39/2018 Pendidikan: Membimbing atau mencetak? Part 2
Hidup pasti akan dituntut untuk dewasa. Maka ‘terkadang’ sudah harus dihilangkan. Bagaimana cara yang paling tepat untuk berteman dengan siapa saja tanpa terbawa oleh arus yang tidak baik. Atau bahkan sebaliknya, kita mampu merubah hal yang tidak baik itu dengan yang lebih bermanfaat.
Pikiranku waktu itu, saya ingin merubah seseorang, kita harus terlebih dahulu dekat dengan mereka. Buat mereka nyaman dengan hadirnya kita. “masuki dunia mereka” , dan mulai rubah mereka dengan perlahan.
Dan itu cukup berhasil. Tapi tidak sedikit juga yang sulitnya. Intinya, buat mereka nyaman terlebih dahulu, agar mereka tidak merasa ditekan atas perlakuan kita. berubah tanpa merasa dirubah .
Menurutku hal-hal semacam itu juga bisa dicoba, dibanding dengan berkoar-koar , menasehati dengan cara yang keras, terkesan menghakimi walaupun niat awalnya sangat baik. Tapi mungkin dalam penyampaiannya kurang tepat. Karena Nasihat keras itu sasarannya untuk kalangan yang lebih paham, sebagai penguat keyakinan.
Intinya, jangan dulu menghakimi sebelum mengetahui. Pahami dulu, kemudian imbangi.
Jujur saja, ilmu ini baru saja saya dapat baru-baru ini. Beliau adalah Kaprodi sekaligus dosen IPAI yang paling saya hormati. Entah bagaimana, omongan beliau selalu menyentuh hati. Kata-kata yang keluar dari mulut beliau adalah hikmah untuk saya. Semoga Allah selalu ridho atasnya.
Kata Dr. Aam Abdussalam, “Pendidikan adalah upaya atau tindakan yang terjadi pada suatu sikologis yang dihayati bersama oleh pendidik dan terdidik” .
Mengagumkan, pendidikan itu memang bukan sebuah embel-embel pengajaran saja, jauh dari kata itu, harus ada penghayatan secara bersama dengan subyek didik.
Analogikan saja itu sebagai guru dan murid. Mengapa saya katakan murid sebagai subyek, karena murid itu sudah berpotensi. Jadi hati-hati ya, jangan salah berkata. Murid itu bukan objek melainkan subyek. Dan guru adalah fasilitator.
Kata Dr. Aam juga “Mendidik itu membimbing, bukan mencetak” . Bagaimana bisa kita mencetak atau membentuk manusia yang bahkan dari lahir oleh Allah Swt dibekali potensi yang sangat banyak, dan berbeda-beda pula. Subhanallah . Lanjut beliau “jika manusia dicetak, itu bukan Pendidikan” .
Pernyataan-pernyataan beliau sangat menjawab pertanyaan-pertanyaan saya sejak dulu tentang “sebenarnya cara terbaik seseorang saat mendidik itu harus seperti apa sih?” . Alih-alih saya juga sudah keliru atas permasalahan yang saya atasi sebelumnya. Paradigma saya tentang “mendidik itu dengan, kita masuk dalam dunia mereka. lalu ubah mereka” , ternyata kurang tepat juga. Yang malah saya khawatirkan adalah, ketika kita melakukannya, kita malah yang terbawa dengan arus yang tidak baik tersebut. Sedikit atau banyak itu bukan keberuntungan sama sekali. Tapi coba pahami lagi kalimat “hayati situasi mereka secara bersamaan. dan didiklah” . Saya yakin jika kita bisa memahami situasi mereka, insya Allah mudah melakukannya.
“Allahumagfirlii” . Selamat mencoba dan jadilah lebih bijaksana. Dan terimakasih sudah mau membaca :) .