NHW#1 : Sabar dan Syukur
Bicara ilmu dalam universitas kehidupan, luas sekali rasanya. Tapi jika ditanya sebagaimana pertanyaan berikut, maka ada sepaket ilmu yang ingin saya dalami dan saya pelajari terus menerus. Ilmu yang bagi saya (atau bagi semua orang) mudah sekali untuk diucapkan, namun pada praktiknya susah sekali untuk dilakukan.
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
Sabar dan syukur, bagi saya ini adalah satu kesatuan meskipun terdiri dari dua kata. Sabar saja tidak cukup, maka saya ingin mendalami satu kesatuan ilmu sabar dan syukur ini.
Berbagai kejadian belakangan ini terjadi di keluarga saya, saya tidak ingin terlampau sedih hingga lupa bahwa semuanya terjadi atas kehendak Allah. Allah mudah membolak balikkan keadaan sebagaimana yang Dia kehendaki, dan saya yakin Dia menguji sebatas mana kemampuan kita dalam menjalani ujian-Nya. Allah tahu kapasitas kami semua. Semoga kami sekeluarga diberikan petunjuk selalu untuk tetap berada di jalan Allah. Selalu dilapangkan dada untuk bersabar dan dikuatkan pundak-pundak kami.
2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
Ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Saya mengingat tujuan untuk apa saya diciptakan oleh Allah, maka saya hanya ingin menjadi lebih baik semata-mata karena Allah. Ingin lebih banyak bersabar pada setiap jenjang kehidupan yang telah Allah berikan kesempatan bagi saya untuk melaluinya, ingin terus bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah beri kepada saya di setiap saat. Tiada henti.
Banyak hal yang telah terjadi belakangan ini, melewati Quarter Life Crisis, maka saya bisa lebih sedikit paham bahwa sesungguhnya manusia selalu diberikan kesempatan untuk bersabar dan bersyukur melalui ujian dan cobaan dari Allah. Setiap manusia diberikan kesempatan ini, hanya saja caranya yang berbeda-beda. Namun, setelah leher ini menengok ke belakang dirasa-rasa saya sama sekali tidak ada apa-apanya. Belum cukup sabar, belum cukup syukur, masih suka mengeluh, masih suka mengaduh dan banyak hal lainnya.
3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
Strateginya? Dengan lebih peka kepada sekitar. Membangun kesadaran terus menerus bahwa apa-apa yang terjadi di sekitar kita adalah peluang untuk latihan menempa kesabaran diri. Sekadar pada ayam yang tiba-tiba nyebrang pas motor kita lagi melaju dengan kencangnya sekalipun, hingga kita tidak marah dan mengomel pada ayam. Saya juga berusaha lebih banyak mendengar. Belajar dari banyak orang, tidak mengeluh. Belajar dari guru, lebih banyak membaca buku, menghadiri dan mengikuti majelis-majelis ilmu (salah satunya Matrikulasi IIP) untuk terus memperbaharui dan menguatkan diri kita dengan ilmu dan berdoa meminta dipahamkan atas ilmu yang dipelajari.
Dan hidup sederhana yang menurut saya merupakan bagian dari syukur. Belajar bersyukur dengan apa-apa yang dimiliki, yang lebih penting adalah dengan berbagi. Berbagi apa saja yang bermanfaat untuk orang lain, dan saya masih terus mengusahakannya semampu yang saya bisa.
4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.
Seperti kata ustad Salim A. Fillah, bahwa sejatinya setiap manusia adalah guru. Maka belakangan saya lebih banyak mendengar dan memperhatikan orang-orang sekitar. Mereka adalah guru. Ketika mereka ingin bercerita, saya berusaha mendengarkan dengan baik. Tidak berusaha menggurui atau merasa lebih tahu urusannya meskipun saya pernah mengalaminya sekalipun.
Kalau istilahnya dalam matrikulasi kemarin adalah mengosongkan gelas untuk ilmu yang kita pelajari. Baik yang sudah pernah kita pelajari ataupun belum.
Pada akhirnya, saya kira belajar sabar dan syukur adalah perjalanan seumur hidup. Seiring waktu berjalan, semoga saya bisa bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semoga kita semua bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Ditulis di Surabaya dengan mendungnya yang syahdu.













