Sadar Sebelum Dipaksa Sadar
Surah An-Naba ayat 40:
إِنَّا أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا
“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya seandainya dahulu aku menjadi tanah.’”
Ayat ini selalu terasa berat.
Ada hari ketika manusia tidak lagi bisa menyusun alasan. Tidak bisa menyembunyikan yang dulu ia sembunyikan. Tidak bisa pura-pura lupa terhadap sesuatu yang pernah ia lakukan.
Ia melihat sendiri apa yang telah dikirim oleh tangannya.
Mungkin ada amal yang dulu terasa kecil. Ucapan yang dianggap biasa. Pandangan yang tidak dijaga. Hak orang lain yang diremehkan. Shalat yang ditunda. Taubat yang selalu diberi kata “nanti”.
Ternyata semuanya tidak hilang.
Allah menyebut azab itu dekat. Sebab akhirat memang tidak sejauh yang sering kita bayangkan. Antara kita dan hari itu hanya dipisahkan oleh satu hal: kematian.
Dan kematian tidak pernah menunggu seseorang selesai dengan urusan dunianya.
Yang paling mengguncang dari ayat ini adalah ucapan orang kafir:
“Alangkah baiknya seandainya dahulu aku menjadi tanah.”
Ia tidak lagi ingin kembali untuk menjadi kaya. Tidak ingin kembali untuk menang. Tidak ingin kembali untuk dipuji manusia.
Ia hanya berharap tidak pernah memikul tanggung jawab sebagai manusia.
Di sini kita belajar bahwa hidup ini amanah besar. Menjadi manusia adalah nikmat, tetapi juga pertanggungjawaban.
Maka mungkin pagi ini kita perlu berhenti sebentar dan bertanya:
“Kalau hari ini amal kita diperlihatkan, bagian mana yang membuat kita malu?”
Bukan untuk putus asa. Justru karena masih hidup, kita masih diberi kesempatan.
Masih bisa istighfar. Masih bisa memperbaiki shalat. Masih bisa meminta maaf. Masih bisa mengembalikan hak orang. Masih bisa menahan lisan. Masih bisa menutup pintu dosa yang selama ini diam-diam dibuka.
Jangan menunggu hati benar-benar siap untuk kembali kepada Allah. Kadang hati justru menjadi lembut setelah dipaksa berjalan pulang.
Datang saja kepada Allah dengan jujur.
Dengan lemah. Dengan malu. Dengan dosa yang diakui, bukan dibela.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang sadar sebelum dipaksa sadar, bertaubat sebelum pintu tertutup, dan memperbaiki amal sebelum tangan kita menjadi saksi.
— Renungan dari Surah An-Naba’ ayat 40 —














