Bukan Tentang Sedekah; Mengasihani Diri Sendiri
Ternyata yang masih harus dikasihani adalah diri sendiri ^^
Sejak pindah ke desa baru, tahun 2021 silam kami (saya dan istri) menemui kakek-kakek penjual "es cincau". Usianya sudah renta, sudah sepuh, kasihan banget lihatnya sudah tua--masih saja jualan es cincau.
Semenjak itu, kami sering membeli es cincau. Padahal, ya, tidak terlalu suka juga dengan es cincau. Dengan niatan ngelarisin si kakek, sapatau bisa jadi jalan rejeki.
Setelah sekian tahun, pada musim haji tahun ini (2024) kami dapet kabar dari tetangga bahwa si kakek tukang es cincau akan naik haji. Dan usut-punya usut kabar dari tetangga, kalau si kakek emang orang yang bisa dikatakan mampu, punya banyak aset (sawah & tanah). Jadi nggak aneh kalau mampu naik haji.
Mendengar kabar tersebut kami di rumah ketawa-ketiwi ... ternyata yang harus dikasihani adalah diri kami sendiri.
Btw, setelah musim haji berakhir, sepertinya si kakek sudah tidak terlihat jualan es cincau lagi.
Di lain kisah ... Kami juga menemui ibu-ibu yang teramat rajin jualan sayur keliling tiap sore. Awalnya kami merasa "Ngelarisin, ah", hampir tiap sore kami beli sayur kepada ibunya ..., meski nggak butuh-butuh amat. Jadi, kadang sayurannya malah kami berikan ke tetangga.
Suatu hari, kami dalam kondisi (uang cash satu lembar lagi). Terus datanglah si ibu penjual sayur tersebut.
Kami beli sayur secukupnya, jadi masih ada kembalian. Pas ibu penjual sayur mau memberikan uang kembalian, tanpa sengaja kami melihat dia mengeluarkan uang dari wadah yang dibawa.
Ternyata uangnya banyak bingiiiit, cuy. Ratusan ribunya, merah-merah.
Dan lagi-lagi ... ternyata diri kami sendiri yang masih harus dikasihani. huhuhu
Ini bukan tentang SEDEKAH, melainkan tentang .... ternyata mereka yang "mampu" secara finansial itu bekerja lebih keras, lebih giat, meski usianya tak muda lagi.
Masih merasa miskin, namun masih doyan leyeh-leyeh mengamati perkembangan dunia maya. Ya, dunia yang maya!