Perempuan Pertama
Tidak ada seorangpun yg bilang pernikahan itu mudah. Seumur hidup itu lama, aku ingin menjalaninya dengan orang yg membuat hal² berat dan besar itu jadi mudah. Ada tempat pulang yg nyaman dan aman.
Kami membicarakan rencana² kedepan, bukan trus menerus mempermasalahkan hal sepele yg harusnya bisa diselesaikan dengan mudah. Hal yg cuma menguras energi pdahal bisa dimaklumi.
Sebagai wanita, aku butuh laki2 yg tak cuma mengayomi, tetapi juga bisa jadi tempat pulang paling nyaman. Pernikahan membuatku jauh dari keluarga, Aku kehilangan teman, aku tidak punya siapa2. Suamiku satu²nya org yg akan bersamaku untuk waktu yg cukup lama. Ia satu2nya tempatku bercerita, berkeluh kesah, tempafku mengeluarkan unek2 yg kupendam seharian.
Aku yg mandiri, selalu memendam segalanya sendiri, juga butuh sekedarkan ditenangkan, atau cuma tempat bermanja2 ingin diperhatikan.
Aku perempuan. Sekuat apapun aku. Aku selalu butuh seseorang. Aku tidak bisa menghadapi semua sendirian.
Ia yg bisa mengalah ketika aku marah, bukan cuma marah² dan menyalahkan.
Aku juga ingin sesekali dibujuk, ditenangkan. Perasaanku tidak selalu senang. Ada kalanya moodnya berantakan. Yg akupun tak tahu sebabnya apa.
Aku ingin sesekali dimenangkan, entah siapapun yg benar atau salah. Sesekali mengalah untuk membuat seseorang senang, tidak salahkan?
Sebagai anak pertama, aku terbiasa memendam segalanya sendirian. Susah, kesakitan, kekecewaan.
Mengalah, menyampingkan keinginan sendiri, demi oranglain. Rasanya aku sudah khatam. Makananku sehari hari.
Aku tidak tau caranya meminta, apapun yg kuinginkan kuusahakan sendiri. Selalu takut ketika inginku justru menambah pikiran orangtua. Aku tak terbiasa meminta tolong, selagi mampu, aku berupaya. Tak meminta.
Menjadi anak pertama membuatku kehilangan jati diri sebagai perempuan. Aku pikir aku bisa menghadapi semua hal sendirian. Bodohnya. Aku memang anak pertama, tapi bagaimanapun kodratku adalah wanita. Aku seringkali lupa.


















