Akhirnya post ini terbit juga.
Hari ini gue resmi menganggur, lol. Biasanya senin google meet, huddle slack dari pagi sampai sore. Hari ini gue hanya nonton Netflix, dan film dokumenter dari DW.
Jadi gini ya rasanya, gue masih punya beberapa hari kedepan untuk berkeliling Jakarta menikmati ruang liminal sebelum akhirnya berlabuh ke perahu yang baru.
Perahu lama sangatlah berarti bagi saya, perahu itu tempat pertama saya menjadi awak kapal. Halah, kenapa tiba-tiba menjadi Sal Priadi.
Ya kebayang aja hampir 6 tahun bekerja di salah satu perusahaan yang kalo lebaran tahun pertama bekerja ditanya Bibi kerja dimana gue bingung jawabnya apa “semacam media Bi, tapi hukum gitu kliennya lawyer” “oh kantor pengacara, aduh gaya euy kayak Hotman Paris” gue biasanya hanya tersenyum sambal melanjutkan makan rendang.
Tahun-tahun berikutnya gue semakin bisa menjelaskan karena terms start-up sudah semakin familiar akibat disrupsi teknologi dari Go-Jek. Sehingga saat ditanya oleh Uwa yang lain jawaban gue semakin firm, “kayak start-up tuh kalo Go-Jek kan ojek online, nah ini bagian hukumnya” “oh gitu”. semakin simple tq go-jek & tokped.
Ok balik lagi ke cerita awal, gue ga nyangka bakal bertahan selama ini untuk ukuran milenial. Karena pada saat itu gue ongoing rekrutmen BCA “ah ga bakal lama sih disini, gue kan pengen jadi anak GI yang pake tas Tumi sambil nelfon temen “gue udah di East Mall ya” eh si bangke BCA gak diterima, malah keterusan sampai 6 tahun disini.
Perjalanan tahun pertama enggak mudah, karena gue masuk divisi yang sebenernya ada sales targetnya. Gue somehow senang berjualan sih ya namanya juga maba buat kepanitiaan: cisrol, KFC, rambut nenek, susu BMC – you named it. Tapi kalau udah ada target revenue, ya ampun juga mbaknya. Gak mudah sih, tapi ya gue percaya Tuhan buka jalan buat orang yang mau berusaha. Puji Tuhan juga lulus probation, dengan klien yang baru closing di Bulan keempat.
Jujur gue gatau kenapa fotonya ini, soalnya di google image hp ada di tahun 2016, mungkin ini menggambarkan senengnya gue lolos probation lol.
Dari beberapa kejadian dan pembelajaran, kantor ini merupakan tempat yang nyaman sekali untuk belajar. Pergi keluar kota beberapa kali, dapat teman baru, relasi baru dari berbagai macam industry dan profesi bikin gue semakin bersyukur di kerja di tempat ini. Rasanya zona nyaman banget, dan gue mulai merasa....
Pada dasarnya tempat kerja nggak bisa ngasih semuanya, mungkin gaji yang tinggi, lingkungan yang nyaman, kerjaan yang menyenangkan, bos yang asik, atau mungkin jenjang karier aman sampe pensiun. Kayaknya gak ada tempat kerja yang bisa akomodir itu semua, pasti ada kurengnya, bener nggak?
Gue menyadari, bahwa ternyata yang gue cari sepertinya butuh penyegaran baru nih dari segi role. Nggak dibolehin resign dan di counter adalah jalan ninja HR ku, dan akhirnya kuterima dengan senyuman. Gaji baru, role baru dengan challenge yang baru adalah sebuah kenikmatan hakiki bagi milenial yang sedang quarter life crisis. “Gue tuh pengen cari kerjaan yang sesuai passion gue, dan skill gue yang meningkat terus” jawab gue dalam hati pada saat itu. Cuih kalo diinget-inget lagi bikin mual sama statement sendiri.
Punya atasan yang ribet-berisik-tapi selalu ngasih added value adalah cara Tuhan untuk bikin gue selalu bersyukur. Terlepas dari orang kantor yang bilang:
“gila ya lo tahan banget sama bos lo, gue kalo udah jadi lo gedeg banget”.
Gue hanya tersenyum hahah hehoh kayak mainin keong depan SD. Gue malah nggak merasa terganggu dengan kekurangannya, yang gue liat justru hal yang lain. Punya atasan yang selalu reminder
“Vin, aku mau ingetin aja ga bermaksud ngegurui, jangan lupa kasih ke orang tua ya biar jalannya dimudahkan”
Gue malah selalu seneng kalo denger cerita bagaimana dia memandang kedua orang tuanya, memandang prioritas kehidupan keluarganya hingga bagaimana dia menilai kantor “kantor tuh Cuma tempat kamu kerja, gausah take it personally – biarin aja orang mau ngomong apa aja yang penting kamu lakuin apa yang bener dan berguna untuk perusahaan, perusahaan dan atasan pun gak bakal tutup mata kok sama prestasi orang”.
Ocehan beliau pada saat itu hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan, tapi ternyata sedikit nempel dan beneran nempel sampe sekarang. Ternyata yang bikin orang capek sendiri adalah kalo terlalu attach sama personal, padahal kerja ya kerja aja.
Dingin-dingin empuk naik trem.
Bermodalkan long john beli di ITC Fatmawati, bersyukur banget bisa jadi delegasi kantor kesana untuk belajar soal product development dan UX yang ilmunya masih kepakai sampe sekarang. Ngerasain noraknya masuk angin sampe muntah di Bandara Václav Havel karena kebanyakan makan keju, sampe Jakarta akhirnya makan nasi padang baru sembuh, norak.
Kerja di bagian ini bener-bener ngasih makan ambisi gue yang selalu pengen belajar. Setiap hari berbeda task, berbeda persona user dan beda produk serta target marketnya. Belajar hal-hal yang enggak pernah nyentuh kayak tiba-tiba diminta tolong jadi semi anak designer yang harus design minisite, bantu deploy staging website, sampe anak redaksi yang harus ngeliput berita. Tapi semuanya dijalanin dengan seneng, yah misuh-misuh manusiawi pasti. Tapi overall, I did it.
Di tahun ini gue belajar bahwa sebenernya menjadi orang yang mau belajar itu harganya mahal. Karena banyak orang dan temen yang seangkatan gue langsung menolak diberikan task A, B, C “it’s not my job, Mba” bagi gue yang pada saat itu masih seneng belajar menganggap itu orang-orang yang fixed mindset dan ga mau berkembang.
Perlahan gue menyadari bahwa ya kembali itu preferensi mereka, salah? Belum tentu sih.
Selain dalgona pandemi awal ditandai dengan memelihara monstera dan janda bolong, pasti ada deh di rumah lo, yakin.
Singkat cerita masuklah pandemi dan bersyukur banget kantor masih sustain dari segi bisnis. Pada saat itu bersyukur manajemen langsung memutuskan untuk WFH. Padahal secara teknis kita belom siap kolaborasi jarak jauh, walaupun secara bisnis kita bisa karena produknya digital - ternyata lagi-lagi keputusan cepat yang rasional diperlukan untuk mengambil keputusan. Enggak menyangka di tengah pandemi rejeki datang berupa promosi. Memimpin tim yang terdiri dari berbagai macam karakter ternyata bukanlah hal yang mudah. Ditengah pandemi berkomunikasi antar tim juga masih kebingungan awal-awal sampai akhirnya kita menemukan caranya. Dari mulai gmeet sampai 1on1, sekarang saya percaya teori evolusi manusia, bukan siapa yang lebih pintar tapi siapa yang paling mau adaptif. Ya perubahan masif ini melanda seluruh dunia. Tim gue termasuk tim yang unik, ada generation gap disini. Ada dua orang usianya yang hidup di akhir 80an, yang kalo bales wasap masih “loe dimana?” belakangan gue baru tau kalo Dian Sastro ngomong lo juga disertakan huruf e, gue rada sedih.
Di tengah-tengah ada gue remaja nanggung, tapi belom tua-tua amat, yang masih ngisi makes mikes di diary dan nonton ceriwis pulang sekolah. Sementara itu tiga orang lainnya dedek-dedek generasi healing doyan tiktokan, yang dikit-dikit “Kak aku di ghosting gak sih ini masuknya? padahal dia tuh orangnya gaslighting banget”. Gue jujur harus googling dulu karena gue kadang ngga terlalu paham apa yang mereka omongin.
Potret manekin burnout di Tebet karena kebanyakan google meet sama nyusun spreadsheet budget marketing untuk lebih dari 10 produk.
Menjadi pemimpin ternyata bukan hal yang mudah bahkan sampai sekarang gue masih pelajarin. Gue belajar banyak soal gimana caranya menjadi pribadi yang cepet tanggap dan solutif, berempati sama mau memfasilitasi kalo ada konflik. Sisanya gue lebih banyak belajar dari tim soal teknis, generasi dibawah gue jauh lebih tech savvy, soal impression, click, persuasive copywriting – mereka jagonya.
2021 akhir menjadi momen reflektif buat gue soal prioritas hidup. Q4 akhir tahun itu gue memutuskan untuk ke Jogja untuk sekadar jalan-jalan, momen di pantai dan doa-doa gue kepada Tuhan nampaknya sampai menghasilkan keputusan yang gue ambil sekarang. Pada saat itu ada satu tawaran headhunter yang ongoing, doa gue cuma satu sih, kalau emang harus cabut, ikhlaskan dan permudah jalannya. Pulang dari Jogja, ternyata proses rekrutmen cepet banget walaupun ada drama tahan-tahan dari kantor untuk cabut. Tapi kantor baru hamdalah mau nunggu beberapa hari, sampe hari ini.
Dan ya, tahun 2022 jadi awal yang baru buat gue. Mari mengamini lirik Masa-masa dari Mas-mas fakboi jaksel, Ardhito:
Masa-masa yang bahagia
Menanti di sana
Namun tanpa kerja nyata
Dan doa pada Yang Esa
Kiranya kan sia-sia
Gue berharap ada sesuatu yang baru menanti di sana, ada bahagia pasti ada sedihnya juga, semoga bisa ikhlas. Terima kasih kantor lama untuk 6 tahun menjadi tempat yang menyenangkan untuk berproses :')