Punya Anak Seperti Tak Punya Anak
Hari ini saya dapat cerita dari ibuk, kalau tiga hari yang lalu ibu dari temen SMP saya meninggal. Rumahnya kebetulan belakang rumah nenek, jadi keluarga kami kenal dekat dengan keluarga temen SMP saya tadi.
Qadarullah anaknya cuma dua, yang anak pertama domisili di Papua karena ikut dinas suaminya dan anak kedua yang temen saya, domisili di Batam.
Ketika ibunya meninggal, mereka tidak bisa pulang. Jarak yang begitu jauh, dan situasi PPKM sekarang, membuat tiga orang yang sedang berduka ini hanya bisa menangis di sambungan telepon.
Pilu, mendengar tetangga bersautan berkata, "kasihan ya, punya anak dua kayak ngga punya anak, ibunya meninggal mereka nda bisa pulang"
Setelah ibuk cerita kronologi sakitnya beliau yang meninggal. Langsung ibuk bilang, "makanya mba, itu kalo punya anak perginya jauh-jauh, kalau ada apa-apa ngga bisa langsung pulang, mau ketemu ibunya terakhir kalinya aja ngga bisa"
Di balik perkataan ibuk itu, saya menangkap sinyal sindiran. Yess, i know, ibuk memang ngga pengen anak-anaknya jauh darinya. Boleh pergi merantau, tapi jangan jauh-jauh, biar kalau tetiba rindu atau ada sesuatu bisa langsung pulang.
Bude juga nambahi, "iya mba, kalau sudah tua begini rasanya ngga penting punya anak dokter, polisi atau karir yang bagus tapi jauh dari orang tua, sakit pengen ditungguin anak aja ngga bisa, kami tu kalo udah tua ngga butuh kiriman banyak uang, tapi butuh diperhatikan, butuh ketemu, kumpul sama anak cucu"