TAFSIR SURAT AN-NABA 1 – 20
(Ustadz Abu Humairoh – Surabaya Mengaji)
Resume kajian untuk kamu yang lebih senang membaca daripada mendengarkan. Mohon dibetulkan jika dalam penulisan resume terdapat kesalahan, ya. Terima kasih dan selamat membaca! :)
Surat An-Naba dalam tartib Al-Qur’an merupakan surat ke-78. Surat ini terdiri dari 40 ayat, 174 kalimat, dan 766 huruf. Keseluruhan ayat dalam surat turun di Makkah atau disebut Surat Makkiyyah. Disebut Surat Makkiyah bukan tersebab surat tersebut turun di Makkah, atau disebut Surat Madaniyah karena surat turun di Madinah. Sebuah surat disebut Makkiyah karena surat tersebut turun sebelum Rasulullah saw. hijrah. Sedangkan Surat Madaniyah turun setelah Rasulullah saw. hijrah, meskipun tetap turun di Makkah. Contoh: Surat An-Nashr (Surat setelah Al-Lahab) turun di Makkah, tetapi surat ini masuk ke dalam Surat Madaniyah, karena turun setelah Rasulullah saw. hijrah.
Nama lain dari Surat An-Naba, yaitu: Surat ‘Amma, Surat ‘Amma yatasā`alụn, Surat At-Tasaul, dan Surat Al-Mu’tsirat. Ulama berpendapat ketika sebuah surat memiliki banyak nama, itu berarti surat tersebut sangat agung dan memiliki kandungan yang luar biasa.
Keutamaan atau fadhilah surat ini disebutkan dalam hadits (meski secara riwayat hampir secara keseluruhan hadist tentang fadhilah membaca Surat An-Naba semuanya lemah atau dhaif). Akan tetapi, ada satu hadits yang masyhur dicatat oleh Ulama Ahli Tafsir tentang keutamaan membaca Surat An-Naba, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abdullah bin Abbas ra. di mana dia mengatakan, “Ketika berbicara tentang Abu Bakar Ash-Shidiq ra. yang datang dan bertanya ke Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, kenapa rambutmu beruban?” Kemudian Rasulullah saw. menjawab, “Hal yang membuat rambutku beruban adalah Surat Hud, Surat Al-Waqiah, Surat Al-Mursalat, Surat ‘Amma yatasā`alụn, dan Surat Idzassamsu Kuwirat.””
Kenapa Nabi saw. bersabda seperti itu? Karena keseluruhan surat-surat tersebut berbicara tentang kiamat. Bicara kiamat sama artinya dengan berbicara tentang sesuatu yang sangat menakutkan dan menyeramkan. Menurut Ahli Kesehatan, orang yang mengalami ketakutan berlebih terhadap sesuatu dapat tua sebelum waktunya.
Ustadz Abu Humairoh teringat cerita Gurunya (saat ia bersekolah di Yaman) yang bernama Syaikh Abdul Aziz. Syaikh Abdul Aziz bercerita tentang seorang Guru Madrasah yang menghukum muridnya, seorang putri kelas 3 SD dengan cara menguncinya di dalam kamar mandi. Ia berjanji akan membukakan pintu setelah mengajar, tapi qadarullah ia lupa dan setelah mengajar langsung pulang ke rumahnya. Baru setelah tengah malam, Sang Guru tersadar. Akhirnya ia ke sekolah dan membuka pintu kamar mandi. Setelah dibuka, anak yang terkunci di dalam kamar mandi sudah beruban. Karena apa? Karena kamar mandi adalah (kita tahu) tempat syietan. Anak tersebut ketakutan kemudian menjadi beruban. Beruban sebelum waktunya.
Sebab turun Surat An-Naba
Sebetulnya orang-orang Musyrik Arab (orang Quraisy) sudah diupayakan untuk diarahkan ke tauhid. Karena bagaimanapun, orang Quraisy secara umum sudah mengenal Allah tersebab Ka’bah yang ditinggalkan Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. Orang Quraisy seluruhnya adalah keturunan Nabi Ismail as. dan mereka sangat mengagungkan Ka’bah. Orang Quraisy juga sangat mengenal Allah SWT. Bahkan ketika mereka ditanya perihal siapa yang menciptakan langit dan bumi, pasti jawaban mereka adalah Allah. Mereka tidak memperdebatkan soal Allah. Kemudian apa yang diperdebatkan oleh orang Quraisy? Yang diperdebatkan yaitu ketika Nabi saw. berbicara tentang 3 pokok Pondasi Islam, diantaranya: 1) Al-Qur’an, 2) Kenabian, 3) Hari Akhir/ Hari Kebangkitan.
“Apakah betul Al-Qur’an itu firman Allah?”
“Apakah betul Muhammad saw. seorang Nabi utusan Allah?”
“Apakah betul setelah kematian itu ada Hari Kebangkitan? Ada Hisab, ada Jaza’, ada Ma’syar, ada Surga, dan ada Neraka?”
Orang Qurasiy berdebat di antara sesama mereka yang kemudian terpecah menjadi 2 kubu. Ada kubu yang membenarkan dan lebih banyak kubu yang mendustakan.
Oleh sebab itulah Allah bertanya, “‘Amma yatasā`alụn?” (Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?). Karena orang Yahudi dan orang Nasrani tidak mengingkari Hari Akhir. Bahkan mereka mengklaim merekalah yang akan masuk surga. Mereka juga mengatakan, “Tidak akan masuk surga kecuali Yahudi dan Nasrani.” Berbeda dengan orang Musyrik yang mengingkari Hari Akhir dan bertanya-tanya tentang itu.
Pertanyaan Allah tertuang dalam Surat An-Naba:
1. ‘Amma yatasā`alụn. Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?
‘Amma terdiri dari “an” dan “ma” tentang apa. Tentang apakah, “yatasā`alụn” Mereka orang-orang musyrik jahiliyah bertanya-tanya.
2. Anin-naba`il-‘adẓīm. Tentang berita yang sangat besar.
Ahli tafsir memberi catata terhadap “naba`il-‘adẓīm” atau “berita yang sangat besar.”
Pertama “naba`il-‘adẓīm” yang memiliki tafsir At-Tauhid.
Ketika Rasul saw. datang kepada orang musyrik Quraisy dan mengatakan, “Katakan oleh kalian tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, maka kalian akan selamat.” Respon orang musyrik Quraisy, “Apalah kau ini? Mendakwahkan satu Tuhan dan kami harus meninggalkan Tuhan yang banyak? Ini ajaib. Dakwah engkau ini, dakwah yang aneh! Masa kemudian banyaknya pinta kami, diserahkan hanya ke satu Tuhan saja?”
Ketika Nabi saw. datang meminta membuang Tuhan-tuhan yang banyak dan memerintahkan orang musyrik Quraisy untuk beriman kepada satu Tuhan yaitu Allah. Orang musyrik Quraisy mengatakan, “Syai’un ujaj,” yang berarti agama aneh. Agama yang tidak pernah dikenal Bapak Moyang orang Quraisy sebelumnya.
Tafsir kedua adalah Al-Qur’an.
Benar Al-Qur’an firman Allah atau bukan? Benar Al-Qur’an itu dari Allah atau buatan manusia?
Zaman Jahiliyah dulu, ada seorang laki-laki bernama Al-Walid bin Mughirah. Seorang kaya raya sekaligus penyair yang banyak hafal tak hanya syair manusia tapi juga syair jin. Kebun dan kebun kurmanya terbentang dari Makkah – Thaif. Al-Walid sering pula disebut Al-Wahid, karena menjadi satu-satunya orang di Makkah yang mampu mengkiswahkan (mengganti baju) Ka’bah tiap dua tahun sekali dengan uangnya sendiri. Tiap tahun, kiswah Ka’bah diganti. Pada tahun pertama, uang untuk penggantian kiswah diambil dari dana yang dikumpulkan orang-orang Quraisy. Selanjutnya pada tahun kedua, kiswah dilakukan oleh Al-Walid bin Mughirah. Al-Walid sebetulnya adalah orang baik, baiknya lagi ia juga tidak meminum khamr seperti masyarakat jahiliyah umumnya.
Suatu ketika Al-Walid datang kepada Abu Bakar ra. Ia ingin mendengar apa yang dituturkan Rasul saw. dari Al-Qur’an. Karena merasa tertarik (setelah datang dari Abu Bakar ra.) dia datang ke Rasul saw. Ia kemudian mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan oleh Rasulullah saw.
Tiba-tiba ia mengatakan di hadapan orang-orang Quraisy, “Demi Allah, tidak ada di antara kalian yang lebih paham daripada diriku tentang syair-syair Arab, rijis, qasidah, syair jin, dan lainnya. Demi Allah, apa yang dikatakan Muhammad saw. berbeda daripada syair yang kita lantunkan. Sungguh dalam bacaan Quran itu ada kelezatan dan kenikmatan. Dia bagaikan pohon yang berbuah atasnya dan akarnya sangat kuat. Dan sesungguhnya dia maha tinggi dan tidak lebih tinggi dari dia, dan sesungguhnya Al-Qur’an dapat menghantam apapun yang ada di bawahnya.”
Pada awalnya Al-Walid memuji dengan mengatakan demikian, tapi dia takut akan kedudukannya. Akhirnya ia mengingkarai pujian yang telah ia berikan kepada Al-Qur’an sebelumnya, “Al-Qur’an adalah sihir impor. Muhammad punya guru dari luar. Qur’an adalah sihir yang diimpor. Quran tidak lain adalah ucapan manusia.”
Ucapan Al-Walid bin Mughirah menanggapi Al-Qur’an di awal dan akhir berbeda, dan begitulah kebanyakan orang-orang musyrik. Ada yang memang total mendustakan Al-Qur’an dari awal sampai akhir, ada yang awalnya memuji Al-Qur’an kemudian mengingkari seperti Al-Walid, ada yang membenarkan dan akhirnya masuk Islam. Karena sebetulnya Al-Qur’an memang memiliki daya tarik. Contoh: ada beberapa Tokoh Quraisy saat malam hari mereka mendengarkan bacaan Qur’an Rasulullah saw. ketika sholat malam. Saat malam mereka cinta mendengarkan Al-Qur’an, jika siang berubah menjadi memusuhi. Mereka diantarnya: Abu Jahal, Amru Muhisyam, Umayah bin Khalaf, dan Al-Walid bin Mughirah. Mereka terkagum-kagum jika malam, karena Qur’an memang mempunyai daya tarik sehingga diperdebatkan.
Penafsiran ketiga berbicara tentang kenabian (kerasulan).
Apakah Nabi saw. betul seorang Rasul atau hanya orang biasa yang mengaku menjadi Nabi? Sampai-sampai sebagian orang Quraisy mencoba datang ke Madinah dan menjumpai pendeta-pendeta Yahudi di sana. Sesampai di sana berceritalah mereka ke pendeta Yahudi. Salah seorang Tokoh Yahudi mengatakan, “Tanya beberapa perkara kepada ‘orang yang mengaku nabi’ itu, kalau ‘orang yang mengaku nabi’ tersebut bisa menjawab, maka betul dia seorang Nabi. Sebaliknya kalau dia tidak bisa menjawab, dia hanyalah Nabi Palsu atau Nabi Kaleng-kaleng,”
Tanya ke ‘orang yang mengaku nabi’ tersebut perkara: pertama perkara ruh, kedua kisah 3 pemuda yang terjerembab ke dalam gua bagaimana kabarnya, dan ketiga sosok pemuda yang bertawaf mendakwahkan tauhid ke seluruh dunia.
Sekembali dari Madinah, orang Quraisy menanyakan 3 persoalan di atas untuk ditanyakan. Jika Rasul saw. dapat menjawab maka mereka akan mengakui bahwa Rasulullah betul seorang Nabi dan akan beriman kepada beliau. Rasul saw. begitu senang, sehingga langsung menjawab akan menjawabnya sehingga lupa mengatakan, “Insyaa Allah.” Padahal “Insyaa Allah” merupakan perkara yang sangat penting.
Rasul saw. tidak mungkin menjawab dengan hawa nafsunya. Rasul saw. kemudian menunggu Jibril. 1 hari, 2 hari, 3 hari, 1 pekan hingga selanjutnya berlau, tapi Jibril tak kunjung datang. Orang Quraisy mulai ramai mengatakan macam-macam tentang Rasul saw. Sesak dada Rasul saw. kala itu. Akhirnya Jibril baru datang setelah 1 bulan, dan memberikan jawaban:
1. Ruh adalah urusan Allah SWT;
2. Adapun anak-anak muda yang ditidurkan di gua adalah Ashabul Kahfi, yang selanjutnya Allah turun dan ceritakan dalam Surat Al-Kahfi;
3. Anak muda yang mendakwahkan tauhid ke seluruh dunia adalah Zulkarnain.
Ketiga perkara tersebut sudah dijawab oleh Rasul saw., tetapi orang Quraisy tetap tidak mau beriman. Allah SWT berfirman, “Ada orang-orang yang diberikan peringatan atau tidak mereka tetap tidak beriman,” seperti halnya watak orang Quraisy.
Al Walid bin Mughirah bertanya ke Rasul saw., “Kenapa yang menjadi Rasul engkau, Muhammad? Kenapa bukan saya atau orang mulia lain yang lebih banyak darimu?”
“Dan Allah SWT yang telah menciptakan makhluk-Nya. Dan dari makhluk itu, Allah yang memilih mana yang lebih unggul itu kehendak Allah. Kenabian dan kerasulan itu kehendak Allah. Bukan karena Nabi saw. ingin.”
Contoh lain ketika Allah menciptakan malaikat, Allah menjadikan Jibril sayyidul malaikat. Ketika Allah mencipta hari, Allah jadikan Jumat adalah sayyidul ayam. Ketika Allah mencipta bulan, Allah jadikan Ramadan sebagai bulan paling mulia, dan ketika Allah menciptakan Nabi dan Rasul, Allah jadikan Rasululah saw. sayyidul anbiya wal mursalin.
Kenabian dan kerasulan itu kehendak Allah. Bukan karena Nabi saw. ingin atau mengaku-ngaku Nabi seperti yang dilakukan Musalimah Al-Kadzab.
Tafsir keempat atau yang terakhir adalah tentang Hari Akhir (tafsir paling kuat).
Hari akhir atau hari kebangkitan, kehidupan setelah kematian, alam barzah, sangkakala, hari kiamat, saat manusia dikumpulkan di Padang Ma’syar, dihisab, ada surga, dan neraka.
Dakwah Nabi saw. di Makkah berfokus pada tauhid (kepercayaan terhadap Allah SWT), termasuk soal keyakinan kehidupan setelah kematian. Sedangkan dakwah Nabi saw. Madinah adalah tentang hukum atau syariat.
Inilah perkara besar yang kemudian ditanyakan oleh orang-orang Quraisy. Dari petingginya sampai orang Quraisy di pasar, semua membicarakan tentang Hari Akhir. “Apa iya ada kehidupan setelah kematian? Apa mungkin ada hari berbangkit? Apa betul tulang belulang yang sudah berpisah akan dikembalikan dagingnya dan dirangkai kembali?” Kebanyakan dari mereka tidak percaya dengan hari akhir, tersebab orang Quraisy tidak mau tau, tidak mau capek. Jika mereka percaya Rasul saw. mungkin syahwat mereka akan berontak.
Zaman Rasul saw. ada seorang kakek yang sudah hidup hampir 100 tahun. Dia ingin hijrah dan masuk islam. Namun, saat di jalan ia dihadang oleh orang Quraisy, “Kek, mau kemana engkau?” “Mau ke Madinah, masuk ke agama Muhammad. Menyusul Kawan-kawan lain yang sudah masuk Islam lebih dulu,” “Kek, jangan kau sibukkan kami dan membuat bingung kami. Kek, di agama Muhammad tidak boleh minum khamr dan berzina,” “Aku sudah tua, tidak ada khamr, syahwat juga tak ada.” Orang Quraisy pintar, selanjutnya Kakek tersebut ditawari 100 ekor unta dan amat disayangkan Si Kakek mau. Dia terima 100 ekor unta itu dan berniat kembali ke kabilahnya. Namun, saat perjalanan pulang Allah takdirkan Si Kakek terperosok ke dalam lubang dan meninggallah ia. Akhirnya Si Kakek mendapat kesesatan. Rugi dunia dan akhirat.
Begitulah orang Quraisy, mereka menebarkan syahwat. Mereka tidak peduli dengan kebikan dan kejahatan. Sebab mereka tidak percaya hidup setelah kematian. Selanjutnya, Allah menjelaskan pada ayat ke-4 dan ke-5.
3. Allażī hum fīhi mukhtalifụn 3. Yang mereka perselisihkan tentang ini.
Ayat tiga terlewati atau tidak dijelaskan, langsung masuk ke ayat empat.
4. Kalla saya’lamun. Sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui.
5. Tsumma kalla saya’lamun. Kemudian sekali-kali tidak. kelak mereka mengetahui.
Maksud dari dua ayat di atas yaitu, di dunia orang boleh ingkar dan tidak percaya ada kehidupan setelah kematian. Orang boleh tidak mengakui hari kebangkitan. Namun, setelah orang mati ia pasti akan mengalami kehidupan setelah kematian, ia pasti akan tahu suatu saat nanti.
Bicara hari berbangkit adalah perkara yang sudah jelas dengan berbagai argumen. Allah SWT takdirkan ada kehidupan, berarti Allah mampu untuk mengulangi kehidupan itu. Lebih mudah bagi Allah untuk mengulangi ciptaan-Nya. Allah mampu ciptakan langit dan bumi, kenapa tak mampu untuk menciptakan manusia kembali?
Adanya kehidupan dari satu keadaan ke keeadaan yang lain dapat dicontohkan dari proses pertumbuhan manusia dari kecil hingga dewasa. Siapa lagi kalau bukan Allah yang memampukan pertumbuhan manusia?
Kisah Nabi Uzair ketika melewati sebuah kota di Palestina yang habis dan hancur oleh seorang Raja yang dzalim yaitu Buhtunnashr. Uzair berhenti berjalan kemudian termenung, “Dulu kota ini indah dan ramai, sekarang seperti kota mati.” Katakanlah keadaan kota yang dilewati Uzair seperti kota Alepo (Suriyah) hari ini. Suriyah dulu adalah kota yang indah dan megah yang melahirkan banyak ulama hebat. Namun, sekarang hancur setelah perang saudara yang terjadi.
“Bagaimana mungkin Allah dapat menghidupkan kota yang sudah mati ini?” kata Uzair selanjutnya (bukan karena Uzair tidak yakin dengan kemampuan Allah, hanya saja seperti kita sekarang, “Nih, Suriyah yang hancur seperti ini, kapan lagi seperti dulu?”) Akhirnya Allah tidurkan Uzair selama 100 tahun. Ketik Uzair bangun, Palestina sudah menjadi kota indah dan ramai kembali seperti saat sebelum dihancurkan Buhtunnashr. Siapa lagi yang mengembalikan keindahan Palestina kecuali Allah?
Selanjutnya kisah Ibrahim as. yang menyembelih burung, kemudian semua anggota badannya dicacah dan di tempatkan di gunung yang berbeda.
Kemudian Allah mengatakan kepada Ibrahim as, “Sekarang kau panggil burung itu!” Kemudian Ibrahim as. memanggil burung itu, tiba-tiba burung itu menyatu dan terbang ke arahnya, “Demi Allah, pastilah Allah yang menyatukan burung itu.”
Selanjutya adalah kisah Musa as. ke Gunung Tursina dengan beberapa orang pilihan Musa. Orang-orang pilihan Musa ini meminta untuk ditampakkan Allah secara Dzat di hadapan mereka. Karena mereka terlalu lancang, maka Allah kirimkan petir, matilah semua mereka. Lalu kemudian setelah mati, Allah hiudupkan mereka kembali. Siapa lagi kalau bukan Allah yang menghidupkan mereka?
Adanya hari berbangkit dan hisab sebetulnya untuk menunjukkan keadilannya Allah karena Allah itu Maha Adil. Jika orang yang berbuat baik dan orang yang tidak berbuat baik sama hukumannya, orang yang membunuh dan orang yang tidak membunuh hukumannya sama juga? Tentu ini tidak adil. Hari kebangkitan merupakan bentuk keadilan Allah.
Seluruh Nabi dan Rasul sepakat bahwa ada Hari Kebangkitan
Lalu apa yang diingkari? Yang masih ingkar, kelak mereka akan tahu. Setelah meninggal baru akan yakin.
6. A lam naj’alil-arḍa mihādā. Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?
Allah ingin menjelaskan tentang kebesaran-Nya. Allah mampu atas segala sesuatu, baik yang besar atau yang kecil. Di sekeliling kita adalah tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah.
A lam naj’alil-arḍa mihādā. Ada yang mengatakan mihādā itu mahda yang artinya kasur empuk. Ketika bayi diletakkan di situ, tentu bayi tidak bisa berjalan apalagi menyediakan kasur itu sendiri. Orang tualah yang menyediakan kasur dan semuanya. Begitu pula bumi. Bumi itu disiapkan oleh Allah untuk kita manusia. Maka dikenal tiga istilah, yaitu: Ijat, I’dat, dan Ibdat. Ketiganya adalah nikmat dari Allah.
Ijat berarti Allah membentuk bumi. Bumi ada untuk manusia, kemudian Adam as. diturunkan.
I’dat atau persiapan. Dibuat gunung, sungai, lautan dengan ikan-ikannya (ikan sungai dan ikan laut tidak bercampur), tumbuh-tumbuhan, biji-bijian.
Terakhir yaitu ibdat (setelah fasilitas sudah ada) Allah memilih mana yang bisa dimakan dan tidak, ini yang mengenyangkan dan ini tidak, ini yang bisa mengobati dan ini tidak. Semua sudah Allah siapkan, semua Allah mudahkan untuk kita, tinggal menempati. Dalam kondisi ekonomi yang sulit, ada orang yang berpikir pendek bahwa rezeki Allah itu sulit. Kata siapa? Jangan pusingkan, rezeki Allah ada di mana-mana. Anda bisa ke sungai untuk mencari ikan, jika tidak ada Anda bisa mencarinya ke laut. Allah siapkan semuanya.
7. Wal-jibāla autādā. Dan kami jadikan gunung-gunung itu sebagai pasak. Supaya kehidupan kita istiqrar (sempurna). Supaya dalam kehidupan kita tidak goyang kanan dan kiri. Tenang dan seimbang, karena ada gunung sebagai pasak. Faedah adanya gunung yaitu sebagai pasak. Siapa yang meletakkan pasak? Allah.
8. Wa khalaqnākum azwājā. Dan kami jadikan kalian berpasang-pasangan. Ketika ada pasangan, hidup menjadi tenang. Orang yang sudah menikah dan belum akan berbeda. Ketenangan datang dari Allah.
9. Wa ja’alnā naumakum subātā. Dan kami jadikan tidurmu untuk istirahat.
10. Wa ja’alnal-laila libāsā. Dan kami jadikan malammu sebagai pakaian.
Bagaimana pendapatmu jika malam tidak berhenti sampai kiamat? Anggap saja malam terus-menerus. PLN mendanai listrik sampai kiamat, apakah mampu? PLN mana yang bisa mendanai penerangannya?
Oleh karena itu, Allah memberi cahaya. Satu sumber saja yaitu dari matahari dan sudah bisa menerangi bumi. Matahari nikmat dari Allah. Sebuah bentuk kuasa Allah. Malam untuk istirahat, siang untuk bekerja.
11. Wa ja’alnan-nahāra ma’āsyā. Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.
12. Wa banainā fauqakum sab’an syidādā. Dan kami bangun di atas kamu, tujuh langit yang kokoh. Atas kuasa Allah-lah ada langit tidak roboh meski tanpa tiang. Langit itu bentuk bangunan, tapi tidak roboh
13. Wa ja’alnā sirājaw wahhājā. Dan kami jadikan pelita yang sangat terang (matahari).
Matahari itu manfaatnya luar biasa, diantaranya: kesehatan ada, dapat menjemur pakaian, tidak selalu butuh listrik, dan membuat kita dapat terus beraktifitas. Matahari diletakkan Allah sesuai porosnya. Kalau matahari mendekat sedikit lebih ke bumi, bumi akan terbakar. Kalau matahari menjauh sedikit dari bumi, kita akan beku. Pas dalam menempatkan matahari adalah bentuk kuasa Allah. Wajib mensyukuri nikmat terhadap Allah.
14. Wa anzalnā minal-mu’ṣirāti mā`an ṡajjājā. Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah.
15. Linukhrija bihī ḥabbaw wa nabātā. Supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan.
16. Wa jannātin alfāfā. Dan kebun-kebun yang lebat.
Orang-orang yang mengingkari hari berbangkit itu cobalah ambil biji. Lempar biji itu ke tanah, berikan air, kemudian biji tersebut akan tumbuh. Setiap hari semakin tinggi. Siapa yang menumbuhkan kalau bukan Allah?
Debat Abu Hanifah dengan seorang Atheis, awalnya hanya debat biasa tapi kemudian sampai pada perkara ketuhanan, Abu Hanifah mengatakan, “Jika debat kita dilanjutkan rasanya percuma. Bagaimana jika kita datang ke hakim dan biarkan ia yang menilai? Hakim yang akan memutus perdebatan ini.” Akhirnya sepakat debat akan dilaksankan dengan mengundang hakim, kemudian ditentukan hari debat. Ketika hari debat datang, Abu Hanifah berangkat, tetapi berakhir dengan datang terlambat. Ketika akhirnya Abu Hanifah datang, Sang Atheis marah dan bertanya, “Anda imam? Harusnya Anda datang tepat waktu. Kenapa janji datang jam 7, tetapi datang sehabis Ashar?” Abu Hanifah menjawab, “Tidak demikian. Aku baru saja mengalami sebuah peristiwa hebat. Kalua kalian ingin ku ceitakan, akan ku ceritakan. Itu yang menghalangiku sampai di sini.” Sang Atheis mempersilahkan. “Ketika aku berjalan dari rumahku, di tengah jalan aku dikejutkan dengan perkara yang sangat ajaib. Ada satu pohon besar tumbang sendiri, kemudian terpotong sendiri, terikat sendiri, masuk perahu sendiri, perahu berjalan sendiri, tiba di tepian sendiri, masuk pasar sendiri, dan terjual sendiri.”
“Dusta kau Abu Hanifah! Tidak mungkinlah semua itu. Mana mungkin ada pohon besar tumbang sendiri, kemudian terpotong sendiri, terikat sendiri, masuk perahu sendiri, perahu jalan sendiri, tiba di tepian sendiri, masuk pasar sendiri, dan terjual sendiri. Kau berdusta, Abu Hanifah!”
Dari cerita Abu Hanifah, secara tidak langsung orang Atheis tersebut sebenarnya sudah kalah. Jika perkara pohon yang remeh saja tidak mungkin dilakukan sendiri, apalagi perkara alam semesta ini? Allah tentu yang menjadikan alam semesta ada. Tidak mungkin alam semesta tercipata sendiri begitu saja.
Orang musyrikin Quraisy mengingkari hari berbangkit. Mereka tidak sadar di sekeliling mereka ada dalil dan dalih bahwa hari berbangkit itu keniscayaan dan kepastian yang pasti berlaku.
17. Inna yaumal-faṣli kāna mīqātā. Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang telah ditetapkan.
Dari ayat 1 – 16 dalam Surat An-Naba atau, “Apa itu ‘Amma yatasā`alụn?” jawabannya ada di ayat 17: Sesungguhnya Hari Keputusan Allah saat berbangkit itu adalah suatu waktu yang telah ditetapkan. Al-Fasl memiliki arti terpisah. Bicara tentang berpisah, berpisah ada 4 macam: berpisah dengan perut Ibu, ruh dengan jasad (kematian), bumi dengan alam kubur, dan alam kubur ke padang ma’syar. Inilah yang kemudian diingkari orang musyrik, mereka tidak percaya dan terus bertanya-tanya tentang berita besar itu.
18. Yauma yunfakhu fiṣ-ṣụri fa ta`tụna afwājā. Hari yang pada waktu itu ditiupkan sangkakala dan kami datangkan kelompok-kelompok.
Ada beberapa pendapat dari ulama tentang kiamat. Pertama, kiamat datang dengan 2 tiupan sangkakala (ini yang paling kuat), dan yang kedua mengatakan dengan 3 tiupan sangkakala. Isrofil adalah malaikat yang bertugas meniup sangkakala.
2 tiupan sangkakala meliputi: 1) Tiupan kejutan dan tiupan kematian, 2) Tiupan kebangkitan (Ibnul Qayyim dan mayoritas ulama meyakini pendapat ini).
3 tiupan sangkakala, meliputi: 1) Tiupan kejutan, 2) Tiupan kematian, 3) Tiupan kebangkitan.
Allah turunkan 10 tanda sebelum terjadinya kiamat sebagai bentuk keadilan Allah: 1) Munculnya Dajjal, 2) Turunnya Isa bin Maryam untuk membunuh Dajjal, 3) Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj (yang kemudian Allah musnahakan padahal jumlahnya sangat banyak), 4) Gempa dari arah timur 5) Gempa dari arah barat, 6) Gempa dari Jazirah Arab, 7) Munculnya Dukhaan (asap), 8) Terbitnya matahari dari arah barat, 9) Muncul “Dabatun minal ‘ard” (binatang yang keluar dari perut bumi, bertugas memberikan stempel kafir dan beriman), 10) Munculnya api dari arah Adn yang bergabung dengan Api Hijaj untuk memberi arahan manusia berkumpul di Ma’syar (dunia dan akhirat).
Ma’syar di dunia yaitu Syam. Syam juga merupakan tempat datangnya api yang menggiring manusia ke sana. Ma’syar yang kedua di Padang Ma’syar. Allah berfirman, “Tidak tegak Hari Kiamat kecuali di atas orang yang paling buruk yang hidup saat itu.”
Kemudian Allah firmankan Isrofil untuk meniup sangkakala yang pertama. Maka Isrofil meniup sangkakala yang pertama.
19. Wa futiḥatis-samā`u fa kānat abwābā. Langit terbelah dan terdapat pintu-pintunya.
20. Wa suyyiratil-jibālu fa kānat sarābā. Gunung-gunung hancur dan menjadi fatamorgana.
Pada tiupan pertama, langit digulung, bumi digempakan, matahari didekatkan, planet-planet dijatuhkan, lautan ditumpahkan, gunung dicabut dan dihancurkan di langit seperti kapas berterbangan.
Jarak antara tiupan sangkakala pertama dan kedua adalah 40. Entah 40 hari, 40 minggu, 40 bulan atau 40 tahun. Abu Hurairah mengatakan, “Aku enggan, karena Rasul saw. hanya menyebutkan 40,” tapi yang jelas selang antara kedua tiupan, alam semesta dibuat sehancur-hancurnya atau penghancuran alam semesta. Itulah kiamat. Semua makhluk yang Allah cipta mati (kecuali makhluk yang memang ingin Allah jadikan hidup).
Pada hari itu Allah mengatakan, “Saya Raja, di mana raja-raja dunia. Mana orang-orang yang sombong itu? Mana orang-orang yang congkak itu? Sayalah Raja. Sayalah satu-satunya Dzat yang dapat menghukum siapapun.”
Bersambung pada tafsir ayat 21-40. Semoga Allah beri kemudahan untuk menyelesaikannya. Insyaa Allah.