Menulis adalah obat untuk menghilangkan kesedihan. Iya, saya sedang sedikit sedih karena hari kasih sayang yang katanya dirayakan di berbagai belahan dunia ini dipropaganda memiliki arti sempit hanya seukuran kondom dan cokelat. Sedih kan bacanya. Melihat budaya yang memandang jomblo itu status yang menyedihkan saja saya juga sudah sedih. Cinta itu bersemayam dan tumbuh dalam hati. Jika kita ini punya hati, maka cinta itu ada dalam diri kita. Milik kita. Pahami baik-baik, maka kita akan bahagia. Tak sesempit yang selama ini dikonstruksikan. Setiap orang pernah menyandang status jomblo, begitupun saya. Sekalipun saya jomblo saat itu, ternyata hati saya masih penuh cinta. Dan Tuhan tidak membiarkannya mubadzir. Diizinkan-Nya saya untuk berbagi dengan beberapa sosok yang sampai saat ini kusebut dengan panggilan hangat "sahabat". Salah satunya bernama Biru Cahya Imanda. Biru ini anaknya cerdas, mungkin karena pipinya tak berhenti dari aktivitas mengunyah sehingga otaknya selalu sehat. Kadang karena terlalu sehat sampai sedikit tak waras. Kami adalah rekan kuliah yang awalnya tak kenal dekat. Lalu didekatkan pada saat sama-sama mengambil mata kuliah Sosial Komunikasi. Mungkin pada waktu itu kami sama-sama pengemudi mobil yang baru saja bisa dan sungguh sangat "udik". Kenapa udik? KARENA KAMI SELALU RIBUT JIKA TAK BERHASIL BIKIN MOBIL KITA LURUS DI PARKIRAN KAMPUS FISIP. ATAU KITA SELALU PAMER JIKA BERHASIL MENDAPATKAN PARKIRAN PALING NYAMAN (DAN MUDAH) DI DEPAN PARKIRAN MOTOR. Ternyata mendapatkan parkiran lebih keren bagi kami daripada mendapatkan gebetan pada saat itu. Kisah persahabatan kita diwarnai dengan berbagai drama yang pemeran utamanya hampir selalu saya. Dari yang alarm mobil bunyi, pintu bagasi sulit sekali mau menutup yang hampir membuat ingin pulang saja, takut ke parkiran karena ada anjing yang sebenarnya mungkin gemas sama saya, menghentikan dengan paksa laju mobil Biru yang sudah mau pulang di kala senja sudah lelap dipelukan langit maghrib. Kenapa saya hentikan? Karena saya sedang menahan tangis yang disebabkan pengumuman mendadak sidang proposal besoknya. Padahal kami berdua merencanakan wisata Surabaya naik bis. Kan sedih. Oh iya pernah juga kami pagi-pagi harus mendorong mobil Biru yang tiba-tiba mogok dengan posisi yang kurang aduhai. Lucunya, kami sama-sama tak tau mana yang harus dipencet untuk membuka kap mobil. Kalaupun tau, memangnya mengerti tentang mesin? Ah iya saya lupa, waktu itu mobil kami sama. Kia Visto. Sama-sama rewelnya. Mobil dan pemiliknya punya hobi sama, bikin drama. Pernah, waktu itu kak Biru lagi mati-matian ngejar pengumpulan skripsi. Bukan ngejar cowok. Ngapain. Terus saya tau, dia kirang tidur, stress, sebagai sahabat tidak cukuplah hanya berkata "semangat". Diam-diam kubawakan dia sepotong roti coklat dan sebuah surat biasa dengan berbagai kata semangat. Dan ternyata kak Biru pun melakukan hal yang sama ketika aku yang sedang bergelut dengan skripsi. Seperti yang kau tulis di suratmu kak, kita pun wisuda di hari yang sama. :") Oh iya, saat pengumpulan skripsi, makasih sudah berperan besar rela jadi petugas memarkirkan mobilku. Karena aku yang hampir tidak mengumpulkan hari itu, harus berlari mengejar batas waktu menumpuk berkas skripsi ke ruang dosen. :")) Kebersamaan kami tak hanya sampai di situ. Semesta berkonspirasi membuat kami sama-sama menyenangi boyband yanh sama. One Direction. Awalnya aku sama sekali tak mengenal 1D. Hingga akhirnya menonton filmnya di bioskop lalu melihat musicvideo lagu little things. Dari situ kegilaan kami bertambah. Tak usah bercerita banyak tentang hal ini, kami sedang beraedih tak bisa menonton konser One Direction maret besok. Kak Biru ini cerdas, banyak buku yang dimakan sama otaknya. Aku bisa membicarakan hal apapun. Dari yang konyol hingga berdiskusi tentang wacana dibalik peristiwa Charlie Hebdo. Beberapa saat ini, Biru sedang sedih. Aku sungguh tau. Tapi aku tak ingin lah ya kak egois dengan merayumu melalui kata-kata super untuk menasehatimu agar semangat. Yang aku ingin tegaskan melalui surat ini, aku bukan Mario Teguh kak yang pandai memberi semangat. Aku hanya teman karibmu yang siap menemani hingga kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Sesederhana meluangkan waktu untuk mengantarmu ke Malang untuk datamg jobfair, menghadiri jobfair di Surabaya. Walaupun aku suka lemas dengan keramaian yang penuh sesak. Dan setelah itu ribut karena kelaparan. :") Nikmati saja masa-masa sedihmu, setelah ini kamu akan menikmati dan menghargai kesuksesanmu. Ayo piknik.









