Rahmad Azazi Rohmantoro: Menulis, Menari, dan Menghidupkan Kembali Budaya Kaltim
Di tengah derasnya arus digital dan modernisasi yang perlahan mengikis nilai budaya lokal, seorang pemuda dari Samarinda memilih arah yang tak biasa. Ia tidak berlari ke panggung politik, bukan pula ke dunia industri. Ia justru melangkah ke panggung kecil — di antara anak-anak kampung, buku-buku, dan dentingan musik tradisional. Namanya Rahmad Azazi Rohmantoro, atau biasa dipanggil Zazi, seorang doktor muda yang menjadikan literasi, budaya, dan seni sebagai medium perjuangannya untuk membangun kembali identitas Kalimantan Timur (Kaltim).
Pondasi Ibu Kota Nusantara
Kaltim hari ini berdiri di persimpangan sejarah. Di satu sisi, wilayah ini menjadi sorotan nasional berkat kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun di sisi lain, perubahan sosial dan arus migrasi yang deras membawa tantangan besar: bagaimana menjaga jati diri budaya lokal agar tidak tersingkir di tengah modernitas.
Bagi banyak orang, isu literasi dan seni mungkin terdengar sebagai hal sekunder, bukan prioritas pembangunan. Tapi bagi Zazi, literasi budaya justru adalah pondasi spiritual dan sosial dari peradaban. “Kita tidak akan kuat membangun masa depan, jika kita melupakan akar budaya yang menumbuhkan kita,” ujarnya dalam satu sesi diskusi budaya di Samarinda.
Zazi percaya, literasi bukan hanya soal membaca buku — tapi juga membaca kehidupan, membaca tradisi, membaca diri sendiri sebagai bagian dari masyarakat. Dan dari keyakinan itulah, lahir gerakan yang kini dikenal luas di Kaltim: Tirtonegoro Foundation.
Aksi Berbasis Literasi & Budaya
Perjalanan Zazi tidak dimulai dengan kemegahan. Ia lahir dari keluarga sederhana di Samarinda, tumbuh di tengah keterbatasan, namun ditempa oleh semangat belajar tanpa henti. Sejak muda, ia terbiasa melihat masyarakat sekitar yang kaya akan ekspresi budaya tetapi miskin dokumentasi dan literasi.
Saat menempuh pendidikan doktoralnya di Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang, Zazi menyadari bahwa seni dan budaya lokal bukan hanya “hiburan tradisional”, melainkan bentuk literasi paling autentik — karena di dalamnya terkandung nilai, bahasa, dan identitas.
Sekembalinya ke Samarinda, ia tak memilih jalan akademik yang kaku, meski menyandang gelar doktor. Ia justru turun langsung ke masyarakat, mengajar anak-anak di taman bacaan, berdialog dengan seniman kampung, dan menulis kisah mereka dalam bentuk narasi budaya.
Tahun demi tahun, aktivitasnya berkembang menjadi gerakan sosial berbasis literasi budaya. Bersama para relawan muda, ia mendirikan Tirtonegoro Foundation — wadah yang menggabungkan pendidikan, seni, dan sosial. Di sana, Zazi tidak hanya mengajak anak muda membaca buku, tapi juga menulis puisi, berteater, memainkan alat musik tradisional, bahkan menulis naskah drama yang mengangkat kisah lokal.
Dalam Festival Literasi dan Seni Budaya Kaltim 2024 yang dihelat di Taman Budaya Samarinda, misalnya, ia menghadirkan panggung yang berbeda. Teater, musik, dan tari berpadu dengan pembacaan puisi dan pameran buku lokal. Semua dilakukan dengan satu tujuan: mengembalikan semangat literasi kepada masyarakat melalui bahasa seni.
Apresiasi & Kenyataan Pahit
Titik balik perjuangannya datang pada tahun 2023, ketika Zazi menerima Apresiasi SATU Indonesia Awards Tingkat Provinsi atas kontribusinya di bidang literasi budaya dan seni. Penghargaan itu bukan sekadar simbol, tetapi pengakuan terhadap gagasan yang telah lama ia perjuangkan: bahwa literasi bisa hidup di luar ruang kelas, bahkan bisa menari di panggung rakyat.
Namun penghargaan itu juga membuka luka lama — kesadaran bahwa banyak wilayah di Kaltim yang belum terjangkau kegiatan serupa. Di pedalaman Mahakam Ulu, misalnya, anak-anak masih minim akses buku. Di beberapa daerah pesisir, tradisi lisan yang berharga mulai hilang karena tak ada generasi yang merekamnya.
Zazi menjadikan kenyataan pahit itu sebagai bahan bakar baru. Ia mulai menggagas program “Literasi Berbasis Seni dan Budaya”, konsep yang mengintegrasikan seni tradisional dengan pendidikan karakter dan kebangsaan. Melalui program ini, ia mengajak anak muda belajar sejarah lokal lewat teater, menulis cerita rakyat sebagai latihan literasi, dan menampilkan pertunjukan budaya sebagai ruang belajar terbuka.
Baginya, literasi bukan hanya tentang menulis kata, tapi menulis kehidupan — mencatat denyut nadi masyarakat agar tak hilang dari ingatan zaman.
Tindakan yang Terus Menjalar
Meski begitu, perjuangan ini tidak tanpa tantangan. Di era digital, minat baca menurun drastis, dan banyak anak muda lebih akrab dengan konten viral daripada kisah lokal. Dukungan dana dan fasilitas pun terbatas, membuat sebagian program harus berjalan dengan swadaya.
Namun, di tengah keterbatasan itu, Zazi tetap melangkah dengan tekun. Ia percaya bahwa perubahan besar dimulai dari komunitas kecil. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak — pemerintah daerah, komunitas TBM, dan pegiat seni — ia membawa nama Kaltim ke berbagai forum nasional. Dari Magelang hingga Yogyakarta, ia memperkenalkan wajah baru literasi: literasi yang hidup, yang menari, yang bernyanyi.
Kini, gerakannya mulai menjalar. Beberapa sekolah dan kampus di Kaltim mulai mengadopsi metode “literasi budaya” sebagai bagian dari kurikulum lokal. Buku-buku hasil karya anak muda Samarinda mulai diterbitkan secara mandiri. Sementara itu, pertunjukan seni rakyat kembali mendapat tempat di hati masyarakat.
Cara Mencintai
Kisah Rahmad Azazi Rohmantoro adalah pengingat bahwa perubahan tidak selalu datang dari pusat kekuasaan. Terkadang, ia lahir dari ruang kecil — dari panggung sederhana tempat seorang pemuda berdiri, membawa buku di satu tangan dan gamelan di tangan lain.
Ia menunjukkan bahwa literasi bisa menjadi gerakan sosial yang memerdekakan, bahwa budaya bisa menjadi alat untuk memperkuat karakter bangsa, dan bahwa seni bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Dalam pandangan Zazi, literasi bukan lagi soal kata, tapi tentang kehidupan. Ia adalah kemampuan memahami siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana kita menulis masa depan bersama.
Dan mungkin, di balik setiap anak yang membaca buku atau menari di panggung kecil Samarinda, ada seutas benang merah perjuangan seorang pemuda yang tak ingin budaya Kaltim hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah.
Sebab bagi Rahmad Azazi Rohmantoro, menulis dan berkesenian bukan sekadar hobi — tetapi cara mencintai tanah kelahirannya dengan cara yang paling beradab.









