yonkspil | do not edit
Today's Document
Lint Roller? I Barely Know Her
No title available
Noah Kahan

Game Changer & Make Some Noise
No title available
Phantogram Three

roma★
h
Mike Driver

@theartofmadeline
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Sade Olutola
Cookie Run:Kingdom Official!
todays bird
Fieri Frames
No title available
I'd rather be in outer space 🛸
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
RMH

seen from Australia
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Russia
seen from Malaysia

seen from United States
seen from Australia

seen from United States
seen from Switzerland
seen from United Kingdom
seen from Maldives
seen from United Kingdom

seen from Singapore

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Mexico
seen from Indonesia

seen from Malaysia
seen from Maldives
@surliscrapblog-blog
yonkspil | do not edit
yonkspil | do not edit
park sungjin, starting pitcher for the busan lotte giants
HyperGeo | do not edit
I do! Park Sungjin, I do!
HyperGeo | do not edit
𝐏𝐥𝐨𝐭 | do not edit
Honeymoon Feud
Here comes the pre-wedding feud and it’s about the freakin’ honeymoon!
My really first plan (a year ago) for honeymoon was Thailand, but at the end of the day I realized that we’re gonna spend tons of money on wedding also Defri is a bit chauvinistic, eventually we decided it’s gonna be Bali!
The first plan of visiting Bali was we’re gonna take train from Jakarta-Bali and the airplane on our way home. Here’s the detail. Take any train from Jakarta to Surabaya. From Surabaya to Pelabuhan Ketapang, take Mutiara Timur Malam which cost is already include ferry and bus ride from Pelabuhan Gilimanuk to Terminal Ubung, Bali. After counting wisely, this kinda way costs us more time and more money.
So, we chose plan B, which is flying all the way. Less cost and more time to spend in this heavenly island. This extra-time is totally precious for newlyweds like me and Defri *wink!
Next things in mind are accomodations and transportations. When I talked about those stuffs, Defri looked as if his mind is troubled with some other things. I know I should act now, make decision as I like. With few days of me pouting, finally we can afford a week in Bali. Yeaayy!
The tickets was bought via Traveloka and got 100k discount for buying using Traveloka app. Here’s our flight details. Wednesday, August 12, 2015 Jakarta - Denpasar AirAsia QZ-7526 08:40am Tuesday, August 18, 2015 Denpasar - Jakarta Citilink QG-9744 04:35pm
Since this is honeymoon trip, I demand a room with a private pool or kinda look like Bella and Edward’s honeymoon villa :D This time, Groupon Disdus came to the rescue. We bought a voucher for 3D/2N stay with private pool at The Adma Umalas for only 998k! What a deal!!
For the next 3D/2N stay, we’re moving to Ubud because Bali has a lot to offer than just beautiful beaches. There are lots of beautiful temple, forests, and don’t forget about Subak.
We decided to stay at Wijaya Guest House and booked it via Agoda for 400k.
Finally, our last 3D/2N stay was happened to be at the south part of Bali, Uluwatu. Hello again, beaches! The Hill Jimbaran was the one receiving this honor. Again we booked this hotel via Agoda for 425k. Southern Bali was gonna be the last destination on our list, but not the least for sure since the magnificent Tari Kecak is performed here, at Pura Uluwatu to be exact, with a very glorious sunset in Indian Ocean.
So, we spent 3000k for round-trip tickets and 1825k for the hotels. We’re totally gonna rent a motorbike to roll from one place to another. For rental thingy, it’s Defri’s job to find the cheapest one ;)
Here are tips for you who are traveling on budget. 1. Always check the deals on Groupon Disdus, Living Social, Travelicious, or similar discount sites. 2. After comparing prices, Traveloka has the best price and Pegi-Pegi comes on the second place. However, you cannot choose the seat :( 3. Bali has more than just beautiful beaches, the landscapes of center part of Bali might stunned you for sure ;)
The Dresses
Waaah sudah debuan blog ini! Hahaha...
Kali ini saya mau laporan soal belanja kain buat baju kurung para mama dan adik-adik. Pasar Tenabang adalah satu-satunya lokasi belanja bahan yang paling familiar buat saya dan mama dibanding dengan Pasar Baru, yaa akhirnya 21 Maret lalu, saya dan mama meluncur dari Stasiun Kranji ke Stasiun Tanah Abang. Karena pas hari libur, saya jadi mager dan baru berangkat dari rumah jam 11:00am, padahal kios di Tenabang rata-rata tutup jam 04:00pm dan di jalan pun si mama ngomel dikit :p
Setibanya di Stasiun Tanah Abang, saya dan mama terburu-buru cari pintu keluar yang ternyata lokasinya dipindah ke ujung stasiun, jadi enggak perlu naik tangga lagi untuk keluar stasiun. Karena pintu keluar stasiun yang berubah, saya dan mama pun bingung cari pintu masuk ke Pasar Tenabang Blok A. Setelah tanya sana-sini akhirnya jam 01:00pm tibalah kita di lokasi. Tanpa mengetahui kalo kios bahan pakaian dan kain ada di lantai B1 dan B2, saya dan mama naik sampai lantai 6 *sigh
Ding...! Lantai B2 Pasar Tenabang Blok A.
Tanpa referensi nama toko kain favorit pemirsa, saya dan mama puterin lagi lantai B2, naik ke B1, turun lagi ke B2, menembus Blok B, kembali ke Blok A, dan seterusnya. Cuma satu yang ada di pikiran kami, cari bahan berwarna emas atau yang senada, karena busana resepsi saya berwarna hijau dan emas. Saya suka bahannya, mama enggak suka. Mama suka bahannya, saya enggak suka. Akhirnya tibalah kita berdua di toko kain yang saya pun enggak tau namanya (di bon belanjanya pun tidak tertera nama toko). Pilah-pilih, comot-comot, tunjuk-tunjuk akhirnya nemu juga Tille Cornelli glittery warna dusty pink + furing satin kuning metalik buat para adik tercinta (sorry, lupa difoto). Untuk 3 adik manis, 4,5 meter Tille Cornelli + 3 meter furing satin kuning metalik dihargai 545.000. Motif Tille Cornelli yang kita pilih kurang lebih seperti ini, tapi dipadu dengan furing satin kuning metalik. Gambar ini diambil dari blog Unimen Jaya Textile.
Di Blok B, saya dan mama berhenti di toko kain yang sepertinya menarik hati si mama. Setelah tunjuk-tunjuk dan cocok-cocokin satin, mata mama terbelalak melihat kain Prada motif bunga warna emas! Saking naksirnya dengan Prada ini, mama memutuskan supaya saya jahit aja kebaya untuk akad nikah, tentunya dengan si Prada ini. Akhirnya saya pilih kain Prada motif bunga warna putih tulang tanpa furing satin, karena mau pake long torso aja :D Setelah tawar-menawar yang sengit, 6 meter kain Prada untuk saya, mama, dan camer berhasil diperoleh dengan harga 200k/meter plus 4 meter furing satin untuk para mama seharga 45k/meter. Beginilah penampakan Prada motif bunga yang mama taksir. Gambar ini diambil dari blog Laras Prabandini Sasongko.
Bahan untuk para mama: checked! Bahan untuk para adik: checked! Masih ada yang ketinggalan, baju untuk para mbah. Masih di Blok B, saya dan mama menyambangi toko Efri Kebaya yang berlokasi di lantai B2 los D no. 70-73. Ternyata toko ini pun menjual long torso warna putih gading yang pas buat saya dan warna kuning keemasan yang pas buat kebaya Iges. Setelah obrol-obrol, ternyata Efri Kebaya memproduksi sendiri semua produk yang mereka jual, mulai dari kebaya, long torso, bahkan kebaya pengantin. Untuk kedua mbah, saya dan mama pilih 2 kebaya silk model ambon warna cokelat seharga 150k/buah.
Sekian petualangan saya dan mama di Pasar Tenabang. Sekarang mari menjelajah mencari penjahit kebaya. Pokoknya kalo semua kebaya dan baju kurung sudah selesai dijahit, pasti akan saya posting fotonya!
Tour de Bekasi
Ini adalah rally saya dan Pacar dalam misi pencarian gedung pernikahan di Planet Bekasi. Kenapa sih Bekasi? Karena saya dan pacar hanyalah Tenaga Kerja Alien di Jakarta dan Bekasi is always a home :D Lalu kenapa sih saya buru-buru? Keburu-buruan ini adalah efek samping blog-walking dan rikues keluarga pacar: nikah di bulan Syawal! which is pertengahah Juli sampe pertengahan Agustus.Dimulai dari kegelisahan saya dengan kesantaian mama papa serta rikues calon mertua, saya ajaklah si pacar buar keliling Bekasi untuk cari gedung pernikahan.
Here the story goes . . .
19 Februari 2015
Gedung pertama yang kita sambangi adalah Asrama Haji Bekasi.
Ditemani rintik hujan yang turun sepanjang hari (mungkin karena Imlek ya), kita masuk ke ruang informasi dan mendapat kabar buruk, Asrama Haji Bekasi ditutup untuk segala jenis kegiatan nonhaji mulai dari bulan Juni-November setiap tahunnya. Akhirnya kami melanjutkan rally dan membawa bekal beberapa booklet katering yang sepertinya akan memenuhi meja saya di rumah. Bye Asrama Haji Bekasi!
Gedung pernikahan lain di Bekasi yang cukup digandrungi adalah Islamic Center Bekasi. Sejujurnya kami kurang suka gedung ini karena saya dan pacar antimainstream terlalu banyak pilar dan langit-langit yang lumayan rendah, jadi terkesan sempit. Mungkin gedung ini akan menjadi pilihan terakhir kami.
Pit stop berikutnya adalah Gedung Aneka Bhakti II Kementerian Sosial - Bekasi. Kami sama-sama enggak tau lokasi gedung ini, dan sempet nyasar juga dong ya :| tapi berkat bantuan GPS, akhirnya kami sampai juga sekitar jam 3 sore waktu Planet Bekasi. Ternyata ada acara pernikahan yang baru aja selesai dan si bapak pengelola, sebut saja Insani, udah mau pulang :'( tapi (mungkin) karena kemelasan wajah saya dan pacar, akhirnya pak Insani mau membuka lagi kantornya. Harga sewa pernikahan ini sangat terjangkau sekali Rp3.902.000 untuk resepsi dan tambahan Rp500.000 untuk akad di gedung, ih woooowww syesyuatu ya! Setelah pilah-pilih booklet katering yang tersusun dengan rapi (more junks!), pak Insani mengajak berkeliling gedung dan ternyata gedung ini cukup kece. Ada panggung permanen, langit-langit yang tinggi, toilet tamu di dalam gedung, dan ruang VIP. Si ruang VIP ini disediakan untuk keluarga, jadi sanak saudara enggak perlu makan di dalam kurungan di pojokan gedung juga buat akad nikah kalo acaranya di sore hari.
Sayangnya, tanggal yang tersedia untuk Agustus adalah 23 dan 30 malam. Bagaimana kabar rikues calon mertua yaa?? ><
Rally berlanjut ke Gedung Mahkamah Konstitusi (MK) Bekasi. Kami tiba sekitar pukul 5 sore dan dialog pertama kami adalah sebagai berikut S : Ar, asik banget kerja di MK ya, dapet rumah dinas kece macem gini. D : Iya, ya. Tapi kok kayanya enggak ada penghuninya ya? S : Jangan-jangan ini asrama buat yang lagi DikLat . . . D : Eh eh ini mana gedungnya? *gagal fokus Ruang pengelola gedung ada di lantai 2 dan memang gedung ini luas dan langit-langitnya tinggi sekali, ruang pengelolanya pun nyaman dengan ruang tunggu yang tak kalah nyaman dan . . . mengejutkan! Sembari menunggu giliran, saya kembali memilah-milih booklet katering dan menemukan foto berukuran besar dengan wajah senior idola siswi se-SMAN 4 Bekasi circa 2004 bersama istri. Jadi itu adalah foto untuk promosi rias katering gitu sih. Langsung saja saya foto dan kirim ke seorang fans berat si kakak Ketua OSIS SMAN 4 Bekasi angkatan 15 itu :D Yeay, it's our turn! Saya dan pacar enggak menghabiskan waktu lama untuk ngobrol sama si bapak pengelola setelah melihat harga sewa gedung yang cukup fantastis, Rp17.000.000. Dan berakhirlah rally kami di hari Imlek ini dan tetap diiringi rintik hujan.
21 Februari 2012
Di hari Sabtu ini, saya didaulat untuk standby jadi rally-nya berlangsung di sekitar kantor saja. Setelah kerjaan beres, saya dan pacar bertolak ke Museum Purna Bhakti Pertiwi TMII, itu loh museum yang bentuknya mirip tumpeng di depan kompleks TMII. Menurut blog, di sana ada pohon dengan ukiran kece yang gede banget di Graha Lukisan, unik buat resepsi pernikahan atau kalo bosen indoor, bisa juga looh outdoor party di Taman Merak. Dan asiknya lagi, karena lokasi museum ini enggak di dalem kompleks TMII, kita enggak usah keluarin uang ekstra buat tiket masuknya. Sayangnya belom banyak blog yang review museum ini :(
Pas sampe, loh kok museum ini sepi banget . . . kita masuk dan tanya sama bapak security apakah museum ini bisa disewakan untuk pernikahan, dan ternyata Museum Purna Bhakti Pertiwi ditutup untuk renovasi sejak Agustus 2014 hingga batas waktu yang tak ditentukan.
Sebelum bertolak kembali ke planet Bekasi, saya dan pacar mampir ke Sasana Wira Sakti yang berlokasi di samping PGC. Pernah sih ke sini waktu ke nikahan Icha 2013 lalu, tapi saat itu saya belom tertarik sama urusan pergedungan. Tempatnya llluuuuaaasssss syekali sampai-sampai ada lapangan terbuka yang pastinya digunakan untuk upacara karena Sasana Wira Sakti ini adalah Pusdikkes TNI AD. Dan lagi-lagi si bapak pengelola gedung sudah pulang dan kami disuruh kembali lagi di hari kerja dan jam kerja. Meh . . . masa harus cuti?!
Gedung terakhir kami tinjau sekalian pulang, masjid Baitussalam Billy & Moon yang pernah dipake buat shooting sinetron Lorong Waktu. Masjid ini estetis sekali dan enggak keliatan kalo bagian dalam masjid ternyata kecil. Masjid bisa digunakan untuk akad nikah, sedangkan resepsinya dilangsungkan di aula bawah tanpa live music. Lagi, lagi, dan lagi si bapak pengurusnya udah pulang tapi kami sempet ketemu sama merbot masjid yang menginfokan perkiraan biaya sewa untuk pernikahan, sekitar Rp8.000.000, dan disuruh kembali lagi besok pagi. Sayangnya lokasi masjid ini agak masuk ke dalam Kompleks Billy & Moon, jadi hati-hati kalo terlewat.
Pintu masuknya (menurut saya) a bit church-y due to the arch tapi ternyata bagian dalamnya mewah! Sayang kita enggak sempet masuk ke dalam aula.
22 Februari 2012
Setelah kegiatan rutin kami di Bekasi Car Free Day, yaitu bersepeda dari rumah ke depan GOR Bekasi dan berjajan ria sambil elus-elus anjing atau ngetawain dancers, saya dan pacar serta si bungsu melanjutkan rally yang tertunda dengan sepeda tempur kami ke Islamic Center Bekasi. Kita bertiga kebingungan mencari ruang pengelola dan akhirnya ketemu lima bapak yang sedang nongkrong, literally. Ternyata kantor pengelola tutup di hari Minggu dan akhirnya si pacar berinisiatif mencatat nomor pengelola eh . . . lalu tas doi ilaaang! Ketinggalan di pager BCA pas kita makan sosis . . . langsung ngebutlah dia dengan sepedanya dan alhamdulillah itu tas lengkap dengan isinya masih tergantung di pager *phew
Satu alasan lagi yang bikin kita kurang sreg adalah akses jalan masuk dari gerbang Islamic Center ke aula masih dalam perbaikan, jadi jalanannya cukup berbatu dan becek. Parkir pun harus bersaing dengan tamu di dua aula lainnya, karena Islamic Center ini punya 3 aula: Muzdalifah (pic above), KH. Noer Ali, dan satu lagi di belakang (lupa namanya). Tapi keunggulan gedung ini adalah Guest House, jadi saudara yang tinggal nun jauh di Bumi bisa menginap di guest house ini.
Kami lanjut menggowes ke Masjid Agung Al-Barkah Bekasi, sekitar 5 menit bersepeda dari Islamic Center. Kembali, kami dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa pengelola masjid ini pun libur di hari Minggu. Haahh . . . berhubung kami perlu di-recharge, akhirnya kami melipir ke taman kota di depan masjid buat istirahat sambil kasi makan ikan.
Karena pakaian kita yang a la biker kayanya kurang pas juga untuk masuk masjid, jadi yaa enggak bisa liat interiornya juga deh. Inilah gedung terakhir yang saya dan pacar kunjungi dan berakhir pulalah Tour de Bekasi kami. Sebenernya sih ada Gedung Sartika di seberang masjid ini, tapi lahan parkirnya hanya cukupnuntuk 5 mobil dan tamu harus parkir di pinggir jalan. Jadi gedung ini kami coret deh.
27 Februari 2015
Karena saya cuti untuk divaksin Hepatitis B di RSUD Bekasi yang notabene-nya adalah kantor sang nyonya besar, saya ajak saja nyonya ke Masjid Agung Al-Barkah yang berlokasi di depan RSUD Bekasi. Setelah putar-puter tanya sana-sini akhirnya ketemu juga kantor pengelolanya. Pas nyonya tanya tanggal yang kosong pun ternyata tanggal yang dirikues calon mertua masih available! Yeaaaayy . . . Biaya sewa aula + masjid (incl. MC akad + qori) Rp8.000.000, hmm . . . not bad laah yaa! Akhirnya kita diajak liat-liat aulanya dan eng ing eng . . . terlalu banyak pilar pemirsah! Jadi kesannya sumpek :(
Tapi masjidnya sendiri totally stunning! Hmm . . . decision . . . decision . . .
Tujuan terakhir kita adalah, tak lain dan tak bukan, Gedung Depsos Bekasi karena nyonya besar belum pernah liat gedungnya. Kembali saya bertemu dengan pak Insani (sepertinya doi lupa sama saya) dan doi menjelaskan lagi biaya serta hal terkait lainnya. Lain sama pacar, lain sama mama, pas mama tanya tanggal available, doi bersedia cek orang-orang yang belum bayar DP dan di tanggal 9 Agustus 2015 malam ada yang baru taro nama tapi belom bayar DP. Karena pak Insani kesulitan menghubungi capeng yang bersangkutan, akhirnya kita diminta menghubungi dia lagi. Mama pun jatuh hati sama gedung ini karena parkiran yang luas dan ruang VIP khusus, juga akses menuju gedung yang gampang; keluar Tol Bekasi Timur, langsung belok kiri, sekitar 200m ya di di situlah gedungnya. Beberapa hari kemudian mama dapet kabar kalo tanggal 9 Agustus 2015 malam kosong dan akhirnya mama ke sana lagi dan bayar DP!
Booyah . . . balada gedung dan Tour de Bekasi come to their end. Postingan berikutnya sepertinya tentang Tour de Cuisine (test food) :D See you!
Let’s go, Love! Leave your rucksack behind Because we need only a few dimes And with your warm hands There’s no need for me to complain
Hush… Nobody needs to know Not even the devil lying down below Because I don’t need another call Just grab my hand and we’re ready to roll
We’re definitely gonna be lost, Love So don’t forget to pack a map and a compass When both of them become a mess The stars above will be our guess
Perhaps I will make a wrong turn Do not ever let me collide Do not ever let me burn Please take me back right to your side
Our hands might slip, Love Promise that you’ll go back to the place you lost me Promise that you’ll never flee Because there I will always be Waiting for your warm arms to hug me
But I don’t really mind getting lost together And go a bit further Sounds like a great adventure To spend the rest of our trip later
January 28, 2015 10:17pm For my fiancè, Ar :*
Gebyar Pernikahan Indonesia 2015
Woohoo . . . another field report from another wedding expo! Dua wedding expo dalam 1 bulan, awal tahun pula! Gigih sekali ya saya . . . atau heboh? Yang mana pun lah yaa, intinya saya berhasil ajak (enggak seret loh ya!) pacar ke Gebyar Pernikahan Indonesia 2015 di Balai Kartini tanggal 25 Januari 2015 lalu untuk muter-muter (sekalian test food :p). Karena saya kebagian jatah lembur tanggal 24-25 Januari, akhirnya saya tenteng lah si Mac (berat . . . ><) muter-muter pameran sambil survey vendor dan test food dengan harapan bisa nemu vendor yang pas di hati dan di kantong. Oh ya, untuk expo kali ini, saya dan pacar enggak perlu bayar tiket loh, soalnya saya udah registrasi buat dapet tiket gratis di web GPI 2015. Lumayan kan 40k ;)
1. Vendor
Ternyata susah nemu wedding vendor di tiap expo. Cuma ada sanggar rias atau bridal sendiri, catering sendiri, dekor sendiri, fotografer sendiri, dan entertainment sendiri. Repot banget kan ya kalo pisah-pisah begitu! Tapi sepertinya hal begitu cuma berlaku di wedding expo aja deh. Karena dari blog Bridezilla senior, catering atau sanggar rias akan menawarkan rekanan atau paket all-in gitu. Jadi, buat yang udah terlanjur masuk ke expo, saran saya sih minta aja CP atau price list mereka (liat hasil rias atau dekor juga boleh) trus dateng ke lokasi di hari biasa aja sekalian nego.
Tapi alhasil kita menemukan Chandra Kanti dari Manten Party WO. Chandra Kanti ini dibagi menjadi 3 paket dan tiap paket dibagi menjadi 3 kapasitas tamu. Chandra Kanti menawarkan paket yang bener-bener all-in! Gedung, WO, catering (Puspa Catering), fotografer (AA Photography), kebaya dan busana lainnya (Aluira), dekorasi (Rich Art), entertainment (Taman Musik). Bahkan dapet bonus honeymoon ke Bali gratis (excl. tiket pesawat ya!) Tapi prinsip "ada uang, ada barang" akan selalu berlaku selama kita hidup di dunia ini. Uang sejumlah 210juta untuk gedung kelas 3 dengan tamu 500pax ditukar dengan paket lengkap Chandra Kanti! Ikhlaskah Anda? Kalo saya kayanya enggak . . . Bye Chandra Kanti!
2. Catering
Uwaaahhh . . . akhirnya saya merasakan juga kenyang setelah pulang dari wedding expo! Ada Puspita Sawargi, Alfabet, Kiki Catering, Puspa Catering, Dwi Tunggal Citra, dan banyak lagi. Tapi seperti yang saya sebutkan di atas, paket yang ditawarkan catering yaa cuma paket makanan aja. Range harga makanan yang termurah dari catering tersebut adalah 75000-80000/pax. Puspita Sawargi Kita enggak sempet test food di sini karena rameeee bangeeeet! Tapi dapet price list-nya sih. Hanya untuk mengisi perut 600pax di gedung Asrama Haji Bekasi kita harus menghabiskan 110 juta! Baru makanannya doang looh! Tapi buat Bridezilla yang tertarik sama PS, saya punya price list-nya kok :) Dwi Tunggal Citra Nah stan DTC ini mirip banget sama buffet nikahan mini. Makanannya buanyuak, kayanya paling banyak seantero GPI 2015 (dan enyaaaak!). Harga makanan per porsi yang paling murah di DTC adalah 75000. Buat yang mau tanya lebih detail, saya juga punya price list-nya ;) Kayanya cuma dua catering itu yang rasa makanannya berkesan buat kita. Hmm . . . ternyata catering yang ikutan di wedding expo yaa catering buat para Bridezilla dengan budget yang lumayan banyak. Buat Bridezilla yang on budget, saya sarankan buat langsung hubungi langsung cateringnya.
3. Sanggar Rias Pengantin
Di GPI 2015, kita enggak melihat banyak bridal sih tapi . . . tetep enggak banyak juga sanggar rias kece yang kita pikir akan ketemu di expo ini. Walaupun begitu, kita sempet mampir ke stan Miarosa dan Redberry buat lihat hasil rias dan cek harga.
Kesimpulan saya, buat para Bridezilla yang on budget seperti saya, ada baiknya wedding expo macem begini dijadikan ajang untuk cari inspirasi tapi tidak referensi karena peserta expo biasanya adalah catering atau sanggar rias yang sudah mematok harga yang lumayan wah. Selain itu, agak susah juga cari wedding vendor di sini :( Jadi sepertinya mengunjungi wedding expo sudah bukan prioritas saya kita lagi (pacar pasti girang :|). Saya akan kembali mengulik blog para Bridezilla senior untuk referensi dan menghubungi langsung vendor-nya. Prioritas saat ini adalah . . . mencari tempat tinggal setelah menikah!!
Jakarta Mega Wedding Festival 2015
Sejak menyandang status Bridezilla, saya jadi sering heboh sendiri mempersiapkan segala sesuatu untuk hari H (yang padahal mah belom ditentukan tanggalnya) :| Salah satu bentuk kehebohan saya adalah mengunjungi Wedding Expo dengan harapan dapet referensi catering atau souvenir.
Akhirnya tanggal 17 Januari 2015 kemarin, saya seret ajak si pacar ke JiExpo Hall D dengan iming-iming test food :D and it worked! Ternyata setelah sampai di JiExpo hall D, suasananya enggak seramai yang saya perkirakan. Hmm . . . saya pikir akan seramai Indocomtech :p Biar pun enggak seramai yang saya perkirakan, tetep aja saya lupa poto-poto. Maklum, blogger newbie :p
Harga tiket masuknya 40k untuk berdua dan kita dapet peta stan-stan yang ada di pameran. Pas masuk, wwooooaaahhhh gaun pengantin bertebaran di mana-mana. Nah, karena niat saya pengen pake adat Minang buat hari H (yang entah kapan lah itu yaa), saya dan pacar langsung buka peta pameran dan . . . engingeng . . . 99% wedding vendornya adalah untuk pernikahan internasional, pernikahan dengan long white gown, suit & tie, 6-tiers cakes, dan champagne fountain alias Bridal. Melongo lah kami berdua kan ya! Tapi karena 40k udah menjadi tiket, ya lanjutkan sajalah.
Akhirnya, ada beberapa hal yang menarik perhatian kita dan memunculkan inspirasi di Jakarta Mega Wedding Festival 2015 ini.
1. Undangan
Kita nemu undangan single board Ken's Collection yang sederhana tapi menarik hati. Emang niat kita enggak mau bikin undangan yang banyak lembarannya, biar hemat kertas. Juga, pasti nih undangan bakal dibuang enggak lama setelah dateng ke resepsi :)
2. Souvenir
Kalo soal souvenir, prinsip saya sih yang penting nih souvenir bermanfaat buat yang nerima. Soalnya di rumah banyak souvenir yang enggak kepake atau cuma jadi pajangan dan bikin penuh lemari. Jadi, ide awal souvenir sebelum ke Wedding Expo ini adalah penjepit memo macem begini.
Di salah satu vendor di Wedding Expo kemarin, harga souvenir kaya gini 6000/pc kalo pesen 350pcs. Kalo mau ditambah sablonan nama kita dan pasangan, harus tambah 250k lagi untuk maks. 900pcs. Tetapi eh tetapi, menurut blog mbak Silvi, di Cipinang harganya adalah 4000/pc. Gile juga kan selisihnya!
Tapi kita nemu 2 stan dengan produk yang oke dijadiin souvenir: cookies dan permen! Tapi menurut nyonya besar, souvenir yang edible macem gini kayanya kurang bermakna.
3. Cincin
Kalo soal cincin, kita berdua sepakat kalo cincin kawin kita enggak pake model macem-macem, cuma lingkaran aja tanpa batu. Niatnya sih pangen pake ukiran sidik jari kita dan ada beberapa toko di Blok M yang bisa bikin cincin macem gini yang pastinya dengan biaya ekstra. Di wedding expo kemarin, toko cincin Kyle Jewellery yang ngasi penawaran yang bikin mata ijo! a. Cincin rose gold 5gr 75% dan Palladium 5gr seharga 3900k! b. Gratis krom seumur hidup (siapa tau kita bosen sama warna asli cincin). c. Kalo kita udah DP dan saat pelunasan harga emas turun, maka harga cincin kita bisa turun juga loh! d. Bisa grafir huruf Sansekerta, Kanji, Hanzi, bahkan Hangul.
4. Catering
Hmm . . . untuk mengurangi kerempongan di hari H nanti, saya kita mau cari catering yang rekanan sama bridal juga, kalo bisa sih sama entertainment juga. Eh ternyata jarang banget yang rekanan gitu di sini, sekalinya nemu eh harganya totally out of budget! Kita sempet cek dekor dan hasil make-up Minang mereka dan ternyata banyak ekstra charge-nya. Makanannya enak sih tapi yaa mau gimana lagi . . .
5. Wedding Organizer
Ini usaha jasa pernikahan yang bikin kita berdua melongo, WO! Kita tersasar di stan WO dan entah gimana ceritanya kita berakhir dengan penjelasan si cici WO mengenai jasa yang mereka tawarkan. Ceritanya akan ada 7 kru dan 1 leader yang akan menemani saya dan si pacar mulai dari pagi sampai acara selesai, atur transisi tiap acara, makanan, waktu foto, bahkan entertainment, cari anggota keluarga yang ilang pas lagi foto, dan bla bla bla . . . dan chargenya adalah 10juta! Kayanya lebih baik memberdayakan adik-adik serta sepupu kita trus traktir mereka makan setelah acara selesai. Phew . . . Dan yang lebih aneh lagi, saya dan pacar dengan wajah dan warna kulit yang amat sangat pribumi sekali dipanggil Cici dan Koko sama si cici WO! Hmm . . .
Sekian field report saya di Jakarta Mega Wedding Festival 2015. Tanggal 23-25 Januari 2015 ada Gebyar Pernikahan Indonesia 2015. Kayanya expo ini cocok buat Bridezilla yang pengen resepsi berbau adat seperti saya. Semoga si pacar mau diseret diajak ke expo ini dan saya enggak lupa poto-poto lagi :)
Yep, I'm officially a Bridezilla!
Akhirnya di usia yang ke 24 tahun, saya mencapai fase ini, fase kehidupan menjadi Bridezilla wuahahaha . . .
Fase ini dimulai ketika si pacar (sekarang sih udah jadi tunangan ;)) dan orang tuanya nanya ke saya apa saya bener-bener mau dinikahin sama anak mereka yang modelnya macem gitu :p Yaa, kira-kira beginilah dialognya.
Ibu: mbak Uli kan udah lama nih bareng sama Defri, kita sebagai orang tua mau tahu kalo apakah mbak Uli mau lanjut ke hubungan yang lebih jauh sama Defri.
Saya: hihihi . . . mau, bu (sambil blushing)
Bapak: nah kalo gitu, kira-kira kapan kita bisa main ke rumah mbak Uli dan ketemu sama keluarga?
Saya: weekend kapan aja sih bisa, Pak soalnya Papa sama Mama kan kerja kalo weekdays.
Ibu: oh oke oke. Nah terus mbak Uli maunya langsung dilamar atau gimana? Soalnya . . .
Saya: waaahhh . . . jangan lamaran dulu pak (panik!) Kenalan dulu sama keluarga saya aja dulu. Kan Bapak belom pernah ketemu sama Papa.
Bapak: Berati enggak langsung lamaran nih ya? Oke deh. Berarti sekarang tinggal cari tanggal ya!
Hihihi akhirnya tanggal 7 Desember 2014, si Pacar dan keluarga dateng ke rumah dengan makanan segudang dan niat tersembunyi! Setelah ngobrol, poto, dan makan siang, disampaikanlah niat si pacar dan keluarga dateng ke rumah saya. Niatnya adalah . . . (drum roll) melamar! Saya dan keluarga ya jelas kaget, soalnya yang kita tahu acara hari itu adalah perkenalan keluarga. Hmm . . . mungkin karena saya terlalu kece dan si pacar takut kalo saya keburu dibawa kabur sama saudagar Arab kaya-raya Muahuahuaua . . . . Ya akhirnya resmilah kita bertunangan tapi D-Day belom ditentuin soalnya menunggu si pacar selesai sidang. Semoga Maret ini si pacar selesai kompre . . . aamiin!
Hihihi . . . please introduce si pacar yang sekarang udah jadi tunangan :p
The Raid 2: Berandal Review
Oke, kali ini saya mau bikin ulasan tentang film yang lagi heboh dengan rating 8.9 di IMDB (Apr. 7, 2014), The Raid 2: Berandal. I'm not a big fan of this movie, bahkan saya enggak nonton yang pertama. Tapi karena diajak dan dibayarin pacar yaa enggak sopan dongs kalo nolak! XD
Pas beli tiket, mbak kasir bioskop langsung nanyain umur dan minta liat KTP kita, mungkin muka kita masih underage gitu kali yaa?! Hahaha. Nah ini pertanda kalo The Raid 2 ini bukan buat bocah dan banyak adegan kasar dan brutal, bayangan saya sih mungkin semacem Kill Bill atau Game of Thrones.
Film mulai jam 21:45 WIB sharp dan opening scene-nya mirip bingits sama opening scene Looper. Kayanya it's gonna be meh! Dan bener aja, banyak detail yang enggak diperhatiin. Misal,
1. Pas lagi berantem, ada napi yang kakinya dipatahin sama si jagoan. Meeuuhh bunyinya sih kaya fraktur, eh kakinya masih bisa napak tuh!
2. Si pemeran antagonis "pamer" pisau lipet ke pemeran protagonis di cafetaria penjara, padahal di sekitarnya banyak sipir. Asik sekali penjara macem gini.
3. Saat ada kerusuhan antar napi di lapangan, tanpa tedeng aleng-aleng para sipir langsung ikutan berantem! Padahal kalo di film negeri seberang sih pake tembakan peringatan dulu, kalo masih lanjut ributnya keluarlah tuh si gas air mata atau peluru karet.
4. Oh iya, ada tokoh yang menurut saya gagal juga di film ini, the Hammer Girl (pic attached). Mungkin idenya sih image Hammer Girl ini kaya innocent girl gitu tapi deadly. Yaa mirip sama Go-Go di Kill Bill deh, tapi tetep aja enggak pas.
5. Di awal film, misi sang jagoan adalah mencari polisi korup, eh yang ada malahan doi buntutin pemeran antagonis dan ga ada upaya pencarian identitas polisi korup tuh.
Itu kan negatif aja yaa, enggak adil kalo enggak ada positifnya dongs. Here they go.
1. Efek luka-luka, sayat-sayat, ancur-ancurnya numero uno! Kayanya belom ada film Asia yang bisa nyaingin film ini deh.
2. Yang paling yahud adalah Pencak Silat combat di akhir film. Ini ketje bingits, man! Both of combatants cucok jadi pemeran Die Hard, karena susah banget kalahnya. Mungkin ini yang bikin bule-bule pada melongo.
3. Kejar-kejaran pake mobilnya juga seru.
So, in my common-viewer opinion, The Raid 2: Berandal is a bloody movie (literally) that lost its story. This movie is about killing and torturing with no stories at all. If you're sick enough to watch a killing movie without stories, then this movie is for you :)
Nah, silaken ditonton sendiri biar enggak penasaran.
I like this kind of girlfriend
I am this kind of girlfriend XD
will you promise to catch me if I fall?
wanna have one like this later!