Referensi untuk yang lagi nulis rencana studi nih :D
Stranger Things

@theartofmadeline
Jules of Nature
almost home

shark vs the universe
Sade Olutola

PR's Tumblrdome
Monterey Bay Aquarium

★
One Nice Bug Per Day
No title available
Game of Thrones Daily

#extradirty
Three Goblin Art
Sweet Seals For You, Always

izzy's playlists!

Kaledo Art

Andulka
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

titsay
seen from Italy

seen from France
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Russia

seen from Indonesia
seen from Malaysia

seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Colombia

seen from Singapore

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Malaysia
@septiansugara
Referensi untuk yang lagi nulis rencana studi nih :D
There's a strong caffeine in a good book. Once you read it, you'll read it till the end
Septian Sugara
Tips Wawancara LPDP
All right. Kali ini, saya mau cerita tentang dibalik layar nya wawancara LPDP, yang Alhamdulillah menghantarkan saya jadi salah satu awardee. Buat yang mau tau gambaran situasi selama wawancara LPDP, bisa baca disini ya.
Saya kebetulan dapet jadwal wawancara tanggal 28 September 2017. Sebentar sih, cuma 45 menitan. Tapi untuk bisa excellent di 45 menit ini, persiapannya butuh waktu berminggu-minggu. Apa aja yang harus disiapin?
1. Konten
Inti dari seluruh persiapan wawancara adalah konten. Seluruh konten yang akan kamu bicarakan di wawancara harus sudah kamu siapkan, bahkan sebelum mendaftarkan diri mengikuti LPDP. Konten apa yang saya maksud? Ya semuanya. Mulai dari pemahaman mendalam tentang seluk beluk kampus tujuan, sejarah kampus, peringkat kampus di taraf internasional, detail jurusan, konsentrasi yang ditawarkan, daftar profesor di kampus tujuan, contoh riset, pemahaman tentang negara tujuan, pemahaman tentang kota tujuan (kota dimana kampus itu berada), penguasaan ketiga essay yang sudah ditulis sebelumnya (sukses terbesar, kontribusi, dan rencana studi), dan CV yang kamu submit waktu daftar LPDP. Ada berbagai strategi untuk menyiapkan konten. Misalnya membaca blog, buku, nonton panduan LPDP di youtube, sampai sharing sama orang-orang terdekat. Intinya, analisis kira-kira pertanyaan apa yang mungkin muncul, dan persiapkan bagaimana kamu akan menjawab pertanyaan tersebut.
2. Bukti
Sama kaya konten, tapi ini berbentuk printout. Thanks for Ashri (Aussie Awardee ) yang ngajarin tentang ini. Gimana caranya menentukan bukti? Pertama, daftar semua jawaban yang kira-kira akan kamu sampaikan. Dari daftar itu, kamu bisa merinci kira-kira bukti apa aja yang bisa kamu siapkan untuk mendukung setiap statement yang akan kamu sampaikan.
Misalnya, interviewer nanya gini : "kenapa kamu pilih McGill University?"
Kira-kira kamu bakal jawab "karena McGill university menawarkan jurusan yang sesuai dengan konsentrasi yang saya perlukan. McGill University juga sudah diakui sebagai kampus terbaik ke-31 di dunia, dan biaya kuliah di McGill juga relatif lebih murah dibandingkan dengan kampus-kampus lainnya"
Nah, untuk mendukung statement ini aja, kamu akan perlu 3 bukti : (1) Jurusan yang ditawarkan McGill, (2) Urutan peringkat kampus di dunia (yang menyatakan bahwa McGill berada di peringkat ke-31 dunia) dan (3) perbandingan harga kuliah + biaya hidup di McGill, dibandingkan dengan beberapa kampus lain.
Kenapa sih ribet banget? Ya emang gitu. Butuh usaha lebih kalo mau jadi awardee LPDP. Emang sih ngga semua awardee sampe se-detail ini pas wawancara, tapi berdasarkan pengalaman, cara ini cukup manjur untuk meyakinkan interviewer bahwa apa yang kita omongin itu real, bukan karangan/imajinasi belaka.
3. Latihan
Ini juga salah satu kunci keberhasilan interview LPDP. Trust me, you'll never too smart to practice. Karena, semakin banyak kamu berlatih, semakin bagus jawaban yang akan kamu sampaikan selama interview nanti. Oiya, pastikan kamu latihannya sama orang lain ya. Latihan sendiri emang bagus, tapi ngga akan bikin kamu banyak berkembang. Dengan ketemu banyak orang, kamu punya kesempatan buat dapet banyak sudut pandang baru, kritik, masukan, bahkan kadang bisa meng-copy jawaban orang lain yang mungkin lebih bagus dari jawabanmu.
Saya latihan intensif interview itu mulai H-60 hari. Awalnya latihan sendiri pake cara klasik (bikin pertanyaan di secarik kertas, terus digulung kaya arisan). Terus latihan sama sesama pendaftar, sama temen-temen lama yang bahasa Inggris dan sudut pandangnya bagus (via telepon), latihan sama temen sekampung yang sama-sama tinggal di bekasi, sampe minta waktu buat latihan interview after work sama guru bahasa Inggris di yang ada kantor.
Buat latihan interview, print formulir pendaftaran (bisa didownload setelah dinyatakan berhak ikut Substansi), terus kasih deh ke temen yang mau nginterview. Biar dia tau apa aja yang harus ditanyain.
4. Details
Yes, kamu harus siapin semuanya secara detail. Harus mulai dipikirin nih nanti pake baju apa, celana apa, sepatu apa. Pengalaman kemarin sih, baju yg dipake peserta macem-macem. Ada yang pake jas, batik, baju dari komunitas, atau bahkan seragam kantor.
Tentu setiap orang punya tujuan masing-masing. Ada yang sengaja pake baju komunitas biar ditanya-tanya involvement dia di komunitas itu, ada yg bangga banget sama tempat kerja nya sampe pake pakaian kerja, ada yg mau keliatan formal banget sampe pake jas, ada juga yang mau menunjukkan nasionalisme dengan memakai batik (like me).
Ngga ada peraturan sih harus pake baju apa, tapi intinya, LPDP menghendaki peserta yang keliatan formal, rapih, sopan, enak dilihat, tapi humble. Jadi, kalopun mau pake jas, baiknya jangan yang terlalu mencolok biar tetep ada kesan humblenya. Oiya, be noted, no jeans dan no kets yaa. No T-Shirt juga.
Sip, mungkin itu aja yang bisa saya share kali ini. Kalo ada pertanyaan, jangan ragu buat tinggalin comment ya. Terima kasih sudah baca tulisan ini, semoga bisa jadi awardee selanjutnya yaa.
"If you are honest, people may deceive you. Be honest anyway. If you are kind, people may accuse you of selfishness. Be kind anyway. All the good you do today will be forgotten by other tomorrow. Do good anyway"
Fredrick Backman, The Scandal (2016 : 5)
Tips LPDP : OA, LGD, EOTS
'Bu, i'm going to Canada'
Yes, akhirnya hari itu datang juga. Setelah capek ngurus berkas ini itu, deg degan ngerjain online assessment, dan ketemu secara langsung sama temen-temen peserta subtansi yang bikin jiper, akhirnya mimpi itu terwujud juga - mimpi buat kuliah di luar negeri, yang entah kenapa udah ada di otak ini dari zaman SMA dulu. Alhamdulillah, I'm officially an LPDP awardee.
Sebagai rasa syukur, saya mau share pengalaman full LPDP - bisa dibilang tips and trick - yang semoga bisa ngebantu temen-temen untuk mewujudkan mimpi jadi awardee LPDP selanjutnya.
Just to be informed, persiapan LPDP ngga bisa dilakukan dalam semalam. Kebetulan saya ketemu sama banyak temen awardee, yang dari semuanya ada satu benang merah : awardee adalah mereka yang bermimpi besar, punya motivasi yang kuat untuk maju, aktif di berbagai organisasi, excellent di bidangnya (IPK, salah satu indikatornya), berprestasi (Balanced. Akademik dan non akademik), aktif dalam kegiatan volunteering, dan sudah melakukan sesuatu untuk masyarakat sekitarnya. If it sounds like you, congratulations, you're in the right track.
Profil diri ini memang sangat penting dan dipertimbangkan. Tapi, ada juga faktor-faktor lain yang bisa membuat kamu meningkatkan score selama tes LPDP.
1. Online Assessment
Tahun ini adalah tahun pertama pelaksanaan online assessment. Jadi, belum banyak yang nge-review tentang ini.
Intinya, ada sekitar 400 soal yang harus kamu kerjakan. Soalnya berbentuk statement, sama sekali ngga ada TPA atau soal matematika. Untuk setiap statement, kamu boleh menentukan sikap kamu : sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju atau sangat tidak setuju. Ngga ada durasi tes, yang jelas kamu harus sudah menyelesaikan tes nya paling lambat 24 jam sejak tes dimulai.
Tips untuk Online Assessment :
a. Jadi diri sendiri
Tujuan online assessment ini kan sebenernya buat tahu kepribadian kamu. Jadi tips terbaiknya adalah, jawablah dengan jujur.
b. Konsisten
FYI, dari sekian banyak pernyataan yang muncul, akan ada beberapa pernyataan yang diulang-ulang. Maka, jawablah dengan konsisten. Menurut temenku yang S2 Psikologi, konsistensi ini bisa jadi indikator, kamu bohong atau ngga. Jadi, pastikan kamu menjawab pernyataan yang sama dengan jawaban yang sama. Caranya gimana? Saya punya tips sendiri sih biar konsisten :D ask personally ya kalo mau tau.
c. Sesuaikan dengan standar
Maksudnya gini. Kadang, kita tahu standar yang baik kaya apa tapi belum tentu kita melaksanakannya. Misalnya, "Setiap warga negara harus turut serta dalam usaha bela negara". Ok, kamu tahu ini harus dijawab dengan 'sangat setuju'. Tapi kamu merasa belum melakukan apa-apa untuk bela negara. Maka, jawaban terbaiknya, pilihlah 'setuju'. Jadi kamu mengikuti standar, tapi juga ngga terlalu membohongi diri sendiri.
d. ‘Ragu-ragu’
Saya baca di beberapa blog, ada yang menyarankan untuk menghindari jawaban ‘ragu-ragu’. Kita harus menentukan sikap, minimal pilih ‘setuju’ atau ‘tidak setuju’. Tapi berdasarkan pengalaman kemarin, salah satu teman justru gagal di online assessment karena sama sekali tidak memilih 'ragu-ragu'. Saya sendiri 2 kali menjawab 'ragu-ragu'. Simpulannya, pilihlah 'ragu-ragu' hanya jika tidak ada jawaban lain yang mendekati.
e. Be real, be open-minded
Ada tipe pernyataan wawasan seperti 'bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling banyak digunakan di dunia'. Semua tahu, pernyataan itu salah. Tapi, daripada memilih 'sangat tidak setuju', akan lebih bijak kalau kamu memilih 'tidak setuju'. Ini menunjukkan bahwa sekalipun kamu tahu pernyataan itu salah dan kamu tidak setuju, tapi kamu masih bisa menerima pendapat orang lain secara open-minded.
2. Leaderless Group Discussion
Setiap peserta akan mendapatkan kelompok LGD, dimana masing-masing kelompok akan mendiskusikan isu tertentu selama 25 menit. Karena waktunya terbatas, bisa jadi cuma dapet kesempatan ngomong satu kali. Itulah kenapa kamu harus bener-bener bisa jadi 'bintang' meskipun waktunya singkat. Ini langkah-langkah LGD yang mungkin bisa kamu tiru
Tips persiapan sebelum LGD
a. Kuasai isu terkini
Topik LGD yang muncul, umumnya berasal dari isu-isu terkini. Jadi, pastikan kamu ngeh sama apa yang lagi hangat diberitakan saat ini. Saya dulu baca Koran sama nonton berita, ngga kurang dari 3 bulan sebelum seleksi. Fokus sama isu nasional, karena itu yang akan banyak muncul. Kamu juga harus pandai memilih berita. Berita yang akan muncul di LGD umumnya yang cakupan masalahnya luas, kompleks, dan mengundang kontroversi. Misalnya, berita tentang maling ayam yang dihukum 5 tahun, padahal koruptor cuma ditahan 3 tahun.
b. Pahami aturan main
Seperti namanya (leaderless), kamu harus menunjukkan ide cemerlangmu, tapi ngga boleh terlalu mendominasi. Kamu juga harus menunjukkan antusiasme ketika orang lain sedang berbicara, mencatat pernyataan teman yang dianggap penting, dan tidak membantah terlalu kuat. Nah, ini aturan dasar yang harus kamu pahami dan taati. Kalo kamu menjalankan aturan ini dengan baik, niscaya nilai LGDmu juga pasti tinggi.
c. Latihan
Menjelang substansi, akan banyak bermunculan grup LPDP di whatsapp, telegram dan discord. Kamu sebaiknya join di grup-grup itu. Pertama, biar ngga ketinggalan informasi. Kedua, jadi ajang silaturahmi. Ketiga, kamu bisa latihan sama temen-temen applicants lainnya. Yes, kamu bisa latihan dengan metode yang macem-macem. Ada yang via voice note, aluran discord, atau bahkan ketemu langsung seperti yang saya lakukan dulu. Personally saya ngerasa ini penting sih, karena dengan ‘kopi darat’, kita bisa tahu kompetitor kita ini sepinter apa, jadi kita bisa ngimbangin ketika LGD beneran nantinya. Latihan juga membantu kamu membuat sintesis dengan lebih efektif, mengetahui jenis isu yang mungkin diangkat, mempraktekkan langsung etika LGD, dan yang jelas, melatih kemampuan berbicara di muka umum.
Ini beberapa grup yang bisa kamu ikuti :
https://telegram.me/joinchat/CwAQKED8ArMMkTix_bjaNA https://t.me/LPDPLN https://discord.gg/AszeHQ https://discord.gg/RNAQxq
Tips saat LGD
a. Baca cermat
Begitu duduk, kamu ngga langsung diskusi tapi disuruh baca dulu topik yang akan didiskusikan. Nah, kalo kamu punya kemampuan buat baca cermat (baca secara cepat dan langsung mengerti pokok pikiran dari tulisan tersebut), ini akan sangat menguntungkan. Intinya, cari kata kuncinya. Tulis di lembar yang disediakan.
b. Mengerti akar masalah
Dari kata kunci yang sudah kamu tulis, coba analisis, apa akar masalah dari isu tersebut. Pemahaman yang baik terhadap akar masalah akan membuat kamu mudah menentukan sikap, menyusun solusi, serta menyampaikannya secara komperhensif.
c. Sampaikan pendapat
Cara menyampaikan pendapat yang umum dalam LGD adalah :
(1) Ucapkan terima kasih (karena sudah diberi kesempatan berbicara) dan perkenalan (terima kasih, nama saya septian sugara);
(2) Sampaikan apresiasi untuk pembicara sebelumnya (saya setuju / sedikit kurang setuju dengan pendapat ...);
(3) Sampaikan sikap kamu (optional, tergantung jenis isu yang sedang dibahas apakah perlu sikap setuju/tidak);
(4) Sebutkan akar masalah (menurut saya, akar dari permasalahan ini adalah ...) ;
(5) Sampaikan solusi (maka, solusi yang bisa saya tawarkan adalah .... ) sampaikan maksimal 3 poin solusi;
(6) Ucapkan terima kasih.
3. Essay on the Spot
Kamu akan diajak masuk ke suatu ruangan, terus dikasih dua lembar kertas. Kertas pertama untuk menulis essay, kertas kedua berisi topik essay yang bisa kamu pilih. Ada 2 topik essay yang ditawarkan. Kalo saya kemarin dapet tentang pentingnya menjaga persatuan ditengah isu keberagaman, sama harga diri sebagai modal mambangun bangsa.
Kamu boleh pilih topik manapun yang akan kamu tulis. Waktunya cuma 30 menit. Ngga ada ketentuan kamu harus buat essay yang seperti apa, tapi standarnya, essay terdiri dari pengenalan, isi, dan penutup. Kalo saya pribadi sih kemarin isinya pengenalan isu, akar masalah, solusi, simpulan. Persis kaya LGD, cuma ini ditulis.
Isi essay, sekitar 3 sampai 4 paragraf. Jangan pernah bilang ‘pasti’, karena kita bukan ahli. Hindari juga penggunaan kata ‘mungkin’, karena ini menunjukkan kita ragu. Oiya, kalo salah nulis, ngga usah di tipe-X. Cukup coret langsung seperlunya. Jangan lupa juga, siapkan alat tulis lebih dari satu.
FYI, untuk pelamar beasiswa luar negeri, semua tes dilaksanakan dalam bahasa Inggris, kecuali Online Assessment.
*bersambung*
Seleksi Dokumen LPDP 2017
Seleksi dokumen! Ini tahap pertama dalam rangkaian pendaftaran LPDP dan yang paling lama prosesnya. Semua tau, ada cukup banyak dokumen yang harus disiapin buat bisa daftar LPDP. Saya sendiri butuh waktu sekitar 4 bulan untuk memenuhi semua persyaratan yang dibutuhkan. Nah kali ini saya mau share tentang usaha ngedepetin dokumen-dokumen itu. Bikinnya gimana, biayanya berapa dll.
1. Ijazah S1 dan Transkrip Nilai
Kalo ini mah usaha ngedapetinnya bukan 4 bulan, tapi 4 tahun hehe. Berhubung semua yang lulus S1 pasti dapet 2 berkas ini, jadi langsung skip aja ya.
2. Surat Rekomendasi sesuai format LPDP
Setiap tahun, LPDP menerbitkan buku panduan yang salah satu kontennya adalah format surat rekomendasi. Karena sudah ada formatnya, jadi orang yang bersedia memberikan rekomendasi bisa langsung isi sesuai format, terus tanda tangan deh.
Kalo saya sendiri, sebelumnya memang sudah pernah dibuatkan surat rekomendasi oleh salah satu dosen tapi masih berbentuk surat, belum sesuai format. Jadi dari rekomendasi yang sudah ada ini, saya masukkan ke dalam format LPDP, terus di proofread lagi sama dosen yang bersangkutan, baru ditandatangani.
Kamu bisa minta surat rekomendasi ini ke dosen pembimbing skripsi, guru besar di jurusan kamu, kepala program studi, atasan di kantor, pemuka agama, kepala organisasi, atau orang-orang berpengaruh yang lumayan kenal kamu secara personal.
Perlu diingat, surat rekomendasi ini jadi salah satu bahan pertimbangan penting untuk menentukan kamu lolos atau ngga. Jadi, pastikan surat rekomendasikan yang kamu kirimkan harus benar-benar berkualitas dan bisa menonjolkan potensi yang kamu miliki.
Saya sih kemarin sampai minta surat rekomendasi dari 5 orang yang berbeda. Dan sesuai tebakan, 3 dari 5 surat rekomendasi yang saya terima dibuat ‘seadanya’ sehingga isinya juga kurang meyakinkan. Kamu bisa coba cara yang sama, minta surat rekomendasi ke banyak orang, supaya nantinya kamu punya banyak pilihan.
3. Surat Pernyataan
Ini mah gampang. Udah ada formatnya di buku panduan. Tinggal print, baca isinya, tanda tangan diatas materai, beres deh.
4. Surat tugas / izin belajar
Surat izin belajar ini khusus buat kamu yang sudah bekerja ya. Mungkin agak sulit juga dapetinnya kalo bos nya susah diajak kompromi. Untung atasan saya baik banget sih. Jadi pas saya bilang mau lanjut studi, dia dengan semangat langsung mau tanda tangan.
5. KTP
Oke ini juga gampang
6. SKTM
Surat keterangan tidak mampu. SKTM ini persyaratan khusus buat pendaftar LPDP yang mau ikut jalur afirmasi Bidikmisi ya. Kemarin sih saya buatnya di kantor desa, dengan melampirkan surat pengantar dari RT. Bawa KTP, dan bayar uang administrasi Rp.20.000.
7. Slip Gaji Orang Tua
Ini khusus buat temen-temen Afirmasi yang orang tuanya masih bekerja. Kalo orang tuanya kerja tapi nggak ada slip gaji (misalnya nelayan, petani, pedagang), Slip Gaji ini bisa diganti sama surat pernyataan penghasilan orang tua. Isinya menyatakan berapa jumlah penghasilan setiap bulan, dan berapa jumlah tanggungan di dalam keluarga tersebut. Print, ditandatangani diatas materai.
8. Slip Gaji Pendaftar
Kalo kamu udah kerja, kamu bisa minta slip gaji ini ke bagian finance, sebagai bukti berapa penghasilan kamu per bulannya. Kalo saya Alhamdulillah memang dimudahkan nih kayanya. Baru mau minta, eh tiba-tiba ada pembagian slip gaji dari team finance :D
9. Rekening Listrik 3 Bulan Terakhir
Persyaratan ini juga khusus untuk pendaftar Afirmasi Bidikmisi ya. Kalo rumah kamu kebetulan pakai listrik prabayar (token), rekening listriknya bisa diganti pakai surat pernyataan kok. Isinya menyatakan berapa besaran rata-rata pengeluaran listrik prabayar tiga bulan terakhir. Ditandatangani oleh kepala keluarga, diatas materai 6000.
10. Surat Keterangan Penerima Bidikmisi dari Universitas
Ini jelas khusus untuk alumni Bidikmisi. Personally, ini salah satu yang prosesnya lumayan ribet sih. Harus hubungi pihak fakultas dulu, terus mereka bilang harus dateng ke kampus. Jadi izin kerja deh. Sampe kampus, eh masih harus nunggu Dekan. Jadi ya gitu dehm harus bolak balik beberapa kali sampe akhirnya dapet ‘surat sakti’ yang satu ini hehe. Ngga bayar kok, gratis.
Oiya, perlu diingat regulasi di tiap kampus beda-beda ya. Jadi sebelum datang ke kampus, ada baiknya kamu tanya-tanya dulu gimana prosedurnya, berkas apa aja yang harus dibawa, dan lain-lain. Jangan sampai bolak balik.
11. Sertifikat Lainnya
Kalo kamu termasuk mahasiswa yang aktif dan punya banyak prestasi, baiknya mulai kumpulin sertifikat-sertifikat kamu di satu folder deh. Ini bisa kamu lampirkan buat daftar LPDP nantinya. Kamu bisa pilih beberapa sertifikat yang menurutmu paling membanggakan. Scan, terus dicompile aja di satu file berformat pdf. Kemarin sih saya pakai bantuan website ini buat nyatuin file nya : www.wordtojpeg.com. Mudah dan gratis.
12. Letter of Acceptance
LOA adalah surat pernyataan kalo kamu udah diterima di kampus tujuan. Saya sendiri belum dapet LOA sih, hehe. Kita skip dulu ya.
13. Sertifikat Bahasa Asing
Bahasa asing yang dimaksud adalah bahasa asing yang nantinya akan digunakan selama kamu kuliah S2. Misalnya kamu mau lanjut kuliah sastra mandarin di Tiongkok, ya sertifikat yang kamu lampirkan harus sertifikat bahasa mandarin, bukan TOEFL.
Kalo saya sih kemarin pakai TOEFL, karena mau lanjut kuliah di Kanada. Saya ambil TOEFL ITP di Balai Bahasa UPI seharga Rp.500.000. Untuk bisa ikut tes TOEFL, kamu harus daftar maksimal H-7. Tes terdiri dari listening comprehension, structure & written expression, sama reading comprehension. Untuk LPDP reguler, batas TOEFL minimal buat ke luar negeri adalah 550. Sementara untuk jalur afirmasi 500. Hasil TOEFL umumnya keluar 1 minggu setelah tes.
Oiya, kalo kamu kebetulan S1 nya di jurusan berbahasa pengantar bahasa Inggris (misalnya kalo di UPI, Jurusan International Program of Science Education), kamu ngga perlu repot-repot bikin TOEFL lagi loh. Cukup lampirkan Ijazah, itu sudah dianggap sebagai sertifikat bahasa asing. Berlaku sampai 2 tahun setelah Ijazah diterbitkan.
14. Rencana Studi
This one is a must for all applicants. Intinya, di rencana studi ini kamu harus ngejelasin se-detail detailnya tentang rencana kamu selama S2 nanti. Misalnya mau kuliah di kampus mana, jurusan apa, kenapa kampus itu, kenapa jurusan itu, kenapa negara itu, terus mata kuliah apa aja yang akan kamu ambil, gambaran umum tentang rencana thesis, sama kegiatan apa aja yang akan kamu ikuti selama kuliah.
Pastikan kamu sendiri yang menulis rencana studimu ya. Soalnya nanti pas wawancara, rencana studi ini akan banyak dibahas dan diuji. Pastikan juga jawabanmu nanti sama persis dengan apa yang kamu tulis di rencana studi.
15. Surat sehat, bebas narkoba, dan bebas TBC
Surat keterangan berbadan sehat bisa kamu peroleh di Puskesmas terdekat. Biasanya nanti kamu akan ditensi, diukur berat badan, tinggi badan, terus bayar deh Rp.10.000. Untuk surat keterangan bebas narkoba, kamu bisa ke RSUD. Jangan ke RS swasta ya. Soalnya berdasarkan buku panduan LPDP, surat bebas narkoba ini harus dikeluarkan oleh rumah sakit pemerintah.
Kalo saya sih kemarin ke RSUD Indramayu. Datang ke bagian pendaftaran, bayar Rp.250.000, terus langsung tes urin dan keluar hasilnya hari itu juga. Selesai tes urin, lanjut ke poli jiwa untuk dapet tanda tangan psikolog.
Untuk tes bebas TBC, saya tes nya di RSUD Bekasi. Maklum, kerjanya di Bekasi. Bayar Rp.25.000 di bagian pendaftaran, terus diarahkan ke bagian medical check up di lantai 2. Diminta isi data diri, terus bayar lagi Rp.300.000. Dari situ turun lagi ke lantai 1 ke bagian lab untuk tes dahak. Tes dahak ini ngga bisa sehari jadi. Harus nunggu sekitar 3 hari baru bisa diambil hasilnya. Setelah hasil tes dahak keluar, kita masih harus ke bagian radiologi untuk rontgen paru-paru, ke poli paru buat dapet penjelasan tentang hasil rontgen + dapet tanda tangan dokter spesialis paru, barulah surat bebas TBC bisa keluar.
Oiya catatan, surat bebas TBC ini khusus untuk pelamar beasiswa luar negeri ya. Untuk dalam negeri, cukup surat keterangan berbadan sehat dan bebas narkoba.
16. Kartu keluarga
Sepertinya masing-masing keluarga pasti punya KK ya. Tapi kalau KK yang kamu punya sudah tidak relevan dengan kondisi terkini, kamu bisa update data KK di kantor desa dengan membawa KK lama sambil melampirkan KTP, Ijazah (kalau ada yang pendidikannya bertambah, misalnya tadinya SMA sekarang S1), Akta Kelahiran (kalau ada anggota keluarga baru seperti adik yang baru lahir), dan surat pengantar dari RW.
17. Essay : Kontribusiku untuk Indonesia dan Sukses Terbesar dalam Hidupku
Nah yang satu ini juga lumayan memakan waktu. Mulai dari cari ide tulisan, proses menulis, translate ke bahasa Inggris (ini optional sih), proofread, sampai mengurangi/menambahkan kata supaya pas dengan jumlah kata per essay yang ditetapkan LPDP.
Untuk essay kontibusiku, saya menuliskan perjalanan saya dari SMA hingga tamat S1, dan apa saja yang sudah saya lakukan selama kurun waktu tersebut. Kontribusi itu nggak harus yang wah banget kok. Misalnya kamu bergabung di komunitas, atau menjadi pengurus rumah ibadah, atau menjadi relawan dalam suatu kegiatan tertentu, itu juga sudah dianggap kontribusi.
Nah untuk essay sukses terbesar, meskipun kamu memiliki banyak prestasi, sebaiknya jangan cantumkan prestasi itu sebagai sukses terbesar. Pilihlah hal-hal yang mungkin dianggap kecil oleh orang lain, tetapi kamu secara pribadi menganggap itu sebagai hal luar biasa. Misalnya kemarin, saya menuliskan wisuda S1 sebagai kesuksesan terbesar. Terdengar biasa kan? Memang. Tapi bagi saya, perjuangan untuk bisa kuliah adalah perjuangan tersulit yang pernah saya hadapi. Di essay ini saya bercerita panjang lebar tentang usaha saya sampai akhirnya bisa wisuda.
Salah satu teman saya (yang tahun lalu lolos LPDP) menuliskan, sukses terbesarnya ketika dia bisa berubah menjadi lebih mudah bergaul. Terdengar sangat sederhana. Tapi begitu saya tahu background dibalik cerita itu, saya mengerti mengapa itu layak disebut kesuksesan.
Jadi pada intinya, essay ini harus jujur kamu tulis dari hati, karena setiap orang pasti punya definisi masing-masing tentang arti kesuksesan.
Oiya, untuk pendaftar luar negeri, sebaiknya kedua essay ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris ya. Kalau kamu ragu, kamu bisa minta bantuan teman yang lebih jago bahasa Inggrisnya. Atau bisa juga coba proofread melalui dua website ini, yang menurut saya lumayan membantu :
http://proofreadbot.com/
https://www.paperrater.com/
Mungkin itu yang bisa saya share kali ini. Mengingat persiapan mengumpulkan dokumen ini lumayan rumit dan membutuhkan waktu yang lama, ada baiknya kamu mulai cicil dari sekarang. Jangan terlalu mepet, untuk memastikan semua berkas terpenuhi tepat waktu.
Sumber gambar : http://qoryannisawicita.com/
Seleksi Substansi LPDP 2017 : Jakarta 2
Halo! Nama saya Septian Sugara. Ini post pertama saya di tumblr, dan saya mau share tentang pengalaman ikut seleksi wawancara beasiswa LPDP Luar Negeri 2017. Pasti udah denger kan tentang beasiswa LPDP? Saya bersyukur banget sih bisa sampe tahap subtansi ini. Soalnya seperti yang semua tau, lumayan susah juga buat bisa sampai ke tahap ini.
Okay langsung aja. Secara umum, tahap substansi LPDP ini ternyata ngga sesulit yang dipikirin kok. Panitianya woles, pesertanya juga kooperatif. Yang paling bikin deg degan sebenernya adalah pewawancaranya, yang kita gabisa tebak ‘perangai’ nya kaya apa. Seringkali, meskipun pewawancara nya sama, tapi pembawaannya beda-beda ketika menghadapi masing-masing peserta. Jadi keberuntungan peserta juga sedikit banyak bermain disini.
“Nomor dua, silahkan masuk” petugas presensi mempersilahkan saya masuk. Saya bergegas menuju ruang wawancara, tersenyum, membawa sugesti positif.
Ada 3 orang interviewer di meja 2 ini. Namanya Ibu Fatimah, Pak Eko dan Pak Ahmad. Selanjutnya, saya akan pakai kata ganti F (Ibu Fatimah), E (Pak Eko), A (Pak Ahmad) dan S (Saya) ya.
Ketiganya juga tersenyum menyambut saya. Mempersilahkan saya duduk.
F : Septian Sugara, Alumni UPI jurusan Perpustakaan dan Informasi?
S : Betul bu.
F : Mau kuliah di Information Studies, McGill University, Kanada?
S : Iya bu.
E : Septian ini alumni beasiswa..?
S : Bidikmisi Pak.
E : You originally come from Indramayu?
S : Yes sir.
E : So you’re a sundanese?
S : Half Javanese, half sundanese. Acculturation between those two. Because we’re in the border between West Java and Central Java.
Interviewer tertawa
E : Ok septian. Kita akan segera memulai wawancaranya. Semua percakapan ini akan direkam, dan tolong Septian jawab dengan menggunakan bahasa Inggris. Sudah Siap?
S : Siap pak.
Pak Eko menyalakan perekam suara.
E : Silahkan Ibu Fatimah. *percakapan selanjutnya langsung saya terjemahkan ke bahasa Indonesia ya
F : Selamat Pagi, apa kabarnya hari ini?
S : Baik bu.
F : Pertanyaan pertama. Kenapa saudara memilih Universitas McGill?
S : Amerika utara, khususnya Kanada adalah wilayah pertama di dunia yang memperkenalkan pentingnya Knowledge Management – konsentrasi yang akan saya ambil. McGill juga saat ini menjadi kampus nomor 32 di dunia
F : Wah saya jadi tersanjung. Saya juga alumni McGill soalnya.
Saya kaget, keceplosan nanya ‘oh iya bu?’. Bu Fatimah senyum, ngangguk-ngangguk. Saya terus lanjut ngejelasin.
S : Iya Bu. McGill juga merupakan kampus pertama di Kanada yang menawarkan Program Studi Information Studies, dan sudah berdiri sejak tahun 1897.
F : Itu tahun berdiri apanya?
S : Jurusannya Bu.
F : Oh iya betul. Soalnya McGill sendiri berdiri tahun 1821. Lanjut
S : Information Studies di McGill juga sudah terakreditasi ALA – American Library Association – tahun 1925, yang merupakan lembaga paling prestisius dalam Ilmu Perpustakaan dan Informasi.
‘1925?’ Pak Eko nanya sambil kaget gitu. Eh malah Pak Ahmad yang jawab pake bahasa Indonesia ‘iya pak, 1925’
F : Oke. Tadi kan kamu udah ngomongin kampusnya, sekarang coba kamu jelaskan tentang kotanya. Apa yang kamu tahu tentang Montreal? Bisakah kamu bertahan hidup disana?
S : Kebetulan Montreal tahun ini dinobatkan sebagai kota terbaik untuk mahasiswa internasional. Montreal adalah kota yang sangat heterogen sehingga sebagian besar masyarakatnya berpemikiran terbuka dan ramah terhadap orang asing. Saya yakin, hal ini akan membantu saya untuk lebih mudah beradaptasi
F : Nah itu kan yang bagus-bagusnya. Coba kamu ceritakan yang jelek-jeleknya tentang Montreal
S : Bahasa sehari-hari di Montreal itu Perancis, sehingga saya harus belajar lagi bahasa Perancis. Montreal juga terkenal dingin karena terletak di utara Amerika.
F : Memang dingin, sangat dingin. Saya masih ingat tuh betapa menggigilnya saya saat itu.
E : Apalagi saat musim salju ya, Bu.
F : Betul Pak. Nah, gimana caranya kamu bisa bertahan di tempat dingin kaya gitu?
S : Kan ada teknologi bu. Ada heater dan sebagainya. Saya juga bisa pakai pakaian tebal. Lagipula saya orangnya sociable sih bu. Selama ada teman, saya merasa hidup saya aman. Saya yakin teman-teman saya bisa membantu saya beradaptasi.
F : Tapi orang-orang disana individualis loh. Dan sedikit sekali ada orang Indonesia disana.
S : Kebetulan saya sekarang bekerja di sekolah internasional bu. Saya mulai terbiasa bergaul dengan orang asing. Sejauh ini, saya nggak menemukan ada masalah tuh dengan mereka. Jadi sekalipun nggak ada orang Indonesia, saya yakin saya tetap bisa mendapatkan banyak teman. Untungnya saya mudah bergaul, jadi cukup mudah bagi saya untuk menemukan teman-teman baru.
F : Berarti nanti gelarnya MLIS ya? Master of Library and Information Science?
S : MISt bu. Master of Information Studies.
F : Soalnya saya dulu punya temen juga anak MLIS.
S : Dulunya memang MLIS bu, tapi sekarang ganti nama jadi MISt.
F : Oh iya iya, silahkan Pak Eko.
E : Septian, kenapa kamu memilih kuliah di McGill? Kenapa nggak kampus lainnya aja?
S : Saya sudah mempertimbangkan itu Pak. Saya bahkan sampai membuat perbandingan antarkampus. Bapak bersedia untuk lihat?
Pak Eko mengangguk
S : Ini pak. (Sambil nyodorin kertas)
S : Tapi semakin saya membandingkan, semakin saya yakin bahwa McGill adalah pilihan yang tepat pak.
Semua interviewer tertawa.
S : Iya. Karena biaya kuliah di McGill lebih murah, bahkan jika dibandingkan dengan NTU. McGill juga menawarkan konsentrasi yang saya perlukan, serta sudah terakreditasi ALA.
E : Baik, terima kasih (sambil mengembalikan kertas). Setelah kembali ke Indonesia, kau tulis disini mau jadi dosen. Kenapa dosen?
S : Tahun lalu, berdasarkan sebuah riset dari Central Connecticut State University, Indonesia berada pada peringkat ke 60 dunia dalam hal literasi. Artinya, tingkat literasi kita masih sangat rendah. Nah, berdasarkan analisis yang saya lakukan, titik permasalahannya adalah terbatasnya jumlah pustakawan professional di Indonesia. Padahal pemerintah sudah banyak membangun perpustakaan dan mengalokasikan sebagian APBN untuk membeli buku-buku berkualitas dan disebar ke desa-desa. Tetapi karena tidak ada yang mengelola, ya bukunya menumpuk aja. Gaada penggerak untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Kebetulan saya suka mengajar, jadi saya rasa saya bisa membantu bangsa ini dengan cara menjadi dosen ilmu perpustakaan, sehingga saya bisa melahirkan lebih banyak pustakawan professional muda di Indonesia. Harapannya, setelah lulus mereka bisa kembali ke kampung dan mulai membangun budaya membaca dari desa-desa.
F : Nah gimana kalau nantinya jadi siklus? Kamu jadi dosen, mengajar mahasiswa, tapi mahasiswanya justru terinspirasi sama kamu dan pengen jadi dosen juga
E : Betul. Berarti pada akhirnya tidak ada yang turun tangan secara langsung untuk menangani masalah minat baca di Indonesia dong?
S : Betul. Saya memang nggak punya wewenang untuk mengatur cita-cita atau karir mahasiswa saya.
E : Nah iya, Gak bisa.
S : Tapi saya bisa menjadi teladan yang baik untuk mereka. Saya terbuka untuk semua kesempatan kok. Selain menjadi dosen, saya juga ingin menjadi pustakawan. Karena pustakawan memberikan kesempatan untuk saya melakukan trial and error, sehingga saya tidak hanya mampu mengajarkan teori tetapi juga best practice berdasarkan kendala-kendala yang saya hadapi di lapangan. Saya juga akan dengan senang hati membantu jika ada perpustakaan – dimanapun di Indonesia – yang membutuhkan keahlian saya setelah saya lulus nanti. Harapannya sih mereka bisa terinspirasi juga dengan usaha saya meningkatkan minat baca melalui perpustakaan.
E : Rencananya mau jadi dosen di mana?
S : Saya mau kembali ke UPI pak. Saya punya reputasi yang cukup baik disana. Semoga bisa menjadi bahan pertimbangan
E : Terus kamu udah bilang sama atasanmu tentang rencanamu untuk jadi dosen?
S : Sudah Pak.
E : Dia bilang apa?
S : Beliau melarang sih. Katanya jangan jadi dosen, mending lanjut aja kerja di international school
E : Terus kamu bilang apa?
S : Ini panggilan hati saya sih Pak untuk jadi dosen. Dan saya rasa ini yang bisa saya lakukan untuk membayar jasa kepada Negara ini. Jadi ya saya bersikeras akan jadi dosen.
F : Ini saya penasaran. Kamu itu finalis Duta Relawan Muda Indonesia. Apa itu?
S : Itu program yang dilaksanakan oleh DPP PPMI bu. Jadi mereka cari duta untuk meningkatkan kesadaran pemuda tentang pentingnya kegiatan kesurakewlawanan
E : Terus gimana prosesnya sampe bisa jadi finalis?
S : Ya saya daftar, isi formulir online, terus diundang wawancara. Diminta menjelaskan program kesukarelawanan yang pernah saya lakukan
F : Terus kamu bawa program apa waktu itu?
S : Saya menjelaskan mengenai komunitas yang saya dirikan. Namanya The Bottles Indonesia
E : Apa itu?
S : Komunitas yang berbasis di Bandung. Intinya, kami memberikan les bahasa Inggris secara gratis untuk anak-anak di sekitar kampus, tapi mereka harus wawa 5 botol bekas per pertemuan. Botol yang terkumpul kemudian kami jual, uangnya digunakan untuk membeli spidol dll.
F : Terus program ini disponsori PPMI?
S : Bukan bu, gaada hubungannya. Ini Cuma program yang saya presentasikan untuk bisa menjadi finalis Duta Relawan Muda Indonesia
E : Selain The Bottles Indonesia, kegiatan sukarelawan apa lagi yang pernah kamu ikuti?
S : Saya cukup aktif mengikuti kegiatan sukarelawan pak. Saya dulu sukarelawan Pekan Literasi Asia Afrika, saya juga pernah membantu memperbaiki perpustakaan panti asuhan di Lembang, membangun perpustakaan kecil di Desa Jatisura Indramayu.. Kebanyakan yang berkaitan sama literasi sih pak
Semua juri nulis sambil ngangguk-ngangguk
E : Nah Septian, kamu ini belum dapat LOA (Letter of Acceptance) kan?
S : Belum Pak.
E : Sejauh mana kamu berusaha untuk dapat LOA? Sudah korespondensi dengan profesor?
S : Sudah Pak, tapi belum dibalas. Saya juga sudah mengecek persyaratan-persyaratan untuk masuk McGill. Sudah dapat surat rekomendasi juga.
E : Dari?
S : Dari pembimbing skripsi pak. Dan saya harus meningkatkan skor TOEFL lagi. Tinggal itu aja sih Pak.
E : Gimana kalo gagal dapet LOA? Ada rencana lain?
S : Gak ada rencana lain Pak. Saya yakin saya bisa dapat LOA nya dalam setahun. Tinggal ningkatin bahasa Inggris kok pak. Lagipula saya yakin orang yang mau ngambil jurusan ini masih jarang banget, jadi saya ngga harus berkompetisi dengan terlalu banyak orang. Saya yakin bisa dapet LOA.
A : Kapankah waktu tersulit yang pernah kamu alami?
S : Ketika mulai kerja Pak. Karena pada dasarnya saya adalah orang yang suka bergaul, sehingga sulit bagi saya untuk hidup tanpa teman. Saat itu saya baru lulus, dan jarak antara kelulusan dan hari pertama kerja itu cuma 4 hari. Jadi saya agak kaget waktu itu. Saya harus meninggalkan semua teman saya di Bandung, pindah ke kota baru yang sangat asing bagi saya, dan mulai kehidupan baru. Saat itu saya belum punya teman, gak punya TV, gak ada hiburan, mau main juga gak tau mau kemana. Jadi hidup saya selama 2 bulan pertama itu cuma kerja-kosan-kerja-kosan. Setiap hari. Membosankan. Tapi lama kelamaan, setelah saya punya teman, saya merasa hidup saya jadi lebih menyenangkan.
E : Pertanyaan terakhir. Ini kamu beneran nulis artikel di jurnal ilmiah?
S : Iya Pak.
E : Sudah terakreditasi?
S : Wah kurang tau saya Pak terakreditasi atau belum. Tapi itu dari UPI sih Pak.
E : Oh gitu.. tapi ini skripsi kamu?
S : Iya Pak. Pembimbing saya bilang skripsi saya bagus, jadi dijadikan artikel jurnal.
E : Berarti kamu penulis pertama,kedua dosen pembimbing jadi penulis kedua dan ketiga?
S : Betul Pak.
E : Baiklah kalau begitu, Sukses ya Septian.
S : Amin. Terima kasih Pak.
Pak eko menyodorkan tangan, yang kemudian saya sambut. Saya menyalami ketiga pewawancara, kemudian meninggalkan ruangan dengan hati puas. Tinggal nunggu pengumuman nih. Mohon doanya ya teman-teman. Semoga sukses menyertai kita semua.