Mencari makna dibalik seni
menulis, akibat insomnia lagi.
Saya senang sekali lihat karya-karyanya Tanaka Tatsuya di instagram. Caranya mengubah perspektif barang sehari-hari menjadi hal yang bermakna lain bikin saya terkagum-kagum. Tutup botol jadi kolam renang, bahkan grate keju jadi gambaran rintik hujan yang jatuh menghantam tanah. Perspektif baru ini membuat saya berfikir bahwa satu hal yang sederhana dapat berubah menjadi bermakna jika kita berani untuk mengubah angle untuk melihat potensi dari hal tersebut.
Dunia terlalu sempit sekarang. Yang hebat yang bisa beli Birkin beratus juta, yang HP nya semakin banyak kamera, yang bisa beli barang ber merek dari kaki hingga kepala. Padahal saya lihat punya hal-hal sederhana jauh lebih baik karena hidup sudah cukup sulit tanpa perlu tambahan tekanan dikejar penerimaan orang sekitar yang juga sebenarnya tidak peduli apapun selain dirinya sendiri.
Melihat betapa euforianya status sosial, pekerjaan, jabatan hingga gaji yang terlihat dari bagaimana orang berlomba-lomba memantaskan diri dengan mengumbar data pribadi, membuat saya makin meragukan keterlibatan saya di sosial media. Saya lihat... Seakan-akan segala hal itu bagian dari makna dirinya, bahwa dirinya juga penting, bahwa dia berbeda, bahwa dia mampu, dia berada diatas segalanya. Seakan lupa diatas langit masih ada langit, seakan lupa bahwa tuhan juga tidak peduli mau sebanyak apa Birkin di lemari.
Malam ini saya insomnia lagi. Mau sekeras apapun saya memejamkan mata, pikirannya terlalu sibuk untuk diajak kerjasama. Kemudian Tanaka Tatsuya dengan karyanya yang sangat detil dan unik malah semakin membuat saya berfikir. Jika potongan crackers bisa disulap menjadi kasur, kembang kol jadi pohon beringin, hingga isi straples jadi ruang tamu, saya merasa dunia ini sebenarnya tanpa batas. Kreatifitas berfikir, mengubah perspektif, memperluas pikiran bukan menjadi halangan karena Allah sudah ciptakan rasa syukur. Tinggal bagaimana caranya saja untuk latihan melihat masalah jadi berkah. Mengubah yang sudah ada menjadi hal yang luar biasa, menghargai setiap apa yang ada di tangan, memaknai yang kita rasa biasa. Jika lupa caranya, coba lihat cara Tanaka Tatsuya mengubah sikat gigi jadi ladang padi.
Fenomena meresahkan saat ini sebenarnya membuat kita jadi sangat sempit mendefinisikan kebahagiaan, hingga lupa bahwa dunia hanya titipan. Tidak lagi akhirnya mampu menyulap cincin berlian jadi bathtub, jagung jadi sumur, hingga masker jadi lapangan basket. Karena semuanya merasa penting, semua ingin didefinisikan dalam kelompok tertentu. Menjadi bagian tertentu yang perlu diperhatikan, dipahami, dimengerti. Tidak bisa lagi bicara sembarangan karena bisa-bisa ada netizen marah karena kita tak sengaja menyinggung permasalahan kelompoknya yang entah apa. Sempit, lupa diri, terkotak-kotak, lama-lama mati.
Hidup sederhana, melihat perspektif biasa menjadi luar biasa, menjadi manusia, menjadi hamba. Mengubah perspektif jadi yang nyata saja, apa yang ditangan dipegang erat. Bila bosan, lagi-lagi coba ingat cara Tanaka Tatsuya yang mengubah pop mie jadi bak mandi. Supaya pikiran kita tidak sempit lagi.
PS : ini saya sambil sertakan karya-karyanya. Untuk bantu mengingat-ngingat Tanaka Tatsuya. All belongs to @tanaka_tatsuya instagram feed.








