Jangan Takut Berbagi: Teladan dari Ibuk
“Kalau nunggu kaya, kita ndak akan segera berbagi, Ndhuk. Kita ndak bisa tahu sampai kapan usia kita. Selagi bisa, sebaiknya kita kerjakan,” kata almarhumah ibuk kepadaku.
Sejak aku kecil, almarhumah ibuk selalu memberikan teladan kepedulian kepada sesama lewat berbagi di keseharian beliau. Pernah suatu ketika aku pulang sekolah, di depan rumah sudah ada pedagang kerupuk yang mengalami keterbelakangan mental. Ibuk membeli kerupuknya dan sekaligus memberi makan siang untuk beliau. Ada pula suatu waktu, buruh tukang tambal ban di desa kami sedang berjalan menuju toko melewati rumah kami, ibuk memanggilnya dan menawarinya makan. Anak mantan lurah tahun 90-an yang mengalami keterbelakangan mental sering ke rumah kami dan ibuk melayaninya dengan sepenuh hati. Ibuk sangat dekat dengan orang-orang kecil seperti kami.
Almarhumah ibuk tak pernah sekalipun terbersit pikiran bahwa berbagi yang ada padanya akan membuatnya semakin miskin. Di saat kondisi keluarga kami sedang berkekurangan sekalipun, almarhumah ibuk berbagi beras kepada tetangga yang datang ke rumah untuk berhutang. Karena kami hanya memiliki beras dan ternyata tetangga tadi membutuhkan beras, Ibuk membagikan sebagian berasnya. Selepas tetangga pulang, aku pun bertanya kepada almarhumah ibuk.
“Ibuk, padahal itu beras kita bulan ini. Nanti kita gimana?”
“Tenang saja Ndhuk, kita masih punya Gusti Allah. Ndak perlu khawatir, selagi kita tetap mau berupaya menjemput rizki. Barangkali memang ada rezeki beliau yang dititipkan Gusti Allah ke kita sehingga kita sudah selayaknya menyampaikannya.”
Dan aku hanya bisa mengiyakan apa yang disampaikan ibuk. Karena jika dicerna lebih dalam, memang benar apa yang disampaikan beliau.
Ketika sedang berlimpah rezeki, almarhumah ibuk tak menikmatinya seorang diri. Misalnya, ketika bapak pulang dari nyopir bus dan membawa tiga kardus buah manggis. Dengan izin dari bapak sebelumnya, beliau membagikannya kepada para tetangga.
Aku yang pelit bertanya kepada ibuk,” Buk, kenapa buahnya dibagi-bagikan? Padahal enak, Buk. Untuk kita saja.”
“Ndhuk, tiga buah kardus terlalu banyak untuk kita. Daripada keburu terlalu matang dan busuk, akan lebih bermanfaat jika kita membagikannya. Beberapa tetangga kita juga belum tentu bisa menikmati buah tersebut untuk saat ini. Mereka bingung untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Berbahagialah Ndhuk, kita masih bisa berbagi dan barangkali bisa membuat mereka senang.”
Suatu ketika ada juga tetangga yang sedang berduka karena suaminya meninggal. Karena almarhumah ibuk sedang tak mempunyai uang untuk membantunya, beliau memberi gula yang dipunya dan membantu sepanjang hari untuk mempersiapkan doa bersama. Di lain waktu, ada tetangga yang anaknya kesulitan mengerjakan tugas sekolah dari gurunya. Almarhumah ibuk bersedia mengajarinya dengan meluangkan waktu dan pikirannya.
Almarhumah ibuk adalah teladan luar biasa tentang arti berbagi kepada sesama. Berbagi bisa dengan apa saja yang dititipkan Allah kepada kita. Harta, waktu, tenaga, pikiran. Berbagi itu membahagiakan. Berbagi itu tak akan membuat pelakunya menjadi kekurangan. Barangkali, aku bisa bersekolah hingga perguruan tinggi adalah anugerah dari keikhlasan ibuk berbagi kepada sesama dan doa-doa dari mereka yang ibuk kasihi secara tulus. Karena rasanya jika secara logika, mustahil mengumpulkan biaya sebanyak itu untuk berkuliah di perguruan tinggi favorit di Indonesia dan hidup jauh dari orang tua. Terima kasih buk, atas teladan yang luar biasa ini. Salam kangen dari putrimu di dimensi ruang dan waktu yang berbeda.
“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”
Ayo berbagi bersama donasi.dompetdhuafa.org ! Mudah, lengkap, dan amanah.
#JanganTakutBerbagi #SayaBerbagiSayaBahagia













