My Opinion About Interfaith Relationship
Interfaith relationship atau hubungan beda agama tuh emang banyak terjadi yaa dari dulu. Cuma ya, ada yang sampai ke pernikahan dan ada yang nggak. Kalau di Indonesia sebenernya pernikahan beda agama itu melanggar konstitusi sih, yaitu UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Terus menurut hukum Islam juga itu ngga sah. Bahkan dianggap berzina jika perempuan muslimah menikah dengan laki-laki non muslim. Kalau terkait laki-laki Muslim yang menikahi perempuan non muslim ahli kitab, ini perlu dianalisis lagi. MUI tetap memfatwakan HARAM.
Source: twitter.com/TanpaJIL (19/03/2022)
Jadi yaa, kalau ada yang menikah beda agama tuh, aturan siapa yang mereka ikuti? Secara agama dan kontitusi saja sejatinya melarang.
Tapi di sini aku ingin berbagi paradigmaku terkait interfaith relationship ini. Soalnya nih, selain dari sudut pandang agama dan aturan hukum yang jelas melarang, kalau kita lihat dari sisi yang lain juga agaknya perlu kita pikirkan ulang.
Btw kalian bisa cek video youtubenya Zhafira Aqyla yang pernah bahas issue ini bareng kak Jerome Polin, insightful banget sih, dan mostly aku setuju sama pandangan mereka.
Here are some opinions about interfaith relationship (my version):
Ketika kita memeluk suatu agama, tentunya ada sepaket aturan yang ditetapkan Tuhan untuk kita taati. Salah satunya nih, soal larangan menikah beda agama. Nah, kalo kita terabas aja aturan itu, artinya kita mengkhianati Tuhan kita sendiri. Com'on, kalau Tuhan aja bisa dikhianati, apalagi manusia. Jadi buatku pribadi juga salah satu aspek terpenting yang dilihat dari calon pasangan adalah soal gimana ketaatannya sama Tuhan, sama Allah. Kalau dianya aja ga taat sama hal prinsip, it's a big redflag!
Hubungan beda agama itu katanya gapapa aja, kan yang penting cinta. Buatku, statement ini perlu di-crosscheck lagi. Emangnya definisi cinta yang seperti apa yang dimaksud? Cinta yang penuh nafsu? Cinta yang membuat seseorang lupa akan Tuhannya? Hmm, banyak orang yang akhirnya terjebak bucin tapi caranya salah, akhirnya justru bisa menjerumuskan dirinya sendiri. Bagiku, cinta kalau ngga dibimbing dengan keimanan itu bakal merusak. Makanya ada istilah cinta karena Allah, aku rasa ini the purest form of love. I mean, kalau kita cinta seseorang karena Allah, berarti kita ngga akan melanggar aturan Allah dalam mencintainya. Kita juga tahu gimana cara yang tepat untuk treat dia, supaya Allah ridha. Kalau dalam konteks suami istri, ya harus tahu hak dan kewajiban masing-masing. Terus aktivitas yang dilakukan ya emang untuk ibadah.
Ada juga yang bilang kalau, "gapapa beda agama, yang penting kan value yang diyakini sama." Dear bestie, menurutku ngga make sense sih, karena namanya beda agama tentu prinsip hidup, cara pandang terhadap kehidupan, value yang diyakini juga beda. Bahkan nih, orang yang punya pasangan seagama aja bisa jadi value-nya juga beda karena mereka ngga se-kufu atau ngga sepadan dalam pengetahuan agama, tsaqafah, atau takaran keimanannya. And believe me, gap ini kalau ngga bisa dimanage tuh bakal jadi problem di kemudian hari. Nikah beda agama tuh menurutku bikin hidup semakin ribet, yaa soalnya yang pasangan seakidah aja masalah udah banyak banget, apalagi yang beda kan?
Seperti kata Jerome, "The power of love itu GILAAK." Aku setuju sih, soalnya emang seseorang yang tadinya punya keimanan, prinsip, pinter juga, tapi kalo udah terjatuh ke jerat asmara dan jadi bucin, bisa auto bego. Udah ngga bisa bedain bener salah. Yang penting pokoknya cinta, cinta, cinta. Ngga peduli masa depannya gimana, konsekuensinya gimana. Nah ini, aku jadi semakin yakin sama aturan Islam yang melarang kita menjauhi zina itu biar ngga masuk ke sekecil apapun celah menuju kemaksiatan itu. Jangankan zina, ngedeketinnya aja dilarang. Dalam konsep Islam ada yang namanya gharizah nau' (naluri berkasih sayang). Naluri ini yang bikin kita bisa tertarik sama lawan jenis, dan hewan juga punya naluri ini lho. Cuma bedanya kita dikasih akal buat menyalurkan naluri ini dengan cara yang benar, harus taat sama syariat dan ngga serampangan aja gitu kayak binatang.
Nah terus kalo endingnya ada yang bakal convert agama, demi bisa nikah sama ayang, gimana? Tbh memeluk suatu agama itu ngga main-main. Kamu harus bener-bener yakin sama agama yang kamu peluk, dengan kesadaran utuh dan benar-benar memuaskan akal serta menenteramkan jiwa kamu. Kalau belum bisa menemukan jawaban dari semua keraguan kamu terus kamu cuma ikut-ikut orang lain, fix pondasi agamanya ngga kuat dan bakal gampang goyah. Belum lagi memeluk agama itu sepaket dengan konsekuensi akidahnya. Di Islam ada banyak kewajiban yang harus dijalani sebagai seorang muslim. Makanya ngga segampang ngucapin syahadat doang. Islam emang ngga pernah maksain orang-orang buat jadi muallaf, laa ikraha fiddiin. Tapi, sekalinya udah masuk, harus siap sama semua aturannya. Jadi, jangan convert agama cuma demi ayang. Buat yang muslim juga nihh, jangan gadaikan akidah kamu demi kebahagiaan semu di dunia. Masa depan akhirat jauh lebih penting, bro sist.
Mungkin ada di antara kita yang pernah gitu, deket sama temen lawan jenis yang beda agama, terus menjalin hubungan serius sampe mau nikah. Hmm, emang sulit sih mengendalikan rasa kalau udah terjebak di dalam relasi itu. Tapi, bukan berarti ngga bisa untuk berhenti kok. Coba renungi lagi, pikirkan lagi dari berbagai sisi. Allah ngasih kamu aturan itu karena sayang sama kamu, untuk ngejaga kamu. In syaa Allah akan ada gantinya yang jauh lebih baik.
Semoga Allah senantiasa menunjuki kita ke jalan-Nya yang lurus.