Bandung, 5 November 2022.
Sudah sebulan lebih lamanya semenjak hari itu, hari dimana akhirnya aku menikah, menjadi seorang istri. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar, dimudahkan dari awal persiapan hingga akhir. Sampai saat ini, terkadang aku masih tak percaya, kalau aku sudah menikah, ada seorang pria yang tidur di sampingku, yang menjalani hari bersamaku dari pagi hingga pagi lagi. Masih berasa mimpi, tapi ini bukan mimpi. Wkwkwk.
Sungguh, rencana Allah adalah yang terbaik, Dialah Yang Maha Besar, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku yang sebelumnya ingin menikah tapi belum meminta dengan sungguh-sungguh, hingga akhirnya aku mulai meniatkan, mulai meminta dengan serius, mulai membuka hati. Tiba-tiba didatangkan jalan dari yang tak terduga-duga, bertemu dengannya, lalu menjalaninya hingga akhirnya memutuskan menikah, ya semua berjalan begitu cepat , berjalan begitu saja. Apakah tidak ada keraguan? Apakah tidak ada ketakutan? Apakah tidak ada masalah? Tentu saja ada, keraguan, ketakutan, dan masalah itu semua juga terjadi padaku. Bahkan, Allah memberikan ujian di tengah-tengah persiapan pernikahan ini, bukan ujian yang mudah, namun ujian yang sangat sangat berat dalam kehidupanku. Lagi dan lagi, aku harus kuat , aku harus sabar, aku percaya semuanya dari Allah, dan memang inilah yang terbaik. Di tengah kesibukan, di tengah ujian, dengan segala keterbatasan, semua terlewati hingga sampai di hari pernikahan, hingga akhirnya Abang mengucapkan ijab kabulnya, sah lah pernikahan ini, Alhamdulillah selesai segala prosesinya, berlanjutlah dengan kehidupan pernikahan sesungguhnya.
Setelah menikah, Mama yang selalu menanyakan, “Teteh bahagia nak? Teteh gimana nak?” Apakah jawabannya? Aku bahagia, sebahagia itu akhirnya memiliki suami, yang menjadi imamku, yang memimpin, membimbing, menuntun, mengajarkan, mencintai dan menyanyangiku. Selain bahagia, apa lagi yang dirasakan? Perasaan sedih, kecewa, marah, takut, semuanya juga terjadi campur aduk menjadi rasa nano-nano. Aku yang masih banyak kekurangan, aku yang masih harus banyak belajar dan beradaptasi, aku yang masih harus dewasa lagi, aku yang harus bisa menerima semuanya dengan lapang dada, aku yang harus bisa menjadi seorang istri yang berbakti pada suami, seorang istri yang menjadi rumah yang nyaman untuk suaminya.
Bang, gimana rasanya jadi suami aku? Lelah ya? Maaf ya, terima kasih sudah sabar menghadapi dan menerimaku. Aku akan belajar untuk menjadi istri yang lebih baik lagi dari hari ke hari, semoga Abang juga bisa semakin memahami dan mengerti dengan diriku ini. Semoga pernikahan kita yang masih seumur jagung ini bisa punya pondasi yang kuat, bisa berjalan bahkan terbang dengan baik mengarungi kehidupan yang penuh lika liku ini, semoga Allah selalu lindungi, berkahi, ridhoi rumah tangga ini. Semoga sakinah mawadah warahmah bahagia dunia akhirat. Aamiin ya robbalalamiin. ❤️