Pertemuan singkat.. (di Blümchen Coffee)
Stranger Things
Sade Olutola
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
d e v o n
I'd rather be in outer space 🛸

#extradirty

tannertan36
Xuebing Du
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

if i look back, i am lost
noise dept.

Kaledo Art

No title available
Misplaced Lens Cap

oozey mess

blake kathryn

titsay

⁂
sheepfilms
🪼
seen from United States
seen from Russia
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Bolivia
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Kuwait
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Australia
seen from Ireland

seen from Singapore
seen from Spain

seen from Ireland
seen from United States

seen from Kuwait

seen from United States
@silmisyavitri
Pertemuan singkat.. (di Blümchen Coffee)
Ceritanya lagi nunggu si "dia" (?)
Jangan kalian saling membenci, saling menghasut, saling membelakangi, jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. (HR Bukhari) #sahabatmuslimah #sahabatsurga #girls #friendship
Hidup >> "Kita Yang Tentukan, Kita Yang Jalani, Dan Kita Yang Nikmati"
Girlsss...
Pada akhirnya kita hanyalah sesama orang asing yang kembali ke tempatnya masing-masing
(via menjalin)
Aku menunggu sekian lama tetapi jika sekian lama itu tak menjadi niat baikmu, aku bisa apa? Terlebih jika kau memilih bahagia dengan orang lain.
Apakah hatiku akan siap kecewa lebih dalam?
Hingga detik ini pun aku tidak tahu berada di posisi mana aku dalam kehidupanmu. Karena sejatinya perempuan hanya menunggu.
(via afifahkhairunnisa)
Aku benci saat-saat dimana seseorang yang awalnya tak pernah berarti apa-apa, kemudian perlahan melahirkan rasa nyaman dan harapan namun nyatanya hanya sementara. Dan setelah kepergiannya, aku seolah-olah kehilangan segalanya.
(via mangatapurnama)
Sesungguhnya di balik segala keresahanku, kau selalu takluput kudoakan. Berkali-kali, sampai hari berganti lagi.
Tia Setiawati (via karenapuisiituindah)
*Jodoh itu…
1. Jangan menikah karena kesepian, menikah karena orang lain sudah menikah semua, tinggal kita seorang yang belum, aduhai, pernikahan itu bukan trend, yang semua orang bisa ikut-ikutan, apalagi karena nggak enak terlihat aneh sendiri. Dan terlepas dari itu, catat baik-baik, banyak orang yang setelah menikah, dia tetap merasa sepi, sendirian.
2. Jangan menikah karena alasan orang lain. Itu betul, dalam peristiwa dramatis, kita bisa segera menikah agar orang tua sempat menyaksikan sebelum meninggal, agar mereka bahagia. Tapi menikahlah karena alasan kita sendiri, jadikan itu patokan terbesar. Karena yang menjalani kehidupan berumah-tangga itu adalah kita, bukan orang lain. Dan karena, jika besok lusa pernikahan itu gagal, kita tidak menyalahkan orang lain–itu sungguh tiada manfaatnya.
3. Semua pernikahan itu punya masalah. Bohong jika ada yang bilang keluarga mereka baik-baik saja sepanjang masa. Lantas kenapa sebuah pernikahan bisa awet? Karena ada yang sabar dan mengalah. Satu-satunya bekal pernikahan yang tiada pernah kurang adalah: sabar. Punya sabar segunung, tetap kurang banyak. Punya sabar selangit, pun tetap kurang banyak. Jadi bekalnya tidak harus mobil, rumah, peralatan dapur, dsb. Sekelas Umar Bin Khattab saja masih membutuhkan rasa sabar ekstra.
4. Kita tidak pernah tahu siapa jodoh terbaik kita. Tidak ada alatnya, tidak ada aplikasinya, dan tidak akan ditemukan. Kita baru tahu setelah kita menjalani pernikahan tersebut. Dan rumitnya, itu juga belum cukup. Banyak yang berpisah jalan setelah sekian lama menikah. Lantas kapan dong kita baru tahu persis? Tidak ada jawabannya. Nah, dengan situasi seperti itu, jangan habiskan waktu dengan cemas apakah ini jodoh terbaik atau bukan. Jika kalian muslim, tegakkanlah shalat istikharah, dapatkan keyakinan, kemudian bismillah, jalani dengan mantap.
5. Well, tidak ada jodoh yang sempurna di dunia ini. Semua orang pasti punya kekurangan. Ada yang ganteng/cantik pol, ternyata kalau tidur ngoroknya seperti sirene. Ada yang bertanggung-jawab nan setia, ternyata pelupa, dia lupa harus menjemput istrinya di manalah. Tapi kita selalu bisa membuat yang tidak sempurna itu menjadi indah, keren, seperti pelangi, sepanjang kita bersedia menerima kekurangannya. Orang2 yang sibuk memasang kriteria sempurna bagi calon jodohnya, akan hidup sendiri hingga alien menyerang bumi.
6. Tidak ada yang tahu kapan persisnya kita akan menikah. Eh, yang masih kecentilan, manja-manja, ternyata besok sudah menikah, atau malah punya anak dua. Yang terlihat dewasa sekali, sudah siap sekali, bahkan bijak nian bicara soal menikah, ternyata bertahun-tahun tetap sendiri. Maka, saat kita tidak tahu kapan jodoh itu akan datang, fokuslah memperbaiki diri sendiri. Saat kesempatannya datang, ingatlah nasehat lama, kesempatan baik tidak datang dua kali. Tapi ketika kesempatannya lolos, gagal, juga ingatlah petuah orang tua, akan selalu ada kesempatan-kesempatan berikutnya bagi orang yang sabar.
7. Pekerjaan tetap, mapan, dan lain-lain itu jangan dijadikan syarat mutlak mencari jodoh. Itu betul, sungguh menyenangkan jika jodoh kita ternyata sudah mapan, berkecukupan. Tapi boleh jadi akan lebih spesial lagi, jika kita bersama-sama menjalani hidup sederhana, untuk kemudian menjadi lebih baik setiap harinya. Lebih baik pastikan saja, semua pihak memahami tanggungjawabnya. Misal, adalah tanggungjawab suami mencari nafkah. Boleh istri bekerja? Ikut membantu nafkah keluarga? Dikembalikan ke masing-masing pasangan mau seperti apa. Tapi jelas sekali, jika istri bekerja, penghasilannya adalah milik dia–soal dia mau memberikannya ke keluarga atau tidak, itu urusan dia. Tanggungjawab mutlak tetap ada di suami. Pemahaman-pemahaman seperti ini penting loh, agar kalian laki-laki yang sekarang sibuk galau, apalagi sibuk tebar pesona, tahu persis saat menikah nanti.
8. Mencari jodoh itu tidak rumit. Ini beneran loh. Mencari jodoh itu sederhana. Kalian bisa meminta orang tua mencarikan (karena itu juga salah-satu kewajiban mereka). Juga bisa minta sahabat menjadi intel perjodohan. Jodoh itu ada di mana-mana, di sekolah, di kampus, di tempat kerja, di angkutan umum saat berangkat beraktivitas, di mesjid, di komplek rumah, dll, dll. Tapi kenapa kadang terasa rumit sekali? Karena kitalah yang membuatnya rumit. Catat baik-baik, di dunia ini sudah milyaran orang pernah menikah. Milyaran pasangan. Nah, di mana rumitnya jika orang lain toh milyaran telah menikah.
9. Terakhir, kalau kalian mau belajar banyak hal tentang jodoh, maka jangan belajar dari novel-novel (apalagi novel Tere Liye), dari film fiksi, dari sinetron, serial. Aduh, itu fiksi loh. Dikarang-karang saja sama penulis ceritanya. Melainkan belajarlah dari orang tua di sekitar kalian. Kakek-nenek, opa-oma, mbah buyut, yang sudah menikah puluhan tahun, tapi tetap langgeng dan bahagia.
Amati, pelajari, dengarkan nasehat mereka, itu penting sekali, kehidupan mereka bisa jadi contoh. Maka besok lusa saat kita menikah, mendadak muncul masalah serius, kita bisa meneladani mereka, bagaimana cara mereka mengatasi masalah. Itu selalu bisa jadi pelajaran kehidupan yang tiada ternilai.
Tere Liye
Lalu kita mencari cara untuk memecah rindu, padahal kisah kita sudah berakhir, tidak lagi ada dalam daftar semesta. ~
D.A
kamu tahu?
aku memaafkan bukan untuk kembali, karna hati ini telah hancur dan tak akan sama lagi
kita masih bisa berteman, tapi tidak untuk menjadi kekasih
Everyone has a friend during each stage of life but only lucky ones have the same friend in all stage of life
Kamu tau apa yang selalu aku minta tiap kali hujan turun dan aku tepat terkena rintikannya?
Aku selalu minta semoga Allah menggerakkan hatimu untuk menujuku (via duniakuintrovert)
Ya Allah, ampuni aku atas hadirku yang sering hilang. Dan terima kasih karena tetap selalu sayang.
Tia Setiawati (via karenapuisiituindah)
Lelaki yang boleh kamu anggap berani dan paling patut untuk dipertimbangkan itu ya yang berani datang ke rumah, menemui walimu. Semua rasa kepada selain itu, bunuh saja. Jangan manja.
Kata seorang kakak perempuan. (via jagungrebus)
Bodohnya orang pelupa adalah; barang-barang penting sering sekali dilupa. Giliran orang yang seharusnya dilupakan, tidak bisa-bisa dilupa.
😅 (via fatamorgananyata)