Kok kayaknya aku pingin bilang
Kondisiku gini, (blablabla...) kondisimu gimana?
Kalau sikapku (blablabla...) Kamu bakal gimana?
Kalau kamu (blablabla...) Kamu pengennya sikapku gimana?
Beneran tentang penerimaan yah ternyata semua ini?

Kaledo Art

No title available
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
ojovivo
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
KIROKAZE

oozey mess
he wasn't even looking at me and he found me
will byers stan first human second

祝日 / Permanent Vacation
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Keni
Stranger Things
occasionally subtle

Discoholic 🪩
Show & Tell
DEAR READER

JBB: An Artblog!
dirt enthusiast
No title available
seen from Germany

seen from Netherlands
seen from United States

seen from France
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
seen from Spain

seen from Maldives
@sepasi
Kok kayaknya aku pingin bilang
Kondisiku gini, (blablabla...) kondisimu gimana?
Kalau sikapku (blablabla...) Kamu bakal gimana?
Kalau kamu (blablabla...) Kamu pengennya sikapku gimana?
Beneran tentang penerimaan yah ternyata semua ini?
Kemarin sore saat saya shift sore salah satu pasien saya meninggal. Datangnya hari selasa dengan keluhan sesak, ternyata hasil foto dadanya pneumonia dan decom, atau sakit jantung.
Sejak tadi pagi ternyata kondisinya memburuk, tambah sesak dan oksigennya turun. Sudah diganti dengan jacksonrees ternyata oksigennya tidak naik. Akhirnya setelah lapor dokter ada advis pro-intubasi.
Kami hubungi keluarganya untuk meminta persetujuan atau penolakan sejak pagi baru ada jawaban siang kurang lebih jam 13 -jawaban per Wa- katanya setuju. Alat-alat sudah siap tinggal menunggu penata anaestesi.
Tiba-tiba, jam 13.30 berubah pikiran menjadi menolak, keluarga belum ada yang ke rumah sakit untuk menerima penjelasan langsung dari dokter jaga. Ternyata pasien di dalam ruangan sudah dalam kondisi arest dan apnea.
Tidak lama keluarga datang dan diberikan edukasi bahwa pasien sudah meninggal. Keluarga tidak terima dan marah-marah pada dokter jaga kami yang memberikan informasi dan membanting HPnya dan memaki-maki dokter kami.
Akhirnya kami edukasi ulang dengan 2 perawat lain untuk berjaga-jaga. Dan akhirnya keluarga menerima. Jenazah kami rawat dan kami turunkan ke kamar jenazah.
Diakhir pengurusan berkas dan administrasi keluarga yang marah-marah tadi meminta maaf. Karena merasa berduka jadi memohon dimaafkan.
Saya pribadi tahu kondisi keluarga sedang berduka dan ada pada tahap denial, tapi apa ini juga boleh digunakan sebagai pengecualian untuk menghina profesi kami?
10.06.2021
Masa iya, karena kamu "mantan teman" kita gak jadi lanjut ke pelaminan (?)
🤫
Surat dari masa lalu.
Manusia selalu memiliki banyak wajah. Wajah yang ia ingin tunjukkan ke orang lain, wajah yang dikenali oleh orang lain dan wajah asli yang mungkin tidak dikenali oleh banyak orang karena terlanjur tertutup dengan stereotype. Sejak membaca novel 9 dari Nadira, gue kadang berpikir:
“Bagaimana kalau suatu hari nanti, gue benar-benar melepaskan diri dari semua ekspektasi dan stereotype, menjadi diri sendiri yang benar-benar kita inginkan?“
Dalam dunia gue yang kecil, yang isinya cuma gue berdua sama ibu, selalu ada bahagia ketika kami membahas banyak hal. Cerita 1001 malam, Ramayana, sastra-sastra lama, tata surya, buah-buahan di pegunungan yang mulai tidak ada di kota dan banyak.
Di depan ibu, dari lahir sampai dewasa, gue menyadari bahwa gue adalah anak kecil yang penuh rasa ingin tahu pada banyak hal. Ibu nggak pernah marah dengan segala macam rasa ingin tahu gue. Beliau tidak melarang gue bertanya apapun sekalipun beliau juga sering tidak punya jawaban akan banyak hal.
Tapi dunia nyata di luar sana, terkadang terlalu menakutkan bagi anak kecil seperti gue. Maka gue berpura-pura dewasa seperti teman pangeran kecil di novel Le Petite Prince. Manusia dewasa itu membosankan. Mereka tidak pernah bisa diajak bercerita panjang kali lebar kali tinggi. Semua cerita selalu berujung pada angka. Pada pencapaian. Pada produktifitas dan segala kerumitan-kerumitannya. Maka anak kecil seperti gue selalu bertanya:
“Bisakah kita beragama dengan bahagia?“
“Bisakah kita mendewasa dengan bahagia?“
“Bisakah kita tetap curious dengan banyak hal ketika usia kita menua?“
Di ulang tahun gue yang ke tigapuluh, gue menangis karena takut kalah dengan waktu. Gue takut menua. Bukan karena takut kehabisan energi. Tapi gue takut semakin jauh dengan apa-apa yang gue sukai. Menjadi dewasa itu sangat menakutkan. Bukan tanggung jawab yang bikin gue takut. Gue kadang cuma merasa bahwa ruang bermain gue akan semakin sempit.
Gue tidak menemukan ruang bicara karena lagi-lagi, orang dewasa selalu menutup obrolan dengan:
“Kamu itu mbok ya mikir masa depan. Nikah sana. Umur segini masih punya dunia sendiri“
Maka gue kadang menemukan kebahagiaan dengan menjadi anonim. Tanpa bias gender, tanpa bias usia. Kadang-kadang gue ngerasa nggak punya keberanian menghadapi dunia dan akhirnya lebih memilih menghabiskan waktu untuk melarikan diri ke dunia gue sendiri.
Orang lain suka bilang kalau gue nggak boleh ngasih izin mereka buat masuk.
Sementara gue sendiri justeru nggak yakin bahwa mereka akan bahagia kalau masuk ke dunia gue yang nggak pernah membahas hitungan-hitungan angka. Dunia yang lambat. Yang penuh tawa kanak-kanak. Mereka nggak suka dengan itu. Makanya gue sendiri udah lupa bagaimana caranya membuka pintu.
Gue nemu draft ini pas scrolling tumblr. Sepertinya gue tulis tahun lalu. Lagi-lagi gue mengingat novel 9 dari Nadira. Kehilangan kadang membuat kita terjatuh sendirian lalu belajar meraba hati kita sendiri, mengenali apa yang kita inginkan, mengenali segala rasa takut kita lalu menghadapinya dengan damai dan pasrah.
Belakangan ini,
Gue nggak setakut itu menjadi dewasa asal kita berani bertahan untuk mendengarkan segala macam stereotype dan tidak menyimpannya di dalam hati. Didengerin aja. Lalu jalan dan ikuti hal-hal yang menurut kamu baik sambil terus berdoa semoga Allah ngasih petunjuk. Manusia selalu punya titik buta dan nggak pernah punya pengetahuan yang menyeluruh akan suatu hal.
Maka sterotype itu mungkin mengganggu di awal tapi kalau kita bisa berdamai, semua tidak lebih dari suara-suara di jalan yang sering kita lewati. Kadang kita dengarkan dengan baik karena itu suara klakson tanda bahaya. Kadang kita lewatin gitu aja dengan senyum karena itu ternyata suara pedagang yang kebetulan dagangannya tidak kita butuhkan.
Gue dulu seringkali takut mengekspresikan apa yang gue suka, takut menceritakan pengalaman-pengalaman yang gue rasain, takut menyampaikan emosi-emosi yang gue punya. Lalu pada akhirnya, orang lain memperlakukan kita ya seperti apa yang nampak aja. Padahal yang nampak seringkali ditatata sekali karena takut kritik.
Gue keinget dulu pernah ngebahas The Innovator. Di sana ada cerita tentang Bob Noyce pendiri Intel yang tenang banget. Saking tenangnya, dia bisa bekerja sama dengan orang yang menjadi lawan di sengketa paten. Dengan tenang juga, dia berhasil mempengaruhi teman-teman labnya untuk keluar dari fairchild semiconductor dan mendirikan usaha sendiri. Gue kagum banget dengan orang yang kayak gitu.
Karena orang kayak gue juga selalu butuh waktu dalam memproses banyak hal. Maka gue suka lelah sekali ketika semua orang di sekitar gue menyuruh gue jalan cepat dan terburu-buru.
Lalu apa yang dibilang temen gue ke gue:
“Kamu tuh cewek. Harusnya mikir nikah. Pikirannya jangan kayak gitu terus“
Dengan kecewa gue bilang:
“Padahal si xyz umurnya lebih tua dari gue dan antusias ngomongin robot dibilang hebat“
Kami terdiam.
Sejak itu, gue selalu mengikuti alur aja dalam ngobrol. Daripada nggak nyaman.
Tapi ada momen yang pada akhirnya ngebuat gue berani untuk belajar menjadi diri sendiri dan menanggung segala konsekuensinya. Manusia, pada dasarnya akan selalu mempertanyakan tentang siapa dirinya, apa yang dia pengen dan mau kemana. Gue nggak pernah menjadikan ini sebagai beban. Justeru gue bahagia dengan hidup yang selalu penuh kejutan.
Ada masanya kita belajar memahami orang lain. Tapi ada masanya juga kita belajar mengenal diri sendiri agar hati kita tenang dan menjadi lebih lembut jika kepala dan hati kita sejalan seirama.
Masa depan itu milik Allah. Jalani hidup dengan baik di hari ini, terus belajar menjadi tulus. Kerjakan amanah-amanah kamu dengan hati, dengan sadar. Ntar kalo kamu nengok lagi ke belakang, kamu bakal nemu momen:
“Ternyata pengalaman ini menambal salah satu puzzle yang berlubang dalam hidup gue“
Hidup ya emang kayak gitu. Kalau kamu terus menerus takut dengan kata orang dan nggak belajar jadi diri sendiri, sampai nantipun kamu akan takut.
Tapi kalo kamu belajar menghadapi apa-apa yang ada di hati kamu, kamu belajar menghargai kritik, belajar menghargai ketulusan orang lain, kamu bakal bisa jadi pribadi yang tumbuh dengan tenang. Kepala kamu mungkin ramai dengan pertanyaan. Tapi hati kamu tenang karena kamu paham bahwa fitrahnya dunia memang seperti itu. Ramai. Dan tidak semua keramaian perlu diikuti.
Rasanya tuh pengen bilang...
" ya allah bijim, rasanya aku sedih, aku marah, kok gini amat. Pengen istirahat bentar, tapi aku gag nyerah kok. Nanti lanjut lagi ☹️"
Lah yah, orang di tuntut bisa, di tuntut pinter, di tuntut tanggap dalam situasi apapun, tapi gak di fasilitasi. Kemampuan tiap orangkan beda-beda. Kadang sama aja kayak nyuruh siput buat terbang.
Ish,
Jadi inget ucapannya cak lontong
"Mikir...."
😑
As sekop
Hans thomas berpesan "jika kau mencari jati dirimu sebaiknya tetap berada di tempatmu atau kamu akan hilang"
Seringkali kita seperti ingin pergi untuk mencari "sesuatu". Dan ini mungkin siklus alami manusia. Tapi sebenarnya apa yang kita cari? Apa benar kepergian membuat kita menemukan yang kita cari?
Dan benarkah tetap di tempatmu kamu tidak akan menemukan yang kamu cari? Apakah kita hidup memang untuk selalu mencari? Atau kita bahkan akan kehilangan karena kita tidak tahu apa yang sudah kita punya untuk kita cari?
Orang-orang gipsi Ted dan Viona dalam buku 25 jam mengatakan "kita ini sedang menuju, dalam kepergian ataupun pelarian kita akan berakhir dengan menuju sesuatu dan itu adalah penyembuhan"
Mungkin benar, kita mencari sesuatu dan akan berakhir menemukan sesuatu. Atau bahkan mungkin itu akan membuat kita semakin mencari "sesuatu" itu sendiri.
Karena penyembuhan bukan hal yang mudah, mungkin kita harus tahu dulu apa yang kita rasakan, apa yang sudah kita alami, apa yang membuat kita berlari. Karena secara tak sadar diri kita yang sekarang terbentuk dengan hal itu.
Mencari jati diri sepertinya yang terberat adalah untuk melihat kedalam diri kita. Karena tanpa perlu pergi kemanapun kita akan ada dalam diri kita sendiri. Takutnya, saat kau pergi mencari keluar kau lupa kalau kau ada di dalam dirimu.
Karena apa yang ada diluar hanya sebagian besar stimulus.
Dan cerita tentang mencari dan menyembuhkan tak pernah sampai pada satu titik temu.
18 maret 2021
silahkan repost klo mau repost 😊 ga usah minta izin. Klo direpost di IG, kindly mention akun IG @hellopersimmonpie . Thanks 😂
Thanks for stopping by for tea with our positive bunny friend! ☕ We can be so critical of ourselves and not even realize, so sometimes we just need someone on the other side of the table to tell us what they really see.
Chibird store | Patreon | Webtoon
Saat ingin mengakhiripun nyatanya aku masih sering melihat ke belakang dan menikmatinya lagi. Seolah belum rela kehilangan tapi tak kuat bertahan.
Dan inilah paradoks kehidupan dimana kita harus memilih. Untuk menentukan sikap kita. Dan tidak ada pilihan yang benar-benar benar ataupun benar-benar salah. Karena semuanyapun ada harganya.
Lama tidak pernah melakukan deep talk, gak ada yang bisa diajak buat deep talk. Dan kadang mau deep talk ke diri sendiri masih takut.
Yah takut aja, padahal sudah tahu mana kenyataan dan mana yang bukan.
Teringat lirik penutup dari lagu breath yang dibawakan lee hi, 수고했어요 (sugohaesseoyo) yang biasanya ditunjukkan untuk menghargai kerja keras seseorang.
Beberapakali kugunakan untuk memberikan semangat ke diri sendiri dan menghargai diriku sendiri. Kalau diri sendiri yang memberikan apresiasi, terus mau nunggu siapa? Toh manusia lain juga banyak luputnya. Aku tidak mau membuat diriku merasa rendah diri karena merasa menjalani hari yang sia-sia.
Setidaknya, satu kali setiap hari aku akan memeluk diriku sendiri dan memberinya penghargaan karena sudah melewati hari dengan cukup baik.
.
.
.
09-02-2021 05.20 wib
Aku menerima bukan berarti tanpa mengeluh, tanpa bertanya, dan tanpa prptes.
Hanya saja, suatu saat aku berharap hal itu juga akan kembali lagi kepadaku. Akan ada orang yang tak merasa perlu mempertanyakan alasan dibalik sebuah penerimaan.
04-02-2021.
Pengen nangis, tapi gag suka sensasi hidung buntu pas nangis. Bikin klagepen gitu. Terus tambah sesek, nangisnya tambah kejer, tambah gak bisa nafas.
🙄
Pernah ingin menangis sekeras-kerasnya agar mereka tahu bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.
Akhirnya,
Hanya sunyi yang tahu seberapa tidak baik-baik sajanya aku...
4 januari 2020
05.00
October 10, 2019Mental Health day.
A very simplified version of a very serious, very complex matter.
#pascalcampion
aaaakkh, its so differenting.
First : Power
Second : Creation
Third : Connection
Fourth : Health
What' s your? Mainan ini kayak seroo gtu
connection, money, power, miracle.
Gratitude, strength, connection, miracle
Gratitude, selfcare, purpose, miracles
Gratitude, health, aligment, family