h
Alisa U Zemlji Chuda

No title available
Keni
Mike Driver
will byers stan first human second

blake kathryn
Three Goblin Art
dirt enthusiast
hello vonnie

tannertan36
taylor price

@theartofmadeline
Cosimo Galluzzi
Stranger Things
occasionally subtle
Show & Tell

titsay
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

No title available
seen from Maldives

seen from Mexico
seen from United States
seen from Italy

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from Guatemala
seen from Sri Lanka

seen from Latvia
seen from Chile

seen from United Kingdom

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye
@syarifahalidrus
Tak ada kata gagal dalam memperjuangkan kebaikan. Kita diminta untuk berjuang, bukan untuk menang. Karena tugas kita adalah berjuang, menumbuhkan kebaikan-kebaikan
Book Review: Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps
Beberapa hari kemarin saya sempet nemu screen shot twitter yang isinya “kalau ada cewek yang bisa baca maps, aku bonceng-in” eh dua hari ngubek-ngubek explore, gak ketemu sue -__
Pas baca itu, saya mikir, emang bener apa ya kalau cewek gak bisa baca maps? Ini pengalaman pribadi sih, saya pernah jalan bareng cewek Kanada pas di Osaka. Tapi dia perasaan biasa aja gitu pas jalan tuh. apa gegara biasa traveling gitu ya. akhirnya saya coba cari tau dan nemu ada buku Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps dari Alan & Barbara Please. Buku ini hampir sama kaya yang dibahas sebelumnya (Men are From Mars and Women are From Venus), tapi bedanya kalau ini lebih ke analasis pake data dan penelitian ilmiah (otak kanan, otak kiri) kebanding personality. dah lah have nice reading yaw!
buat cewek, pernah gak ngerasa pas lagi nyari alamat temen buat ngasih sesuatu, temen nya share loc, tapi sulit banget buat baca si maps nya tuh. ini belok kanan apa kiri ya (ini gak relate sama ibu ibu sen kanan tapi malah belok kiri yaw). padahal tempatnya deket, tapi malah jadi muter-muter gitu gegara tadi salah belok. terus pas ketemu temennya bilangnya google maps nya error -_ (Developer GMaps be like: Apa Salahku Kau buat Begini by D'Massive). Nah itu tuh dibahas di buku ini, katanya cewek ini gak bisa bahas hal yang sifatnya spasial kaya baca maps atau arah tadi. Nah cowok juga ada alesan kenapa kadang gak dengerin kalau lagi fokus. apa aja bedanya?
Kalau cowok lagi nge game atau lagi ngerjain tugas, ko kaya gak bisa denger?
banyak dan malah hampir semua penelitian bilang kalau otak cowok itu terbagi-bagi (istilahnya terspasialisasi). Makanya nih kadang cowok kalau disuruh ngerjain banyak hal, ia bisa tapi satu-satu. engga bisa semuanya dikerjain bareng. buat yang pengalaman, kalau cowok bawa mobil biasanya kepinggir dulu. ko gitu? dikit banget jaringan yang ngehubungin otak kanan sama otak kiri. beda lagi kalau cewek, cewek mah bisa ngerjain banyak hal di satu waktu (iya ga? HH). bisa sambil nonton, nelpon, skin care-an, dan lain-lain
Ko kadang cewek suka cerewet?
katanya kalau cowok ngomong, yang kerja itu cuman otak kiri. makanya cewek kalau komunikasi lebih baik kebanding cowok. cewek juga lebih sensitif. katanya juga sempet ada penelitian yang bilang cowok itu rata-rata ngomong 7 ribu kata per hari, sedangkan cewek bisa sampai 20 ribu kata per hari. ko bisa? soalnya cewek kalau ngomong pake otak kanan sama otak kiri. Ini yang kadang kita gak saling pahami, cowok misal capek nih udah kerja pengennya tidur, si cewek butuh tempat curhat dan ngajak ngobrol si cowok yang pulang kerja (iya lah masa chatting-an sama chat bot google assistant). ini gap yang sering terjadi deh kayaknya. cowoknya harus paham, cewek harus paham juga.
Kasus Barang Invisible (ini bukan invisible boat mobile nya Bobob sama Pepet ya)
Diceritain sih disini kasus mentega di kulkas, cowoknya nanya mana mentega, ceweknya bilang itu di kulkas, cowoknya nyari lagi tapi gak nemu, ceweknya turun dan tadaaa! langsung ketemu. terus cowoknya ngomong “disimpen nya disitu sih, pantesan kagak keliatan -___- ”. cewek itu punya view range lebih besar kebanding cowok. kaya barcode indomaret gitu, semuanya bisa ke scan (bahkan screen shot chatting pernyataan bohong jam 20:05 tanggal 21 Maret 2017 pun bisa diinget-inget). beda kalau cowok, cowok biasanya kalau liat satu barang, fokus aja gitu liat kaya terowongan. makanya lagi bareng cowoknya, pas liat yang lebih glowing di jalan. jangan ikutan liat, tapi liatin mata si cowoknya wkwk (mata tolong mata)
Ko cowok jago banget kalau udah driving
Daerah korteks cowok banyakan kesedot buat hal-hal yang yang fungsinya spasial. cenderung juga ngasih porsi sedikit buat producing sama gunain kata-kata. kalau ada cowok yang suka nya kode-kode ambigu di story tapi gak berani nyatain langsung, anggap aja alesan ini yang jadi make sense yaw! do not offer a man advice unless he asks for it. tell him you have confidence in his ability to work things out
future corner :”
tapi, aku nggak cantik.
"Semua wanita itu cantik."
Kalau dipikir-pikir, kalimat itu ada benarnya, sih. Namun, nggak semua keindahan harus dihubungkan dengan fisik.
Maksudku...,
Ada seseorang yang keindahannya terletak pada caranya memperjuangkan hidupnya, pantang menyerahnya, keletihannya.
Ada seseorang yang keindahannya terletak pada caranya berusaha mencintai diri sendiri, mensyukuri hal-hal kecil dalam hidupnya, menjauhi habit buruk.
Ada seseorang yang keindahannya terletak pada caranya memperbaiki hubungannya dengan Tuhan yang telah Menciptakannya. And, that's the best kind of beauty.
And, please, don't come at me, saying, "Tetep aja, yang cantik yang dipilih."
Kita ini kenapa, sih? Begitu terobsesi dengan 'dipilih'? Baru senang kalau sudah dapat validasi orang?
Kan, hidup nggak sedangkal itu. Penerimaan manusia nggak selalu menyelamatkan. Memangnya, kalau sudah 'dipilih', sudah pasti bahagia?
Dan...
"Sesungguhnya, Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada amalan dan hati kalian." (HR Ibnu Majah no. 4143)
- Alvi Syahrin, alvisyahrin.com, 29/6/2020, @alvisyhrn
Dakwah yang paling berat adalah kepada keluarga
👉 Karena dengan keluarga, kita tidak punya opsi unfollow, unfriend, atau block.
✔Dengan orang lain, kita bisa hanya sekedar share dan memilih untuk menjauh bila ada jiddal.
❌Tetapi dengan keluarga, kita tak bisa melakukan itu.
Berbantah-bantahan dengan orang tua, sungguh tak mungkin, karena kita adalah anak yg WAJIB bakti kepada orang tua.
❌Berbantah-bantahan dengan sanak dan saudara juga tidak mungkin, karena akan menimbulkan kebencian.
➡Ketika istri dan putri kita rapat menutup aurat sesuai syariat, saudara kita malah share postingan full aurat terbuka dimana-mana
➡️Ketika kita memotong celana di atas mata kaki dan membiarkan jenggot tumbuh subur, saudara kita justru sebaliknya
➡Ketika kita share tentang bahayanya riba, malah ada orang-orang terdekat kita yg belum bisa lepas dari riba
➡Ketika kita tau tentang haramnya musik, jangan ditanya lagi, masih banyak orang-orang yang kita sayangi malah tenggelam dan menikmati musik .
➡Disaat kita tau haramnya hukum merayakan dan mengucapkan ulang tahun, justru banyak orang-orang yang kita sayangi masih saling mengucapkannya satu sama lain.
➡️Di saat kita menjauhi bid'ah dan tradisi yang mengandung khurafat maupun syirik. Saudara kita justru seakan berlomba melestarikannya.
Dan berbagai hal lain yang membuat kita sedih melihatnya.
Maka, tetaplah jadi orang yang memegang prinsip
Kenapa ⁉️
Karena terbukanya hatimu untuk menerima halal haramnya sesuatu karena Allah, itu MAHAL HARGANYA
🔀 Doakan saudara-saudara kita yang belum paham, semoga Allah mudahkan mereka untuk menerima kebenaran, bukan menerima pembenaran.
🔀 Tetaplah baik pada mereka, tunjukkan dan buktikan bahwa kita menjadi lebih baik dari sebelumnya setelah kita hijrah dan mengenal Sunnah
🔀 Hanya kepada Allah semua urusan kita kembalikan, hanya pada Allah kita mohon kemudahan dan hidayah
Yaa Muqallibal Qulub, Tsabbit Qalbi ‘alaa diinik
✒️Anonim, semoga Allah menjaganya.
Sumber gambar : t.me/nasehatsalafy
Hakikat dan kebermanfaatan dunia yang sesungguhnya...
Berlelah-lelah prihal yang fana, bersakit-sakit didalamnya.. Meski ibroha untuk akhirat sedikit, semoga apa yang niatnya untuk ibadah, mendapat ganjaran pahala.
Kekuatan niat memang dahsyat, bisa buat kecil jadi besar, bisa buat baik jadi buruk.. Tergantung tafsiran manusia dan letaknya pun tak diketahui kecuali hati dan jiwanya.
Susunan buku pada gambar tersebut, bukan hanya bualan semata. Begitu banyak ilmu didalamnya terdapat nama-nama ar-Rab pada setiap tinta goresan kata..
Beliau rahimahullah hidup selama 73 tahun mengajarkan ilmu selalam 50 tahun. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimih rahimahullah, sungguh beruntung murid beliau dan kita beruntung bisa mengambil hikmah ilmu beliau dari muridnya yang sentiasa mencatat, meringkas dan membukukan ajaran beliau.
Wahai...tak peduli siapa kamu, apa latarbelakangmu, apa pekerjaanmu, dan apa basic skills kamu. Menuntun ilmu agama adalah sebuah kewajiban, tak ada label khusus yang mampu memahami Hadist, menghapal al-Quran serta ibadah lainnya hanya santri.
Kita semua mampu dan bisa. Asal mau dan sungguh...
Kita mampu berlelah untuk dunia maka bisakah kita sisikan pula berlelah untuk akhirat?
[dari paragraph awal pada tulisan ini semua terkhusus untuk diri sendiri]
Tidak ada yang bisa menjamin keadaan akhir kehidupan manusia, mintalah kepada Allah untuk selalu di istiqomahkan dalam beribadah dan diwafatkan dalam keadaan islam...
Sungguh, manusia sangatlah lemah jika tidak Allah ﷻ yang memberi kekuatan.
88.
Kamu terlalu lama mendongak, dan lupa cara menunduk. Sehingga kepada siapa saja yang datang, kamu merasa dia tak (cukup) layak.
Sebabnya aku mengingatkan, jika yang dicari ialah;kesempurnaan, maka sekalipun sampai keujung dunia, tidak akan kamu temukan.
Embun, 06.14 | 19 Maret 2020.
88.
Kamu terlalu lama menunduk, hingga lupa mendongak menatap pada sekitar.
Hingga tak berhingga siapa saja yang datang, kamu merasa dirimu tak cukupan akan layak.
Tersebab, maka jangan terjerembab, bahwa sempurna tak mungkin dicari. Sebab tak kan ada yang memiliki. Di ujung pada penghujung nanti, kan kau sedari. Bahwa sempurna haruslah direka, bukan mereka-reka. Oleh mereka atau kalian berdua nanti...
Kabut, 21.37 | 3 Juli 2020.
198.
Kamu jangan terlalu lama menunduk, sesekali menataplah ke atas sana, kanan dan kiri juga. Sehingga yang ditemukan bukan hanya kerikil dan duri tajam penghalang langkah, namun juga pemandangan indah nan menakjubkan.
Sesekali amatilah mereka yang datang, raba dan rasa kepada semua yang coba mengetuk baik itu dengan sapa maupun melalui bahasa tubuh biasa.
Tentu saja, tak akan kamu temui yang sempurna, sebab sempurna letaknya bukanlah pada dunia, ia hanya bisa dicipta dengan hati yang luas perihal melengkapi satu dengan lainnya. Katanya, demikian.
Berawan, 09.20 | 7 Juli 2020.
You’re going to meet MANY people in life who come across as good, noble, pure-hearted, and successful. They will be personable, knowledgeable, well-spoken, well-dressed, and polite. Some of them will remain this way for as long as you know them alhamdulillah, but others will eventually prove themselves as two-faced charlatans, misguided fools, or vainglorious actors.
Whether you are blessed to know or be surrounded by consistent and truthful people in your life or not, you must NEVER give up emotional control to ANY human being lest you “fall” or lose yourself in the process.
What does that mean exactly?
STOP "falling" for people, movements, agendas, gimmicks, schemes, influencers, etc.
STOP taking people for surface value and look deeper into the CONTENT OF THEIR CHARACTER.
In a world plagued with narcissism, vanity, and self-aggrandizement we have to know better and learn from what our faith teaches us about how to protect our hearts!
1. Don’t fall for image. Remember, Iblis was the most beloved with high repute among the angels and the jinn before he became the “fallen” one.
2. Don’t fall for image. Never forget that hypocrites are great at lip service, superficiality, and ritual performance. They are also destined for the bottom level of Hell.
3. Don’t fall for image. Stay vigilant! There’s a lot of deception in our world and it’s been there from its inception. We’ve entered a new era of depravity where it pays to distort, lie, misrepresent, mislead, cat-fish,manipulate, cheat, gaslight, and abuse. Keep people at a distance UNTIL and UNLESS they prove themselves trustworthy! Don't blindly fall for words and false promises or pretentiousness that gives the illusion of success!
When you accept that people are flawed and you maintain healthy emotional boundaries with everyone in your life, putting your FULL CONFIDENCE ONLY in Allah ﷻ and His Beloved ﷺ then when they reveal their humanity and disappoint you, you don’t fall apart. You move on & pray for their guidance, asking God to never test you with whatever issue or problem they have.
The believer must always be firm in their conviction and faith in their Lord. They must accept that He is the ONLY one free of any and all blemish, the Ultimate Truth! And they must thus accept their own blemishes as well as those of others in creation, and seek solace in one day leaving this lowly abode and rising above.
Until then, let us be patient with ourselves and with others, and not lose our hope, our will, or our faith when people fail us, hurt us, or disappoint us, which they absolutely WILL.
Whether they are family, close friends, community members, or people online who we've never met or spoken to but have come to depend on or grow attached to, our hearts must keep a safe distance that is not based on judgement or distrust but rather acceptance of truth: human beings are flawed. All of us. It’s part and parcel of this world and of human nature. So let us be more forgiving and set our sights on something far better than anything we can ever fathom here.
Ya Rabb, attach our hearts ONLY to you and remove our worldly attachments from people and things so that we remain firm and do not perpetually "fall" in this life or the next. Amin!
-Ustadha Hosai Mojaddidi
Sewajarnya Hidup, Hidup Sewajarnya
Beberapa waktu lalu sempat heboh akun finansial advisor yang menyorot betapa mahalnya biaya punya anak dalam satu tahun saja. Membuat tak sedikit yang menanggapi takut punya anak karena ‘jiper’ dulu lihat biayanya. Ada di angka ratusan juta, pertahunnya. Ini baru satu anak, di tahun pertama. Belum dua, tiga, empat.
Soal punya anak, kalau mau dihitung rasa-rasanya memang banyak juga ‘pengeluaran’ ketika memiliki anak. Apalagi kalau lihat list persiapan persalinan, masih soal awal dia ada di dunia saja bisa banyak sekali printilannya. Belum lagi seiring bertambahnya usia, lihat biaya masuk sekolah, mainan kekinian, buku-buku impor, penyaluran hobi, pendidikan non formal seperti les, ngaji, waah banyak banget…
Ya secara logika seiring bertambahnya anggota keuarga, juga akan bertambah kebutuhan kita. Apalagi anak zaman sekarang. Tetapi di dalam hidup ini, ada hal-hal yang kadang nggak masuk logika kita. Kalau dihitung pemasukan juga nggak tinggi-tinggi amat angkanya, nggak sampai digit berjejer rapi, tapi adaaa saja jalannya. Anak-anak nggak yang keleleran.
Pengelolaan finansial sah-sah saja, malah bagus menghindarkan kita dari berhutang dan menyulitkan orang lain. Tapi satu yang perlu kita ingat, hidup kita ini nggak semuanya tentang materi. Dunia ini nggak sesempit kamu punya uang berapa dan seberapa ‘kaya’ kamu. Punya anak nggak soal transaksional: anak dikaitkan sebagai aset, investasi, atau bahkan beban. Ada soal tujuan kita hidup di dunia, ada tentang keberkahan, ada rahmatNya yang menolong, ada hal-hal tak kasat mata yang tidak bisa ditakar bahkan dihitung.
Nggak ada satu manusiapun yang ditelantarkan olehNya. Dan benar bahwa masing-masing dari kita sudah ada rezekinya masing-masing, datangnya dari pintu yang tidak diduga-duga. Tugas kita berikhtiar yang terbaik.
Saat sedang berencana memiliki anak, atau dalam perjalanan memiliki anak, boleh saja rasanya menghitung kira-kira berapa biaya yang akan kita habiskan. Sembari kita berupaya maksimal membuka banyak 'keran’ baru, menjadikan amanah ini bisa baik terurus dalam asuhan kita. Tapi jangan lupa untuk berserah. Ada tanganNya yang Maha Mencukupi. Semua datang dariNya. Berserah atau tawakkal membuat hati kita lembut, membuat kita semakin percaya ada Allah yang mengatur segalanya, tak pantas kita menuhankan uang bahkan menuhankan pengelolaan finansial. Semua atas izinNya.
Jika biaya hidup di masa kini terasa berat, mungkin selama ini yang kita lupa adalah selalu merasa cukup. Kita ingin yang lebih, lebih, dan lebih. Melihat terus ke atas, mematok gaya hidup orang-orang yang kelasnya jauh di atas kita. Padahal kita bisa hidup lebih tenang jika mematok hidup sesuai kemampuan kita.
dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan, (An-Najgm 53:48)
rasa-rasanya di kehidupan serba modern ini, memiliki rasa cukup lebih mewah dibandingkan memiliki kekayaan.
Secara teknisnya begini, jika ada orang yang bisa melahirkan dengan biaya 80 juta, kita secara kemampuan belum mampu ya tidak perlu memaksakan menggunakan standar itu, ada opsi biaya-biaya di bawahnya. Ada fasilitas puskesmas untuk kontrol kehamilan, ada pula BPJS, jika tidak mengambil BPJS ada Rumah sakit bersalin/klinik lain yang angkanya tak sebombastis faskes para artis yang bahkan terkadang mereka dibayar untuk bersalin disana.
Tak perlu memakai doula jika tak mampu, masih banyak bidan baik yang bisa menemani, ada anggota keluarga juga yang bisa diajak bekerjasama. Tak usah memaksa memanggil videografer kelahiran jika budgetmu mepet terlebih itu bukan kebutuhanmu. Bukannya yang terpenting dari kelahiran anak adalah keselamatan dan kenyamanan saat dan pasca bersalin?
Tak harus berhutang berjuta-juta demi memasukkan anakmu ke sekolah mahal. Mungkin privilej mereka tidak pada networking yang baik di sekolah itu, tetapi orangtua yang terus berupaya anaknya mendapatkan pendidikan yang layak di dalam maupun di luar rumah.
Memiliki mainan edukasi yang terkurasi para mamagram atau psikolog sebenarnya baik, tetapi jika kita tidak mampu memfasilitasi anak-anak dengan itu bukan berarti kita orangtua yang gagal kan? Ada banyak opsi lain, bisa beli mainan lain yang gradenya di bawah itu, menyewa, atau tidak menbelimya juga tidak apa-apa kan? Yang penting kan terpantau tumbuh kembangnya dan tentunya tumbuh kembang dompetmu.
Kita bisa tetap hidup kan meski tidak bisa beli baju merk ternama? Anak-anak bisa tetap makan kan, meski alat memasaknya alat-alat sewajarnya beli di pasar? Anak-anak bisa tetap main kan meski takpunya playground di rumah?
Sesuaikan dengan kapasitas. Kalau kamu mampu, ambil. Hiduplah sewajarnya. Belajar selalu merasa cukup dengan senantiasa bersyukur, bukan terus melihat linimasa. Hiduplah di tengah-tengah antara tidak boros dan tidak pelit. Pelit jika kamu tahu kamu butuh dan kamu mampu tapi tidak mau mengeluarkan hartamu untuk itu, boros jika kamu tahu kamu tidak butuh dan terus menghabiskan uang yang dititipkan padamu untuk hal-hal yang tidak begitu penting saat itu.
Terkadang hidup ini sebenarnya sederhana, yang membuatnya rumit adalah gaya hidup dan berjalan di atas standar orang lain.
Memiliki anak apakah mahal? Ya bisa jadi, tapi bukannya setiap anak punya rezekinya sendiri? Bukankah kita bisa berikhtiar? Bukankah selalu merasa cukup itu hal yang bisa dimiliki setiap orang?
Lagi-lagi hiduplah sewajarnya saja…
muslim cats
Bertumbuh Bersama
“Karena barangkali, tantangannya kelak bukan lagi menumbuhkan mimpi sendiri, namun menumbuhkan mimpi bersama, dan sudah pasti memastikan bahwa orang-orang terdekatmu kelak sama-sama bertumbuh” - Mushonnifun Faiz S
Beberapa minggu yang lalu mendapat kabar bahwa seorang ayah dari teman selama di asrama dulu, sekaligus teman semasa kuliah di Eropa meninggal dunia. Sosok ayah yang bagi saya mampu dijadikan role model untuk membangun sebuah keluarga. Bagaimana tidak, ke-10 anaknya menjadi penghafal Al-Quran, walau beliau dan istrinya sendiri tidak menghafal keseluruhan Al-Quran. Padahal beliau dan istri sama-sama sibuk di ranah legislatif pemerintahan, juga segala aktivitas layaknya para aktivis dakwah. Namun di tengah kesibukan tersebut, beliau mampu menghasilkan generasi pecinta Al-Quran. Betapa haru saya membayangkan, mungkin beliau sekarang sedang tersenyum sembari bersiap menerima sepuluh mahkota dari anak-anaknya kelak di yaumul hisab. Bukan satu, bayangkan Sepuluh!
Pun juga banyak role model keluarga lainnya yang ada di Indonesia, juga dunia yang seperti ini. Dari yang sukses di aspek dunia. Ada yang sekeluarga menjadi dokter, memiliki bisnis bersama, mendirikan pesantren, dan lain sebagainya. Namun tak sedikit pula keluarga yang kesuksesannya bisa timpang satu sama lain. Ada yang benar-benar sukses, namun ada pula yang justru jauh dari kata sukses, bahkan masih bergantung ke orang tua dan kakak-kakaknya.
Fenomena ini selalu membuat saya kembali bermuhasabah dan merenung bahwa kelak ketika kita sudah berkeluarga, bukanlagi membicarakan tentang kesuksesan individu. Apalah arti dari sebuah sukses, jika ternyata anak dan cucu masih terlunta-lunta. Apalah arti dari sebuah kepandaian, jika ternyata anak sendiri ternyata tidak lulus sekolah. Apalah arti dari sebuah bisnis yang besar, jika ternyata kelak anak-anaknya tidak ada yang mampu meneruskan, dan justru anak-anaknya menjadi bergantung akan kehadiran sosok ayah dan ibunya saat semisal diberi kepercayaan memegang bisnisnya.
Apakah mudah? Tentu saja barangkali tidak, namun semua sudah tentu bisa diperjuangkan. Dari awal kelak ketika berumah tangga, tantangannya sudah tentu dari iktikad kuat dari diri sendiri, dalam hal ini terutama seorang kepala keluarga, bagaimana ia harus memiliki visi yang kuat untuk mewujudkan keluarga yang diinginkanya. Juga bagaimana ia mampu meyakinkan pasangannya untuk menapaki visi yang telah di buat bersama, dan yang paling penting adalah istiqomah. Yang terakhir ini barangkali tidak mudah.
Pun demikian kelak jika sudah memiliki anak. Dalam buku Bukan Sekedar Ayah Biasa, tulisan Ustadz Misbahul Huda, yang pernah saya baca beberapa tahun silam, bahwa banyak orang tua yang memaksakan kehendaknya kepada anak. Misal, anak dipaksa masuk ke fakultas kedokteran, padahal ia sangat passion di bidang kesenian. Seolah orang tua lupa bahwa setiap anak dilahirkan dengan potensi kecerdasan masing-masing.
Maka bertumbuh bersama, barangkali perlu dimaknai lagi jauh lebih luas. Bahwa jalan menuju surga tidak hanya satu, namun Allah hamparkan begitu banyak, pun demikian jalan untuk bertumbuh bersama-sama tidak semata-mata sekeluarga harus menjadi ini itu. Namun tetap, bahwasanya dari keluarga di atas kita bisa belajar bahwa Al-Quran tetap menjadi landasan utama dalam menapak perjuangan.
Dan barangkali, surga, adalah tujuan tertinggi dari bertumbuh bersama. Seperti perkataan Ustadz Salim A. Fillah yang fenomenal, bahwa Bersamamu, aku tidak mau lagi jatuh cinta. Namun membangun cinta, tinggi hingga menggapai surgaNya. Kalau dipikir-pikir memang benar apa adanya.
Sebab surgaNya terlalu luas, jika hanya ditempati sendirian. Dan menempatinya bersama keluarga besarmu kelak, barangkali adalah puncak dari bertumbuh bersama.
Malang, 24 Ramadhan 1441 H 14.25
Maunya sih gitu. T-t-tapi udah disumpah :(
Well, sebenernya kalo dipikir-pikir, tenaga kesehatan tuh kerugian terbesarnya lebih ke urusan personalnya (kesehatan, berjarak dengan keluarga, kulit kering, muka bruntusan dll), selebihnya? Ya ngga ada. Kita mah kerja ya kerja aja. Mau pasien wabah ada seribu ya kita bakal kerja pegang seribu pasien. Mau wabah kelar akhir dekade depan ya kita kerjain juga.
Mau lebih egois? Kami tetep dapet gaji. Utuh. Kalopun rs kolaps dan kami kena phk, tinggal apply aja ke rs darurat atau rs rujukan. Dijanjiin insentif, pula.
Yang ruginya banyak siapa?
Ya rakyat.
Kalian tuh, kalo mati karena covid, cuma dianggep angka statistik doang. Mending kalo angka statistiknya dipake buat bikin kebijakan. Lha ini, malah psbb dilonggarin, auk amat pertimbangannya apa.
Iya, angka kematian ngga tinggi. Tapi kalopun cuma 1%, terus salah satunya adalah keluarga kalian, kalian bisa milih, maunya siapa?
Makanya, jangan goblok.
Cuci tangan pake air dan sabun. Pake masker. Jauhi keramaian. Udah, gitu aja. Tolong diri sendiri deh minimal.
Btw, makasiyak @gincumerah stay safe and sane!
Semuanya akan dihisab termasuk komentar dan apa yang kita lihat
Mengolah Harapan
Menunggu memang sering kali menyebalkan. Menunggu memang membuat kita benar-benar diserang bosan tak berkesudahan. Tetapi pernahkan kita berpikir, bahwa dari menunggu kita bisa belajar banyak hal tentang; kesabaran, keikhlasan, kerelaan hingga ujian mental. Padahal kita tau, tak ada jaminan bahwa yang kita tunggu pasti datang atau akan datang tepat waktu, tetapi kita masih aja ingin menunggu, bahkan harus menunggu. Dan disinilah ujian dan pelajarannya, bahwa dengan menunggu kita sudah berusaha menciptakan harapan, ada sesuatu yang kita harapkan kedatangannya. Untuk yang sedang diuji dengan lamanya waktu dalam menunggu, tetaplah tersenyum dan tsiqoh billah, sebab Allah tak mungkin salah dalam menetapkan sebuah skenario hidup setiap hamba-Nya. Ada kebaikan yang pasti akan kita peroleh di kemudian hari. Sebab kesabaran yang lama disulam. Bukankah buah sabar adalah surga? Bukankah menunggu bisa menjadi ladang pahala bagi kita? Jawabannya adalah bisa, ketika kita mampu untuk sabar dan ikhlas, tentu menunggu akan menguntungkan diri kita, ada pahala dan ganjarannya apabila kita berhasil menunggu dalam kesabaran dan keikhlasan. Untuk aku dan kamu yang masih sedang sama-sama menunggu, pesan ane : “Selama yang kita tunggu adalah kebaikan. Jangan pernah takut ditinggalkan, selama Allah tak kita tinggalan. Hidup kita harus berprinsip, visi kita adalah Jannah-Nya. Allah Maha mengetahui atas segala sesuatu yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Sedangkan kita tidak, penglihatan kita lemah.” Ada yang perlu dingat juga, menikah memang menyempurnakan setengah agama tapi hanya setengah. Setengah lainnya ada takwa. Maka, sempurnakan juga setengah lainnya itu sejak sebelum, ketika, dan selepas menikah. Lalu, jadikanlah menikah sebagai sarana untuk semakin melejitkan dan semakin kencang melaju dalam takwa dan ketaatan. Agar kita dan pasangan kita kelak semakin dekat dan taat kepada-Nya. Tak perlulah risau akan rezeki jodoh hingga menyebabkanmu menunda tanpa alasan yang dibenarkan. Sebab, rezeki adalah hak mutlak prerogatif Allah, Dia telah menetapkan-Nya jauh-jauh hari sebelum kita diciptakan. Dia berhak untuk melapangkan maupun menyempitkan untuk siapa yang dikehendaki-Nya. Hanya Allah yang mampu membuat kita tersenyum dan tertawa. Wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir. Maka, tak ada alasan untuk tak tsiqoh pada ketetapan-Nya. Menunggu apapun atau menunggu siapapun, kuncinya tetap sama, sabar dan ikhlas, hingga ketetapan Allah datang untuk memberi kepastian baik dan indah atas apa yang kita tunggu. Selamat menunggu gaesfillah-que :’)
Ketika Anak Perempuan Menikah.
Memasuki umur di mana pertanyaan yang datang bukan lagi “Kamu kapan?” tetapi “Udah punya anak berapa?” di grup alumni teman-teman SMP tempo hari. Khan maen.
Kemudian tersadar, ku sudah tidak muda lagi rupanya.
Sedih? Ndak dong. Karena sudah mengimani akan ada waktu-Nya nanti (jika tidak berjodoh dengan kematian terlebih dahulu) sesuai waktu yang Allah Subhanahu Wata’ala kehendaki.
Cuma kadang bosan aja sama pertanyaan yang itu-itu mulu. Seandainya para netizen ini menyadari bahwa semua sudah ketetapan-Nya termasuk kapan meniqa, kapan punya anak dsbnya. Mengutarakan tanpa beban, tapi apaqa mereka memikirkan beban dari pertanyaan yang mereka utarakan setelahnya? Sayangnya tydac. Kzl akutu.
Meniqa bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.
“Aku capek kerja, bla bla bla mau niqa aja.” Ndak gitu beb. Tidak semudah itu Hayatiiiiiii.
Meniqa itu perlu ilmu sebagai pegangan dalam mengarungi bahtera yang tentu masalahnya akan lebih kompleks dibanding ketika masih berstatus single. Bersyukurnya banyak teman sebaya yang sudah menikah terlebih dahulu sehingga banyak ilmu yang bisa diserap dari mereka.
Setelah beberapa tahun lalu menjadi anak rantau kemudian sekarang memutuskan full time anak rumahan dirasa merupakan keputusan yang tepat, Qadarullah. Hari-hari diisi dengan kejahilan, ngambek dan ketawa-ketiwi bersama orang tua adalah hari-hari berharga yang tidak ditemui selama beberapa tahun lalu dari terbit matahari hingga terbenamnya dan berganti malam kemudian pagi lagi. Hal yang paling disyukuri akhir-akhir ini.
Barangkali, Allah Subhanahu Wata’ala sedang memberi kesempatan untuk berkumpul dengan orang tua yang tidak semuanya dialami oleh orang lain sembari berbakti dan memantaskan diri sebelum akhirnya nanti Ia pertemukan dengan seseorang.
Seperti yang diceritakan oleh seorang sahabat,
“Soalnya laki-laki yang sudah menikah sama perempuan yang sudah menikah. Buseeet jauh banget rasanya.”
“Bener-bener perjuangan Ibu tuh dimulai sejak dia nikah.”
“Sejak meninggalkan ortunya.”
“Dan keadaan itu musti dilalui. Siklus kehidupannya gitu.”
Ada nasihat yang begitu melekat ketika beberapa hari lalu scrolling instagram,
“Untuk anak-anak perempuanku,
Dahulukan kepentingan Ibu Mertua kalian dibanding kami. Pastikan Ayah/Ibu di sana merasa anaknya BERTAMBAH satu lagi saat kalian menikah. Jangan pernah sekalipun membuat beliau malah merasa anaknya hilang diambil orang.
Jangan cemburu atas kasih sayang Ibu mertua kepada suami kalian. Jangan pernah ngiri dengan bakti suami kepada Ibunya. Harusnya bersyukur punya suami yang sayang, hormat dan memuliakan Ibunya.
Karena besarnya bakti suami kepada Ibunya, sebesar itu kemuliaan dan berkah atas rumah tanggamu. Besarnya kasih sayang Ibu Mertua kepada suamimu, akan berbanding lurus dengan besarnya kasih sayang suami pada dirimu. Ayo kita support suami masing-masing untuk menjadi anak surga Ibunya. Karena “anak surga” tentu akan membawa istrinya pula ke surga kelak. Aamiin Ya Rabb.“ - tattyelmir
Nasihat yang juga sama,
Ketika anak perempuan menikah maka yang utama bukan lagi orang tuanya tetapi suaminya.
“Ada ortu itu ada sisi bikin adem mbak.”
“Sedangkan suami itu tetap orang lain yang sedang berusaha masuk di kehidupan kita.”
“Nanti deh kamu ngerasain.”
“Hahaha.”
“Aku aja tiap mudik pasti pulangnya pake nangis pas di dalam kereta.”
“Terus chat Ibu. Katanya udah sewajarnya aku nangis dan wajib ikut suami ke mana pun.”
“Kangennya tuh bisa sampe sakit banget mbak di dada. Kalau zaman kuliah, masih bisa kan dikit-dikit pulang. Maksudnya LDR zaman single sama udah nikah itu beda.”
“Karena di otak udah nikah, jauh dari ortu, dan sekarang yang pertama suami. Dan ndak boleh asal curhat ke ortu.”
Barangkali hal yang sama juga dirasakan oleh setiap orang tua yang memiliki anak perempuan ketika harus legowo dengan fase baru yang mereka lalui. Pemahaman di antara keduanya yang juga harus dikomunikasikan dengan baik agar orang tua tetap merasa dianggap ada sehingga mereka pun bisa memahami.
Menjadi anak/istri salihah itu tidak mudah, tetapi kalau kamu bisa. Itu akan mempermudah urusan akhirat orang tuamu nanti.
Belum menikah bisa fokus ke diri sendiri tetapi ketika sudah menikah fokusnya akan terpecah-pecah. Jadi maksimalkan sendirimu sebelum datang waktumu untuk berkeluarga. Perbanyaklah ilmu! :)
Jangan Jatuh Miskin Karena Konsumtif
Sering kita dibuat bingung dan kalap dengan diskon-diskon e-commerce. Padahal pilihan yang paling menguntungkan sebenarnya adalah dengan tidak membeli barang yang tidak kita butuhkan.
Sebenarnya kita punya pilihan untuk tidak jatuh miskin dengan tidak membelanjakan uang kita secara sembarangan. Namun seringkali kita tersihir oleh banyak sekali iming-iming yang katanya diskon besar dan harga terbaik.
Belum lagi di dalam diri kita bersemayam dorongan-dorongan fana, seperti gengsi. Kita menyangka level kita akan naik menjulang begitu memiliki barang-barang itu.
Akhirnya, kita membeli barang yang tak kita butuhkan hanya karena tak ingin kehilangan kesempatan atas iming-iming diskon dan harga terbaik. "Kapan lagi, ya kan?" Itulah bisikan setan yang tetap eksis di bulan Ramadan.
Ingat, yang membuat seseorang jatuh miskin bukan hanya sedikitnya penghasilan melainkan juga tak terkendalinya pengeluaran.
Jadi, harus bagaimana? Beli yang dibutuhkan saja. Simpan uangmu untuk keperluan darurat atau untuk menolong saudaramu.
Gak lucu kalau di masa krisis ini kamu jadi jatuh miskin karena kebiasaan konsumtifmu.
•••
© Taufik Aulia | 2020