Menyadari Sulitnya Menjadi Dewasa
Hari ini hari Senin, hujan, dingin. Untung libur panjang, berat sekali rasanya jika harus membawa diri untuk bekerja di cuaca senyaman ini. Pekanbaru musim dingin katanya, hujan tak kunjung henti sejak akhir tahun. Membuat kota ini menjadi jauh lebih dingin, lebih nyaman, sampai beberapa waktu lalu dinobatkan menjadi kota dengan udara terbersih se-Indonesia. Finally this town being good at something.
Sepanjang 2024 lalu, saya merasa berada di persimpangan berjumlah tak hingga. Rasanya seperti ada gumpalan kekecewaan dalam hati yang semakin hari semakin ditambah parah dengan realita. Tidak berani melangkah untuk memilih persimpangan mana yang mau saya tuju. Sampai pada titik rasanya ingin sekolah lagi saja, setidaknya tujuannya jelas, ada goals yang bisa dicapai per semester dan hasil akhirnya terpampang nyata dengan pencapaian yang jelas. IPK jadi tolak ukur, nilai jadi standar, segala puji-pujian bisa dicapai dengan mencapai nilai dan tugas baik. Pada akhirnya lulus dengan summa cum laude, hip hip hore.
Bukan menyampaikan bahwa sekolah lebih mudah, saya rasa tidak ada pilihan lebih mudah jika sudah sampai usia dewasa. Tapi yang jelas, pencapaiannya jelas tercetak nyata jika sekolah dibandingkan bekerja. Tidak ada rasanya orang yang akan memuja muji apabila datang ke kantor tepat waktu, itu seharusnya yang memang dilakukan. Tidak ada yang akan merayakan jika sudah bersusah payah menyelesaikan suatu project, karena memang itu seharusnya yang dilakukan. Tidak ada lagi orang yang akan menglorifikasi pencapaian yang kita lakukan karena memang semestinya itu yang harus kita lakukan dan semua orang memang sedang berjuang mencapai hal yang sama.
Sedang saya, di didik 20 tahun dengan kebiasaan tersebut. Menjalani semester per semester, dengan tolak ukur yang jelas. Bahwa saya dianggap sukses jika nilai ujian saya baik, ketika IPK saya diatas 3, ketika saya mampu menjawab soal yang katanya mirip dengan realita. Tapi... Ketika dihadapkan ke dunia pekerjaan dan dunia nyata.... penilaiannya ternyata luas sekali. Saya seperti orang bingung yang meraba-raba untuk mencari validasi yang selama ini diukur lewat nilai-nilai. Jika sibuk bekerja dengan karir yang matang, kelompok lain mencibir mengapa tidak kunjung promil. Jika sibuk mengurus keluarga, kelompok lain mencibir mengapa sia-sia biaya dan waktu sekolahnya. Tidak ada yang benar, semua orang menganut hal yang berbeda. Tidak ada lagi lulusan terbaik, hilang. Semua orang sibuk bertahan. Bertahan dengan diam, atau mencibir agar merasa lebih baik ditengah kekacauan hidupnya sendiri. Semuanya betul-betul sibuk dengan diri sendiri.
Jadilah, semua orang mencari validasi yang dikendarai sosial media. Memamerkan cincin-cincin, tas, prestasi dan luar negeri. Semua demi mengisi kekosongan, karena ragu apakah benar ini yang dicari? Apakah ini validasi yang dimaksud? Akibat terbiasa dipuja-puji dari kecil dengan nilai 100 dan piala siswa terbaik.
Sejak 2024 akhir saya banyak diam, menganalisis dan membaca buku. Dari buku Viola Davis, George Orwell 1984 , seluruh karya Omar Sulaeman dan Yaqeen Institute, Don Miguel Ruiz, Wabi Sabi, Robert Greene, sampai karya Naquib Al-Attas (saya perlu 30 menit utk membaca 1 halaman, dan sampai hari ini saya tidak mampu menyelesaikan 1 buku yang padahal super tipis itu), demi mencari makna. Ini sebenarnya yang dicari apa? Bagaimana caranya hidup dan bertahan di dunia yang berisik dan saling sikut ini?
Oleh karena itu, sejak awal Januari 2025 ini saya pada dasarnya mencoba menggali diri sendiri. Finding Me, katanya. Menanyakan hal-hal dasar terkait apa yang saya inginkan, seperti apa saya ingin dikenal, apa yang membuat hati saya lapang dan apa hal yang ingin saya perjuangkan. Tanpa saya melibatkan satu kalimat pun tentang apa yang diinginkan oleh orang lain. Saya hanya mempertimbangkan apa yang Allah inginkan dari kehidupan saya, apa yang bisa saya lakukan dengan resources yang saya miliki dan apa yang harus saya pertanggung jawabkan ketika saya mati nanti. Melepaskan pikiran dari apa yang orang lain inginkan atau ekspektasi orang terhadap diri saya itu ternyata berat sekali. Saya tidak sadar kalau selama ini saya terbelenggu dengan ekspektasi.
Sampai di hari ini, pagi ini, ketika menyeruput kopi sambil melihat hujan. Saya menyadari bahwa yang perlu saya koreksi adalah diri saya sendiri. Betapa banyak perubahan, yang saya paksa terjadi pada orang lain (suami, orangtua, adik, teman), seharusnya dimulai dari diri saya sendiri. Saya terlalu takut untuk maju. Untuk berjuang. Saya terlalu terjerat dalam pendapat orang hingga ragu untuk melangkah dan memendam mimpi-mimpi saya yang lama. Saya cari tau lagi mengapa ini terjadi, ternyata karena terlalu sering terdistraksi komentar-komentar sosial media, terlalu sering membuat standar yang tidak bisa dilakukan dengan keadaan saya. Terlalu sibuk mengukur apa yang saya tidak punya, ditengah keberkahan yang sudah luar biasa banyaknya diberikan untuk saya.
Saat terdiam pagi ini saya akhirnya menyadari. Meskipun terdengar klise, kesimpulannya adalah penyebab terbesar kegagalan adalah diri saya sendiri. Saya yang terlalu takut untuk mengambil keputusan, terlalu takut untuk menjadi berbeda, terlalu takut dianggap gagal, terlalu takut untuk berjuang, dan yang paling menendang saya keras adalah kenyataan bahwa saya terlalu takut tentang 'apa kata orang'. Padahal pilihan-pilihannya sudah ada didepan mata. Saya tinggal melangkah ke jalan yang saya inginkan. Tinggal mau atau tidak. Tinggal berani atau tidak. Melawan diri sendiri rasanya begitu sulit. Seperti berperang melawan sesuatu yang sangat keras kepala dan sulit diubah. Saya mau berhenti menyalahkan orang lain dan menyalahkan keadaan. Saya mau maksimal. Merubah diri semaksimal yang saya bisa. Melawan diri yang selalu mau enaknya.
Sejak saya 20an saya sudah mendegar kalimat dari Rumi ini ribuan kali : “Kemarin aku menjadi pintar, aku ingin merubah dunia. Hari ini aku menjadi bijak, aku ingin merubah diriku sendiri.” -Jalaluddin Rumi
Tapi tidak pernah saya rasakan merasuk kedalam hati makna kalimat tersebut sampai pagi ini.
Apakah bisa? Karena kalau digambarkan ini rasanya seperti melawan monster buruk rupa yang sudah menguasai kepala saya bertahun-tahun yang lengket dan melekat erat sampai mengakar dalam dada. Apa saya memang bisa? Mungkin ini memang peperangan sampai akhir hayat.












