“the one constant in your life is change”,
kata seorang psikolog di salah satu video TED yang aku lihat di youtube. Maksudnya gimana juga gak ngerti saya. Huvt. Pokoknya tentang perubahan lah ya.. (lha maksa)
Berhubungan dengan post aku yang ini, ada yang menyangkut tentang introver-ekstrover. Aku sering banget mikir, “Apa kita semua emang harus jadi ekstrover ya?”
Mindset aku (dan mungkin kebanyakan orang) tentang introver-ekstrover pasti ga jauh-jauh dari: 1) Kalo introver lebih senang menyendiri, malu buat speak up di depan banyak orang, susah bergaul; 2) Kalo ekstrover gampang akrab sama orang baru, percaya diri, dan hal-hal bagus lainnya. Seakan-akan para introver itu pasti diliatnya negatif. Walaupun aku belum tau pasti ya mindset itu bener apa nggak, dan sebenernya ga ada orang yang 100% introver atau ekstrover, itu semua cuma “kecenderungan” aja.
Tapi, tetep aja, apa kita emang harus jadi ekstrover?
Contohnya aku. Kekurangan nomor 1 yang langsung bisa aku liat dari diri sendiri adalah susah cepet akrab sama orang baru. Gak pernah bisa sksd, gak tau mau basa-basi dengan cara gimana. Jangankan sama orang baru deh, sama orang yang udah kenal lama aja, kalau aku gak “klop” banget sama dia, pasti ga tau deh mau ngomong apa. Tapi kalau ada di lingkaran orang-orang yang “klop” aku kaya orang gila.
Nah, tapi kan gak bisa dong aku kaya gitu terus? Gak seterusnya aku bakal sama temen-temen yang bisa bikin aku bebas berekspresi kaya orang gila itu. Jadi, mau gak mau aku harus jadi ekstrover. Padahal, menurutku enggak perlu. Kemampuan buat berkomunikasi emang perlu, apalagi manusia adalah makhluk sosial. Tapi, bukan berarti introver itu gak bisa berkomunikasi dengan baik. Dunia seakan-akan bikin stereotype kalo mau bertahan hidup maka harus jadi ekstrover. Harus punya banyak teman dan koneksi.
Introverts are not antisocial. They are--ofcourse--able to socialize with people, but not too much. Mereka juga bukan the center of attention, TAPI mereka punya potensi-potensi besar dalam diri mereka, dan they are THE SAME compared to extroverts!
Sayangnya, dunia kayak maksa kita harus jadi orang yang berani tampil depan umum. Depan banyak orang. Padahal, mungkin para introver sedang menggambar, menulis, atau apapun yang mereka suka (dan bermanfaat, tentunya) di dalam kamar mereka. Dan kalau dunia terus menerus gak percaya sama para introver, maka after effect yang ada di pikiran mereka adalah “Aku gak bisa kaya dia, gak bisa keren kaya dia, yang berani ngomong depan umum.”
Pikiran-pikiran kaya gitu nyata terjadi loh, contohnya di aku. Hahahah.
Mari kita memandang introver dengan lebih positif lagi. We could do anything we are enjoy doing.
Untuk kalian, dan untuk aku sendiri juga yang merasa introver, kalian gak perlu berubah seperti yang dunia mau kok. Orang-orang keren dan hebat bukan melulu tentang mereka yang berani ngomong depan umum, atau yang menjadi perhatian banyak orang. Percayalah, yang kita butuhkan hanya percaya diri!
It’s okay if you don’t believe in me. I believe in me.
Selamat percaya diri,
Mila.
















