Ceker Ranjau Umi
Udah agak lama, beberapa waktu yang lalu makan di sini, tapi baru sekarang bikin review nya.
Pertama kalinya dateng, pelayanan sudah sangat tidak menyenangkan.
Waktu itu saya deteng jam 6an, mungkin emang baru buka.
Ketika saya masuk, di deket pintu masuk di tempat masaknya, udah ada cowok (entah owner atau menagernya) yang marah sama orang di telepon, udah gitu dia gantian marah2 sama pegawainya.
Saya duduk, sebelum saya juga ada 2 orang pembeli, sedang menunggu.
Bener2 gak professional.
Mungkin mereka punya masalah intern, tapi tidak selayaknya marah2 di depan konsumen. Selain itu kami dibiarkan menunggu tanpa kejelasan. Setelah beberapa saat, barulah menu sampai di tangan kami. Ceker Ranjau pedas (lupa apa namanya, pokoknya ada kuahnya gitu) saya pesan.
Tidak berapa lama datanglah ceker ranjau dengan nasi.
Karena emang laper, saya langsung cicip kuahnya.
Sangat berminyak dan gurih (rasanya hampir sama kayak makan makanan berpenyedap rasa). Kata pacar, cara masak dan bumbunya persiss seperti rica2 Sumatera. Gurih dan pedas, panas.
Saya sendiri lebih suka rasa yang cenderung manis, jadi yang ini kurang begitu cocok di lidah saya, yaa gurihnya itu yang aneh.
Awalnya curiga sih, jangan2 ada unsur babi nya, abis guriiih kayak waktu saya makan sop babi di Batak. Tapi dipikir2 enggak lah, soalnya namanya Ceker Ranjau Umi. Islami sekali bukaan? *haks
Sebetulnya enak, murah juga. Per porsinya cuma Rp 4.000 saja untuk Ceker Ranjau. Tapi pelayanan nya kurang professional dan tidak ramah (wajah si orang yg marah2 tadi tetap cemberut sampai kami pulang sehabis membayar).
Kalo bukan karena lapar, mungkin saya gak akan ke situ (lagi).
Rate 6.0 / 10









