Prologue —
ㅤㅤㅤㅤ
Guntur berpijak, rintihan sirna. Pekikan irama marak, jumpai senja. Tinta menyasak, cipta kasih jiwa. Sorak-sorai bergema, lantunkan nada.
Lantunkanlah senandung itu, senandung yang 'kan
buatmu mabuk kepayang bak terombang-ambing
asmara. Juntaikanlah iramamu, wahai penikmat senja!
Eksistensiku nyalakan romantika pelebur jerujimu. Namun, esensi tiap guratan pada diriku kunci berkobarnya jiwaku. Itulah apresiasiku.
Ditulis oleh oci dalam keadaan bahagia penuh suka cita, terlahir dari tulisan penuh cinta.
Meredith Wang —
Terlahir dengan raga setinggi 166 cm, bersurai hitam legam panjang dibatas punggung, bertungkai kecil rajin berlari di sepinggiran pantai. Dibingkai oleh Tuhan sejak tanggal 10 di bulan Juni bersama tahun 2000-an di Bandung, tidak banyak hal menarik, mungkin.
Duhai Srikandi!
Ia yang tersemat dengan asma Meredith Wang, kerap dilabeli sebab keunikan yang melingkari dirinya. Di antara banyaknya seni yang menjelma di kulitnya, berbagai tato pun menjadi puisi terpendam, merayakan setiap langkah dan perjumpaan dalam rentetan denyut jiwa yang panjang. Seperti halnya, tato berbentuk not musik yang melambangkan cinta pertamanya pada musik dan tato bergambar matahari terbenam yang melambangkan kenangan indah bersama kala menikmati senja bersama.
Tumbuh dalam keluarga sederhana, musik selalu menjadi bagian penting dalam hidup sang dara.
Musik bukanlah pelarian, melainkan sumber kebahagiaannya. Di antara mereka, Edith, dikenal sebagai srikandi suara berbakat yang selalu mampu menyentuh hati pendengarnya. Di bawah rembulan yang tergantung di langit, ia seakan-akan bercerita melalui senar-senar itu. Banyak dendangnya berkenaan kehidupan, romansa, kehilangan, dan harapan. Pendengarnya sering terdiam, terhipnotis oleh suara merdunya yang memecah keheningan malam.
ㅤ










