“Atas alasan kerinduan, kau selalu berisik meriuhkan seisi kepala!”
—

Origami Around
Cosimo Galluzzi
I'd rather be in outer space 🛸

Product Placement
occasionally subtle

oozey mess
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Today's Document

roma★
taylor price
Interview Vampire Daily
hello vonnie
★
Mike Driver
h
cherry valley forever

Love Begins

No title available
No title available
he wasn't even looking at me and he found me
seen from India

seen from Germany

seen from Bangladesh
seen from Palestinian Territories
seen from United States

seen from Canada

seen from Iraq
seen from United States

seen from Costa Rica

seen from Dominican Republic
seen from Brazil
seen from Colombia
seen from India
seen from Pakistan
seen from Ecuador

seen from Brazil
seen from Qatar
seen from Vietnam
seen from United Kingdom
seen from Türkiye
@sssttttt69
“Atas alasan kerinduan, kau selalu berisik meriuhkan seisi kepala!”
—
Apakah kamu merasakan sesuatu yang juga saya rasakan? Semakin hari, kita semakin jarang untuk bertukar komunikasi, Saya semakin jarang untuk mengetahui bagaimana dengan kamu di setiap hari
Mengapa selalu seperti itu? Mengapa setiap dua insan yang pernah dekat, Lama kelamaan tidak akan sedekat dahulu? Sungguh, itu sangat menyakitiku.
Jika kalian tahu, Saya menyayangi dia tidak seperti saat saya menyayangi mereka-mereka yang sudah berlalu, Saya merasa ada sesuatu yang berbeda dari dirinya, Walau pada akhirnya, Akhir dari cerita kita sama saja.
Sedekat nadi, lalu sejauh matahari,
Dan, hanya aku yang merasa tersakiti.
—mc.
“With guns you can kill terrorists, with education you can kill terrorism.”
— Malala Yousafzai
Untuk kesekian kalinya— aku merindukan kita. Tak hanya kamu tetapi kita, aku dan kamu.
Sudah lama kita berpisah, perasaan ini seharusnya sudah lama aku singkirkan.
Aku tak tau bagaimana caramu, hingga dengan mudah dapat melupakannya. Sedangkan disini aku, masih terus terngiang dan terbayang.
Semua butuh waktu dan— aku harap ini kali terakhir aku merasakannya.
Aku juga perlu maju, aku perlu menjalani hidup lebih baik, aku perlu bahagia kembali, walau bukan kamu alasannya.
—Ad.
“Ada yang bilang, isi hati orang itu seperti samudera. Dari jauh mungkin terlihat tenang. Tapi jika kamu selami, ribuan ombak kegelisahan bisa saja bergejolak di dalam sana. Kamu tidak akan pernah mengerti apa saja yang tersimpan di dalam lautan perasaannya, sampai kamu lihat sendiri pasang surut kebahagiaannya.”
— Cinta dan Rahasia
Ada yang berbeda, saat kata “aku” menjadi “saya Saat tertawa kita menjadi sapaan canggung penuh basa-basi semata Aku merasa lucu disitu Kita pernah begitu dekat, lalu kemudian tiba-tiba tercipta sekat
Dulu menyapamu aku tak perlu merasa segan Bahkan kita tak pernah kekurangan bahan untuk dibicarakan Lalu mengapa sekarang seperti ini? Kita menjadi orang asing yang seperti tak mengenal lagi
Kesalahpahaman yang sama sekali tak pernah kuinginkan Permasalahan yang sebenarnya bisa kita selesaikan Tapi semua tertutup ego kita Hingga kata maaf pun terasa percuma
Katanya rasa nyaman itu datang bersama cinta Kita pernah merasakannya Lalu sekarang hilang kemana? Tunggu, atau mungkin hanya aku saja yang merasa?
Bagaimana cara mengembalikan keadaan seperti dulu? Masih adakah sekali lagi kesempatan untukku? Mengulang lagi tanpa melakukan kesalahan yang sama Atau rasa ini harus kuhilangkan selamanya?
—SatuHuruf
Dariku, yang masih setia menunggu.
Aku sadar, kehadiranmu tak mungkin datang lagi padaku, Aku sadar, senyummu bukan tertuju lagi untukku, Aku sadar, tawamu, kini sudah tak lagi bersamaku
Tapi, aku masih terus bersabar menunggumu untuk kembali, walau aku tak tahu pasti, akankah kamu benar-benar kembali kepadaku lagi?
Kerap aku melawan tangis agar tak selalu tumpah Tak jarang akhirnya pun ia jatuh juga. Hingga sendirinya aku berpacu pada harap, Kau tetap tak ada. Kau tetap jauh pun tak lagi hinggap.
Haruskah terus aku disini? Menanti yang tak pernah diinginkan Olehmu yang telah seenaknya mempermainkan perasaan.
Baiklah, aku pastikan, aku akan benar-benar menunggumu untuk kembali pulang,
Tapi, sebentar, Apakah aku adalah rumah yang selama ini kau tuju untuk kembali pulang?
Atau malah aku beranda usang? Yang kau lewati dan tak kau lihat lagi.
Senyata itu tega memangkas temu kita hingga nyaris tak pernah lagi ada.
—mc. & I.R
“Padahal dulu jam segini adalah jam-jamnya kita berbicara tentang betapa rindunya kita, atau tentang hal-hal serius yang menarik hingga nanti menjelang tengah malam. Tapi sekarang, kau tengah bahagia memulai cerita yang baru. Dan aku masih saja berharap akan ada waktu di mana kau kembali padaku.”
— (via mbeeer)
“Seperti ada yang hilang. Ditambah rasa khawatir yang mengganjal. Mungkin beginilah rasanya, ketika pikiranmu dipenuhi oleh puluhan pertanyaan tentang bagaimana kabarnya, tapi kau tak bisa apa-apa.”
—
“Kemarilah, kita bercakap-cakap seperti dulu lagi. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu sekarang, perihal siapa aku, siapa kita, dan tentang kenapa menyapa rasa-rasanya menjadi begitu berat?”
— (via mbeeer)
“Pada akhirnya kita semua pulang pada mereka-mereka yang mampu meredam ledakanmu.”
—
“Hubungan yang baik itu sulit. Tapi bisa dilakukan jika dua orang di dalamnya mau bekerja sama.”
— (via mbeeer)