Ada yang mengalir begitu deras didalam hati, tapi mata tak sampai menitihkannya. Nyeri sekali rasanya 🥺🥺
No title available
art blog(derogatory)

Janaina Medeiros
will byers stan first human second
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Xuebing Du
TVSTRANGERTHINGS

@theartofmadeline
tumblr dot com

Origami Around
todays bird
h

No title available
YOU ARE THE REASON

shark vs the universe

ellievsbear
Mike Driver
No title available

JBB: An Artblog!
Monterey Bay Aquarium
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Germany
seen from Denmark

seen from United States
seen from Venezuela

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Italy

seen from Türkiye
seen from United States
seen from South Africa
seen from United States

seen from Austria

seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from United States

seen from T1
@senjakuu
Ada yang mengalir begitu deras didalam hati, tapi mata tak sampai menitihkannya. Nyeri sekali rasanya 🥺🥺
Pagi ini ditemani rintik hujan, seperti tahun silam. kenapa genangannya masih terasa sama saat aku menatapnya?
Egois kah aku? Saat aku meminta beberapa jam dr waktumu? Dan mematahkan semangat mu? 🥺🥺
Its ok. Karena memang kita tidak akan pernah jadi prioritas bagi seseorang
Jika tidak ingin terluka, jangan berekspektasi terlalu tinggi. Berhenti ingin diperhatikan.
Memutuskan untuk menghindari hal yang mengecawakan. Hati kita butuh tenang untuk melanjutkan hidup bukan?
Ada banyak sekali yang ingin diutarakan, tapi lagi lagi bibir keluh untuk menyampaikan.
Tidak harus selalu bersinar, apalagi sampai menjatuhkan seseorang. Cukup menjaga diri, menjadi diri sendiri yang tak pernah padam untuk melakukan kebaikan.
~S.N.A
Seandainya kamu tau, pura pura egois dan tidak peduli adalah hal yang paling menyebalkan.
Hanya diri kita sendiri yang tau bagaimana caranya untuk bahagia, bukan orang lain.
Teruslah berjalan beriringan disampingku, bukan didepan atau dibelakang. Agar langkah kita selalu seimbang untuk mencapai sebuah tujuan.
Mungkin sabarku kurang luas, syukurku kurang banyak, hingga Allah menempatkan ku dalam kondisi sekarang ini.
Aku kira menjadi dewasa akan menyenangkan, ternyata semakin banyak persaan yang harus kita jaga, padahal saat kita kecil, tidak pernah sekalipun kita peduli dengan perasaan orang lain.
Cinta yang diinginkan bukan lah cinta yang berhenti dan ada batasnya, Tapi cinta yang selalu tumbuh tanpa ada putusnya.
Tidak apa- apa berhenti sejenak ditengah hiruk pikuknya kehidupan, sekedar beristirahat. Agar kita tau, jiwa dan tubuh kita membutuhkan ketenangan untuk sementara waktu.
~Senja
Dibalik Menunda Marah
Jadi, ceritanya sore tadi Shabira sedang menuang air dari botol besar ke dua gelas yang lebih kecil. Tapi nggak berhenti sampai situ, dia nuang lagi airnya ke meja. Tumpah-tumpah sampai lantai. Semua basah.
"Itu pelnya diambil kak. Asal nanti bertanggungjawab, Mama nggak papa."
Shabira makin asyik menuang air. Wow.
Aku, yang emosinya sedang stabil meski Jogja lagi panas-panasnya, diam mengamati. Aku nunggu, kira-kira apa yang ada di pikiran Shabira saat ini. Karena dari tadi dia emang kaya lagi nguji kesabaran. Jadi aku putuskan untuk menang dari ujian ini😂
"Kak, kenapa dituang?" Tanyaku. Akhirnya bertanya haha.
"Dek Gam menuang kopi hingga membasahi meja..." Jawab Shabira.
Dek Gam itu nama salah satu tokoh di buku yang suka dia baca. Di buku itu memang diceritakan kalau Dek Gam nggak sengaja menumpahkan kopi yang dibikinkan ibunya. Kopinya membanjiri meja.
"Oh gitu..." dalam hati aku langsung bersyukur nggak kelepasan marah duluan. Meski sepele menurut kita sebagai orang dewasa, tapi ini capaian yang lumayan besar buat anak-anak.
Kenapa?
Pertama, Shabira berhasil mengingat jalan cerita. Kedua, dia sedang berlatih bermain peran (jadi Dek Gam)! Ketiga, dia sedang berusaha merangkai potongan cerita lewat adegan yang sedang dia perankan. Keempat, dia berusaha menceritakan kembali buku yang dia baca. Wow! Hal-hal tersebut bagiku penting karena itu artinya anak sedang berusaha memahami bacaan. Nggak cuma sekedar baca, tapi memaknai. Satu level di atas baca.
Selain itu, Shabira merasa dihargai, didengarkan, dan dipahami.
Dia lagi belajar. Aku nggak mau menghentikan stimulusnya dan kesempatan emas ini.
Lalu ayah datang,
"Kakak, kok tuang-tuang air? Bahaya! Nggak kaya gitu, ah." Kata Ayah agak gusar.
"Itu Yah, Kakak lagi jadi Dek Gam yang nuang kopi..." Jawabku buru-buru. Aku takut Ayah kelepasan kesal padahal aku sedang membiarkan Shabira menikmati kegiatannya.
Untung Ayah lekas mengerti--atau pasrah saja sama kode dari tatapanku yang artinya, nggak papa, biarin aja, masih bisa aku handle--, atau mungkin malah keduanya. Hahaha
Ayah membiarkan kami, beliau masih berdiri di tempatnya sambil memegang gelas. Seperti menunggu kira-kira mauku dan Shabira apa.
"Habis numpahin air terus Mak gimana kak reaksinya ke Dek Gam?" Kataku sambil berkacak pinggang.
"Mak marah."
"Ayo dibereskan! Kata Mak marah." Aku berpura-pura jadi Mak.
"Terus sama Dek Gam dipel lantainya." Sambung Shabira.
"Setelah itu Mak memandikan Dek Gam supaya nggak lengket, ya?"
"Iya supaya bersih..." kata Shabira.
Kesempatan! Sekalian bikin dia mau mandi tanpa drama hahaha.
Akhirnya aku menggiring Shabira mandi seperti Mak yang mandikan Dek Gam. Bedanya ini Shabira mandi sendiri wkwkwk.
Apa jadinya kalau aku nggak mendengar dia dulu? Apa jadinya kalau aku malah marah-marah? Ternyata seringkali kita perlu melihat dari sudut pandang anak sebelum benar-benar melepaskan emosi 'marah' itu...
Dibalik tingkah ajaibnya, anak selalu punya alasan.
Apa jadinya kalau Ayah nggak percaya sama aku, sama kami? Apa jadinya kalau ayah ketinggalan jauuuh sekali pemahamannya terkait menghadapi anak usia dini?
Ayah dan Ibu, suami dan istri. Satu tim. Komunikasi dan berbagi peran itu membawa banyaaaak sekali dampak positif di keluarga. Ayah posisinya emang nggak bisa sesering ibu ada di samping anak, menghargai Ibu yang menerapkan SOP dan aturan khusus dalam berbagai aspek parenting rasanya melegakan. Beberapa kali dapat curhatan juga, yang malah sering menjadikan anak bingung karena ortu tidak konsisten adalah ayah yang tiba-tiba 'ngacau' kesepakatan yang udah mati-matian dibuat ibu selama di rumah hahahaha.
Lucu ya parenting itu. Naluri, pengetahuan, insting, perasaan, dan logika...beda kasus beda takaran. Sebagai orangtua dari hari ke hari belajar untuk lebih peka meramu, mana yang harus dipakai, berapa takarannya, berapa dosisnya, mana yang lebih penting, dan semuanya harus diputuskan dengan cepat. Wkwkwkwkk.
Aku bersyukur tadi nggak marah. Aku bisa belajar banyak hal. Terima kasih sabar, kamu memang selalu menang dan membawa maslahat.
Haruus belajar sabar
Katakan, aku harus bagaimana? Saat mendung gelap datang seolah beberapa detik kemudian akan hujan deras.
Aku harus bagaimana? Saat hati benar benar khawatir akan sesuatu. Haruskah aku berhenti mengkhawatirkan mu?
Ucapkan dengan jelas, aku harus bagaimana? Apa aku seharusnya tidak hadir saat mendung gelap? Apa lebih baik aku harus mencari pelangi?
Tapi, pelangi hanya akan datang saat gerimis tiba bukan. Begitukah? Haruskah gerimis dahulu kalau kita ingin melihat pelangi???
Anonim. 31 Desember 2020
Semoga ditahun depan, aku lebih bijak dalam menempatkan perasaan. Jika gerimis terlebih dahulu yang harus hadir, tak mengapa, karena aku yakin pelangi pasti tidak akan ingkar janji.
Tapi, haruskah aku berhenti mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu aku khawatirkan? Jika memang begitu.
Baiklah........