontroversi tentang judul asli dari film tersebut. Film Cinta Biru yang disutradarai Jasso Winarto yang Lahir Minggu, 23 Agustus 1942 di Sragen, Solo. Pendidikan : Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, lulus sebagai sarjana pada tahun 1968.Penulis cerita pendek, novel dan esei ini, memulai langkahnya ke dunia film lewat film "Jembatan Merah" (1973). Kemudian dia memainkan peranan pembantu dalam "Dewi" (1974). Sedang dalam film "Pinangan" (1977) dia bertindak sebagai asisten sutradara. Filmnya yang pertama sebagai sutradara adalah "Bandot tua" (1977).
Film yang telah selesai dari proses pengeditan dan menghasilkan sebuah film, siap untuk diedarkan. Tapi seiring dengan berjalan waktu, perjalanan tak semulus kulit ariel tatum yang adem ayem. Kritik pedas muncul pada beberapa organisasi masyarakat, bahkan pemerintah ikut andil dalam pelaksanaannya. Hingga akhirnya diberhentikan tayang karena Film tertahan di Badan Sensor Film. Dalam beberapa tahun terakhir film ini nyaris tak tanyang lagi, sampai pada akhirnya film ini dapat ditayangkan kembali dengan syarat penggantian judul film. Akhirnya fillm dikendalikan dan hampir nyaris banyak pemotongan hingga menghilangkan intinya. Film yang ditahan itu kemudian ditayangkan kembali dengan beberapa faktor yaitu dengan penggantian nama menjadi “Cinta Biru” dari asalmula nama “Bandot tua” dan “Bandot” yang dicekal karena tidak sesuai lembaga sensor.
Film ini dilarang tayang. Akhirnya film Bandot Tua boleh ditayangkan. Pada dasarnya film ini bicara dengan bahasa karikatur. Kejadiannya pada sebuah rumah besar. Bandot (Sudewo) adalah pria gagah pensiunan jendral, tapi tingkahnya tidak mencerminkan seorang tokoh yang patut diteladani. Ia memiliki simpanan, peragawati gagal. Konflik muncul tatkala sang peragawati itu dijadikan model oleh pelukis Prabowo (Sardono W. Kusumo). Prabowo dihabisi anak buah Bandot. Prayoga (Ikranagara), saudara Prabowo, berusaha menuntut balas. Dengan nekat, Prayoga melempar granat terhadap Bandot.
Film pertama dan terakhir Jasso Winarto akhirnya diputar di penghujung akhir 1978.
Bung Kecil adalah film Indonesia tahun 1978 dengan disutradarai oleh Deddy Armand yang dibintangi oleh Frans Tumbuan dan Zainal Abidin.
Film yang hampir mengundang pencekalan ini akhirnya kena imbasnya juga dengan dilakukannya pencekalan pada tahun selanjutnya. Film Bung kecil ini banyak dilakukan pemotongan besar- besaran, karena menuai berbagai kontroversi yang dianggap tidak sesuai dan dianggap menyeleweng oleh penguasa atau pemimpin negara. Pada waktu itu masih dikuasai oleh pemerintahan Soeharto.
Film bermuatan kritik sosial melalui sikap pemuda yang mengiginkan pembaharuan melawan sisa-sisa feodalisme di lingkungannya. Sekembali menuntut ilmu di Amerika Serikat Harry Notokoesoemo (Frans Tumbuan) sangat kecewa dengan sikap ayahnya, Raden Mas Soedjarwo Notokoesoemo (Zainal Abidin). Harry menganggap ayahnya sudah menyeleweng dari cita-cita perjuangan. Pertentangan antara anak dan ayah semakin menjadi ketika Harry menyatakan ingin mengawini Ira (Widyawati), karena ayahnya menganggap Ira gadis penyanyi yang tidak jelas asal usulnya. Selain itu Harry juga membela nasib kaum buruh dipabrik ayahnya. Marhaennanta meninggal, sementara Harry juga harus menghadapi istrinya sendiri. Namun Harry tetap tabah dan yakin pada pendiriannya untuk berjuang demi kepentingan umum. Ia menjadi aktivis politik yang banyak berceramah.
Film yang bertemakan perjuangan ini dinilai sangat arogan oleh pemerintahan yang berkuasa, dimana saat banyak terjadinya korupsi dan kaum- kaum bangsawan yang merenggut harkat dan martabat bangsa mulai merajarela. Film tersebut dibantah serta digagal tayangkan pada tahun peluncurannya. Akan tetapi kritik demi kritik bermunculan dari masyarakat pada waktu itu. Keingintahuan mahasiswa yang memperjuangkan hak kepentingan umum, merasa sangat tergugah akan pencekalannya. Berbagai pendapat bermunculan atas pencekalan film tersebut. Akhirnya film yang sempat hilang dan ditiadakan penayangannya, kembali diluncurkan sebab berbagai tekanan. Alhasil film tersebut dilakukan banyak pemotongan yang luar biasa karena dianggap berbahaya pada kekuasaan yang sedang diambil oleh kepemimpinan Soeharto. Pada awalnya film tersebut merupakan sindiran bagi kaum feudal yang merajalela di Indonesia. Pasca pencekalan akhirnya film tersebut dipotong habis.







