"Mungkin kalo bukan pesawat delay, bisa jadi kita gak berdiri di tempat ini kayak gini sekarang", ucapku pada Bian sambil senyum-senyum dan dia pun ikutan senyum meng-iya-kan. Hari ini adalah hari di mana aku dan Bian, berdiri berjam-jam untuk menerima jabat tangan dan doa restu dari para tamu undangan dan juga mendengar komentar teman-teman kami yang dateng serempak berujar, "Kok kalian berdua bisa nikah?" Dan kita cuman bisa terkekeh bersama. Empat tahun yang lalu di Bandara Soekarno Hatta. Aku udah dongkol sedongkol dongkolnya, aku udah keburu buru nyari taksi dari daerah Jakarta Selatan dan udah senewen takut ketinggalan pesawat karena emang waktunya yang udah mepet dan macetnya Jakarta. Dan begitu sampai airport tertera pengumuman, "Pesawat Terbang Air rute Cengkareng-Yogyakarta dengan nomor penerbangan TA358 harus ditunda dan akan berangkat pada pukul 17.50 WIB" begitu pengumuman yang aku baca dan angka pada arlojiku baru menunjukkan pukul 13.50. Great! Delay 4 jam. Emosiku yang sebelumnya sudah tidak stabil berubah menjadi sangat tidak stabil karena pengumuman tersebut dan terpaksa membatalkan acara yang telah disusun setelah sampai di Jogja kala itu. Hari tersebut cukup melelahkan. Tepatnya rangkaian kegiatan 3 hari di Jakarta cukup membuat raut mukaku menjadi kuyu. Aku memutuskan untuk langsung check in dan memutuskan untuk menunggu di ruang tunggu penumpang di dalam. Aku ingin tidur, begitu batinku. Lalu kulangkahkan kaki dan memilih posisi tempat duduk di pojokan, biar aku bisa bersandar. Kuletakkan semua barang bawaanku, yang memang cuma satu ransel tapi besar lalu kumainkan ponsel sampai akhirnya aku jatuh ketiduran. Namun karena badanku memang terkadang tak terlalu nyaman jika tertidur di tempat umum maka dengan mudahnya aku terbangun ketika ada seseorang duduk di kursi sebelahku. "Bian?" ujarku memastikan sambil mengucek mata tak percaya. "Bangun dulu Mbak, jangan suka ketiduran di tempat umum. Untung yang duduk di samping Mbaknya orang baik," jawabnya sambil sibuk membaca sesuatu pada ponselnya. "Kok kamu sih bisa ada di sini Bi?" tanyaku, kini kubenahi posisi dudukku agar aku tak tampak terlalu gembel siang itu. "Ya karena aku mau naik pesawat juga Mel" jawabnya yang tidak menjawab maksud pertanyaan utamaku. "Gitu amat jawabnya Bi," protesku. "Hahaha mau gimana? Nggak ada yang salah kan? Bener kan, ini ruang tunggu pesawat jadi orang yang ada di sini pasti mau naik pesawat kan?" jawabnya sambil bercanda, sekarang dia menatap ke wajahku. Dan ada reaksi biologis aneh yang sudah lama tak terjadi pada diriku. Deg. Tangan dingin. Ndredeg luar biasa kayak orang mau presentasi sidang pendadaran, lebih dari itu bahkan. "Tadi pas aku masuk ke sini aku juga pengen nyari tempat pojokan, eh taunya udah ada orang. Terus pas tak liat yang di pojokan itu ternyata kamu, eh lagi tidur, tasnya ditaruh di bawah gitu. Yaudah deh kusamperin, kalik aja ada orang jahat. Kemarin di sini habis ada pencurian gitu, makanya ati-ati aja," ceritanya panjaang. "Sungguhan Bi?" dia mengangguk. Dan kami melanjutkan perbincangan sampai akhirnya 3 jam waktu delay terasa lebih menyenangkan. Panggilan penumpang untuk naik ke pesawat membuat kami menghentikan pembicaraan. Bian adalah teman semenjak SMP sampai kuliah, walau beda jurusan, sehingga topik obrolan kami tak ada habisnya sore itu. "Untung pesawatnya delay ya, kalo enggak mungkin aku terpaksa beli tiket baru lagi haha. Naik yok Mel, nanti kalo ada waktu bolehlah kapan kapan ngopi bareng, seru kayaknya bahas jaman jahiliyah kita dulu," ujar Bian sambil tertawa. Entah apa itu namanya kebetulan atau takdir, aku dan Bian ternyata memiliki tempat duduk yang bersebelahan di dalam pesawat. Akhirnya obrolan kami berlanjut. "Kamu sih di udah keterima kerja di mana Mel?" tanyanya saat pesawat sudah memulai masuki area yang stabil. "Di perusahaan finance sih Bi, tapi ya baru aja diterima. Makanya aku ke Jakarta dadakan banget. Terus dapet panggilan kedua bilangnya suruh ngumpulin berkas tapi alhamdulillah langsung dibilang minggu depan langsung mulai kerja. Kelabakanlah aku seharian kemarin cari kostan deket kantor. Gimana skripsimu? Udah beres semua kan?" "Wih kamu tau aja aku lagi ngerjain skripsi," balasnya bercanda aku agak kagok sih, takut kelancangan ngomong. "Lhah ya kan kamu check in path bilangnya final for Toga haha" jawabku jujur. "Doakan sajaa, bismillah. Besok aku mau ngadep dosen, semoga langsung acc jadi gak usah bolak baik Jakarta Jogja lagi" "Segera sidang Bi, nanti kamu sidang aku dateng deh kalo kamu kabari" "Beneeran lho ya" "Kalo kamu ngabarin langsung ke aku, kalo kamu mau sidang aku pasti dateng" Hari berganti hari, akhirnya aku mulai menetap dan menjadi pejuang ibu kota. Aku mulai lupa pada pertemuanku di bandara kala itu, tapi aku tetap memantau semua sosial medianya. Ya, aku memang punya rasa dengan Bian, dari dulu sampai dulu suatu waktu, atau sampai hari itu, entahlah. Semua akun yang dimiliki Bian adalah selalu jadi akun favorit yang palingĀ kutunggu. Ada sebuah pesan masuk, "Mel, minggu depan aku sidang akhirnya. Doain ya. Yakin jadi bisa ke Jogja? Hehe" dari Bian. Deg. Bian ngabarin aku dan aku kudu bolos kerja di satu bulan pertama kerja ini. "Seperti janjiku Bi. Semangat terus Bi, jangaan luoa berdoa! Do the best semampumu. See you di Jogja!" Ngejar penerbangan subuh ke Jogja dan ngejar penerbangan jam 11 ke Jakarta. Jogja-Jakarta rasa Jogja-Solo. Aku dateng ke sidang Bian. Semua temennya memandang aneh akan kehadiranku. Begitu Bian menghampiriku seusai sidang, aku bisa merasakan tatapan mata teman temannya yang penuh selidik. "Kamu beneran dateng ke Jogja Mel! Kamu bolos kerja?" reaksinya seperti tak percaya melihat aku beneran dateng. "Seperti janjiku. Nih buat kamu, sori ya tak kresekin, gak sempet nata ala ala haha. Ayok foto, aku ngejar pesawa jam 11 siang!" Dan ternyata chat sidang dan kehadiranku di Jogja adalah titik balik dari segalanya. Singkat cerita, aku dan Bian jadi intens berkomunikasi jarak jauh. Chat sih, nggak lebih dari itu. Sampai akhirnya dia wisuda, tapi kali ini aku tak bisa datang, karena gak mungkin bolos lagi. Kemudian dia juga menyusulku ke ibu kota dan bekerja di kantor yang tak jauh lokasinya dari kantorku. Kostan kami berada di satu kompleks. Setelah dia menjadi makhluk ibu kota, kami berdua saling bergantung satu sama lain. Hingga suatu malam, "Mel, kita jadian aja lah yok. Biar aku nggak usah nyari cewek lain lagi haha" aku kaget dengan pernyataan Bian malam itu. "Bi, bercandaannya jangan gini amat lah," protesku sambil tertawa. "Hahaha aku gak bercanda. Seriusan. Toh kita deket banget. Kita bergantung satu sama lain banget. Kamu lagi nyari calon suami dan tapi gak dapet dapet dan aku lagi nyari calon istri gak dapet dapet. Daripada susah susah, coba aja yuk. Kalik aja kita jodoh." "Eh Bi?" "Mau nggak? Nggak ada salahnya nyoba kan? KayakĀ kita biasanya, tapi jaga hati. Kalo nanti kamu udah yakin banget, nanti aku ke rumahmu, aku bilang ke ayahmu mau nikahin kamu" "Bi, seriusan banget ini? Kamu gak lagi main drama atau sejenisnya kan?" "Kagak Mel. Mau nggak?" tanyanya lagi, sekarang sambil menatap mataku. Aku masih shock tapi aku tak ingin mengingkari nurani, "Yaudah dicoba yok." Kemudian aku mulai mengajaknya main ke rumah saat pulang ke Jogja bersama. Mengenalkannya pada ibu ayah dan kakakku. Dia pun mulai mengajakku mengenal keluarganya. Kami mulai intens dan menikmati. Dua tahun setelah permohonan dan penyataan kesepakatan itu, akhirnya Bian membawa keluarganya ke rumah. Ia akhirnya memintaku secara resmi untuk menjadi istrinya di hadapan kedua orangtuaku. Persiapan pernikahan kami cukup lama, satu tahun. Bolak balik Jakarta Jogja berkaliĀ kali untuk mengurus ini itu. Dan yang jelas reaksi teman dekat sekolah dan kuliahku ketika tau aku akan menikah adalah terkejut. Karena di antara mereka akulah yang gak pernah punya pacar sekalipun dan aku pula yang menikah pertama pada akhirnya, "Sama siapa Mel?" pertanyaannya senada. "Nanti tunggu undangan resminya ya." Aku dan Bian sama sekali tak pernah mempublikasikan hubungan kami, teman kantor hanya tau kami berteman dengan dugaan kami pacaran. Hanya Evi, sahabatku, dan Laskar, sahabat baik Bian, yang tau. Begitu undangan pernikahan kami disebar baik secara langsung maupun melalui email pribadi,Ā chat di ponselku mendadak ramai sekali. "Mel kamu seriusan nikah sama Bian?" dan itulah kalimat mayoritas yang datang. Ya aku tau, mengapa kalimat itu datang dan setiap kali Bian tau akan pertanyaan itu dia selalu bilang, "Maaf ya" dan aku selalu mengatakan, "Your past is your story, you've changed and you've fixed everything, and I know you always be my best" Sampai akhirnya hari ini datang. Hari di mana aku resmi menjadi nyonya Bian Kevara. Hari di mana tanggung jawab orang tuaku telah dialihkan kepada Bian sepenuhnya. Kemudian kami berias untuk menjadi raja dan ratu dalam sehari, berias untuk menyalami ratusan undangan dan berias untuk mendapatkan doa restu dari para tamu undangan. Hari di mana, aku tau bahwa khayalan konyol di masa remaja untuk menjadi istri Bian bukan lagi isapan jempol saja. Ya, untung saja, aku mengatakan "I do" waktu itu.