Setiap malam, ia selalu memandang langit. Entah apa yang ada dipikiran gadis itu. Gadis yang selalu ceria, supel dan fantastik itu akhir-akhir ini menjadi pemurung dan penyendiri. Sebut saja Arina Candra Wibowo. Gadis yang dikabarkan menderita kangker ganas sejak 2 tahun lalu.
Sabtu sore, arina bertemu seorang lelaki tua yang tidak sengaja lewat depan rumahnya. Pikiran aneh mulai menggerogoti otaknya. Dengan ikhlas hati, ia mendekati lelaki itu dan berkata,”maaf bapak mencari siapa”?
“Saya mencarimu nak”, kata lelaki tua itu.
“Ada keperluan apa bapak mencari saya”?, timpal Arina dengan penuh keheranan. Karena sebelumnya tidak pernah ia temui.
“Hanya ingin menitipkan ini amplop ini padamu”! kata laleki itu sembari melanjutkan langkah kakinya.
Dengan kebingungan yang menguak, Arina menerima amplop coklat yang ia belum tau apa isinya. Lelaki itu sudah tidak terlihat lagi, dan Arina belum sempat mengejar lelaki tua itu untuk mengucapkan terimaksih. Walau sebenarnya lelaki itu ialah kakeknya sendiri yang meninggal sebelum ia dilahirkan.
Arina bergegas masuk kekamarnya. Ia buka amplop pemberian lelaki tua itu dengan suasana penasaran bercampur elegi ketakutan. Ia tersentak kaget dan tak mengerti melihat isi yang tertera dalam amplop coklat itu. Ia menggigil ketakutan yang teramat. Ia melihat foto gadis remaja dan sepucuk surat didalam amplop itu. dengan tangan bergetar ia membaca surat yang diikat pita kuning itu dengan bertubi-tubi.
Apa kabarmu hari ini cantik? Semoga selalu indah dan tak pernah ada luka yang menyisa. Aku rindu akan canda dan gurauanmu Rin. Apakah sama dirimu denganku? Ku tahu, mungkin kau begitu kaget dengan sepucuk surat dan selembar foto ini. Aku tak menakutimu, aku benar saudaramu Rin. Ingatkah dirimu, waktu berusia 5 tahun. Kita selalu bersama, namun sejak saat itu aku menderita sakit. Dan akhirnya aku menghembuskan nafas terakhir setelah menulis surat ini.
Arina, sekarang mingkin kamu sudah dewasa, cantik dan soleha. Ingin sekali ku menjadi bagian dari hidupmu ketika dulu. Dan bahagiaku saat tau kaulah saudara kembarku. Walau kau tak percaya, tapi itulah kenyataannya.
Arina, bagaimana kabar ayah? Ku doakan selalu sejahtera. Saat ini ku sudah pergi kealam bebas, dan sebentar lagi kita akan bertemu. Cukup disini suratku, aku harap kau mau menyimpannya dan jangan sampai orangtua kita tau.
Dada Arina sesak, seakan maut hendak menyabut nyawanya. Sosok gadis itu ada didepannya sekarang. Ia tak kuasa sampai akhirnya ia tak sadarkan diri. Sesaat ia langsung sadar dari pingsannya.
Esok harinya, peristiwa aneh mulai muncul. Ia selalu bermimpi bertemu dengan seorang gadis dalam foto itu. Gadis itu cantik dan lemah lembut. Hingga akhirnya yang ada dipikiran Arina hanya gadis itu. Gadis itu seakan selalu mengikuti deru langkah Arina. Ayahnya tak mengetahui hal ini, hanya Arina. Ibunya sudah meninggal. Dan ia pun tak mampu bercerita kepada ayahya. Hingga suatu hari ia jatuh sakit. Ayahnya bingung melihat anaknya lain, seakan ia bukan melihat Arina melaikan Arini.
Sudah berhari-hari Arina bertingkah aneh, tidak layaknya seperti biasa. Yang selalu ia katakan ialah ingin menyusul saudara kembarnya. Ia ingin pergi kesurga dan bertemu Arini. Ayahnya tak kuasa menangis, dan setiap malam Arini selalu datang dalam mimpinya. Arini menuntut tanggung jawab ayahnya. ayahnya sadar bahwa selama ini tidak peduli dengan Arini. Yang hanya dipedulikan hanyalah Arina. Hingga saatnya Arini meninggalpun ayahnya tak mengetahuinya. Seolah Arini tidak menerima itu dan ia jadikan Arina sebagai pelampiasan luka dari orangtuanya.
Malam harinya, Arina tak dapat memejamkan mata, ia selalu saja teringat bayang-bayang Arini. Alhasil ia jatuh sakit, dan setelah diperiksa ia diketahui menderita kangker ganas. Yang umurnya tidak akan lama lagi. Ayahnya tak kuasa jika harus ditinggal putri yang dikasihinya. Ia mengupayakan yang terbaik untuk Arina. Namun dibalik itu Arini sosok yang menghantuinya menanti akan kematiannya. Bukan ia tak menyayangi saudaranya, tapi ia ingin melihat ayahnya merasakan apa yang ia rasakan.
Arina harus menjalani perawatan dirumah sakit. Namun selau saja ia bermimpi tentang kematiannya yang selalu dekat. Mimpi itu selalu menyelimuti hari-hari Arina. Arina yang dulu selau ramah dan fantastik, kini hanya menjadi seorang gadis muram dan penyendiri. Ia dihantui sosok saudara kembarnya yang telah tiada.
Siska, sahabat baik Arina. Selalu menjaga dan menyemangati hidup Arina. Siska selalu bercerita tentang persahabatan mereka. Ia berharap Arina cepat pulih dari kondisinya saat ini. Ia tak tega melihat sahabat baiknya terbaring lemah tak berdaya dirumah sakit. Ia berharap suatu hari nanti sahabatnya menjadi pribadi yang kuat, tangguh dan solehah.
Kemoterapi terus dijalani oleh Arina. Tak lelah gadis ini, karena sosok Arini selalu disampingnya. Hanya Arina yang dapat melihatnya. Namun penyakit itu seakan tak mau pergi dari tubuhnya. Arina tampak pucat dan lemas sekali. Bahkan ia tak mampu berjalan normal lagi, kakinya lumpuh. Hanya tangis yang selalu menemani Arina. Ayahnya pun tak bisa berbuat apa-apa. Hanya doa yang bisa ia panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa.
Kini hari-hari Arina hanya berada diatas kursi roda. Sampai suatu hari ia berkata pada ayahnya,“Ayah, Arina ingin bertanya”?
“Bertanya apa sayang”? jawab ayah Arina.
“Apa ayah punya salah pada anak ayah yang lain”? tanya Arina pada ayahnya.
Kenapa kamu bertanya seperti itu nak? Tidakkah kamu percaya pada ayahmu? Tanya balik ayah Arina.
“Aku sudah mengetahui semua ayah. Ayah punya anak yang lain bernama Arini yang tak lain ialah saudara kembarku kan”? Papar Arina.
Jujur nak, ayah dahulu punya kesalahan besar terhadap pada Arini, kakakmu. Bukan ayah tidak menyayanginya, tapi keadaan yang membuat ayah harus menitipkan Arini pada kakekmu. Bertahun-tahun ayah meninggalkannya bahkan ayah tidak tau kalau kakakmu masih hidup hingga dewasa. Pernah dahulu kalian bertemu pada waktu belia, tapi ayah melarangmu untuk dekat dengannya. Hingga suatu hari, ayah baru mendengar ia sudah meninggal. Ayah menyesal tidak pernah peduli dengannya. Ini dosa terbesar ayah. Tutur ayah Arina sambil menahan isak tangis.
Arina menangis menderu-deru. Dan berkata, “seandainya aku cepat menyusul Arini dan bisa ku hapus luka dalam hidupnya, maka akan ku lakukan”.
Ayahnya memeluk erat Arina, seolah tak mau kehilangan putri yang kedua kalinya.
Pagi itu, ayah Arina hendak membuat kopi didapur. Tiba-tiba ia dikagetkan dengan sosok gadis yang tengah duduk manis dikursi. Ia adalah Arini, saudara kembar Arina. Wajahnya merah, seolah marah pada ayahnya. ia menghujam dan sangat marah pada ayahnya. Ia meraung-raung dan mencabik-cabik ayahnya hingga mati. Akhirnya hari itu ayah Arina meninggal dunia, sedang Arina masih dirawat dirumah sakit. Arina sok mendengar kematian ayahnya yang tak ada yang tau sebabnya. Ia menangis histeris dalam pelukan Siska. Siska tak tega melihat keterpurukan sahabatnya. Ia mengelus rambut Arina dengan lembut.
Sekarang Arina seorang diri. Ayah dan ibu serta saudaranya telah tiada. Ia semangat menghadapi penyakitnya bersama sahabat terbaiknya Siska. Dan akhirnya 3 tahun ia bersama penyakit ganas itu, membuat ia lupa untuk hidup dan merasakan arti hidup. Ia sembuh total dan dapat menjalani hidupnya.
diterbitkan dalam buku antologi “Before Death”