Semoga selalu diberikan rasa cukup, kesadaran, dan kemampuan untuk menyelesaikan segala sesuatunya dengan cara yang paling baikâtanpa harus merasa kekurangan pada diri sendiri lagi.
Teruntuk aku, menangkan!
00.57 // Surabaya, 9 Mei 2022
Sweet Seals For You, Always

No title available

Jar Jar Binks Fan Club
$LAYYYTER
tumblr dot com
todays bird
TVSTRANGERTHINGS

#extradirty
No title available
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

titsay
cherry valley forever
Lint Roller? I Barely Know Her
đ

izzy's playlists!
Keni
he wasn't even looking at me and he found me

tannertan36
almost home
sheepfilms
seen from TĂŒrkiye

seen from United States
seen from France
seen from United States

seen from Albania

seen from Argentina

seen from Malaysia
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Brazil

seen from United States

seen from T1

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@asimetris
Semoga selalu diberikan rasa cukup, kesadaran, dan kemampuan untuk menyelesaikan segala sesuatunya dengan cara yang paling baikâtanpa harus merasa kekurangan pada diri sendiri lagi.
Teruntuk aku, menangkan!
00.57 // Surabaya, 9 Mei 2022
*tulisan ini akan cukup triggering..
Beberapa waktu lalu, aku mendengar kalimat yang jadi salah satu pemicu relapse.. "kamu masih sama aja."
Ternyata hal itu cukup membuatku ngerasa nggak berguna. Rasanya kayak kembali tenggelam, dan ngerasa, jalan sejauh ini jadi sia-sia.
Beberapa hari yang lalu, aku mengambil tali. Tali yang biasa aku pakai dipinggang buat gamisku, aku lilit ke leherku. Beberapa detik aku ngerasain sensasi 'aneh' di leherku. Selanjutnya aku lepas.
Aku minum antidepresan-ku lagi. Sama kayak flu, kalo sakit, ya dikasih obat. Depresi pun sama. Dikasih obat juga. Biar nggak berkelanjutan lebih parah.
Aku tetap berfungsi seperti biasa. Tetap nonton series kesukaanku, tetap makan buah kesukaanku. Tetap beli cemilan kesukaanku. Tetap keluar ke kafe walau sekadar memesan makan dan minuman, sambil baca beberapa halaman buku.
Walau rasanya skenario untuk bunuh diri itu sangat jelas di kepala. Tapi, dengan aku tetap melakukan hal-hal yang aku suka, aku harap, aku nggak menyakiti diriku lebih dalam.
Hidup lebih lama lagi ya, Yah. Semoga.
21.24 // Surabaya, 17 Juli 2026
kamu nggak sepenting itu.
Beberapa hari yang lalu aku main ke cafe library langgananku, abistu, aku mampir ke toko buku di sebelahnya. Dan ada tali pramuka. Tapi aku nggak beli talinya. Beli beberapa printilan lainâkayak stabilo dan book marker.
Pikiranku beberapa hari terakhir ini penuh. Sangat penuh. Tadi pagi bisa mikir, gimana kalo kita mampir ke toko bukunya lagi dan beli talinya. Abistu, bikin simpul dan digantungin di pull up tower di kamar. Kira-kira, berapa hari ya aku bakal ditemuin matiâdi kamar?
Skenario paling jauh yang aku rangkai, hasil dari pelarian rasa sakit beberapa waktu terakhir yang aku tahan. Oh, ternyata, masih punya worst case scenario yang 'kayak gini' lagi.
Aku jadi keingetan salah satu novel yang aku baca, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Tokoh utamanya berencana bunuh diri. Tapi sebelum mati, dia beres-beres kamar dulu biar matinya nggak nyusahin. Make sense. Hidup aja udah nyusahin, ya masa' mati juga mau nyusahin yang lain?
Trus abis dia beresin kamar, dia mau makan mie ayam langganannya. Tapi nggak jadi karena satu dan lain hal.
*kelanjutan ceritanya, baca aja sendiri bukunya, yha.
Trus aku jadi nanya ke diriku sendiri, sebelum merencanakan mati konyol, kamu mau ngelakuin apa aja, Yah?
Banyak. Tapi yang paling pasti, nggak mau nyusahin orang.
Tapi, mati bunuh diri apakah termasuk nyusahin orang juga?
Di sisi lain, keuntungannya kalo udah mati lebih cepat, suara-suara sumbang yang nyakitin nggak bakalan didenger lagi.
Trus tadi, aku lagi dengerin lagunya Tulus yang terbaru, Teh Hijau.
Dan tadi pagi aku ngedenger salah satu podcast dr. Andreas, katanya, nggak apa-apa kalo kita ngedengerin lagu yang sesuai dengan isi hati kita sekarang.
Musiknya nggak sendu, tapi liriknya, hmm.
Kulihat mana di kendaliku
Teh hijau ini yang di tanganku
Di tengah seram sedih yang menghantamku
Lepaskan, lepas kemurunganku
Hijau kembali jiwa gersangku
Ambillah sayang sebanyak waktu yang kau perlu
Lagunya cukup ngena di fase relapse ini.
Pulang dari kantor, aku belanja beberapa keperluan. Sengaja beli indomie dan cokelat kesukaan, biar bisa bertahan hari demi hariâdari hal yang mungkin buat orang lain ini kecil, tapi mungkin itu jadi penyelamatku, di hari ini.
Hari ini, mau ngucapin ke diri sendiri, terima kasih. Sudah bertahan lagi dan lagi.
Walau rasanya pingin motoran melaju kencang biar kecelakaan parah, walau rasanya pingin ngalungin tali di leher sampai habis nafas, walau rasanya pingin narik diri dari daya edar.. nyatanya kamu tetap memilih untuk melanjutkan hidupmu lagiâdi tengah ketidakpastian masa depan.
Fase nggak excited sama hidup sendiri ini muncul lagi.
Rasanya memang nggak nyaman banget. Tapi jangan buru-buru diusir, ya. Nggak enak juga kalo dipaksa langsung baik-baik aja.
Biar diterima dan dirasain dulu, sambil ngejalanin hari demi hari buat tetap hidupâuntuk dirimu sendiri.
17.49 // Surabaya, 30 Juni 2026
Sulit bukan berarti nggak bisa.
Beberapa hari terakhir, aku baru menyadari kalau ini ternyata nggak mudah buat dijalani. Terbiasa bertopeng supaya selalu terlihat kuat, menutupinya dengan sibuknya rutinitas dan gelak tawa. Nyatanya di tempat sunyi, hanya diri yang tau bagaimana rasa sakit dan isak tangisnya.
Belajar mencoba mengerti. Belajar menerima. Belajar untuk nggak menghakimi diri terlalu banyak.
Jalan perlahan itu bukan berarti tertinggal, tapi, sedang meraba-rasakan bagaimana segalanya agar bisa kucerna dengan baik.
Thank you for being there through it all..
Lagu ini berkali-kali kudengarkan. Lirik, alunan, dan temponya, sekarang jadi hal yang paling aku suka. Soalan diri (selalu) jadi yang paling utama, karena tempat pulang yang paling baik selainNya ya siapa lagi kalau bukan diri sendiri.
Bukan berarti gagal, Yah. Tapi, ini tentang bagaimana kamu belajar lagiâpaham dengan yang kamu butuh.
Ingin yang selalu banyak, mudah sekali untuk dipenuhi. Tapi, soalan butuh, kamu perlu memikirkannya ribuan kali; apakah sudah tepat?
Mudahkanlah jalannya, mudahkan pula pulihnya.
Terima kasih ya, Yah *sambil puk-pukin diri sendiri :)
04.35 // Surabaya, 4 Juni 2026
Karena satu dan lain hal, aku sedang tidak baik-baik sajaâdan berakhir menutup akses untuk beberapa orang.
Aku mencoba mencernanya sendiri. Hanya bersama dengan lingkaranku yang paling kecil.
Aku hanya ingin memproses perasaankuâterlebih dahulu.
21.57 // Surabaya, 3 Juni 2026
pada saat kami (kamu/kita) paling membutuhkannya*
rasanya sudah lama sekali tidak menulis buku harian di halaman ini. boleh ya cerita? semoga ada sesuatu yang bisa dipetik.
suatu hari, saya menghadiri kajian bersama ibu-ibu teman sekolah mbak Yuna. lewatlah cerita tentang pengalaman-pengalaman berhaji orang lain, tentang bagaimana doa-doa saat haji dikabulkan dengan begitu indah. kepada salah satu ibu yang dekat dengan saya, saya akhirnya bilang. "mbak, doakan ya mbak. tahun ini aku insyaallah berangkat haji." seketika mbak ini berkaca-kaca. "mbaaaak. senang bangeeettt dengarnyaaa."
lalu dia tanya, "mbak uti, gimana caranya ngeyakinin suami untuk haji?" saya mikir sebentar, hingga kemudian jawab jujur saja. "sejujurnya, mas Yunus yang meyakinkan aku untuk haji, mbak." dan mulailah saya cerita, khususnya tentang perjalanan finansial keluarga kami.
saya dan mas Yunus menikah tahun 2016. saat itu, mas Yunus masih semester 2 PPDS. meskipun mas Yunus dapat beasiswa untuk uang saku, boleh dibilang, selama mas Yunus sekolah, saya yang menjadi tulang punggung keluarga kecil kami. paling tidak, kebutuhan saya dan mbak Yuna harus bisa saya penuhi.
tahun 2021, mas Yunus selesai PPDS. kami seperti pengantin baru lagi, harus menata banyak hal termasuk urusan keuangan. kami belum punya rumah sendiri--tinggal bolak-balik antara di rumah orang tua saya dan orang tua mas Yunus. dan saat itu kami dapat beberapa ujian finansial. pertama, mas Yunus kehilangan tas kerjanya yang berisi laptop dan sebagainya. saya sedih karena tas itu pemberian saya ketika kami menikah. tapi yang lebih bikin sedih, semua foto-foto saya dan mas Yunus (juga mbak Yuna) dari tahun 2015 sampai 2020 hilang, termasuk dokumentasi kelahiran mbak Yuna. innalillahi, qadarullah. lalu, untuk modal mencari kerja, saya pun memberikan laptop kesayangan saya kepada mas Yunus. "gampang, di kantorku banyak laptop."
selang beberapa minggu, di tengah bulan Ramadan tahun 2021, mobil kecil milik ibu saya yang biasa kami pakai kecelakaan tunggal, menabrak separator jalan. mas Yunus, saya, dan mbak Yuna tidak apa-apa, hanya memar-memar. tetapi mobil kami ringsek sampai keluar airbag, harus masuk bengkel selama minimal 3 bulan. saat itu, pas sekali asuransi mobilnya habis dan belum diperpanjang. saya bilang sama mas Yunus, "kita harus muhasabah diri. apa pesan yang ingin disampaikan Allah lewat ujian-ujian ini? apa kira-kira yang nggak Allah ridhoi?" setelah mobil ini rampung, mobil ini pun dijual oleh ibu.
mas Yunus masih mencari rumah sakit untuk kerja. saya ingat mengantar mas Yunus entah ke berapa banyak rumah sakit--bahkan sampai ke Brebes. kalau diingat-ingat lagi sekarang, ya Allah perjuangannya. nggak terbayang kalau kami harus tinggal di kota yang jauh dari orang tua. tapi saat itu niat saya hanya satu: sami'na wa atho'na kepada suami. kami pinjam mobil ibu lainnya untuk wara-wiri. alhamdulillah, karena kasih sayang bapak ibu mertua, mas Yunus akhirnya dibelikan mobil sendiri. ini rezeki yang luar biasa dan yang sangat kami butuhkan. mobil ini masih kami pakai sampai sekarang.
pada saat kami benar-benar pasrah akan semua urusan kepada Allah, mas Yunus diterima di rumah sakit impiannya. sangat tidak disangka-sangka sebab sekiranya semua jalan sudah tertutup. tapi ternyata kata Allah tidak. mas Yunus pun mulai bekerja di sana. saya bersyukur sekali mas Yunus memperoleh tempat kerja yang bisa memenuhi 3 kebutuhannya: kebutuhan finansial, kebutuhan aktualisasi diri, dan kebutuhan emosional spiritual untuk berbagi/mengabdi.
sejak awal mas Yunus bekerja, mas Yunus mengajari saya untuk punya beberapa tabungan. di keluarga kami, mas Yunus menteri keuangannya, saya cuma bendahara wkwk. salah satunya adalah tabungan haji. kata mas Yunus, yang termasuk rukun Islam itu berhaji, bukan punya rumah atau punya mobil. selama masih ada tempat tinggal, masih ada kendaraan, tujuan finansial yang pertama harus haji.
saya bilang sama mas Yunus, yasudah kalau mau daftar haji, kita daftar reguler saja. lagipula, asik kan bisa ada di tanah suci selama 40 hari. tapi mas Yunus menolak. katanya, pertama untuk ibadah kita harus upayakan yang terbaik. kedua, antrean haji reguler panjang sekali, memangnya sampai umur kita? dengan keterbatasan pengetahuan tentang travel-travel haji, begitu tabungan cukup, kami mendaftar haji khusus di travel milik tetangga kami pada pertengahan tahun 2022.
selanjutnya, mas Yunus membukakan rekening dollar untuk kami menabung haji. kata mas Yunus, nilai tukar rupiah bisa jadi melemah. lebih baik sejak awal menabung dalam dollar karena ongkos haji juga dibayarkan dalam dollar. alhamdulillah ini keputusan yang sangat tepat. setiap bulan, setelah menunaikan zakat, mas Yunus setoran ke rekening ini.
selain menabung haji, tentu kami berikhtiar untuk punya rumah sendiri. kebetulan, di akhir tahun 2023--sebelum mas Yunus berangkat fellowship ke beberapa negara selama satu tahun, ada tetangga kami yang menjual rumahnya karena butuh uang. tentu saja tabungan kami tidak mungkin cukup. tetapi, berhubung harganya tidak terlalu mahal, luasnya sangat luas untuk ukuran Jakarta Selatan (260 m2), dan kami niat membantu tetangga itu, kami istikhoroh-kan dan ikhtiarkan. lagi-lagi, kami dapat bantuan dari kedua orang tua mas Yunus dan dari ibu saya untuk menggenapi separuh harga rumah sisanya. alhamdulillah, bulan Oktober 2023, kami resmi punya rumah. rumah ini kondisinya masih kurang bagus, sehingga kami masih harus menabung untuk renovasi. sementara menabung lagi, rumah ini dikontrakkan. tapi intinya, saat itu mas Yunus bilang, "kalau kita mendahulukan haji, yang lain-lainnya akan mengikuti." dan itu benar sekali!
selama tahun 2024, mas Yunus fellowship satu tahun di luar negeri. sementara itu, saya tinggal di Jakarta karena sudah terlanjur pindahan dan mbak Yuna bersekolah di sana. kata beberapa teman, saya ini agak kurang waras. mau-maunya meninggalkan segala kenyamanan di Bogor, pindah ke Jakarta, tinggal dengan mertua, jadi harus melaju Jakarta Bogor karena kantor ada di Bogor, eh ditinggal pula oleh suami. saya hanya ketawa. syukur alhamdulillah, bapak ibu mas Yunus sayang sekali sama saya. sampai-sampai seakan-akan saya anak kandungnya. kalau ada apa-apa dengan mas Yunus, ngobrolnya malah lewat saya. lalu selama bapak sakit: operasi usus buntu, pasang ring tiga kali, dan sekarang cuci darah seminggu dua kali, kerap saya yang ada menemani bapak.
lagi-lagi, selama mas Yunus fellowship, kami memasuki "survival mode". dan saat inilah, ibu saya yang menolong. ibu suruh saya beli mobil listrik agar biaya melaju Jakarta Bogor bisa lebih murah. akhirnya, uang mobil bekas kecelakaan yang sudah dijual itu dibelikan mobil listrik mungil. alhamdulillah, jadi bisa irit sekali.
tahun 2024 (dan 2025) segera berlalu. mas Yunus sudah pulang, bekerja lagi seperti biasa, bahkan dapat rumah sakit swasta. akhirnya kami bisa seperti keluarga sungguhan. setelah 8 atau 9 tahun menikah. bisa tinggal bersama, menata cita-cita keuangan, menata tujuan-tujuan lain di depan, bisa mulai liburan-liburan lucu. huhu, makasih mas Yunus sudah ajak kami ke banyak tempat.
program magister yang saya mulai saat hamil mas Yasa, akhirnya selesai di bulan Juli 2025. lama banget memang. keluar ruang sidang, mas Yunus menyerahkan brosur program doktoral kepada saya. betul, pembimbing saya berharap saya bisa lanjut program doktoral karena kampus kami sedang butuh banyak tenaga pengajar. kata Prof. A, siapa tau di masa depan saya bisa melanjutkan cita-cita yang sempat ditunda, bisa melanjutkan pengabdian almarhum ayah dan ibu.
saya iya-iya saja meskipun dalam hati tidak yakin. sekolah itu mahal. waktu S2 saya dapat beasiswa, kalau sekarang saya sudah kepentok usia. tapi mas Yunus bilang, insyaallah ada rezekinya. dan mas Yunus seniat itu! mas Yunus yang membelikan formulir pendaftaran, mendaftarkan tes TOEFL, mendaftarkan tes TPA, mengecek kelengkapan berkas pendaftaran, mengantar saya wawancara/presentasi proposal.
saya terharu sekali sih. ibu saya dosen juga tetapi nggak sampai S3 sekolahnya karena "mengalah" agar ayah saja yang sekolah doktoral. tentang ini, ibu sering berpesan. "intinya, apapun keputusan kamu dalam hidup, jangan sampai di satu titik kamu bilang semacam: gara-gara suamiku nih, aku jadi nggak bisa kerja, jadi nggak bisa kuliah, dan lain-lain." ya, aktualisasi diri itu hak perempuan, termasuk perempuan yang menikah. dalam hal ini, saya merasa mas Yunus mendukung saya sekali, merasa disayang sekali, merasa bahwa cita-cita saya sama pentingnya dengan cita-cita semua anggota keluarga lainnya.
jadi, sesuai dengan nomor porsi pendaftaran haji, seharusnya kami berangkat tahun 2028 atau 2029. kalau studi doktoral saya bisa tepat waktu, artinya, kami akan berangkat haji saat saya menulis disertasi atau malah saat disertasi sudah rampung. tapi rupanya, tahun 2025 lalu, travel kami menyampaikan ada kemungkinan kami bisa berangkat pada tahun 2025. mas Yunus semangat sekali. ketika ternyata nomor porsi kami belum keluar, mas Yunus minta berangkat umroh. alhamdulillah akhirnya kami berangkat umroh pada bulan Juni-Juli 2025, sebelum saya sidang S2. dan rasanya, perjalanan umroh ini benar-benar pada saat kami paling membutuhkannya (juga).
karena sudah ada aba-aba bahwa jadwal keberangkatan haji bisa maju, mas Yunus gaspol menabung untuk haji--sambil tetap mencicil kepada kedua belah orang tua untuk rumah. kadang-kadang kami nakal sedikit sih, tabungan dipakai jalan-jalan untuk bonding keluarga. tapi nggak apa-apa, semua pengeluaran nggak ada yang kami sesali dan justru kami syukuri. ini kami belajar dari keluarga kakak saya. (1) rezeki itu apa yang dinikmati, bukan yang diketekin. (2) jadi laki-laki itu harus punya mindset bersyukur kalau bisa menyenangkan keluarga, bukan merasa terbebani. (3) flexing tertingginya laki-laki itu kalau istri dan anak-anaknya hidup nyaman. istri boleh kerja tapi bukan untuk cari nafkah.
tahun 2026 ini, alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah, akhirnya kami diundang Allah untuk berhaji. kami bersyukur sekali bisa haji di usia yang relatif muda. paling tidak saat kami masih kuat jalan 22 km selama 8 jam sehari, masih bisa mengurus diri sendiri, dan berangkat dengan skema haji khusus yang masyaallah banyak sekali kemudahannya. saya sangat sangat sangat bersyukur dan berterima kasih kepada mas Yunus karena⊠kalau mengandalkan penghasilan saya sendiri, jangankan daftar haji khusus, daftar haji reguler pun belum tentu saya mampu(?). terima kasih karena mas Yunus menolak banyak sekali tawaran menjadi petugas kesehatan haji karena maunya berangkat sama saya. terima kasih karena setiap selepas Shubuh mas Yunus menyelipkan doa, "ya Allah panggillah kami untuk berhaji."
perjalanan ini terjadi pada saat kami paling membutuhkannya. setelah ujian keimanan, ujian finansial, dan ujian ini itu lain datang ke dalam hidup kami. rasanya seperti Allah kasih kami (saya) hadiah, entah atas apa. mungkin atas dosa-dosa kami agar kami bertaubat. mungkin atas kesedihan dan kekecewaan kami agar kami gembira. mungkin atas doa-doa orang tua kami dan orang-orang yang menyayangi kami agar kami dapat mendoakan mereka juga.
saya nggak terbayang bahwa saya akan menangis selama 7 jam di Arafah. buku doa 80 halaman yang sudah disusun akhirnya betul kami baca, plus serampai doa titipan, dzikir dan sebagainya. tapi, yang paling banyak terjadi adalah: saya cuma bisa nangis, diam, nangis lagi, curhat segala-galanya kepada Allah. kalau kata mbak Apik, bengep berjamaah; dan seperti kata mbak Apik juga, semuanya memang begitu puitis: panasnya, anginnya, tanahnya.
di Arafah pula, saya dapat berita yang sangat menggembirakan! belum bisa diceritakan sekarang, tetapi kalau jadi, insyaallah saya niatkan saya akan menulis lagi. semoga mas Yunus bisa menulis lagi juga.
di antara doa-doa saya, saya mendoakan semua teman-teman yang punya niat umroh atau haji agar juga segera dipanggil oleh Allah untuk berumroh dan berhaji. semoga Allah mampukan dan semoga Allah undang segera. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.
*Kak Gun, pinjam judul tulisannya ya. wkwk
Sampai di titik baca buku parenting, dan nggak ke trigger, nggak menyalahkan terlalu banyak.
Cukup, oh, aja.
Ternyata bisa ya sampai di sini.
00.24 // Surabaya, 29 Mei 2026
âWhen you stop chasing the wrong things, you give the right things a chance to catch you.â
â Unknown
YaAllah jika dia bukan jodohku, tolong permudah jalanku utk ngumpulin duit dan S2 đ€Čđ
Aamiin~đđđ»
Hai, apa kabar?
Bulan April ternyata bisa dilewati dengan... baik. Padahal Februari, sebelumnya malah berencana apa, yang kejadian malah apa.
Selucu itu ternyata.
Sekarang?
Semoga selalu baik-baik aja, ya.
Trus, sekarang lagi sibuk apa, Yah?
Sekarang, abis gedebag-gedebug deadline yang semalam bisa dilalui dengan lebih santuy daripada tahun-tahun sebelumnya, badanku sedari pagi tadi akhirnya sedikit protes, ngerasa capek nggak jelas gara-gara dari kemarin survival mode mulu.
Sekarang bisa nafas sebentar, senderan sebentar, makan enak sambil nonton drakor yang disuka.
Bulan April ternyata aku banyak melewatkan jurnaling, bahkan nggak membuat notes juga di gawaiku. Kayak, yaudah hidup jalan aja gitu. Kalo spaneng ya tinggal cerita ke orang terdekat. Sudah cukup.
Trus juga, beberapa waktu lalu sempat konseling lagi karena satu dan lain hal. Masih ada trauma response ketika membahas ini-itu, tapi, pelan-pelan terlewati selagi mau saling menguatkan.
Ternyata banyak juga yang udah dilalui. Banyak juga yang dirasakan. Banyak juga yang ditangisin, banyak juga yang bikin senang.
Tapi aku juga selalu berdoa, semoga yang terjadi padakuâapapun itu, aku selalu berharap berujung diberi rasa tenang dalam menjalaninya. Ya, semoga.
Udah itu aja.
Kali ini cuman mau mampir sebentar di siniâwalau nggak begitu banyak yang bisa diceritain.
Selamat menjalankan bulan Meiâdengan segala kemungkinan baik di dalamnya, ya.
19.52 // Surabaya, 5 Mei 2026
Kejadian beberapa waktu ke belakang, bikin aku sadar kalau hati manusia bisa serapuh itu. Tapi, kalau mau terus berdoa, pasti akan ada kemungkinan baik yang datang setelah kita bisa melepaskan yang sekiranya memang sudah nggak layak digenggam terlalu lama.
Satu-persatu. Tujuan itu ada, sama atau tidaknya. Sepakat yang menguatkan. Seirama jejaknya.
Terima kasih, ya, sudah selalu mendoakan yang baik-baik untuk dirimu sendiri.
22.55 // Surabaya, 27 Maret 2026
Marahku berubah bentuk, ternyata.
Y: apakah Yayah akan sama seperti mereka, dok? Apakah lingkaran setannya akan terulang kembali?
D: satu yang selalu aku tekankan, Yah, hal yang salah nggak bisa dijadikan patokan. Jadi, kamu bisa cari referensi yang lebih baik lagi. Tapi aku optimis, Yah, ketika aku tau kalau lingkungan sosialmu sudah membaik.
Beberapa malam yang lalu, saya sempat berdoa sambil menangis, meminta kemudahan untuk berbuat baik dan kelembutan hati untuk memaafkan (si)apapun dalam keadaan apapun, meminta kelapangan hati juga untuk orang-orang di sekitar saya yang sekiranya juga pernah khilaf atas perlakuan mereka yang kurang berkenan, baik yang mereka lakukan secara sadar ataupun sebaliknya.
Ya. Lebaran tahun ini berbeda. Semakin membaik dari yang sebelumnya. Saya harap ini menjadi sesuatu yang berkelanjutanâperihal hati yang tentram atas segala apa-apa yang sudah digariskan di depan.
Kalau lebaran tahun kemarin, saya belajar untuk memaafkan diri sendiri atas segala perjalanannya. Bukan, bukan lebih lambat, tapi memang begitu adanya. Waktu yang ditentukan sudah sangatlah pas dengan keadaan sayaâpada saat itu. Belajar memulai dari nol, unlearn banyak hal, belajar membuka kembali peluangâwalau nggak semua hal bisa sesuai dengan apa yang dimau. Belajar menerima ketidaksempurnaan diri sendiri. Ya, karena ketidaksempurnaannyalah yang menjadikannya terlihat sempurna. Lebih dan kurang itu adalah hal yang selalu diwajarkan, karena dari sanalah keseimbangannya bisa tercipta, dan akhirnya, terbentuk banyaknya lahan pembelajaran yang nggak akan pernah ada habisnya.
Sekarang, kembali memulai perjalanannya selangkah demi selangkah. Memilin benang-benang keberanian menjadi satu kesatuan tangguh. Mengayuh rasa sabar dan ikhlas lebih jauh, agar supaya hikmah yang terekam bisa melekat lamat-lamat di hati dan semakin membaikkan diri. Ya, saya yang belum selalu baik, tapi masih berusaha menjadi orang baik.
Saya selalu percaya, terciptanya seorang manusia berarti membawa segudang penuh kebermanfaatannya buat sekelilingnyaâsekecil apapun kebaikan yang telah ia perbuat. Tentunya, saya harus bisa menemukan rasa keberhargaan diri sendiri lebih dulu. Kalau sudah merasa penuh dengan diri saya sendiri, nantinya, saya lebih mudah memenuhi tangki-tangki kosong yang lain. Dan juga, banyak-banyaklah memberi kesempatan untuk diri sendiri dalam kebaikan. Belajarlah membiasakan diri di dalamnya dan jangan menghalanginya dengan berbagai macam buruk sangka. Karena kita nggak akan pernah tau, akan ada kesempatan baik apa yang datang di depan nantiâyang akan membuka pintu-pintu kebaikan lainnya.
Yah, sekali lagi.. izinkan dirimu menerima berbagai macam perasaan itu seapa adanya. Biarkan semuanya memenuhi ruang memori ingatanmu, biarkan hatimu merasakan berbagai macam emosinya. Meraba-rasakan segalanya nggak akan membuatmu menjadi kekurangan, justru, dengan adanya demikian menjadikanmu manusia seutuhnya, manusia yang punya empati terhadap sesamanyaâtermasuk dengan diri sendiri.
Satu hal yang pasti, Yah, memaafkan dan melepaskan hal-hal yang sudah nggak bisa digenggam lagi akan membuat beban perjalananmu menjadi lebih ringan. Jadi, ya nggak apa-apa. Mungkin dengan cara melepaskan, perjalananmu akan menjadi lebih cepat sampai dari yang sebelum-sebelumnya.
Hai, orang baik. Hadirmu, laksana penyembuh di antara gersangnya rerumputan kering yang tengah kujejaki kini. Tapi, selayaknya waktu yang terus menancapkan detiknya melaju kearah manapun tanpa berlari mundur, aku tau kalau apa-apa yang bukan menjadi milikku, harus segera diikhlaskan. Tentu bukan hal mudah melaluinya. Tapi aku yakin, karena kebaikanlah kamu datang. Dan karena kebaikan juga kamu pergi. Maka izinkanlah kulantunkan banyaknya semoga dengan iringan yang baik, seperti doa-doa fasih yang selalu kauucap di tiap lingkaran kebaikan yang kaucipta. Aku mengamininya, dan semoga juga aku segera mengikhlaskannya.
***hujan di langit ketiga, yang semoga segera mereda.
14.57 // Surabaya, 25 April 2023
Beberapa waktu lalu, aku nitip doa ke salah satu bosku yang lagi umroh.
Doanya cukup detail. Tumben-tumbenan.
Sampai beberapa hari setelahnya, ada kejadian yang mana seakan-akan ini dikasih jawabannya.
Awalnya, tentu aku nangis. Denial.
Pada satu-dua waktu aku diyakinkan oleh teman-teman terpercayaku,
setiap pilihan itu selalu berisiko, Yah, tinggal kamu mau milih risiko yang kayak gimana.
Aku merenung lagi. Diam. Tanpa ada intervensi notifikasi darinya.
Sampai akhirnya, kemarin jawabannya datang lagi, yang mana itu juga akan aku bahas perihal yang masih mengganjalâbanyak tanya dalam ruang tunggunya.
Sampai pada satu kesimpulan, nggak bisa diulur lagi kebingungannya. Jawabannya hanya ada; ya atau tidak. Dan udah nggak butuh bargaining lagi sebagai kompensasi denialâmenganggap semuanya akan baik-baik saja kedepannya.
Selesai. Sudah.
Sekian detik aku ingin menerimanya (kembali), sekian detiknya lagi aku mempertanyakan, apa kamu pantas, Yah, diperlakukan begini terus-menerus?
Pada pertanyaan yang kamu sendiri belum tau jawabnya, akupun nggak tau dan bahkan nggak berhak memaksamu untuk lekas-lekas menyembuhkannya. Karena aku pernah ada di posisi itu, bahkan sebagai seorang anakpun aku masih belajar memaafkan segalanya.
Terima kasih, sudah banyak memberikan pelajaran baikâdari sana.
Dan pesan darikuâuntukku sendiri,
hanya karena terlihatnya familiar, bukan berarti kamu harus mengambil risiko yang sama, Yah.
Jangan gegabah. Apalagi menyangkut masa depan yang akan kamu jalani seumur hidup..
00.34 // Surabaya, 10 Maret 2026
Mungkin ini akumulasi dari buncahannya. Ya, overstimulasi. Dan akhirnya rasa lelahnya menjadi-jadi.
Menepi sebentar, tanpa ada notifikasi. Berjarak sebisanya. Tanpa mencari, tanpa dicari.
Pada sepi yang sebelumnya selalu dipertanyakan, saat suara ketukan pintunya hadir, aku menganggap, mungkin hanya main sebentar.
Dua dan selang satu purnama kemudian, masing-masing hanya bisa menerka, apa sudah benar-benar siap?
Pada skenario apapun itu, bukan ranahku untuk menciptakan angan-angan semu. Bukan ranahku juga untuk terlalu jauh. Kita sama, sama-sama memiliki luka. Satu dan di antaranya, bisa saling melukai, bisa jadipun sebaliknya, saling menyembuhkan.
Tinggal, kita memilih yang mana?
23.29 // Surabaya, 4 Maret 2026
Di titik kesadaran ini, kamu jadi belajar untuk sedikit melambat ya, Yah. Pelan-pelan untuk menjalani prosesnya walau sebelumnya sempat rasanya ingin mengetahui segalanya di awal.
Nggak apa-apa, perlahan. Satu-persatu dibangun ritme dan pondasinya. Kamu yang lebih tau kebutuhanmu sendiri, kamu yang lebih tau apa yang bisa kamu tolerir atau nggak, kamu yang lebih tau kemampuanmu sendiri.
Pada kesiapan yang selalu banyak dipertanyakan, mungkin memang kita nggak pernah tau, apakah benar-benar sudah siap atau sebaliknya?
Dijalani dulu, sambil meraba-rasakan apa yang sekarang sedang ditempuh.
Kalau baik, ya nanti akan diberi kemudahan. Akan diberi petunjuk. Karena Allah nggak akan ninggalin kamu sendirian. Ya?
22.37 // Surabaya, 2 Maret 2026